Internasional
( 1384 )Penindakan Hukum Zero ODOL
Kondisi Perekonomian AS Karena Kebijakan Pemerintahan Donald Trump
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Perjanjian Perdagangan Perlu Dioptimalkan
Di tengah eskalasi konflik geopolitik dan potensi perlambatan perdagangan dunia, para pelaku usaha nasional diharapkan mengoptimalkan akses perjanjian dagang yang sudah ada. Pemerintah akan memfasilitasinya dan membantu menyelesaikan hambatan dagang yang muncul. Para pelaku usaha nasional mengakui terjalinnya kesepakatan dagang dengan sejumlah negara dan wilayah bisa mengoptimalkan kinerja ekspor nasional. Namun, upaya tersebut perlu dibarengi efisiensi rantai pasok produksi dan perbaikan iklim industri di Indonesia. Hal itu mengemuka dalam diskusi Kompas Collaboration Forum bertema ”Perdagangan Global Mutakhir: Tantangan dan Peluang untuk Dunia Usaha Domestik”, di Jakarta, Jumat (20/6). Pembicara dalam acara itu, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono dan Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anne Patricia Sutanto.
Djatmiko mengatakan, ketidakpastian perekonomian dan perdagangan dunia kian tak menentu. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyebutkan, konflik geopolitik dan proteksionisme bakal memicu perlambatan perdagangan dunia Djatmiko berharap, ditengah eskalasi konflik geopolitik dan potensi perlambatan perdagangan, para pelaku usaha dan industri dapat memanfaatkan sejumlah perjanjian dagang yang sudah ada. Saat ini, RI memiliki 21 perjanjian tarif preferensial (PTA), perjanjian perdagangan bebas (FTA) dan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) dengan 30 negara yang tersebar di enam kawasan/regional, Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika, Amerika Latin dan Afrika,” katanya. ”Kami telah membuka akses pasar ke berbagai negara dan kawasan, karena itu, optimalkan pemanfaatan ’jalan tol’ itu agar bisnis semakin cuan,” katanya. (Yoga)
Ri-Rusia Teken Sejumlah Dokumen Kerjasama Transportasi dan Pendidikan
Momentum Rombak Kebijakan Bursa Saham
Momentum Rombak Kebijakan Bursa Saham
115 WNI Mulai di Evakuasi
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Industri Manufaktur Terancam Konflik Iran-Israel
Eskalasi konflik Iran dan Israel berpotensi melonjakkan biaya produksi dan mengganggu logistik global serta kelancaran rantai pasokan bahan baku. Menurut Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita, dampak konflik Iran-Israel paling terlihat di pasar energi karena Timur Tengah memasok 30 % produksi minyak global. ”Energi bagi industri sangat vital karena tidak hanya sebagai sumber energi produksi, tapi juga sebagai bahan baku dalam proses produksi,” ujar Agus, Kamis (19/6). Pascaperang Iran-Israel harga minyak Brent berfluktuasi antara 73 USD dan 92 USD per barel. Volatilitas harga energi dunia semakin tinggi seiring munculnya ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia, yang menangani 30 % pengiriman minyak global. Konflik geopolitik di Timur Tengah juga bisa mengganggu rute perdagangan maritim lainnya di Terusan Suez, yang menangani 10 % perdagangan dunia.
Kondisi ini, bisa berdampak pada berbagai industri manufaktur di Indonesia. Margin laba industri tekstil dan alas kaki, bisa mengalami penyusutan 5-7 % akibat kenaikan biaya logistik. Sektor otomotif dan elektronika yang sebagian besar komponennya bergantung pada impor berpotensi mengalami kerugian ekspor hingga 500 juta USD. Industri nikel dan baja Indonesia juga menghadapi kenaikan biaya transportasi batubara sebesar 15-20 % dan penundaan pengiriman tiga hingga empat minggu. Potensi kerugian ekspornya 1,2 miliar USD. Disektor pangan, Indonesia mengimpor pupuk dan bahan baku pupuk berbasis NPK, seperti fosfat. Sekitar 64 % diantaranya berasal dari Mesir yang terletak di kawasan Timur Tengah. ”Industri nasional harus mulai mengandalkan sumber energi domestik, termasuk energi baru dan terbarukan seperti bioenergi, panas bumi, serta memanfaatkan limbah industri sebagai bahan bakar alternatif,” ujar Agus. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023








