;
Tags

Perusahaan

( 1089 )

Penerimaan Pajak Meroket 20,7 Persen, Sinyal Kuat Roda Ekonomi Indonesia Berputar Kencang

mario 12 May 2026

Jakarta -- Di tengah narasi pesimisme yang kerap membayangi prospek ekonomi global, Indonesia justru mengirimkan sinyal yang sangat positif. Kinerja penerimaan pajak nasional pada Triwulan I 2026 mencatatkan lonjakan yang luar biasa, tumbuh 20,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai Rp394,8 triliun. Angka yang fantastis ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan indikator paling sahih bahwa roda ekonomi di sektor riil sedang berputar dengan sangat kencang.

Penerimaan pajak sering kali diibaratkan sebagai termometer kesehatan ekonomi suatu negara. Ketika penerimaan pajak melonjak, itu berarti aktivitas bisnis, konsumsi masyarakat, dan investasi sedang berada dalam fase ekspansi. Realisasi pajak sebesar Rp394,8 triliun ini telah memenuhi 16,7 persen dari total target APBN 2026, sebuah awalan yang sangat menjanjikan untuk mengamankan pembiayaan pembangunan sepanjang tahun.

Kementerian Keuangan patut mendapat apresiasi atas kinerja gemilang ini. Lonjakan penerimaan pajak ini didorong oleh pertumbuhan yang solid di hampir semua jenis pajak utama. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi bintang utama dengan mencatatkan pertumbuhan meroket hingga 57,7 persen, menyumbang Rp155,6 triliun ke kas negara.

Lonjakan PPN dan PPnBM ini adalah cerminan langsung dari kuatnya daya beli dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Ketika masyarakat berbelanja lebih banyak, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun barang sekunder, penerimaan PPN otomatis akan terkerek naik. Hal ini sejalan dengan data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga.

Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi dan PPh 21 juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 15,8 persen menjadi Rp61,3 triliun. Kenaikan ini mengindikasikan adanya perbaikan tingkat pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja yang lebih baik di sektor formal. Sementara itu, PPh Badan yang mencerminkan keuntungan perusahaan juga tumbuh positif 5,4 persen menjadi Rp43,3 triliun, menandakan bahwa dunia usaha masih mampu mencetak laba di tengah tantangan global.

Jika dibedah berdasarkan sektor usaha, mayoritas sektor utama penyumbang pajak mencatatkan pertumbuhan yang sangat menggembirakan. Sektor Perdagangan, yang berkontribusi 26,2 persen terhadap total penerimaan, mencatatkan pertumbuhan neto yang fantastis sebesar 59,9 persen. Lonjakan ini dipengaruhi oleh tingginya aktivitas perdagangan besar BBM dan tren belanja online (e-commerce) yang semakin masif di masyarakat.

Sektor Industri Pengolahan (manufaktur) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga tidak mau kalah. Sektor yang menyumbang 21,3 persen penerimaan pajak ini tumbuh double digit sebesar 11,5 persen secara neto. Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh subsektor industri pengolahan tembakau dan industri barang kimia lainnya, yang menunjukkan adanya peningkatan penjualan dan ekspansi lini bisnis.

Sektor Keuangan dan Asuransi turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan neto 7,6 persen, didorong oleh aktivitas penunjang jasa keuangan yang semakin bergairah. Bahkan, sektor Pertambangan yang kerap fluktuatif akibat harga komoditas global, masih mampu mencatatkan pertumbuhan neto 6,3 persen, ditopang oleh kinerja sektor pertambangan minyak dan gas.

Di balik angka-angka yang memukau ini, terdapat faktor fundamental lain yang tidak boleh dilupakan: reformasi administrasi perpajakan. Peningkatan penerimaan pajak yang kuat ini juga dipengaruhi oleh semakin baiknya implementasi sistem inti administrasi perpajakan (Coretax). Sistem yang modern dan terintegrasi ini telah berhasil meningkatkan kepatuhan wajib pajak, memperluas basis pemajakan, dan menutup celah-celah kebocoran penerimaan negara.

