;
Tags

UMKM

( 689 )

Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara

nirmala22 24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5% yang sejatinya diciptakan sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat tumbuh, kini tengah menghadapi tantangan serius. Otoritas perpajakan menemukan indikasi kuat bahwa insentif ini disalahgunakan oleh gurita bisnis berskala besar melalui modus firm splitting atau pemecahan usaha. Praktik culas ini dilakukan demi menghindari tarif pajak normal dan kewajiban mengumpulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkap data yang mengejutkan publik. Dari total 542.000 wajib pajak (WP) UMKM yang terdaftar di Indonesia, sebanyak 93.260 entitas atau setara 17,21% terindikasi kuat melakukan firm splitting. Di balik gurita puluhan ribu badan usaha tersebut, DJP mengidentifikasi adanya 30.000 orang pribadi yang bertindak sebagai Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.

Fenomena yang paling mencolok berada pada puncak piramida kepemilikan: terdapat 14 orang pribadi kaya yang secara rahasia mengendalikan total 1.067 badan usaha. Artinya, rata-rata satu orang kaya menguasai lebih dari 51 entitas boneka berkedok UMKM. Siasat ini sengaja dirancang agar omzet masing-masing entitas tetap berada di bawah ambang batas (threshold) Rp4,8 miliar per tahun, sehingga mereka dapat terus berlindung di balik tarif istimewa 0,5%. Selain firm splitting, DJP juga menengarai adanya praktik bunching, yakni strategi menahan pelaporan omzet secara artifisial.

Bocornya Kas Negara: Antara PPh dan PPN

Dampak dari manipulasi subjek pajak ini tidak main-main bagi kesehatan anggaran pendapatan dan belanja negara. Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat, menilai temuan DJP tersebut mencerminkan adanya persoalan serius dalam keadilan fiskal. Berdasarkan kalkulasi moderat IEF, jika 30.000 grup usaha yang teridentifikasi tersebut memiliki omzet gabungan riil Rp10 miliar per tahun dengan margin laba bersih 10%, negara seharusnya menerima PPh Badan normal sebesar 22%.

"Melalui skema firm splitting, kelompok ini hanya membayar tarif 0,5% dari omzet. Akibatnya, ada potensi kehilangan penerimaan negara (revenue lost) minimal Rp5,1 triliun per tahun, yang dalam skenario agresif bisa menembus Rp15 triliun," ungkap Ariawan.

Namun, kebocoran terbesar disinyalir tidak hanya datang dari sektor PPh, melainkan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, menjelaskan bahwa pemecahan usaha efektif membuat korporasi terhindar dari status Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika separuh saja dari 93.260 WP tersebut seharusnya sudah wajib menjadi PKP, potensi kehilangan PPN 11% dari omzet diperkirakan mencapai Rp24 triliun per tahun. Strategi menghindari PPN ini marak ditemukan pada sektor perdagangan daring (marketplace) demi memenangi perang harga dengan margin keuntungan tipis.

Respons Regulasi dan Perlunya Kehati-hatian

Pemerintah bergerak cepat merespons kebocoran ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026. Regulasi anyar ini memperketat batasan dengan mencoret badan usaha berbentuk CV dan PT dari daftar penikmat PPh Final UMKM 0,5%, sehingga memaksa mereka menyelenggarakan pembukuan standar.

Meskipun langkah ini diapresiasi sebagai penutup celah hukum, pengamat perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar, memberikan catatan kritis. Fajry mengingatkan otoritas agar tidak menyamaratakan seluruh 93.260 WP badan tersebut sebagai pelaku kecurangan. Menurutnya, sebagian besar bisa jadi merupakan pelaku usaha legal yang memang berhak memanfaatkan fasilitas perpajakan sesuai tren kepatuhan. Ia juga mengimbau pemerintah mengantisipasi risiko politik dan penyesuaian bentuk usaha baru, seperti beralih ke PT Perorangan agar tetap bisa mengakses tarif mikro.

