UMKM
( 689 )Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara
JAKARTA — Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5% yang
sejatinya diciptakan sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) agar dapat tumbuh, kini tengah menghadapi tantangan serius.
Otoritas perpajakan menemukan indikasi kuat bahwa insentif ini disalahgunakan oleh
gurita bisnis berskala besar melalui modus firm splitting atau pemecahan
usaha. Praktik culas ini dilakukan demi menghindari tarif pajak normal dan
kewajiban mengumpulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkap data yang mengejutkan
publik. Dari total 542.000 wajib pajak (WP) UMKM yang terdaftar di Indonesia,
sebanyak 93.260 entitas atau setara 17,21% terindikasi kuat melakukan firm
splitting. Di balik gurita puluhan ribu badan usaha tersebut, DJP
mengidentifikasi adanya 30.000 orang pribadi yang bertindak sebagai Ultimate
Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.
Fenomena yang
paling mencolok berada pada puncak piramida kepemilikan: terdapat 14 orang
pribadi kaya yang secara rahasia mengendalikan total 1.067 badan usaha. Artinya, rata-rata satu orang kaya
menguasai lebih dari 51 entitas boneka berkedok UMKM. Siasat ini sengaja
dirancang agar omzet masing-masing entitas tetap berada di bawah ambang batas
(threshold) Rp4,8 miliar per tahun, sehingga mereka dapat terus berlindung di
balik tarif istimewa 0,5%. Selain firm splitting, DJP juga menengarai
adanya praktik bunching, yakni strategi menahan pelaporan omzet secara
artifisial.
Bocornya Kas Negara: Antara PPh dan PPN
Dampak dari manipulasi subjek pajak ini tidak main-main bagi kesehatan
anggaran pendapatan dan belanja negara. Direktur
Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat,
menilai temuan DJP tersebut mencerminkan adanya persoalan serius dalam keadilan
fiskal. Berdasarkan kalkulasi moderat IEF, jika 30.000 grup usaha yang
teridentifikasi tersebut memiliki omzet gabungan riil Rp10 miliar per tahun
dengan margin laba bersih 10%, negara seharusnya menerima PPh Badan normal
sebesar 22%.
"Melalui
skema firm splitting, kelompok ini hanya membayar tarif 0,5% dari omzet.
Akibatnya, ada potensi kehilangan penerimaan negara (revenue lost) minimal
Rp5,1 triliun per tahun, yang dalam skenario agresif bisa menembus Rp15
triliun," ungkap Ariawan.
Namun, kebocoran
terbesar disinyalir tidak hanya datang dari sektor PPh, melainkan dari Pajak
Pertambahan Nilai (PPN). Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus
Suparman, menjelaskan bahwa pemecahan usaha efektif membuat korporasi terhindar
dari status Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika separuh saja dari 93.260 WP
tersebut seharusnya sudah wajib menjadi PKP, potensi kehilangan PPN 11% dari
omzet diperkirakan mencapai Rp24 triliun per tahun. Strategi menghindari PPN
ini marak ditemukan pada sektor perdagangan daring (marketplace) demi
memenangi perang harga dengan margin keuntungan tipis.
Respons
Regulasi dan Perlunya Kehati-hatian
Pemerintah
bergerak cepat merespons kebocoran ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 20 Tahun 2026. Regulasi anyar ini memperketat batasan dengan
mencoret badan usaha berbentuk CV dan PT dari daftar penikmat PPh Final UMKM
0,5%, sehingga memaksa mereka menyelenggarakan pembukuan standar.
Meskipun langkah
ini diapresiasi sebagai penutup celah hukum, pengamat perpajakan dari Center
for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar, memberikan catatan
kritis. Fajry mengingatkan otoritas agar tidak menyamaratakan seluruh 93.260 WP
badan tersebut sebagai pelaku kecurangan. Menurutnya, sebagian besar bisa jadi
merupakan pelaku usaha legal yang memang berhak memanfaatkan fasilitas
perpajakan sesuai tren kepatuhan. Ia juga mengimbau pemerintah mengantisipasi
risiko politik dan penyesuaian bentuk usaha baru, seperti beralih ke PT
Perorangan agar tetap bisa mengakses tarif mikro.