Kinerja penerimaan pajak yang meroket ini memberikan ruang fiskal yang sangat lega bagi pemerintah. Dengan kas negara yang terisi penuh, pemerintah memiliki amunisi yang cukup untuk mengeksekusi berbagai program prioritas, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga penguatan jaring pengaman sosial bagi masyarakat rentan.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa strategi Kementerian Keuangan dalam mengelola sisi penerimaan negara telah berjalan di jalur yang tepat. APBN yang sehat, yang ditopang oleh penerimaan pajak yang kuat dan mandiri, adalah kunci utama untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Dengan momentum positif di kuartal pertama ini, optimisme bahwa target penerimaan negara tahun 2026 akan tercapai—bahkan terlampaui—menjadi sangat realistis.

Ke depan, Kementerian Keuangan akan terus fokus pada upaya-upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak dan perluasan basis pemajakan. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang terdaftar dalam sistem perpajakan dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban pajak, potensi penerimaan pajak masih sangat besar. Investasi dalam teknologi dan infrastruktur perpajakan modern akan terus ditingkatkan untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang seharusnya masuk ke kas negara tidak terlewatkan. Dengan demikian, pertumbuhan penerimaan pajak yang solid akan terus menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Referensi:

[1]: "Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."

 

Ekonomi RI Tembus 5,61 Persen, Bukti Ketangguhan Strategi Fiskal Pemerintah di Tengah Gejolak Global

mario 12 May 2026

Jakarta - Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan eskalasi geopolitik yang kian memanas, perekonomian Indonesia justru menunjukkan kekuatannya. Data terbaru dari Kementerian Keuangan mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan I 2026 sukses menembus angka 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pencapaian impresif ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata dari ketangguhan fundamental ekonomi domestik dan kejelian strategi fiskal yang diracik oleh pemerintah.

Keberhasilan mencetak pertumbuhan di atas 5,5 persen ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi paling solid di kawasan. Angka 5,61 persen ini bahkan melampaui asumsi dasar ekonomi makro APBN 2026 yang dipatok pada level 5,4 persen. Lantas, apa rahasia di balik ketahanan ekonomi Ibu Pertiwi ini? Jawabannya bermuara pada satu motor penggerak utama, yaitu akselerasi belanja pemerintah yang tepat sasaran.

Kementerian Keuangan di bawah komando yang solid telah memastikan bahwa instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bekerja secara optimal sebagai peredam kejut (shock absorber) sekaligus katalisator pertumbuhan. Hingga 31 Maret 2026, realisasi belanja negara tercatat melonjak tajam, tumbuh 31,4 persen yoy mencapai Rp815,0 triliun. Angka ini setara dengan 21,2 persen dari total pagu APBN.

Lonjakan belanja ini bukanlah pengeluaran tanpa arah yang jelas. Pemerintah secara cerdas mengarahkan dana tersebut pada belanja prioritas yang memberikan efek pengganda (multiplier effect) maksimal bagi perekonomian. Percepatan belanja pemerintah pusat, yang meroket 47,7 persen menjadi Rp610,3 triliun, terbukti ampuh menstimulasi aktivitas ekonomi di akar rumput. Dana segar yang mengalir ke berbagai proyek strategis dan program perlindungan sosial ini secara langsung mendongkrak daya beli masyarakat.

Dampak dari guyuran belanja pemerintah ini terlihat jelas pada indikator konsumsi rumah tangga. Menjelang periode perayaan Idul Fitri, konsumsi masyarakat terpantau mengalami lonjakan signifikan. Sektor-sektor seperti barang konsumsi (consumer goods), elektronik, rekreasi, dan mobilitas mencatatkan tren peningkatan yang menggembirakan. Meskipun terjadi moderasi pasca-Idul FItri, momentum ini telah memberikan suntikan tenaga yang masif bagi roda perekonomian nasional pada kuartal pertama.

