UE Meluncurkan Batas Tarif Karbon
Dukung Perekonomian, Fundamental Koperasi Perlu di Perkuat
Kereta Cepat diresmikan: Perlu Promosi Lebih demi Okupansi
Minat Investasi Retail Meningkat
SUARA PENGUSAHA, Berharap Pemilu Tanpa Gejolak
Di tengah persaingan antarcalon peserta Pemilu 2024 yang
sangat kompetitif, para pengusaha berharap penyelenggaraan pemilu berjalan aman
dan damai. Siapa pun yang terpilih nanti diharapkan bisa membawa perbaikan bagi
Indonesia. Para penyelenggara pemilu juga harus memastikan persiapan hingga
penyelenggaraan pemilu berjalan sesuai dengan rencana. Di sisi lain, pemilih
juga harus diedukasi agar memilih pemimpin yang kuat gagasan sekaligus mampu
memunculkan langkah-langkah konkret, serta memiliki rekam jejak yang baik. Harapan
itu, antara lain, mengemuka dari sejumlah peserta diskusi Kompas Collaboration
Forum-Afternoon Tea#15 bertajuk ”Peta Politik 2024” yang digelar harian Kompas
di Jakarta, Jumat (29/9). Diskusi dipandu Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta
Dharmasaputra.
Sekitar 20 pengusaha menghadiri acara ini, di antaranya CEO
Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani, CEO Citibank Indonesia Batara Sianturi,
Komisaris Utama PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk Antonius J Supit, Presdir PT AKR
Corporindo Tbk Haryanto Adikoesoemo, Komisaris Independen Bank OCBC NISP Betti
S Alisjahbana, dan Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang. Dalam
diskusi tersebut Shinta Widjaja Kamdani menyampaikan sejumlah harapan pengusaha
terkait Pemilu 2024. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia itu mengungkapkan,
salah satunya pemilu bisa berlangsung tenang dan tak ada gejolak dari sisi
keamanan. Para peserta pemilu juga diharapkan bisa berkompetisi secara jujur,
adil, serta saling menghargai hasil pemilu. Artinya, yang kalah harus menghargai
siapa pun yang keluar menjadi pemenang. ”Yang penting, dari hasilnya, jangan
ribut-ributlah. Silakan bertanding kalian, tetapi don’t make the winner takes
it all, silakan berbagi sehingga ini jadi pemilu yang siapa pun pemenangnya,
yang penting semua bisa baik untuk negeri,” ujar Shinta. (Yoga)
GERAKAN LITERASI, Anggaran Minim Jadi Hambatan
Pemerintah dan DPR menilai rendahnya minat baca masyarakat
Indonesia salah satunya disebabkan oleh minimnya anggaran gerakan literasi nasional.
Oleh sebab itu, perlu kebijakan untuk meningkatkan anggaran lebih agar membaca
menjadi hal yang membudaya di Tanah Air. Hal itu mengemuka dalam diskusi antara
wakil dari Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK),
Kemendikbudristek, Kemenkeu, Kementerian PPN / Bappenas, dan Komisi X DPR di
Jakarta, Sabtu (30/9). Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih mengungkapkan,
anggaran Perpustakaan Nasional tidak pernah menyentuh Rp 1 triliun. Dalam APBN
2024, anggarannya hanya Rp 724 miliar.
Selain itu, anggaran untuk Badan Standar, Kurikulum, dan
Asesmen Pendidikan, serta Badan Bahasa, hanya 0,72 % dari total anggaran Kemendikbudristek
yang sebesar Rp 97 triliun. ”Anggaran (literasi) sangat kecil meskipun kami
belum menjumlah semua. Jadi wajar kalau dinilai oleh pihak lain seperti itu
(minat baca Indonesia rendah). Kami mendesak pemerintah merespons kondisi
darurat literasi ini,” kata Abdul. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan
Kebudayaan PBB (UNESCO) menilai Indonesia merupakan negara terbawah kedua soal
literasi. Minat baca warga Indonesia 0,001 %. Artinya, dari 1.000 orang
Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca. Namun, berdasarkan data Perpustakaan
Nasional, ada peningkatan tingkat kegemaran membaca masyarakat dari 59,52 poin
pada 2021 menjadi 63,9 poin pada 2022. Meskipun belum naik signifikan, gerakan
literasi harus terus digalakkan. (Yoga)
BEI Bersiap Catatkan Rekor Baru
Ada Potensi Konsumen Pertamax Beralih ke Pertalite
Setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubidi
jenis pertamax dari Rp 13.300 per liter menjadi Rp 14.000 per liter mulai
Minggu (1/10) ada kekhawatiran konsumen pertamax beralih ke pertalite.