Di sisi lain, DJP dituntut memperkuat sistem pengawasan transaksi digitalnya karena para perencana pajak (tax planner) diperkirakan akan mencari celah baru, termasuk memanfaatkan skema nominee arrangement atau peminjaman identitas (KTP) pihak lain untuk menyamarkan kepemilikan UBO.

Pertaruhan Ekspor Satu Pintu: Menumpas "Shadow Economy" atau Melahirkan Monster Baru?

raharjo06 03 Jun 2026 Tim Labirin

Tanggal 1 Juni 2026 akan dicatat sebagai salah satu titik belok paling berani, sekaligus paling berisiko, dalam sejarah tata niaga komoditas Indonesia. Berlakunya kebijakan Ekspor Satu Pintu untuk tiga sumber daya alam (SDA) strategis melalui Danantara langsung memicu turbulensi. Pelaku usaha ramai-ramai bersuara menuntut kejelasan, para ekonom memperingatkan potensi disrupsi, dan nilai tukar Rupiah terpantau masih berayun lemah menyikapi ketidakpastian ini.

Di permukaan, wajar jika pasar merasa terancam oleh hantu birokrasi atau monopoli negara. Namun, jika kita membedah anatomi tata niaga SDA secara struktural, kebijakan sentralisasi ekspor ini sejatinya adalah senjata pamungkas untuk memberangus shadow economy (ekonomi bayangan) dan menambal kebocoran penerimaan pajak bernilai triliunan rupiah. Tentu, dengan satu syarat mutlak: ia tidak tergelincir menjadi sekadar pos pungutan liar raksasa berwajah resmi.

Selama puluhan tahun, sektor ekstraktif kita diwarnai oleh celah gelap pelarian modal. Praktik manipulasi harga transfer (transfer pricing), faktur bodong (trade misinvoicing), dan pelaporan volume di bawah batas riil (under-reporting) menjadi rahasia umum. Eksportir nakal kerap menjual SDA ke perusahaan afiliasinya di negara suaka pajak dengan harga artifisial yang rendah. Akibatnya, laba di Indonesia menyusut, dan negara dirampok dari hak Pajak Penghasilan (PPh) Badan, PPN, hingga royalti.

Melalui pintu tunggal Danantara, seluruh aliran komoditas dan uang dipaksa keluar dari bayang-bayang menuju lorong yang terang benderang. Danantara bertindak sebagai agregator yang memutus rantai afiliasi fiktif tersebut, memastikan harga jual ekspor memantulkan harga pasar global yang sebenarnya. Basis pemajakan menjadi absolut, dan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dapat dipaksa pulang tanpa kompromi.

Model sentralisasi seperti ini bukanlah anomali dalam ekonomi global. Kita patut berkaca pada Zespri, raksasa korporasi di Selandia Baru. Zespri mengoperasikan model single-desk (pintu tunggal) untuk pemasaran dan ekspor buah kiwi ke seluruh dunia. Alih-alih menjadi birokrasi yang mencekik, Zespri sukses mengonsolidasikan kekuatan ribuan petani, menjaga standar kualitas premium, mengontrol harga global, dan berinvestasi pada riset berkelanjutan.

Danantara harus mengadopsi DNA Zespri. Lembaga ini harus memposisikan dirinya sebagai orkestrator yang menciptakan nilai tambah (value creation). Jika Danantara hanya bertindak layaknya "penjaga tol" yang memungut biaya administrasi tanpa meningkatkan daya tawar komoditas Indonesia di pasar global, kebijakan ini hanya akan merugikan eksportir lokal yang patuh.

Tentu saja, skeptisisme publik sangat beralasan. Masa transisi tiga bulan ke depan adalah fase krusial yang menentukan kredibilitas pemerintah. To be sure, sentralisasi kekuasaan ekonomi tanpa transparansi dan tata kelola (good corporate governance) yang radikal hanya akan memindahkan episentrum korupsi dari pinggiran ke pusat. Pelemahan Rupiah saat ini adalah sinyal tegas bahwa pasar global sedang menakar kesiapan infrastruktur digital dan operasional Danantara. Sedikit saja terjadi hambatan (bottleneck) di pelabuhan, rantai pasok global akan kacau, dan negara justru akan kehilangan momentum ekspor.