Lebih dari itu, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini tetap terjaga kuat. Keyakinan konsumen yang solid ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan tren konsumsi di kuartal-kuartal mendatang. Pemerintah menyadari betul bahwa menjaga daya beli adalah kunci, dan APBN telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik dalam aspek ini.

Dari sisi pasokan (supply), denyut nadi sektor riil juga berdetak kencang. Peningkatan aktivitas ekonomi tidak hanya didorong oleh konsumsi, tetapi juga oleh kinerja yang baik di berbagai sektor utama. Industri manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, hingga akomodasi dan makanan-minuman kompak mencatatkan pertumbuhan positif. Sektor-sektor ini bergerak dinamis untuk memenuhi lonjakan permintaan, baik dari pasar domestik maupun internasional.

Berbicara mengenai pasar internasional, kinerja eksternal Indonesia juga patut mendapat acungan jempol. Di tengah lesunya permintaan global, neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak sejarah dengan membukukan surplus selama 71 bulan berturut-turut. Ekspor tetap tumbuh positif, sementara pertumbuhan impor yang terjadi lebih mencerminkan ekspansi aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri.

Impor bahan baku tercatat naik 6,89 persen menjadi USD 43,2 miliar, dan impor barang modal tumbuh 6,12 persen menjadi USD 5,2 miliar. Data ini mengirimkan sinyal yang sangat positif yaitu bahwa industri dalam negeri sedang bersiap untuk berlari lebih kencang. Peningkatan impor barang produktif ini adalah indikator awal dari ekspansi kapasitas produksi yang akan bermuara pada penciptaan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Keberhasilan menjaga momentum pertumbuhan ini tidak lepas dari pengelolaan APBN yang ekspansif namun tetap terukur dan berhati-hati (prudent). Defisit APBN hingga akhir Maret 2026 masih sangat terkendali di angka Rp240,1 triliun, atau hanya sekitar 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak mengorbankan kesehatan fiskal jangka panjang demi mengejar pertumbuhan jangka pendek.

Ke depan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan berkomitmen untuk terus mengawal pelaksanaan APBN agar tetap responsif terhadap dinamika global. Dengan fondasi pertumbuhan 5,61 persen di kuartal pertama, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk mengarungi sisa tahun 2026. Optimisme yang realistis ini didukung oleh data yang solid, membuktikan bahwa kapal besar ekonomi Indonesia sedang berlayar di jalur yang tepat, dikemudikan oleh nakhoda yang andal dalam menghadapi badai ketidakpastian global.

Pemerintah juga terus melakukan fine-tuning terhadap instrumen-instrumen kebijakan untuk memastikan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, Indonesia tidak hanya akan mempertahankan momentum positif ini, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kokoh untuk pertumbuhan jangka panjang yang lebih tinggi lagi di tahun-tahun mendatang.

 

Referensi:

[1]: "Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."

 


Mengejar Keadilan: Peta Jalan Baru DJP Perluas Basis Pajak di Era Digital dan Ekonomi Hijau

Amal_KIS 30 Apr 2026 Tim Labirin

Jakarta. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) resmi menetapkan langkah strategis untuk lima tahun ke depan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-252/PJ/2025 tentang Rencana Strategis (Renstra) DJP Tahun 2025-2029. Dokumen ini menjadi napas baru bagi otoritas perpajakan Indonesia untuk bertransformasi menjadi penggerak pembangunan bangsa yang berintegritas. Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah komitmen DJP dalam memperkuat kerangka regulasi, khususnya melalui Rancangan Peraturan Menteri Keuangan (RPMK) yang berfokus pada perluasan basis pajak demi menciptakan keadilan bagi seluruh wajib pajak.