Pertaruhan Ekspor Satu Pintu: Menumpas "Shadow Economy" atau Melahirkan Monster Baru?
Tanggal
1 Juni 2026 akan dicatat sebagai salah satu titik belok paling berani,
sekaligus paling berisiko, dalam sejarah tata niaga komoditas Indonesia.
Berlakunya kebijakan Ekspor Satu Pintu untuk tiga sumber daya alam (SDA)
strategis melalui Danantara langsung memicu turbulensi. Pelaku usaha
ramai-ramai bersuara menuntut kejelasan, para ekonom memperingatkan potensi disrupsi,
dan nilai tukar Rupiah terpantau masih berayun lemah menyikapi ketidakpastian
ini.
Di
permukaan, wajar jika pasar merasa terancam oleh hantu birokrasi atau monopoli
negara. Namun, jika kita membedah anatomi tata niaga SDA secara struktural,
kebijakan sentralisasi ekspor ini sejatinya adalah senjata pamungkas untuk
memberangus shadow economy (ekonomi bayangan) dan menambal kebocoran penerimaan
pajak bernilai triliunan rupiah. Tentu, dengan satu syarat mutlak: ia tidak
tergelincir menjadi sekadar pos pungutan liar raksasa berwajah resmi.
Selama
puluhan tahun, sektor ekstraktif kita diwarnai oleh celah gelap pelarian modal.
Praktik manipulasi harga transfer (transfer pricing), faktur bodong (trade
misinvoicing), dan pelaporan volume di bawah batas riil (under-reporting)
menjadi rahasia umum. Eksportir nakal kerap menjual SDA ke perusahaan
afiliasinya di negara suaka pajak dengan harga artifisial yang rendah.
Akibatnya, laba di Indonesia menyusut, dan negara dirampok dari hak Pajak
Penghasilan (PPh) Badan, PPN, hingga royalti.
Melalui
pintu tunggal Danantara, seluruh aliran komoditas dan uang dipaksa keluar dari
bayang-bayang menuju lorong yang terang benderang. Danantara bertindak sebagai
agregator yang memutus rantai afiliasi fiktif tersebut, memastikan harga jual
ekspor memantulkan harga pasar global yang sebenarnya. Basis pemajakan menjadi
absolut, dan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dapat dipaksa pulang tanpa kompromi.
Model
sentralisasi seperti ini bukanlah anomali dalam ekonomi global. Kita patut
berkaca pada Zespri, raksasa korporasi di Selandia Baru. Zespri mengoperasikan
model single-desk (pintu tunggal) untuk pemasaran dan ekspor buah kiwi ke
seluruh dunia. Alih-alih menjadi birokrasi yang mencekik, Zespri sukses
mengonsolidasikan kekuatan ribuan petani, menjaga standar kualitas premium,
mengontrol harga global, dan berinvestasi pada riset berkelanjutan.
Danantara
harus mengadopsi DNA Zespri. Lembaga ini harus memposisikan dirinya sebagai
orkestrator yang menciptakan nilai tambah (value creation). Jika Danantara
hanya bertindak layaknya "penjaga tol" yang memungut biaya
administrasi tanpa meningkatkan daya tawar komoditas Indonesia di pasar global,
kebijakan ini hanya akan merugikan eksportir lokal yang patuh.
