Perusahaan
( 1089 )Perguruan Tinggi dan Lanskap Baru Pasar Tenaga Kerja
Tahun lalu, World Economic Forum mengeluarkan laporan yang menunjukkan,
telah terjadi transformasi dalam pasar tenaga kerja. Salah satu cirinya adalah
perubahan jenis keterampilan yang dibutuhkan. Dalam tiga tahun mendatang, jenis
keterampilan yang paling dibutuhkan pasar tenaga kerja adalah kemampuan berpikir
analitis dan kreatif. Keduanya adalah jenis keterampilan kognitif yang sangat diperlukan
untuk merespons tantangan baru di dunia kerja. Keterampilan-keterampilan teknis
yang repetitif tak lagi banyak dibutuhkan sebagaimana beberapa dekade yang lalu
saat banyak pekerjaan masih bertumpu pada tenaga kasar manusia.
Saat banyak kerja teknis dan repetitif mulai dialihkan pada
mesin yang berbasis kecerdasan buatan, maka pasar tenaga kerja tidak akan lagi
banyak membutuhkan keterampilan teknis. Markow dkk. dalam ”The New Foundational
Skills of the Digital Economy,” menyebut, ada tiga jenis keterampilan baru yang
dibutuhkan dalam ekosistem ekonomi digital saat ini, yaitu keterampilan manusiawi
(human skill), keterampilan digital, dan
keterampilan pendukung bisnis. Keterampilan manusiawi ini mencakup kemampuan
analitis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Disini perguruan tinggi, sebagai salah satu lembaga pendidikan penyuplai tenaga
kerja usia produktif harus merespons perubahan ini.
Berdasarkan data statistik tahun 2023, angkatan kerja yang merupakan
lulusan perguruan tinggi sekitar 10 % atau 15 juta orang, maka perguruan tinggi
perlu menyeimbangkan misi pendidikan dan misi penyiapan tenaga kerja agar bisa
mempersenjatai para calon buruh dengan kritisisme sehingga mereka
terberdayakan. Kini, muncul tantangan baru untuk perguruan tinggi, yang datang
dari lanskap pasar tenaga kerja itu sendiri. Sejumlah keterampilan yang diajarkan di
perguruan tinggi tidak akan lagi dibutuhkan dalam tren pasar tenaga kerja
beberapa tahun mendatang. Karena itu, perguruan tinggi bisa melakukan misi
penyiapan kerja dengan sekaligus mempersenjatai para calon buruh, dimana
keterampilan utama yang dibutuhkan pasar tenaga kerja saat ini adalah
keterampilan berpikir kritis dan analitis.
Keterampilan itulah yang perlu diajarkan oleh perguruan
tinggi agar lulusan mereka nantinya punya senjata untuk memberdayakan diri
mereka sendiri di hadapan para pemberi kerja yang punya kecenderungan
eksploitatif. Keterampilan berpikir kritis dan analitis adalah bagian dari
pembelajaran mata kuliah filsafat. Oleh karena itu, dengan mengajarkan filsafat
pada semua mahasiswa, apa pun jurusannya, perguruan tinggi telah melakukan dua
hal sekaligus. Pertama, memberikan pendidikan kritis bagi mahasiswa. Kedua,
memberikan solusi komprehensif bagi tantangan pasar tenaga kerja. Mahasiswa
dilatih keterampilan berpikir kritis, analitis, dan kreatif sesuai yang dibutuhkan
pasar tenaga kerja dan juga pada saat yang sama dipersenjatai agar ketika
bekerja bisa menjadi buruh yang berdaya. (Yoga)
Ramai-ramai Buka Kedai Kopi, dari Pegadaian hingga Bank
Seiring maraknya bisnis kedai kopi, muncul fenomena
perusahaan nonmakanan-minuman ikut terjun ke bisnis kedai kopi.