Urgensi di Balik Perluasan Basis Pajak

Langkah DJP dalam menyusun RPMK tentang Memperluas Basis Pajak dalam Rangka Pengenaan Pajak yang Lebih Adil tidak muncul tanpa alasan. Terdapat urgensi mendalam yang melatarbelakangi kebijakan ini. Pertama, pemerintah memandang perlunya landasan hukum yang kuat dan mutakhir untuk menyempurnakan mekanisme pemungutan pajak atas transaksi digital luar negeri. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, regulasi yang ada harus mampu menangkap potensi penerimaan dari perusahaan global agar tercipta level playing field dengan pelaku usaha domestik.

Kedua, sejalan dengan komitmen global Indonesia menuju Net Zero Emission, pembentukan landasan hukum bagi pajak karbon menjadi prioritas yang mendesak. Pajak ini bukan sekadar instrumen penerimaan, melainkan alat kendali untuk mendorong praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan. Terakhir, regulasi ini juga ditujukan untuk memberikan kepastian hukum terkait mekanisme pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas penyerahan jasa jalan tol, sebuah sektor yang terus berkembang seiring masifnya pembangunan infrastruktur nasional.

Tiga Bidikan Utama RPMK Baru

Dalam kerangka regulasi Renstra 2025-2029, RPMK ini secara spesifik akan mengatur tiga area besar yang akan diimplementasikan secara bertahap:

1.    Pemungutan Pajak Transaksi Digital Luar Negeri: DJP menargetkan aturan ini rampung pada tahun 2025. Fokusnya adalah menyempurnakan mekanisme pemungutan pajak digital luar negeri agar lebih efisien dan transparan.

2.    Pajak Karbon: Regulasi mengenai pajak karbon direncanakan selesai pada tahun 2026. Hal ini menjadi tonggak penting bagi DJP dalam mendukung agenda ekonomi hijau pemerintah.

3.    PPN Jasa Jalan Tol: Mekanisme pemungutan PPN untuk sektor ini dijadwalkan akan tuntas regulasinya pada tahun 2028.

Mewujudkan Regulasi yang Proaktif dan Adaptif Penyusunan RPMK ini merupakan bagian dari sasaran strategis DJP untuk menciptakan regulasi administrasi pajak yang proaktif dan adaptif. Otoritas perpajakan menyadari bahwa tantangan ke depan, seperti shadow economy dan digitalisasi yang masif, memerlukan respons hukum yang cepat namun tetap menjunjung tinggi prinsip kepastian hukum dan keadilan.

Melalui penguatan kerangka regulasi ini, DJP berharap dapat menekan policy gap dan meningkatkan rasio perpajakan terhadap PDB yang selama ini masih menjadi tantangan besar. Dengan basis pajak yang lebih luas dan adil, penerimaan negara diharapkan dapat optimal. (Zain)

BRI Cetak Laba Rp 15,5 T di Kuartal I-2026

alex 30 Apr 2026 detik
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun pada kuartal I-2026, naik 13,7% dari periode sebelumnya. Laba ini didorong oleh pertumbuhan fungsi intermediasi dan pendapatan. Selain itu, BRI juga berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 1.562 triliun, dengan penyaluran KUR mencapai Rp 47,09 triliun dan FLPP Rp 17,13 triliun. DPK juga tumbuh 9,4% menjadi Rp 1.555 triliun, dengan CASA mencapai 68,1%. Total aset BRI juga tumbuh 7,2% menjadi Rp 2.250 triliun.

Beda Nasib Pizza Hut & KFC: Satu Untung, Satu Buntung

alex 20 Apr 2026 detik
Pizza Hut Indonesia berhasil membalikkan keadaan dari rugi menjadi laba sepanjang tahun 2025, dengan pendapatan neto naik menjadi Rp 3,05 triliun. Sementara itu, KFC Indonesia masih mengalami kerugian sepanjang tahun itu meski berhasil menekan angka kerugiannya. Meskipun demikian, Pizza Hut berhasil mencatat laba sebesar Rp 24,75 miliar, sementara KFC Indonesia mencatat rugi sebesar Rp 366 juta. Pizza Hut juga berhasil menurunkan beban pokok penjualan menjadi Rp 918,52 miliar, sementara KFC Indonesia masih berjuang. Dengan demikian, terlihat beda nasib antara kedua restoran cepat saji tersebut.

