Ekspor
( 1057 )Ekspor Timah Mulai Menggeliat
Daya Saing Produk Tuna RI di Eropa Perlu Didorong
Peringatan Hari Tuna Sedunia pada 2 Mei 2024 menjadi alarm bagi Indonesia untuk mendorong daya saing komoditas unggulan itu. Sebagai penghasil tuna terbesar dunia, Indonesia belum mampu mendongkrak daya saing karena jangkauan pasar yang terbatas dan hambatan perdagangan. Pemerintah telah mencanangkan tahun ini sebagai Tahun Tuna Indonesia 2024, sebagai upaya memperkuat daya saing komoditas tuna di pasar global dan domestik serta pengelolaan tuna berkelanjutan. Indonesia merupakan pemasok tuna terbesar dunia dengan alat tangkap huhate (pole and line) dan pancing ulur (handline).
Ketua Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Hand Line Indonesia (AP2HI) Janti Djuari menilai, upaya memenangi persaingan dagang tidak mudah meskipun produk tuna Indonesia telah mengantongi sertifikasi ekolabel dari Marine Stewardship Council (MSC), yang menandakan bahwa produk tuna ramah lingkungan dan memenuhi standar internasional. Pasar utama tuna Indonesia, antara lain, AS, Jepang, dan Uni Eropa. Namun, Indonesia dinilai belum memenuhi persyaratan pasar Uni Eropa yang semakin ketat, di antaranya, kapal penangkap tuna wajib memiliki nomor persetujuan (approval number) Uni Eropa dan industri pengolahan harus mengantongi nomor persetujuan ekspor ke Uni Eropa. Sementara itu, Uni Eropa menutup persetujuan baru bagi kapal dan industri di Indonesia.
”Pasar menginginkan produk yang tersertifikasi ekolabel, tetapi tidak mau bayar lebih. Sementara pasar Eropa tidak bisa dipenuhi secara maksimal karena ditutupnya persetujuan ekspor baru bagi kapal dan industri pengolahan tuna dari Indonesia,” ujarnya saat dihubungi pada Kamis (2/5). Janti menambahkan, produk tuna Indonesia juga terkendala hambatan bea masuk ke Uni Eropa sebesar 20,5 %, sedang beberapa negara pesaing sudah dibebaskan dari bea masuk. Ketimpangan perdagangan dunia itu menyebabkan nelayan turut memikul beban biaya dengan tekanan harga jual. Di sektor hulu, perikanan tradisional dengan alat tangkap huhate dan pancing ulur yang sudah diakui merupakan alat tangkap ramah lingkungan dan berkelanjutan masih harus bersaing dengan armada tangkap modern di area yang sama. Akibatnya, nelayan tradisional tersingkir. (Yoga)
Pasar Ekspor Tak Tergarap, Pasar Lokal Melahap
Kelezatan buah durian tak hanya populer di lidah orang Indonesia. Buah berduri yang memiliki aroma menyengat ini juga sangat di gemari di pasar ekspor, terutama di negara-negara Asia. Tak heran, pemerintah berambisi menggenjot ekspor buah dengan kombinasi rasa manis dan pahit tersebut. Terlebih porsi ekspor durian Indonesia masih relatif kecil. Hanya saja, ada sederet pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar durian lokal bisa bersaing di kancah global. Salah satunya pamor durian Indonesia yang belum setenar durian asal negeri tetangga. Sebut saja Malaysia dan Thailand yang memiliki varietas unggul, seperti Musang King dan Motong. "Indonesia unggul secara kuantitas, karena buah ini bisa tumbuh dari Aceh sampai Papua. Tapi, kualitas kita kalah dari negara tetangga," ujar Ketua Sigit Purwanto, Ketua Komunitas Durian Traveler ke KONTAN, Senin (29/4).
