Ekspor
( 1057 )Asal Efisien dan Kompetitif, Ekonomi RI Tak Terpengaruh China
Perekonomian China belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat. Kendati demikian, pelaku usaha optimistis kontraksi China tidak serta-merta melumpuhkan ekonomi Indonesia selama iklim usaha dan investasi dapat semakin efisien dan kompetitif untuk investor. Dalam laporan terbaru Bank Dunia bertajuk ”Prospek Ekonomi Global 2024” yang terbit Januari ini, ekonomi China sepanjang 2024 diproyeksi hanya tumbuh 4,5 %, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,2 %. Berdasarkan laporan itu, negara dengan perekonomian terbesar nomor dua di dunia ini tengah memasuki masa kritis dan sedang bergulat dengan perlambatan struktural yang ditandai dengan pelemahan daya beli, sulitnya warga untuk mendapatkan pekerjaan, dan terpuruknya kepercayaan investor.
Dari kacamata dunia usaha dalam negeri, perlambatan ekonomi China yang terjadi dalam satu hingga dua tahun belakangan turut memperlambat putaran roda ekonomi Indonesia. Sebab, di sektor perdagangan, China menjadi penyuplai terbesar bahan baku dan bahan penolong untuk Indonesia. Selain itu, China juga menjadi negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia. BPS mencatat China sebagai mitra dagang utama baik dari sisi impor dengan nilai perdagangan 62,18 miliar USD (Rp 972 triliun) maupun ekspor yang mencapai 64,94 miliar USD (Rp 1.015 triliun) sepanjang 2023.
KomiteTetap Kebijakan Publik Kadin, Chandra Wahjudi, mengatakan, meski pelemahan ekonomi China dapat mengurangi volume ekspor Indonesia ke ”Negeri Tirai Bambu” tersebut, surplus neraca perdagangan tetap bisa terjaga tahun ini jika kebijakan hilirisasi industri diimplementasikan secara tepat. ”Neraca perdagangan akan tetap surplus bergantung pada implementasi kebijakan hilirisasi industri yang memberikan tambahan nilai yang lebih tinggi,” ujarnya, Rabu (17/1) di Jakarta. Selain menggelontorkan insentif untuk memacu hilirisasi industri, Chandra menilai pemerintah harus melakukan penyederhanaan regulasi dan perizinan ekspor untuk setiap produk ekspor.untuk memacu kinerja ekspor. (Yoga)
Ekspor Manufaktur Tembus US$ 187 Miliar
Ekspor industri manufaktur sepanjang 2023 berhasil menembus US$ 186,98 miliar atau menyumbang 72,24% dari total nilai ekspor nasional sebesar US$ 258,82 miliar. Hasil tersebut juga melampaui target ekspor sebesar US$ 186,40 miliar. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, ditengah kondisi dunia yang sedang tidak stabil, industri manufaktur tetap agresif untuk memperluas pasar ekspornya. "Untuk 2024, kami menargetkan US$ 193,4 miliar. Kami optimis segera tercapai," ungkap dia. Menperin menyebutkan, beberapa sektor yang menjadi penyumbang paling besar terhadap capaian nilai ekspor industri manufaktur nasional, antara lain industri logam dasar, industri makanan, industri bahan kimia, industri kendaraan bermotor, trailer dan semitrailer, industri komputer kertas dan barang dari kertas. (Yetede)
Ekspor Batubara pada 2023 Catatkan Rekor
Ekspor RI Tertekan Perlambatan Global
Kinerja ekspor Indonesia pada 2023 menurun dibandingkan tahun
2022. Harga komoditas unggulan yang turun, ditambah perlambatan ekonomi global,
memicu turunnya permintaan dari negara tujuan ekspor. Mengutip data BPSk, total
nilai ekspor Indonesia pada Januari-Desember 2023 mencapai 258,82 miliar USD,
turun 11,33 % dibandingkan tahun 2022 senilai 275,96 miliar USD. Kontributor
ekspor masih didominasi oleh ekspor nonmigas sebesar 242,89 miliar USD atau
93,85 % dari total ekspor, sisanya berasal dari ekspor migas yang nilainya 15,92
miliar USD. Dalam paparan kinerja ekspor-impor 2023, di Jakarta, Senin (15/1)
Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan,
sepanjang 2023, ada sejumlah fenomena yang memengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
Harga komoditas unggulan penyumbang ekspor mengalami penurunan.