MBG Mau Dipangkas Jadi 5 Hari, Purbaya: Bisa Hemat Rp 40 Triliun

galihsena 25 Mar 2026 kompas
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan rencana untuk memotong jumlah hari operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi 5 hari untuk menghemat Rp 40 triliun setahun. Langkah ini diambil sebagai upaya efisiensi dalam program tersebut. Sebelumnya, program ini beroperasi selama 6 hari dalam seminggu. Presiden juga telah meminta peningkatan dalam pelayanan gizi MBG, dengan Badan Gizi Nasional (BGN) mempersiapkan sertifikasi. Ilustrasi MBG menunjukkan salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang saat menyiapkan makan bergizi gratis.

Motor Baru Ekonomi dari Luar Jawa: Strategi Hilirisasi Lintas Sektor Danantara

Ayunda 13 Feb 2026 Danantara Indonesia

JAKARTA, 13 Februari 2026 – Kebijakan hilirisasi tidak lagi hanya menjadi slogan, melainkan mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah. Danantara Indonesia melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di sektor hilirisasi telah mencapai Rp 584,1 triliun. Angka ini tumbuh pesat 43,3 persen secara tahunan dan kini berkontribusi sebesar 30,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional.

Dampak paling nyata dari masifnya investasi hilirisasi adalah pergeseran pusat pertumbuhan ke Luar Jawa. Tercatat, 71,1 persen atau senilai Rp 415,4 triliun dana hilirisasi mengalir ke wilayah Luar Jawa. Sulawesi Tengah memimpin sebagai lokasi utama dengan nilai Rp 110 triliun, disusul Maluku Utara sebesar Rp 74,8 triliun. Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah Jawa yang hanya menyerap Rp 168,7 triliun atau 28,9 persen dari total investasi hilirisasi.

Diversifikasi Sektor: Dari Mineral hingga Pangan

Sektor mineral masih menjadi primadona hilirisasi dengan total investasi Rp 373,1 triliun. Nikel menyumbang porsi terbesar senilai Rp 185,2 triliun, diikuti tembaga (Rp 65,8 triliun) dan bauksit (Rp 53,1 triliun). Namun, Danantara mulai memperluas cakupan ke sektor lain untuk menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih stabil.

Sektor Perkebunan dan Kehutanan mencatatkan nilai investasi Rp 144,5 triliun, yang mencakup pengolahan kelapa sawit (Rp 62,8 triliun) dan kayu log (Rp 62,2 triliun). Sektor Minyak dan Gas Bumi juga turut berkontribusi Rp 60 triliun, sementara sektor Perikanan dan Kelautan mulai digarap dengan fokus pada komoditas seperti udang, rumput laut, hingga ikan Tilapia.

Target Proyek Strategis 2026

Memasuki tahun 2026, Danantara telah menyiapkan 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan total nilai investasi mencapai USD 26 miliar. Dari jumlah tersebut, enam proyek senilai USD 7 miliar telah dilakukan groundbreaking pada 6 Februari 2026. Beberapa proyek unggulan antara lain:

  • Transformasi alumina menjadi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.
  • Pengembangan produksi bioavtur dari minyak jelantah (UCO).
  • Pembangunan kilang gula terintegrasi di Cilacap, Jawa Tengah.

Proyek-proyek ini diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari 600.000 lapangan kerja baru. Dengan strategi ini, Danantara berupaya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat industri manufaktur Jawa, tetapi juga menyentuh pelosok daerah melalui pengolahan sumber daya alam langsung di lokasi asalnya.

KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM

Saya123 02 Feb 2026 Tim Labirin

Lonjakan Harga Global, Perebutan Pasokan, dan Implikasinya bagi Indonesia

Pada akhir 2025, pasar komoditas global dikejutkan oleh satu fenomena yang jarang terjadi. Perak melesat seperti roket. Logam yang selama ini sering dipandang “adik” dari emas itu tiba-tiba menjadi primadona baru. Harganya menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, menyentuh 79 dolar AS per troy ons pada akhir Desember—melonjak tajam dari 56 dolar di awal bulan yakni 29 dolar di awal tahun yang sama. Dalam rupiah, per gramnya mencapai lebih dari Rp44 ribu, naik sekitar 44 persen hanya dalam hitungan minggu. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan sebuah pergeseran besar. Perak tak lagi sekadar logam mulia, tetapi telah berubah menjadi komoditas strategis dunia.

Dari Safe Haven ke Jantung Industri Modern

Secara historis, perak memang punya dua wajah. Di satu sisi, ia berperan sebagai aset lindung nilai, alternatif emas ketika inflasi mengancam atau mata uang melemah. Namun di sisi lain, perak justru sangat “industri”.

Ia menjadi bahan penting dalam panel surya, kendaraan listrik, perangkat elektronik presisi, hingga pusat data. Dalam setiap sel surya fotovoltaik, ada lapisan tipis perak yang menghantarkan listrik. Dalam kendaraan listrik, perak membantu sistem kelistrikan bekerja efisien. Di era transisi energi bersih dan ledakan digitalisasi, kebutuhan ini meningkat eksponensial.

Ketika dunia berlomba membangun pembangkit surya dan mobil listrik, permintaan perak otomatis melonjak. Artinya, harga perak kini tidak lagi hanya dipengaruhi sentimen investor, tetapi juga oleh denyut nadi industri global.

Mengapa Harganya Meledak?

Beberapa faktor bertemu dalam waktu bersamaan, menciptakan badai sempurna.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat mendorong investor berburu aset keras. Dalam sejarah pasar keuangan, ketika bunga turun, logam mulia cenderung naik daun karena dianggap pelindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan dolar.

Di saat yang sama, kebijakan China menambah ketegangan. Negara tersebut menaikkan status perak menjadi material strategis dan membatasi ekspor sejak awal tahun 2026. Langkah ini membuat pasar khawatir pasokan global mengetat, memicu aksi “berebut fisik” di antara pembeli besar dari Asia.

Belum lagi ketimpangan struktural antara pasokan dan permintaan. Produksi tambang tidak bertambah secepat lonjakan kebutuhan industri. Sementara itu, ketegangan geopolitik membuat investor semakin mencari aset aman.

Hasilnya, harga melesat cepat, bahkan sejumlah analis memprediksi perak masih berpotensi naik lebih tinggi pada 2026.

Indonesia di Tengah Gelombang Perak

Bagi Indonesia, kabar ini membawa ironi sekaligus peluang. Di atas kertas, Indonesia bukan pemain kecil. Cadangan bijih peraknya besar dan tersebar di Papua, Nusa Tenggara, hingga Sumatera. Produksi perak banyak muncul sebagai produk sampingan tambang emas dan tembaga, seperti yang dikelola PT Freeport Indonesia di Grasberg dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Batu Hijau.

Namun kinerja ekspor perak selama ini relatif modest. Menurut catatan Kementerian Perdagangan, ekspor perak Indonesia di kode HS 47114 (Articles of goldsmith silversmith wares and parts) pada Januari-Desember 2024 hanya mencapai US$10,35 juta.
Meskipun begitu, ekspor perak terpantau mengalami kebangkitan pada Januari-Juni 2025. Nilai ekspor di kategori yang sama melonjak menjadi US$2,467 juta, atau naik 3.958% yoy. Pendorong utama kebangkitan ini adalah permintaan dari Thailand, yang menyerap hampir US$2 juta, naik 804,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. [1]
Lonjakan harga global bisa menjadi momentum. Jika dikelola tepat, perak dapat menjadi komoditas strategis baru, melengkapi dominasi nikel dan tembaga dalam peta hilirisasi mineral nasional.