Namun, pemerintah berniat memacu ekspor komoditas buah ini. Hal ini bermula dari pertemuan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, baru-baru ini. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas soal potensi ekspor durian ke Tiongkok. "Durian jangan anggap enteng. Mereka (China) impor durian itu sampai US$ 8 miliar (setara Rp 129,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.200 per dollar AS)," ujar Luhut baru-baru ini. Pernyataan Luhut benar adanya. Berdasarkan data perdagangan China yang dikutip oleh Asosiasi Eksportir Importir Buah-Buahan dan Sayuran Segara Indonesia (Aseibssindo), setiap kenaikan 1% penduduk China yang mengonsumsi durian, akan mengerek nilai penjualan durian sebesar US$ 1,7 miliar atau setara Rp 27,63 triliun. Owner Vigano Farm, Nelsens Yansah mengaku, tidak begitu tertarik mengekspor durian kendati potensinya besar. "Soalnya kita ini untuk memenuhi suplai di pasar domestik saja belum cukup. Sehingga, ekspor rasanya belum masuk akal walau menjanjikan," ujarnya, Senin (29/4).
Di Balik Surplus Perdagangan
Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2024 kembali surplus selama
47 bulan beruntun. Jika melihat kata surplus belaka, ekspor-impor baik-baik saja.
Padahal, ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan dalam kinerja ekspor-impor. Apalagi,
dalam pertumbuhan PDB 5,05 % pada 2023, ekspor bersih atau ekspor dikurangi
impor menyumbang 0,66 %. Tahun lalu, ekspor tumbuh 1,32 % secara tahunan, sedangkan
impor tumbuh minus 1,65 %. Nilai ekspor pada Maret 2024 lebih rendah
dibandingkan dengan Maret 2023. Nilai impor pada Maret 2024 juga lebih rendah
daripada Maret 2023. Adapun surplus secara triwulanan, yakni Januari-Maret
2024, lebih rendah ketimbang Januari-Maret 2023. Hal ini terjadi karena ekspor
turun hingga nyaris 5 miliar USD. Sebaliknya, nilai impor pada periode itu
cenderung tetap.
Indonesia, yang bergantung pada komoditas, menanggung dampak
penurunan harga komoditas terhadap kinerja ekspor. Perekonomian China yang
belum pulih turut berperan dalam penurunan ekspor Indonesia. Permintaan rendah membuat
ekspor nonmigas Indonesia ke China merosot. Padahal, pada Maret 2024, ekspor
Indonesia ke China 22,44 % total ekspor nonmigas. Porsi ini merupakan yang
terbesar dibandingkan dengan ekspor ke negara lain. Pada Januari-Maret 2024,
mayoritas impor Indonesia berupa bahan baku atau penolong yang mencapai 72,81 %.
Sementara barang modal 17,2 % dan barang konsumsi 9,99 persen. Impor bahan baku
atau penolong pada triwulan I-2024 anjlok 21,72 % secara tahunan, sedang impor
barang modal turun 12,63 % secara tahunan.
Hal ini mengindikasikan ada persoalan dalam proses produksi di
Indonesia. Sebab, bahan baku atau penolong dan barang yang dipertimbangkan
dalam menjaga nilaitukar, antara lain keseimbangan terhadap ekspor dan impor.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD akan menguntungkan eksportir, tetapi
membuat pening importir. Situasi lebih rumit akan dihadapi produsen yang
mengimpor bahan baku dan barang modal, tetapi memasarkan produknya di dalam
negeri dengan harga rupiah. Keseimbangan nilai tukar kian penting bagi
Indonesia yang mengekspor migas 3,899 miliar USD, tetapi mengimpor hingga 9
miliar USD pada Januari-Maret 2024. (Yoga)
Dalih Kementerian Kelautan Membuka Ekspor Benih Lobster
Devisa Hasil Ekspor Dimaksimalkan
Memanasnya tensi geopolitik akibat serangan Iran ke Israel
membuat kondisi pasar keuangan bergejolak sehingga rupiah melemah ke titik
terendah dalam empat tahun terakhir. Untuk ”menyelamatkan” rupiah, pemerintah
mengimbau eksportir untuk lebih maksimal memarkir devisa hasil ekspornya di
dalam negeri. Wakil Menkeu Suahasil Nazara mengatakan, dengan memperkuat
pasokan cadangan devisa di dalam negeri, rupiah semestinya bisa lebih kuat
menghadapi tekanan pasar keuangan global saat ini.