Pada akhirnya, diskursus ekspor satu pintu ini tidak boleh dibiarkan menjadi perdebatan eksklusif antara konglomerat tambang dan birokrat di Jakarta. Masyarakat wajib menaruh perhatian tajam. Uang pajak dan devisa yang selama ini menguap di jalur-jalur tikus shadow economy adalah hak publik yang seharusnya membiayai jaminan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Danantara kini memegang kunci brankas kekayaan alam tersebut. Keberhasilannya akan menjadi lonceng kematian bagi para penghindar pajak di sektor SDA. Namun, jika pengawasannya lengah, kita hanya sedang membangun mesin birokrasi baru yang menyandera daya saing Republik ini di kancah global. Kesuksesan kebijakan ini bukan sekadar soal kelancaran dokumen di pelabuhan, melainkan ujian bagi integritas fiskal bangsa.

Koperasi Desa Siap Terlibat dalam Program Gentengisasi Nasional

Saya123 10 Feb 2026 Tim Labirin

Pemerintah Indonesia kini mendorong implementasi program gentengisasi dengan memanfaatkan koperasi desa sebagai pelaku utama produksi genteng. Program ini diluncurkan Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) dan difokuskan pada penggantian atap seng dengan genteng tanah liat di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah Dorong Koperasi Desa Bangun Pabrik Genteng

Presiden Prabowo menyampaikan bahwa koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan didorong untuk membangun pabrik genteng di tingkat desa. Menurut pernyataan tersebut, peralatan produksi genteng relatif sederhana dan bahan bakunya mudah diperoleh dari tanah lokal, sehingga koperasi dapat menjadi ujung tombak pelaksanaan program ini.

Program ini bertujuan tidak hanya mengubah tampilan fisik atap rumah tetapi juga menggerakkan ekonomi desa dan membuka peluang usaha baru sehingga koperasi desa tidak hanya menjadi lembaga simpan pinjam, tetapi juga unit produksi genteng lokal.

Menteri Koperasi: Koperasi Desa Bisa Produksi Genteng

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa produktion genteng bisa dijalankan oleh Koperasi Desa Merah Putih dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di setiap daerah, termasuk kemungkinan penggunaan limbah batu bara sebagai campuran untuk meningkatkan kualitas genteng. Ferry menyatakan bahwa koperasi desa siap memproduksi genteng sebagai bagian dari dukungan terhadap program gentengisasi.

Ia juga menambahkan bahwa koperasi tidak harus memproduksi dari nol. Alternatif kolaborasi dengan perajin genteng setempat yang telah memiliki pengalaman produksi juga dapat dilakukan sebagai strategi awal produksi genteng di desa.

Gentengisasi Dipandang Sebagai Motor Penggerak Ekonomi Desa

Berbagai pihak menganggap gentengisasi bukan semata perubahan material atap rumah, tetapi juga motor penggerak ekonomi di tingkat desa. Dengan memberikan peran produksi genteng kepada koperasi desa, pemerintah berharap program ini dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat lembaga ekonomi desa, dan memperluas kegiatan ekonomi lokal.

Untuk mencapai hal ini, pemerintah sedang menyusun skema pendanaan kolaboratif yang melibatkan koperasi desa, swasta, dan pemerintah pusat serta daerah agar program ini tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran negara. 

UMKM Masih Bisa Nikmati PPh Final Nol

HR1 28 Jun 2025 Kontan
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu) sedang memfinalisasi aturan baru yang akan mewajibkan marketplace menjadi pemungut Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 atas transaksi barang oleh pedagang online. Rosmauli, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak, menegaskan aturan ini dirancang untuk lebih sederhana dan adil: pedagang UMKM dengan omzet sampai Rp 500 juta per tahun tetap bebas pajak, sedangkan omzet di atas itu hingga Rp 4,8 miliar akan dipungut PPh final 0,5%.

