Ekspor
( 1057 )Ekspor Masih Suram, Industri TPT Andalkan Pasar Domestik
Ekspor Manufaktur Triwulan I-2024 Diperkirakan Turun
Sejalan dengan tren melemahnya permintaan global, performa
ekspor industri pengolahan nasional pada triwulan pertama I-2024 diperkirakan
turun dibanding periode sama tahun lalu. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor
Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno memperkirakan, kinerja ekspor industri
pengolahan pada triwulan I-2024 akan turun dibandingn periode yang sama tahun
lalu. ”Kinerja ekspor bakal lesu,” ujarnya yang dihubungi Minggu (17/3). Benny
menjelaskan, penurunan ini disebabkan melemahnya permintaan dari negara tujuan
ekspor seiring melambatnya perekonomian global. Namun, Benny meyakini Indonesia
masih akan mencatat surplus neraca perdagangan pada triwulan I-2024. Alasannya,
impor Indonesia juga akan turun, baik volume maupun harga.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja
Kamdani mengatakan, kinerja ekspor industri pengolahan triwulan I-2024
kemungkinan besar akan turun atau stagnan. Menurut Shinta, hal ini karena tidak
ada tanda-tanda peningkatan permintaan yang signifikan di pasar tujuan ekspor utama.
Selain itu, Shinta juga tidak melihat ada peningkatan diversifikasi tujuan
ekspor yang signifikan. Indikasi penurunan kinerja ekspor industri pengolahan
pada triwulan I-2024 sudah terendus dari data ekspor dua bulan pertama tahun
ini. Berdasarkan data BPS, ekspor Industri pengolahan pada dua bulan pertama tahun
ini mencapai 28,66 miliar USD atau lRp 446,93 triliun, turun 11,49 % dibanding
periode yang sama pada 2023. (Yoga)
Pelemahan Ekspor Berlanjut, Surplus Dagang Menipis
Tren pelemahan ekspor masih berlanjut memasuki
Februari 2024. Pada bulan lalu ekspor turun 9,45 % secara tahunan (year on
year/yoy) menjadi USD 19,3 miliar dari USD 21,3 miliar dan 5,79 % secara
bulanan (month to month/mtm) dari USD 20,49 miliar. Akumulasi surplus neraca
perdagangan pun menipis, turun menjadi hanya USD 2,9 miliar dari tahun lalu di USD
36,9 miliar.
Per Februari 2024, akumulasi ekspor turun 8,8 %
menjadi USD 39,8 miliar, dibanding periode sama tahun lalu USD 43,65 miliar. Plt
Kepala BPS Amalia Adminggar Widyasanti mengatakan, penurunan ekspor secara
bulanan disebabkan kemerosotan pengapalan produk manufaktur. Februari 2024,
ekspor manufaktur turun 9,22 % secara bulanan menjadi USD 13,64 miliar dari USD
15 miliar. (Yetede)
Pelemahan Ekspor Berlanjut, Surplus Dagang Menipis
Tren pelemahan ekspor masih berlanjut memasuki
Februari 2024. Pada bulan lalu ekspor turun 9,45 % secara tahunan (year on
year/yoy) menjadi USD 19,3 miliar dari USD 21,3 miliar dan 5,79 % secara
bulanan (month to month/mtm) dari USD 20,49 miliar. Akumulasi surplus neraca
perdagangan pun menipis, turun menjadi hanya USD 2,9 miliar dari tahun lalu di USD
36,9 miliar.
Per Februari 2024, akumulasi ekspor turun 8,8 %
menjadi USD 39,8 miliar, dibanding periode sama tahun lalu USD 43,65 miliar. Plt
Kepala BPS Amalia Adminggar Widyasanti mengatakan, penurunan ekspor secara
bulanan disebabkan kemerosotan pengapalan produk manufaktur. Februari 2024,
ekspor manufaktur turun 9,22 % secara bulanan menjadi USD 13,64 miliar dari USD
15 miliar. (Yetede)
Pebisnis Tolak Wajib Kunci Valas Ekspor Tiga Bulan
Ekspor Pendorong Kinerja Mayora
Kinerja Mayora Indah Tbk (MYOR) diproyeksi bakal bertumbuh di tahun ini. Momentum musiman yakni puasa dan Lebaran bakal menciptakan lonjakan konsumsi masyarakat sebesar 20%-30% dari bulan biasa. Sehingga hal ini berimbas terhadap kinerja MYOR. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Putu Chantika Putri mengatakan, sentimen lain yang bisa mendorong kinerja MYOR di tahun ini yaitu harga bahan baku yang mulai stabil di tengah daya beli yang masih terjaga. Sehingga manajemen MYOR menargetkan pertumbuhan pendapatan bisa mencapai 10% di tahun ini. MYOR mengakhiri tahun 2023 dengan kinerja yang kuat di kuartal IV 2023. Ini didorong oleh peningkatan marjin ditambah operating expenditure (opex) di kuartal IV yang lebih rendah terhadap penjualan sebesar 9,2%. Penjualan pada kuartal IV 2023 sebesar Rp 8,6 triliun atau naik 1,8% yoy. Utamanya didorong oleh penjualan ekspor yang tumbuh 7% year on year (yoy). "Sementara penjualan lokal turun 2% yoy yang disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat. Namun penjualan pada Januari 2024 telah menunjukkan peningkatan, sejalan dengan tren industri," kata Putu, dalam riset Ciptadana Sekuritas Asia, 1 Maret 2024. Pertumbuhan kuat dalam penjualan ekspor didorong oleh peningkatan inventaris untuk Tahun Baru Imlek 2024. Kinerja kuat muncul dari negara-negara Asia Tenggara. Sehingga mengimbangi melemahnya penjualan di Tiongkok dan Vietnam. Berdasarkan segmen, penjualan pengolahan makanan kemasan (termasuk biskuit dan wafer) relatif datar. Sementara penjualan pengolahan minuman kemasan (kopi dan sereal sarapan) tumbuh 10% yoy.