Belakangan ini rupiah terus melemah terhadap USD akibat kebijakan
pengetatan moneter AS yang berlanjut lebih lama dari perkiraan serta memanasnya
konflik di Timur Tengah. ”Kami mengimbau seluruh devisa hasil ekspor (DHE) kita dari para
eksportir agar dibawa pulang ke Indonesia. Ini memang sudah sesuai aturan kalau
DHE mesti ditaruh di dalam negeri untuk waktu lebih pajang,” kata Suahasil
dalam konferensi pers tentang kondisi perekonomian Indonesia terkini setelah
serangan Iran ke Israel, Kamis (18/4). Pemerintah sebenarnya sudah mewajibkan
pelaku ekspor untuk menyimpan DHE mereka di sistem keuangan dalam negeri sejak
1 Agustus 2023.
Kewajiban itu diatur dalam PP No 36 Tahun 2023 tentang DHE
dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam
(SDA). Lewat aturan itu, eksportir SDA, seperti pertambangan, perkebunan, kehutanan,
dan perikanan, wajib menyimpan 30 % devisanya di sistem keuangan domestik
selama minimal tiga bulan. Potensi devisa dari sektor SDA diperkirakan mencapai
203 miliar USD. Dengan kewajiban menyimpan minimal 30 % devisa di dalam negeri,
potensi DHE yang masuk ke sistem keuangan Indonesia bisa mencapai 60,9 miliar USD.
(Yoga)
Ekspor Hasil Kehutanan Tembus USD 3,5 Mikiar
DILEMA PENGAMANAN DEVISA
Aturan penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri atau Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE) sumber daya alam (SDA) yang berlaku sejak 1 Agustus 2023, memang telah membantu menjaga stabilitas rupiah dan cadangan devisa. Hal itu dapat dilihat dari realisasi tinggi penempatan DHE selama Agustus—Desember 2023, dan pada tahun ini per 20 Februari mencapai US$1,95 miliar. Namun, pemerintah juga berada pada posisi dilematis. Musababnya, masih ada saja pengusaha atau eksportir yang tidak mematuhi ketentuan soal penempatan DHE tersebut. Parahnya, jumlahnya sempat mengalami kenaikan yakni dari 7 eksportir pada Februari 2024 menjadi 16 eksportir pada 25 Maret, dan per 1 April berkurang menjadi 11 eksportir. Perusahaan pelanggar itu pun telah dikenai sanksi berupa tidak mendapatkan pelayanan ekspor yang dieksekusi Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan atas rekomendasi Bank Indonesia (BI). Posisi dilematis itu muncul dari sanksi berupa penghentian layanan ekspor yang makin menggerus aktivitas ekspor nasional. Apalagi, surplus neraca perdagangan terus menyusut. Adapun, kalangan pelaku usaha memandang strategi yang bisa menarik minat eksportir untuk mematuhi ketentuan DHE tanpa mengorbankan neraca perdagangan adalah dengan menyajikan insentif menarik. Sayangnya, sampai saat ini insentif fiskal yang dijanjikan tak kunjung datang. Alhasil, ada aksi saling tunggu di kalangan eksportir yang sejatinya merugikan perekonomian nasional. Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, menjelaskan hingga kemarin, Rabu (3/4), posisi TD Valas DHE mencapai US$1,99 miliar dan diikuti oleh 85 nasabah. "Itu terdiri dari 85 nasabah dan 16 bank," katanya kepada Bisnis.
Mengacu pada data Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan yang diperoleh Bisnis, dari 23 eksportir bandel yang tercatat pada 1 April 2024, sebanyak 12 di antaranya telah patuh sehingga tersisa 11 eksportir yang masih dikenai pemblokiran layanan ekspor. Adapun, pencabutan blokir ekspor tersebut bisa dilakukan dengan dua syarat utama. Pertama, soal pemasukan blokir dicabut apabila eksportir sudah memasukkan DHE ke dalam sistem keuangan di Indonesia. Kedua, soal penempatan pencabutan blokir layanan ekspor akan dilakukan apabila eksportir telah menempatkan minimal 30% DHE ke rekening khusus selama 3 bulan. Dalam konteks ini, Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Nirwala Dwi Heryanto, enggan memberikan banyak komentar soal upaya pemerintah dalam meningkatkan kepatuhan. Sementara itu, kalangan eksportir meminta pemerintah untuk merumuskan jalan tengah agar kebijakan DHE tidak memberatkan, lebih menarik, serta tetap mendukung optimalisasi ekspor.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno, berharap pemerintah tidak selayaknya memblokir perusahaan. Sebaliknya, pemerintah harus mencarikan jalan keluar yang solutif. "Kalau di blokir efeknya negatif untuk ekspor," katanya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, mengatakan setiap perusahaan memiliki kondisi keuangan yang berbeda sehingga tidak semua mampu menahan devisa ekspornya hingga 3 bulan. Ketua Umum Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, mengusulkan agar pemerintah memberikan kelelulasaan bagi eksportir dalam mengelola DHE. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyarankan pemerintah untuk mengimprovisasi skema insentif sehingga kemudahan yang diberikan tidak menambah beban fiskal. Salah satunya dengan menyediakan dana darurat yang bersumber dari masing-masing eksportir. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menambahkan hal yang perlu disempurnakan adalah penerapan DHE bagi perusahaan yang membutuhkan valas dalam pembelian input produksi.