Rosmauli menekankan kebijakan ini tidak menciptakan jenis pajak baru, melainkan menyederhanakan proses pembayaran pajak lewat sistem pemungutan otomatis di marketplace. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kepatuhan, memberikan kemudahan administrasi, dan memastikan perlakuan pajak yang setara bagi pelaku usaha online dan offline. Selain itu, kebijakan ini diharapkan menutup celah shadow economy dari pedagang online yang selama ini abai pajak karena kurang paham atau menganggap prosesnya rumit.

Namun, Ariawan Rahmat, Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal Research Institute, mengingatkan adanya tantangan. Menurutnya, kebijakan ini berpotensi menimbulkan kompleksitas baru karena literasi pajak UMKM masih rendah dan kesiapan sistem marketplace tidak seragam. Ia juga menyoroti risiko pedagang beralih ke jalur penjualan non-platform seperti media sosial yang lebih sulit diawasi pajak. Ariawan menyarankan pemerintah berhati-hati dan memastikan sosialisasi kebijakan dilakukan secara baik agar tidak menimbulkan efek samping negatif.

Kebijakan pemungutan pajak oleh marketplace ini diharapkan mempermudah administrasi dan meningkatkan kepatuhan pajak pelaku UMKM online, tetapi pemerintah perlu mengantisipasi risiko implementasi di lapangan melalui edukasi dan kesiapan sistem yang memadai.

Ekonomi Syariah Harus Jadi Arus Utama Pertumbuhan Ekonomi

KT1 28 Jun 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan perbankan syariah dan keuangan syariah menunjukkan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan perbankan nasional secara keseluruhan. Oleh karena itu, ekonomi syariah diharapkan bisa menjadi  arus utama pertumbuhan bukan lagi sebagai pelengkap. Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roelani mengatakan, sebagai salah satu  negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia harus punya peran aktif di regional dan dunia. Menurut dia, potensi ini sangat luar biasa, dari beberapa scoring, Indonesia masih berada pada nomor tiga di global halal industri. Padahal di Indonesia memiliki potensi lebih dari 80% konsumen Indonesia yang telah menyadari pentingnya produk halal. Pasar domestik sebenarnya sudah sangat siap untuk mendukung pertumbuhan industri halal. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari literasi halal yang masih rendah di kalangan pelaku usaha hingga belum optimalnya harmonisasi sertifikat halal antarnegara. Oleh karena itu, penguatan ekosistem halal tidak bisa melakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara regulator, pelaku usaha, konsumen, dan lembaga keuangan seperti BSI terus menjalin kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam ekonomi syariah global. (Yetede)

Pemerintah Siap Sasar Pajak Pedagang Online

HR1 26 Jun 2025 Kontan (H)
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan tengah memfinalisasi aturan baru yang akan mewajibkan platform marketplace (lokapasar) memungut dan menyetor pajak penghasilan (PPh) final sebesar 0,5% dari penjual UMKM dengan omzet tahunan Rp 500 juta hingga Rp 4,8 miliar. Kebijakan ini bukanlah penetapan tarif pajak baru, melainkan perubahan mekanisme pemungutan agar lebih sederhana dan adil bagi UMKM online maupun offline.

Rosmauli, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Ditjen Pajak, menegaskan aturan itu dibuat untuk menyederhanakan administrasi pajak dan menciptakan keadilan perlakuan bagi UMKM daring dan luring.

Budi Primawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), menyatakan marketplace siap mematuhi aturan pemerintah, namun mengingatkan dampaknya akan langsung dirasakan jutaan penjual UMKM digital. Ia menyarankan penerapan kebijakan dilakukan bertahap dengan sosialisasi yang luas dan memperhatikan kesiapan pelaku UMKM serta infrastruktur sistem marketplace.