Pertalite adalah BBM bersubsidi yang dijual Rp 10.000 per liter. Regulasi
penggunaan BBM bersubsidi mendesak segera dikeluarkan. Berdasarkan catatan Kompas,
harga pertamax Rp 14.000 per liter menjadi yang tertinggi dalam setahun
terakhir. Pada 3 September 2022, Pertamina juga menaikkan harga pertamax dari
Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. Bertahan hingga 30 September
2022, harga pertamax lalu turun menjadi Rp 13.900 per liter per 1 Oktober 2022.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, Minggu, membenarkan
bahwa setidaknya dalam setahun terakhir harga pertamax sudah lebih intens mengikuti
dinamika harga minyak mentah global. Oleh karena itu, penyesuaian harga per 1
Oktober 2023 juga mengikuti perkembangan yang terjadi.
Dengan adanya selisih Rp 4.000 per liter antara pertalite dan
pertamax, ada potensi migrasi pengguna dari pertamax ke pertalite yang lebih
murah. Pertamina berharap hal itu tidak terjadi. Di sisi lain, menurut Irto,
para pengguna pertamax umumnya sudah memahami jenis BBM yang sesuai untuk kendaraannya.
”Harapannya konsumen pengguna BBM nonsubsidi tidak migrasi ke pertalite. Segmen
ini umumnya memahami perlunya BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraannya,”
ujar Irto. Pengamat ekonomi energi yang juga dosen Departemen Ekonomika dan
Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yogyakarta, Fahmy Radhi, yang dihubungi dari
Jakarta, mengatakan, ”Karena selisih harga itu, konsumen rasional akan pindah
ke pertalite. Apabila itu terjadi, akan memperbesar porsi subsidi salah sasaran
pertalite dan membebani APBN, mengingat pembatasan (pembelian BBM bersubsidi)
saatini belum dilakukan,” ucapnya. (Yoga)
Beban Ganda Perdagangan Maritim Dunia
Industri perdagangan maritim global tengah menghadapi dua tantangan
besar. Di satu sisi, pertumbuhannya masih lambat kendati berangsur pulih. Di sisi
lain, sektor tersebut perlu mewujudkan pelayaran hijau bebas karbon. Kedua poin
itu menjadi bahasan pokok Ulasan Perdagangan Maritim 2023 Konferensi
Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD). Laporan
bertajuk ”Menuju Transisi Hijau dan Adil” tersebut dirilis UNCTAD pada 27 September
2023, di Geneva, Swiss, waktu setempat. Pada 2022, volume perdagangan maritim
terkontraksi atau tumbuh minus 0,4 %. Namun, tahun ini, perdagangan tersebut
dapat tumbuh lebih baik meski masih lambat. UNCTAD memperkirakan pertumbuhan volume
perdagangan maritim global pada 2023 sebesar 2,4 %. Untuk jangka menengah,
2024-2028, perdagangan maritim diperkirakan tumbuh lebih dari 3 %. Angka itu
masih di bawah rata-rata pertumbuhan perdagangan maritim tiga dekade sebelumnya,
di 7 %. Hal itu terjadi lantaran pasokan dan permintaan global belum seimbang.
Perang Rusia dan Ukraina menjadi hambatan pelayaran barang. Sebagian alur
perdagangan maritim berubah dan bertambah panjang.
Industri pelayaran global dituntut pula berkontribusi mengatasi
perubahan iklim dengan mempercepat dekarbonisasi. Industri tersebut menyumbang
3 % dari total emisi global. UNCTAD mencatat, pada periode 2012-2022, kontribusi
kapal-kapal angkutan barang milik 29 negara terhadap emisi karbon meningkat. ”Transportasi
laut perlu mempercepat dekarbonisasi sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi.
Langkah itu penting guna menyeimbangkan kelestarian lingkungan, kepatuhan
terhadap peraturan, dan tuntutan ekonomi untuk masa depan transportasi laut
yang adil dan berkelanjutan,” kata Sekjen UNCTAD Rebeca Grynspan. UNCTAD
menyebutkan, dekarbonisasi sektor itu membutuhkan biaya besar karena banyak
kapal yang terlalu tua untuk diperbaiki atau terlalu muda untuk dibongkar. Pada
awal Januari 2023, rata-rata usia kapal-kapal tersebut 22,2 tahun dengan
separuhnya berusia lebih dari 15 tahun. Sebanyak 98,8 % armada itu masih menggunakan
bahan bakar fosil kendati bahan bakar alternatif sangat menjanjikan. UNCTAD
mencatat, diperlukan tambahan 8-28 miliar USD per tahun untuk mendekarbonisasi
kapal-kapal di dunia hingga 2050. (Yoga)