Secara kumulatif, total penjualan di 2023 sesuai ekspektasi sebesar Rp 31,4 triliun atau naik 2,7% yoy. Realisasi tersebut masuk dalam batas bawah kisaran panduan penjualan perusahaan ini tahun 2023 sebesar 3%-5%. Sehingga laba bersih MYOR secara kumulatif di 2023 mencapai Rp 3,2 triliun, naik 64% yoy. Harga komoditas Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi memproyeksi, konsumsi masyarakat bahkan bisa tumbuh 40% dibandingkan pada bulan biasanya pada momen puasa. Tapi harga bahan baku utama MYOR seperti gandum dan gula yang mengalami penurunan karena oversupply, faktor geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen yang akan mempengaruhi kinerja MYOR ke depan. Kemudian, kenaikan harga kopi dan kakao karena kekhawatiran tentang cuaca El Nino juga akan jadi sentimen bagi MYOR. Menurut Reza, program bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dapat mendukung daya beli masyarakat dan berdampak positif pada kinerja MYOR. Reza menilai, target yang ditetapkan oleh manajemen MYOR dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 10% yoy bisa tercapai mengingat penjualan MYOR pada kuartal keempat 2023 cukup kuat. Selaras dengan hal ini, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan turunnya harga gandum juga diprediksi dapat menurunkan beban bisnis MYOR di tahun ini. Namun, Azis menyebutkan, saat ini saham MYOR sedang tertekan. MYOR turun sebesar 3,66% dalam sepekan, dan turun 0,84% dalam sebulan terakhir. Sehingga dia menyarnakan para investor untuk wait and see terlebih dulu dan bisa masuk jika ada teknikal rebound. Kami merekomendasikan trading buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.460 - Rp 2.480 per saham, dan dengan potensi upside 5%-7% jika ada rebound, ujar Azis, Kamis (7/3). Reza merekomendasikan buy MYOR dengan target harga Rp 3.000 per saham. Putu juga merekomendasikan buy MYOR, dengan target harga 3.300 per saham. nPenjualan MYOR di dalam negeri pada tahun 2023 masih relatif lemah.
Jangan Tersandung di Negeri Sendiri
Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis
Kemenparekraf disebutkan, sektor ekonomi kreatif (ekraf) mampu menyerap sekitar
19,2 juta tenaga kerja, setara 15,2 % tenaga kerja nasional. Perputaran ekonominya
terlihat dari kontribusi terhadap PDB yang mencapai Rp 1.153,4 triliun. Dalam
neraca ekspor nasional, kontribusi ekraf terhadap ekspor nasional sebesar 19,6
juta USD atau 11,9 % pada 2019. Sejak 2011, nilainya berfluktuasi pada kisaran
15,6 juta USD hingga 20,3 juta USD dengan besaran tertinggi pada 2018. Meski
berkontribusi besar, sektor ini dinilai belum cukup mendapat perhatian
pemerintah. Sebagai gambaran, anggaran definitif Kemenparekraf pada 2024 hanya
Rp 3,53 triliun, jauh lebih kecil dari sejumlah kementerian lainnya. Total alokasi
belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.090,8 triliun. Padahal, efek pengganda
pada sektor ekraf terhitung besar.
Pendiri sekaligus CEO Naruna Ceramic Roy Wibisono, saat
dihubungi dari Jakarta, Selasa (5/3) menilai, potensi ekraf dengan perputaran ekonominya
tergolong besar. Naruna merasakan permintaan keramik di pasar begitu tinggi.