Harga minyak sawit yang pada Desember 2022 berada pada level
940,4 USD per metrik ton, akhir Desember 2023 turun jadi 813,5 USD per metrik
ton. Dampaknya, kinerja ekspor lemak dan minyak hewani/nabati pada 2023 merosot
23,42 % dibandingkan 2022. Nilai ekspor komoditas ini pada 2023 sebesar 28,45 miliar
USD, turun dibandingkan nilai ekspor pada 2022 di 35,15 miliar USD. Padahal,
komoditas ini berkontribusi 11,71 % pada ekspor nonmigas atau 10,99 % dari total
ekspor. Harga batubara pada Desember 2023 senilai 141,8 USD per metrik ton, merosot
dari 379,2 USD per metrik ton pada Desember 2022, membuat kinerja ekspor
batubara menurun 19,09 % secara tahunan. Padahal, kontribusinya 13,38 % total
ekspor Indonesia.
Perlambatan ekonomi negara tujuan juga menurunkan permintaan
ekspor. Perekonomian China, misalnya, yang pada triwulan tiga 2023 tumbuh 4,9 %
turun dibandingkan triwulan dua, sebesar 6,3 %. Padahal, China adalah mitra
dagang utama RI dengan kontribusi ekspor 25,66 %, senilai 62 miliar USD. Ekonom
Bank Danamon, Irman Faiz, mengatakan, kendati mencatat penurunan ekspor, Indonesia
masih mencatat surplus neraca perdagangan, 44 bulan terakhir. Namun surplus turun
dari 3,92 miliar USD pada 2022 menjadi 3,31 miliar USD pada 2023. (Yoga)
Ekspor Terpukul Harga Komoditas
Baja RI Tembus Pasar Kanada
Pasar Tuna Olahan Berpotensi Naik
Pemerintah berhasil mencapai kesepakatan pembebasan tarif ekspor
untuk empat komoditas olahan ke Jepang. Produk ekspor tuna olahanasal Indonesia
ke Jepang beberapa tahun terakhir terus meningkat. Tarif ekspor 0 % tersebut
berlaku untuk empat kode HS, yakni ekspor tuna kaleng dan cakalang kaleng dari
semula 9,6 % menjadi 0 % serta pos tarif ekspor katsuobushi dengan kode HS
1604.14-091 dan tuna lain dengan kode HS 1604.14-099 dari semula 9,6 % menjadi
0 %. Otoritas Jepang terlebih dulu memberikan eliminasi tarif untuk pos tarif
tuna kaleng Filipina, Thailand, dan Vietnam. Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) merilis, pada tahun 2022 Jepang mengimpor produk tuna-cakalang olahan dengan
empat kode HS tersebut sebesar 395 juta USD.
Pemasok utamanya Thailand (58 %), diikuti Indonesia (17,96
%), Filipina (16 %), dan Vietnam (4 %). Total produk tuna-cakalang yang diimpor
Jepang senilai 2,2 miliar USD, kedua terbesar di dunia setelah AS. Dimana
pasokan Indonesia senilai 154 juta USD (7 %) atau urutan ke-6 negara pengekspor
tuna-cakalang ke Jepang. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan
Perikanan KKP Budi Sulistiyo, pekan lalu mengemukakan, tarif 0 % memberikan
peluang signifikan terhadap peningkatan pasar ekspor tuna olahan ke Jepang. Hal
ini mengingat pihak Jepang sejak perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang
(IJEPA) berlaku tahun 2007 tidak memberikan tarif preferensi terhadap produk
tuna olahan kepada Indonesia.
Daya saing produk tuna Indonesia di pasar Jepang diharapkan
akan terus meningat mengingat Thailand sebagai kompetitor sudah lebih dulu
menikmati tarif preferensi produk olahan tuna. ”Dengan tarif 0 % ini, diharapkan
pada lima tahun ke depan ekspor tuna dan cakalang Indonesia meningkat 20 %.
Selain itu, mendorong peningkatan akses pasar tuna olahan Indonesia ke Jepang.