Ariawan Rahmat, Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal Research Institute, menilai kebijakan ini bukan tarif baru melainkan perubahan cara pemungutan agar lebih otomatis dan mendorong kepatuhan. Ia menyebut potensi penerimaan pajak signifikan—hingga sekitar Rp 1,2 triliun jika separuh transaksi e-commerce (diproyeksikan Rp 487 triliun pada 2024) berasal dari UMKM. Namun, ia juga mengingatkan potensi tantangan berupa rendahnya literasi pajak UMKM, kesiapan sistem yang belum seragam, beban administrasi tambahan bagi pedagang, dan risiko kenaikan harga barang/jasa.

Fajry Akbar, pengamat pajak dari Center for Indonesia Taxation Analysis, mendukung langkah ini sebagai bentuk adaptasi pemungutan pajak di era digital. Menurut dia, penunjukan platform digital sebagai pihak pemungut pajak dapat meningkatkan kepatuhan dan efektivitas penerimaan negara.

Kebijakan ini diharapkan bisa mendongkrak kepatuhan pajak UMKM daring melalui pemotongan otomatis di platform, tapi perlu penerapan hati-hati, bertahap, dan sosialisasi memadai untuk mengantisipasi dampak ke jutaan pedagang serta harga jual di marketplace.

Peran Digitalisasi Dongkrak Pertumbuhan Bisnis UMKM

KT1 26 Jun 2025 Investor Daily
Perkembangan teknologi digital memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis UMKM di Indonesia. Pemanfaatan digitalisasi oleh pelaku UMKM terbukti mampu meningkatkan daya saing, memperluas pasar, dam mendongkrak pendapatan secara signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi digital telah mengubah lanskap bisnis UMKM secara drastis. Mulai dari pemanfaatan media sosial untuk promosi hingga penggunaan platform e-commerce  dan  sistem pembayaran digital, teknologi kini menjadi tulang punggung dalam mempercepat pertumbuhan sektor ini. "Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi UMKM, agar tetap relevan bagi daya saing," kata Ketua Tim Implementasi Gim Kementerian  Komunikasi dan Digital Tita Ayuditya Surya. Ia menyebutkan, platform seperti Instagram, TikTok, Tokopedia, dan Shopee menjadi alat utama bagi UMKM untuk menjangkau konsumen lintas daerah. (Yetede)

Pemerintah Siap Sasar Pajak Pedagang Online

HR1 26 Jun 2025 Kontan (H)
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan tengah memfinalisasi aturan baru yang akan mewajibkan platform marketplace (lokapasar) memungut dan menyetor pajak penghasilan (PPh) final sebesar 0,5% dari penjual UMKM dengan omzet tahunan Rp 500 juta hingga Rp 4,8 miliar. Kebijakan ini bukanlah penetapan tarif pajak baru, melainkan perubahan mekanisme pemungutan agar lebih sederhana dan adil bagi UMKM online maupun offline.

Rosmauli, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Ditjen Pajak, menegaskan aturan itu dibuat untuk menyederhanakan administrasi pajak dan menciptakan keadilan perlakuan bagi UMKM daring dan luring.

Budi Primawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), menyatakan marketplace siap mematuhi aturan pemerintah, namun mengingatkan dampaknya akan langsung dirasakan jutaan penjual UMKM digital. Ia menyarankan penerapan kebijakan dilakukan bertahap dengan sosialisasi yang luas dan memperhatikan kesiapan pelaku UMKM serta infrastruktur sistem marketplace.

Ariawan Rahmat, Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal Research Institute, menilai kebijakan ini bukan tarif baru melainkan perubahan cara pemungutan agar lebih otomatis dan mendorong kepatuhan. Ia menyebut potensi penerimaan pajak signifikan—hingga sekitar Rp 1,2 triliun jika separuh transaksi e-commerce (diproyeksikan Rp 487 triliun pada 2024) berasal dari UMKM. Namun, ia juga mengingatkan potensi tantangan berupa rendahnya literasi pajak UMKM, kesiapan sistem yang belum seragam, beban administrasi tambahan bagi pedagang, dan risiko kenaikan harga barang/jasa.