Tentu
saja, skeptisisme publik sangat beralasan. Masa transisi tiga bulan ke depan
adalah fase krusial yang menentukan kredibilitas pemerintah. To be sure,
sentralisasi kekuasaan ekonomi tanpa transparansi dan tata kelola (good
corporate governance) yang radikal hanya akan memindahkan episentrum korupsi
dari pinggiran ke pusat. Pelemahan Rupiah saat ini adalah sinyal tegas bahwa
pasar global sedang menakar kesiapan infrastruktur digital dan operasional
Danantara. Sedikit saja terjadi hambatan (bottleneck) di pelabuhan, rantai
pasok global akan kacau, dan negara justru akan kehilangan momentum ekspor.
Pada
akhirnya, diskursus ekspor satu pintu ini tidak boleh dibiarkan menjadi
perdebatan eksklusif antara konglomerat tambang dan birokrat di Jakarta.
Masyarakat wajib menaruh perhatian tajam. Uang pajak dan devisa yang selama ini
menguap di jalur-jalur tikus shadow economy adalah hak publik yang seharusnya
membiayai jaminan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
Koperasi Desa Siap Terlibat dalam Program Gentengisasi Nasional
Pemerintah Indonesia kini
mendorong implementasi program gentengisasi dengan memanfaatkan koperasi
desa sebagai pelaku utama produksi genteng. Program ini diluncurkan Presiden
Prabowo Subianto sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat,
Resik, Indah) dan difokuskan pada penggantian atap seng dengan genteng tanah
liat di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah Dorong Koperasi
Desa Bangun Pabrik Genteng
Presiden Prabowo menyampaikan
bahwa koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan
didorong untuk membangun pabrik genteng di tingkat desa. Menurut pernyataan
tersebut, peralatan produksi genteng relatif sederhana dan bahan bakunya mudah
diperoleh dari tanah lokal, sehingga koperasi dapat menjadi ujung tombak
pelaksanaan program ini.
Program ini bertujuan tidak hanya
mengubah tampilan fisik atap rumah tetapi juga menggerakkan ekonomi desa dan
membuka peluang usaha baru sehingga koperasi desa tidak hanya menjadi lembaga
simpan pinjam, tetapi juga unit produksi genteng lokal.
Menteri Koperasi: Koperasi
Desa Bisa Produksi Genteng
Menteri Koperasi, Ferry
Juliantono, menegaskan bahwa produktion genteng bisa dijalankan oleh Koperasi
Desa Merah Putih dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di setiap
daerah, termasuk kemungkinan penggunaan limbah batu bara sebagai campuran untuk
meningkatkan kualitas genteng. Ferry menyatakan bahwa koperasi desa siap
memproduksi genteng sebagai bagian dari dukungan terhadap program gentengisasi.
Ia juga menambahkan bahwa
koperasi tidak harus memproduksi dari nol. Alternatif kolaborasi dengan perajin
genteng setempat yang telah memiliki pengalaman produksi juga dapat dilakukan
sebagai strategi awal produksi genteng di desa.
Gentengisasi Dipandang Sebagai
Motor Penggerak Ekonomi Desa
Berbagai pihak menganggap gentengisasi
bukan semata perubahan material atap rumah, tetapi juga motor penggerak ekonomi
di tingkat desa. Dengan memberikan peran produksi genteng kepada koperasi desa,
pemerintah berharap program ini dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat
lembaga ekonomi desa, dan memperluas kegiatan ekonomi lokal.
Untuk mencapai hal ini,
pemerintah sedang menyusun skema pendanaan kolaboratif yang melibatkan koperasi
desa, swasta, dan pemerintah pusat serta daerah agar program ini tidak
sepenuhnya bergantung pada anggaran negara.
UMKM Masih Bisa Nikmati PPh Final Nol
Ekonomi Syariah Harus Jadi Arus Utama Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah Siap Sasar Pajak Pedagang Online
Peran Digitalisasi Dongkrak Pertumbuhan Bisnis UMKM
Pemerintah Siap Sasar Pajak Pedagang Online
Mandiri Jogja Marathon 2025 Dongkrak Ekonomi DIY
Mandiri Jogja Marathon 2025 Dongkrak Ekonomi DIY
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023