Kala pandemi Covid-19, Naruna yang memasok alat-alat makan buatan tangan justru
tumbuh pesat. Harga per barang dijual mulai Rp 70.000 hingga Rp 500.000. Naruna
bahkan berhasil mengekspor barang-barang keramiknya ke 16 negara, mulai dari
Singapura hingga AS. Selain desain yang unik, metode pemasaran juga menjadi
perhatian. Roy menggunakan beragam jalur penjualan, secara perorangan, melalui
pengecer (reseller), dan penjualan barang dari penyuplai ke konsumen
(dropshipper). ”Naruna itu memang riil ekraf. Bagaimana membuat sesuatu yang
biasa dengan sentuhan kreativitas sehingga harganya bisa jauh lebih kuat,” kata
Roy.
Di balik beragam potensinya, para pelaku usaha ekraf masih
bergulat dengan sejumlah hambatan. Salah satunya birokrasi yang berbelit menyulitkan
proses ekspor, yang menunjukkan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap para
pelaku ekraf. Roy mengatakan, sertifikasi di dalam negeri juga jadi ”bumerang”
bagi keberlangsungan usaha ekraf. Banyak auditor negara lain membuat penilaian
menyesuaikan standar Indonesia, yang menyebabkan barang ditolak karena tak memenuhi
detail persyaratan standar dalam negeri ketimbang ketentuan negara calon
importir. ”Banyak sekali perizinan itu yang membuat industri di Indonesia tak
bisa bergerak dengan bebas. Saya pernah melihat perizinan untuk suatu industri
hampir 50 (unsur), seperti limbah, kebisingan, dan lain-lain. Itu semua ada masanya,
ada perpanjangan yang butuh duit juga,” kata Roy. (Yoga)
Perpanjangan Rileksasi Ekspor PTFI Bersifat Fleksibel
Perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat bersifat akan flleksibel. Saat ini Pemerintah sedang menyusun intrusmen bea keluar konsentrat tembaga pasca Mei 2024. Hanya saja relaksasi ekspor diberikan jika PT Freeport Indonesia (PTFI) memenuhi komitmennya menyelesaikan smelter pada Mei mendatang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan potensi penyimpanan karbon nasional mencapai 572, miliar ton CO2 pada saline aquifer, dan sebesar 4,85 miliar ton CO2 pada depleted oil and gas reservoir. Potensi penyimpanan yang besar tersebut akan cukup signifikan dalam mendukung target penurunan emisi jangka panjang. "Perhitungan potensi penyimpanan karbon pada seline aquifer sekitar 572 miliar ton itu skalanya cekungan migas. Kalau perhitungan potensi pada depleted oil and gas reservoir sekitar 4,85 ,iliar ton itu skalanya sudah lapangan migas," kata Kepala Balai Besar Penguji Minyak dan Gas bumi LEMIGAS Ariana Soemanto. (Yetede)
Ekspor Terancam Resesi dan Konflik Geopolitik
Deflasi China Turut Picu Penurunan Kinerja Ekspor RI
China tengah mengalami deflasi dan diperkirakan akan
mengakhiri era pertumbuhan ekonomi tinggi. Kondisi itu dipandang turut memicu
penurunan kinerja ekspor Indonesia lantaran China merupakan pasar utama ekspor
Indonesia. Pada Januari 2024, China mengalami deflasi 0,8 % secara tahunan.
Penurunan Indeks Harga Konsumen pada Januari itu merupakan penurunan terbesar
dalam 14 tahun terakhir. Harga barang dan jasa di tingkat produsen juga
mengalami deflasi sebesar 2,5 % secara tahunan. Meskipun sedikit membaik dari Desember
2023 yang sebesar 2,7 %, Indeks Harga Produsen tersebut masih melanjutkan tren
deflasi selama 16 bulan berturut-turut atau sejak Oktober 2022. Deflasi di
China turut memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2024. BPS,
Kamis (15/2) merilis, total ekspor migas dan nonmigas Indonesia pada Januari
2024 senilai 20,52 miliar USD, turun 8,34 % secara bulanan dan 8,06 % secara
tahunan. Ekspor nonmigas turun paling dalam, sebesar 8,54 % secara bulanan,
menjadi 19,13 miliar USD.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pada
Januari 2024 nilai ekspor nonmigas Indonesia ke tiga pasar utama, yakni China,
AS, dan India, menurun. Porsi ketiga negara tersebut terhadap total ekspor
nonmigas RI sebesar 43,64 %. ”Dari ketiga negara itu, nilai ekspor ke China
turun cukup signifikan sebesar 23,9 % secara bulanan dan 12,92 % secara tahunan
menjadi 4,57 miliar USD. Komoditas yang menyumbang penurunan ekspor tersebut
adalah bahan bakar mineral, termasuk batubara sebesar 3,85 %; bijihlogam,terak,
dan abu 2,21 %.; serta lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk minyak sawit
(CPO),” ujar Amalia dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di
Jakarta. BPS juga mencatat, penurunan kinerja ekspor RI ke China itu menyebabkan
defisit neraca perdagangan RI terhadap negara tersebut semakin besar, yaitu
defisit 1,38 miliar USD. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022