Fajry Akbar, pengamat pajak dari Center for Indonesia Taxation Analysis, mendukung langkah ini sebagai bentuk adaptasi pemungutan pajak di era digital. Menurut dia, penunjukan platform digital sebagai pihak pemungut pajak dapat meningkatkan kepatuhan dan efektivitas penerimaan negara.

Kebijakan ini diharapkan bisa mendongkrak kepatuhan pajak UMKM daring melalui pemotongan otomatis di platform, tapi perlu penerapan hati-hati, bertahap, dan sosialisasi memadai untuk mengantisipasi dampak ke jutaan pedagang serta harga jual di marketplace.

Mandiri Jogja Marathon 2025 Dongkrak Ekonomi DIY

KT1 25 Jun 2025 Investor Daily (H)
Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2025 kembali mengukuhkan posisinya di panggung lari internasional. Digelar di kawasan bersejarah Candi Prambanan, ajang ini diikuti oleh 9.200 pelari dari 17 negara jumlah tertinggi sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017. Tak hanya ajang olahraga tahunan, Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2025 menjadi motor penggerak ekonomi lokal Yogyakarta. Melibatkan ribuan pelari dari berbagai daerah dan mancanegara, event ini memberi dampak signifikan terhadap sektor UMKM, pariwisata, dan transportasi. "MJM bukan hanya soal kompetisi. Ini adalah wujud kolaborasi konkret antara Bank Mandiri, komunitas yang menghidupi denyut ekonomi Yogyakarta," ujar Darmawan, Direktur Utama Bank Mandiri. Salah satu daya tarik utama MJM 2025 adalah Race Village di kawasan Candi Prambanan. Tak sekedar pusat aktivitas peserta, area ini menjadi ruang interaksi terbuka yang menyatukan pelari, komunitas, dan masyarakat melalui bazar kuliner, panggung hiburan, serta 70 tenant lokal termasuk 14 brand binaan program Mandiri LAKU LOKAL. Menurut riset Mandiri Institute,  perputaran ekonomi lokal meningkatkan lebih dari 35% selama pekan MJM berlangsung. Sektor hotel, transportasi, hingga konsumsi asyarakat mengalami lonjakan tajam. Bahkan, terjadi penambahan jadwal penerbangan dan armada menuju Yogyakarta. (Yetede)

Mandiri Jogja Marathon 2025 Dongkrak Ekonomi DIY

KT1 25 Jun 2025 Investor Daily (H)
Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2025 kembali mengukuhkan posisinya di panggung lari internasional. Digelar di kawasan bersejarah Candi Prambanan, ajang ini diikuti oleh 9.200 pelari dari 17 negara jumlah tertinggi sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017. Tak hanya ajang olahraga tahunan, Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2025 menjadi motor penggerak ekonomi lokal Yogyakarta. Melibatkan ribuan pelari dari berbagai daerah dan mancanegara, event ini memberi dampak signifikan terhadap sektor UMKM, pariwisata, dan transportasi. "MJM bukan hanya soal kompetisi. Ini adalah wujud kolaborasi konkret antara Bank Mandiri, komunitas yang menghidupi denyut ekonomi Yogyakarta," ujar Darmawan, Direktur Utama Bank Mandiri. Salah satu daya tarik utama MJM 2025 adalah Race Village di kawasan Candi Prambanan. Tak sekedar pusat aktivitas peserta, area ini menjadi ruang interaksi terbuka yang menyatukan pelari, komunitas, dan masyarakat melalui bazar kuliner, panggung hiburan, serta 70 tenant lokal termasuk 14 brand binaan program Mandiri LAKU LOKAL. Menurut riset Mandiri Institute,  perputaran ekonomi lokal meningkatkan lebih dari 35% selama pekan MJM berlangsung. Sektor hotel, transportasi, hingga konsumsi asyarakat mengalami lonjakan tajam. Bahkan, terjadi penambahan jadwal penerbangan dan armada menuju Yogyakarta. (Yetede)