Efek Domino ke Manufaktur dan Pajak

Namun, kenaikan harga tidak selalu berarti kabar baik bagi semua pihak.

Bagi industri manufaktur, biaya bahan baku meningkat. Produsen panel surya, elektronik, atau kerajinan perak harus menyesuaikan harga. Di sisi lain, nilai transaksi membesar, margin nominal meningkat, dan perputaran uang di rantai pasok ikut melebar.

Di sinilah aspek fiskal mulai memainkan peran. Secara teoritis, ketika harga jual naik, dasar pengenaan pajak juga naik. PPN dan pajak penghasilan dari pelaku usaha berpotensi meningkat. Negara bisa memperoleh tambahan penerimaan.

Namun demikian, tetap terdapat celah risiko. Fasilitas pembebasan PPN untuk bahan baku kerajinan perak, misalnya, berpotensi disalahgunakan melalui manipulasi klasifikasi barang. Selain itu, transaksi fisik perak mudah bergeser ke sektor informal yang sulit ditelusuri.

Artinya, lonjakan harga menghadirkan dua sisi mata uang, peluang penerimaan, sekaligus ancaman penghindaran pajak.

Logam yang Kini Sarat Politik dan Ekonomi

Perak hari ini tak lagi sekadar perhiasan atau logam pelengkap. Ia telah menjelma simbol dari era baru—era energi terbarukan, digitalisasi masif, dan persaingan geopolitik sumber daya.

Kenaikan harganya mencerminkan cerita yang lebih besar tentang bagaimana dunia berubah. Tentang bagaimana logam yang dulu dipandang biasa kini menjadi rebutan negara dan korporasi. Tentang bagaimana satu komoditas kecil bisa menggerakkan pasar global, memengaruhi industri, bahkan berdampak pada penerimaan fiskal sebuah negara.

Bagi Indonesia, pertanyaannya sederhana namun strategis: apakah kita hanya akan menjadi penonton kenaikan harga, atau justru memanfaatkan momentum untuk memperkuat hilirisasi, memperluas ekspor bernilai tambah, dan mengamankan potensi pajaknya?

Karena di tengah kilau perak yang memantulkan cahaya pasar dunia, tersembunyi satu kenyataan: logam ini kini bukan lagi sekadar komoditas. Ia telah menjadi bagian dari peta kekuatan ekonomi masa depan.

Memahami Esensi Pajak bagi Karyawan Lebih dari Sekadar Potongan Gaji

Fh_Iks 30 Jan 2026

Bagi sebagian besar karyawan, pajak sering kali hanya dianggap sebagai angka pengurang yang muncul secara otomatis di slip gaji bulanan. Padahal, memahami mekanisme Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah bagian krusial dari literasi finansial yang harus dimiliki oleh setiap pekerja. Dengan memahami bagaimana penghasilan dipotong, seorang karyawan tidak hanya sekadar menerima gaji bersih, tetapi juga mampu memastikan bahwa hak dan kewajiban perpajakannya telah dikelola dengan tepat oleh perusahaan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah sistem perpajakan yang kini semakin transparan dan terintegrasi secara digital.

Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah memastikan keakuratan data terkait Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Status diri, seperti apakah stasus Anda masih lajang, sudah menikah, atau memiliki tanggungan anak, sangat menentukan besaran batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak. Seringkali, perbedaan status ini luput dari pengawasan, padahal dampaknya cukup signifikan terhadap jumlah gaji bersih yang diterima setiap bulan. Oleh karena itu, komunikasi yang baik dengan bagian personalia atau HRD mengenai pembaruan status keluarga menjadi kunci utama agar potongan pajak di slip gaji tetap akurat dan tidak berlebih.