Inalum Ekspor Perdana Aluminium Ingot 7.000 Ton
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) melakukan ekspor
Aluminium Ingot Seri G-1 sebanyak 7.000 metrik ton (MT) ke China. Hal ini
sekaligus sebagai momen ekspor perdana korporasi pada tahun 2024. Ekspor yang dilakukan di Pelabuhan Inalum di
Kuala Tanjung merupakan bukti produk Inalum semakin kompetitif di pasar global.
Corporate Secretary Inalum Mahyaruddin Ende dalam
keterangannya di Jakarta, Senin (1/4) menyampaikan, “Momen ekspor 7.000 MT ini
merupakan langkah perusahaan dalam hal ekspansi pasar aluminium khususnya pasar
global. Hal itu sejalan dengan salah satu dari tiga mandat pemerintah kepada
keluarga besar BUMN Holding Mind ID yaitu memiliki kepemimpinan pasar yang
terwujud melalui optimalisasi komoditas mineral dan ekspansi bisnis sekaligus
pembuktian korporasi memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional”. (Yetede)
KONSENTRAT TEMBAGA : Relaksasi Ekspor Belum Dapat Sinyal Perpanjangan
Pemerintah belum memberikan sinyal untuk melakukan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia yang berakhir Mei 2024. Presiden Joko Widodo mengatakan percepatan proses perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga baru diurus setelah pembahasan perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK). Belakangan, Freeport diketahui melobi pemerintah untuk memperpanjang relaksasi ekspor konsentrat tembaga sampai Desember 2024. Hal ini lantaran smelter baru Freeport di Gresik, Jawa Timur diklaim membutuhkan waktu untuk dapat berproduksi dengan kapasitas penuh setelah beroperasi secara komersial pada Mei 2024.
Lebih lanjut, Presiden Ke-7 RI itu mengatakan bahwa saat ini pemerintah sedang menyiapkan revisi regulasi untuk mengakomodasi percepatan perpanjangan IUPK Freeport. Relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga Freeport, menurut Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas, penting karena menyangkut potensi pendapatan negara yang hilang. Dia berujar negara bisa kehilangan pendapatan hingga US$2 miliar atau sekitar Rp31,7 triliun (asumsi kurs Rp15.872 per dolar Amerika Serikat) bila izin ekspor konsentrat tembaga Freeport tidak diperpanjang hingga Desember 2024. Berdasarkan laporan Freeport-McMoRan Inc. (FCX) kuartal III/2023, izin ekspor konsentrat tembaga PTFI sebesar 1,7 juta metrik ton yang diperoleh pada 24 Juli 2023, hanya berlaku hingga Mei 2024.
Sebelumnya, perwakilan Freeport hadir menemui Kepala Negara. Chairman & CEO Freeport McMoran Inc (FCX) Richard C Adkerson, President Freeport McMoran Kathleen Quirk, dan Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas melakukan diskusi dengan Presiden. Tony menjelaskan bahwa dalam pertemuan berdurasi sekitar 40 menit itu, mereka membahas mengenai perkembangan terkini dari situasi pertambangan dan penghiliran. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa kepada orang nomor satu di Indonesia itu, pihaknya turut menyampaikan terkait dengan perkembangan pembangunan smelter Freeport di Gresik Jawa Timur. Progres pembangunan smelter mencapai 92% yang diharapkan beroperasi dalam waktu dekat dan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2024.
Pilihan Editor
-
Membuat QRIS Semakin Perkasa
09 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
Salurkan Kredit, Bank Digital Mulai Unjuk Gigi
29 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022