Ini juga diharapkan dapat meningkatkan investasi pengolahan produk tuna olahan,
baik PMDN maupun PMA, dan meningkatkan hilirasi industri tuna di Indonesia,” katanya
saat dihubungi, Minggu (14/1/2024). (Yoga)
Surplus Neraca Perdagangan Bakal Merosot
Indonesia Jaga Ekspor Minyak Sawit ke Pakistan
Ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan mencapai hampir 3
juta ton setiap tahun. Suplai ini untuk memenuhi 90 % kebutuhan minyak nabati
mereka sebagai bahan baku industri. Indonesia ingin menjaga, bahkan meningkatkan
pasokan minyak sawit ke Pakistan ini untuk mengantisipasi dampak persyaratan
nondeforestasi, terutama ke Uni Eropa, Inggris, dan AS. Di sisi lain, Pakistan
juga menginginkan hubungan imbal balik, seperti keseimbangan neraca perdagangan
mereka dengan Indonesia ataupun kerja sama lain. Dari total 4,3 miliar USD
nilai impor Pakistan dari Indonesia, sekitar 3,1 miliar USD berupa komoditas
minyak sawit. ”Dalam pertemuan dengan Kadin dan pemerintah di sini selalu
muncul soal kepastian pasokan (minyak sawit). Muncul juga permintaan mengapa
tidak ada nilai lebih di sini,” kata June Kuncoro Hadiningrat, Konsul Jenderal
Republik Indonesia di Karachi, Pakistan, Kamis (11/1/2024), di Karachi.
Ia saat itu menerima rombongan peserta dari Indonesia yang
akan hadir dalam Konferensi Minyak Nabati Pakistan (Pakistan Edible Oil Conference/PEOC)
2024 yang berlangsung di Karachi, Sabtu (13/1). Ajang tahunan ini diikuti para
produsen dan industri sawit sejumlah negara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan
Pakistan. Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya
Alam Menko Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud, yang juga turut dalam rombongan,
mengatakan, Pakistan pasar ekspor minyak sawit penting bagi Indonesia. Pakistan
di peringkat ketiga setelah China dan India dalam hal tujuan ekspor sawit dari Indonesia.
”Menghadapi pasar lain yang semakin banyak cerewetnya, jangan sampai terjadi
penurunan (ekspor sawit) ke Pakistan,” tuturnya. (Yoga)
Ekspor Benih Lobster Masih Tuai Kontroversi
Pemerintah berencana menuntaskan regulasi terkait dengan
ekspor benih bening lobster pada akhir Januari 2024. Kebijakan membuka keran
ekspor benih itu sempat menuai kontroversi publik berkaitan dengan keberlanjutan
sumber daya atau plasma nutfah, serta terpukulnya budidaya lobster dalam
negeri. Salah satu program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
dalam periode 2021-2024 adalah perikanan budidaya berkelanjutan dengan fokus
pada pengembangan komoditas unggulan, yakni udang, lobster, kepiting, rumput
laut, dan nila. Guru Besar Sumber Daya Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan IPB University Luky Adrianto berpendapat, ekspor berupa benih sumber
daya ikan, termasuk di dalamnya benih bening lobster, seharusnya
memperhitungkan aspek neraca sumber daya ikan dan bukan hanya neraca ekspor
dalam perspektif ekonomi.
”Neraca sumber daya ikan sangat penting dalam perspektif
spasial dan temporal,” katanya, saat dihubungi, Kamis (11/1/2024). Benih bening
lobster memiliki karakteristik spasial berupa ruang yang terbatas serta
temporal dalam kaitan siklus hidup. Dengan demikian, stok lobster di suatu
lokasi tidak selalu berlimpah sepanjang tahun serta bergantung pula pada kualitas
ekosistem. Pengelolaan berbasis wilayah perikanan dinilai sangat penting untuk
memastikan keberlanjutan stok benih lobster. Menteri Kelautan dan Perikanan
Sakti Wahyu Trenggono, dalam konferensi pers ”Outlook dan Program Prioritas
Sektor Kelautan dan Perikanan Tahun 2024”, Rabu (10/1), memaparkan, payung
hukum terkait dengan kebijakan ekspor benih bening lobster sedang disusun agar
keran ekspor benih itu bisa dibuka dan memberikan manfaat bagi negara. ”Targetnya
akhir bulan ini aturan bisa selesai,” ujarnya.
Penasihat Himpunan Budidaya Laut Indonesia (Hibilindo) Effendy
Wong mengingatkan, sewaktu keran ekspor benih bening lobster dibuka pada 2020,
penyelundupan benih lobster itu masih tetap berlangsung. Sementara itu,
kewajiban bagi eksportir benih lobster untuk mengembangkan budidaya lobster di
dalam negeri terindikasi praktik manipulasi. Effendy meminta komitmen
pemerintah untuk mendorong hilirisasi perikanan dengan tidak mengeksploitasi
benih atau plasma nutfah untuk diekspor. Budidaya lobster sebagai komoditas
unggulan perikanan Indonesia harus didorong untuk berdaya saing dan menghasilkan
nilai tambah. Kebijakan ekspor benih merupakan langkah mundur budidaya lobster
di Indonesia dan, sebaliknya, hanya akan menguntungkan pembudidaya lobster di
Vietnam. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022