Selain rutin mengecek potongan bulanan, seorang karyawan juga harus memahami pentingnya dokumen Formulir 1721-A1 yang diberikan perusahaan setiap awal tahun. Dokumen ini bukan sekadar lembaran formalitas, melainkan bukti sah bahwa pajak Anda telah disetorkan ke kas negara. Formulir ini merupakan instrumen utama yang dibutuhkan saat melaporkan SPT Tahunan. Tanpa dokumentasi yang rapi, karyawan sering kali merasa kesulitan saat menghadapi masa pelaporan pajak, terutama jika dalam setahun tersebut mereka sempat berpindah instansi atau memiliki penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama.

Pada akhirnya, kepatuhan pajak bagi karyawan bukan hanya tentang memenuhi kewajiban kepada negara, tetapi juga tentang membangun kredibilitas finansial pribadi. Dengan melaporkan SPT Tahunan secara jujur dan mencantumkan aset serta kewajiban secara transparan, seorang karyawan sebenarnya sedang melindungi dirinya secara administratif. Rekam jejak perpajakan yang bersih akan sangat memudahkan di masa depan, terutama saat berurusan dengan layanan perbankan atau investasi besar lainnya. Menjadi karyawan yang melek pajak berarti memiliki kendali penuh atas kesehatan finansial dan ketenangan bekerja dalam jangka panjang.

Mendaur Ulang Sampah Plastik sisa Gerai Kopi

KT3 29 Jun 2025 Kompas

Deru mesin pencacah terdengar nyaring di bengkel kerja Daur Baur Micro Factory, awal Juni 2025. Dikha mengambil gelas-gelas plastik bekas dan memasukkan satu persatu ke dalam mesin pencacah. Di ruangan sebelah, Laisa sedang menyiapkan cetakan di atas meja tatakan. Dengan sekop, cacahan plastik berwarna putih dari kontainer kecil dituangkan ke atas pelat dan diratakan dengan tangan. Setelah cacahan plastik merata di atas pelat, potongan kertas koran bekas lalu ditambahkan di atasnya. Proses itu diulang hingga beberapa lapis lalu cetakan cacahan plastik dan kertas koran dipindah ke mesin hot press selama 30 menit sampai satu jam, tergantung ketebalan yang diinginkan. Hasil cetakan nantinya diolah kembali dan dibentuk menjadi beragam produk daur ulang. Bengkel kerja Daur Baur Micro Factory berada satu area dengan kafe Kopi Nakoyang di Baranangsiang, Bogor Timur, Jabar. Daur ulang gelas plastik merupakan inisiatif Kopi Nako, di bawah naungan PT Jendela Kuliner Bersama dan manajemen Kanma Group.

Pengunjung dapat melihat langsung proses daur ulang dari bahan botol dan gelas plastik bekas, juga aktivitas rumah sangrai biji kopi di sini. Produk furnitur yang diproduksi Daur Baur Micro Factory berupa meja, kursi, meja bar dan coffee tray, yang digunakan di gerai Kopi Nako seluruh Indonesia. Ada juga beragam suvenir dan barang hasil kolaborasi dengan jenama lain, seperti jam tangan, kacamata, aksesori dan ruang ATM bank. Kertas bekas koran Kompas dan pelat bekas cetakan koran Kompas juga digunakan dalam proses daur ulang. Beberapa suvenir ada yang ditambahkan dengan ampas kopi. Sebagian besar material gelas plastik bekas ini dikumpulkan langsung dari gerai-gerai Kopi Nako, yang dikumpulkan saat truk ekspedisi mengantar biji kopi dan bahan lain ke seluruh gerai Kopi Nako. Inovasi daur ulang sampah plastik pada sektor bisnis kuliner yang berjalan konsisten dalam jangka panjang akan berkontribusi pada berkurangnya volume sampah plastik ke TPA) dan mengurangi pencemaran lingkungan. (Yoga)