Perusahaan-perusahaan ini memilih kedai kopi sebagai sarana mengenalkan
berbagai produk bisnis utama mereka kepada publik dan memunculkan brand
awareness di kalangan konsumen. Kira-kira kredonya begini: sambil ngopi, kita
bicara bisnis. Selasa (5/3) Rudianto (35) bersama dua rekannya sedang menikmati
secangkir kopi espresso di The Gade Coffee & Gold by Pegadaian di Gedung
Sarinah, Jakarta. Saat menyeruput kopi, Rudianto melihat secarik kertas di meja
yang bertuliskan promosi produk layanan menabung dan jual beli emas secara
daring dari PT Pegadaian yang bisa diakses via pindai kode QR. Barulah saat itu
karyawan swasta di Jalan MH Thamrin ini menyadari bahwa kedai kopi tersebut
milik PT Pegadaian.”Dulu, kalau dengar Pegadaian, yang teringat ya solusi pendanaan
dan jual beli emas. Ternyata sekarang ada kedai kopinya,” ujar Rudianto.
Kepala Departemen Layanan Prioritas & The Gade Taufan El
Savir menjelaskan, ide dasar dari pendirian The Gade Coffee & Gold by Pegadaian
adalah menyasar segmen anak muda dan masyarakat umum. Kedai kopi menjadi tempat
untuk diskusi bisnis ataupun jadi sekadar tempat nongkrong. Tak hanya
menawarkan kopi dan berbagai kudapan, kedai kopi juga menjadi sarana PT
Pegadaian untuk mengomunikasikan produk layanannya. Salah satunya adalah
layanan jual beli emas. Harapannya, kedai kopi dapat menjadi sarana pemasaran untuk
mengerek penjualan produk dan meningkatkan wawasan masyarakat tentang produk PT
Pegadaian.
Memanfaatkan bisnis kedai kopi untuk mengomunikasikan produk
keuangan juga dilakukan bank OCBC. Mereka berkolaborasi dengan beberapa
produsen kopi kemasan untuk membuat sejumlah kedai kopi bernama Nyala. Sembari
berjualan kopi, mereka pun mengenalkan berbagai layanan produk perbankan sambal
mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan keuangan. Di Stasiun
Palmerah dan Stasiun Sudirman, Jakarta, OCBC berkolaborasi dengan Janji Jiwa
membuat toko kopi bernama Nyala Cuan & Coffee x Janji Jiwa.
OCBC juga berkolaborasi dengan First Crack Coffee dengan nama
Nyala Coffee by First Crack yang berlokasi di Mall Ciputra Surabaya dan di Cove
at Batavia, PIK, Jakarta. Ini merupakan kantor cabang OCBC dengan konsep terbaru,
yakni OCBC Financial Fitness Gym (FFG). Jadi, sembari menikmati kopi, konsumen
juga bisa mengecek kondisi keuangannya. Di lokasi-lokasi tersebut, OCBC juga
menawarkan promo spesial saat bertransaksi dengan layanan perbankan OCBC.
Masyarakat juga bisa membuka aplikasi layanan perbankan Nyala dari OCBC di
gerai kopi tersebut. Adapun aplikasi layanan perbankan ini memudahkan untuk
menabung, berinvestasi, membuka deposito, hingga Tarik dan setor uang di ATM. (Yoga)
WNI Terus Dikirim ke Kamboja sebagai Penipu Daring
Jaringan perdagangan orang terus merekrut anak muda warga
negara Indonesia untuk dipekerjakan dalam sindikat penipuan daring (online
scamming) dan judi daring. Mereka umumnya diiming-imingi bekerja di bidang lain
dengan gaji tinggi. Kenyataannya, mereka dikirim ke Kamboja dan negara-negara
lainnya yang menjadi tempat beroperasinya sindikat tersebut. Anak-anak muda ini
juga ditugaskan menguras uang milik WNI. Setiap hari mereka bekerja dengan jam
kerja yang panjang. Sebagian besar tanpa digaji dan malah dijerat dengan utang
oleh sindikat yang mempekerjakan mereka. Dengan begitu, mereka susah untuk ber-
henti dan pulang ke Indonesia. ”Saya ditawari bekerja di perusahaan saham yang
katanya perusahaannya ada izin. Ternyata saya dikirim ke Kamboja, bekerja
menipu orang Indonesia. Di sini kerja mulai pukul 09.00 sampai pukul 23.00.
Saya ingin pulang,” ujar ATK (30), salah seorang korban yang bekerja di Kamboja
dalam percakapan telepon dengan Kompas, Senin (4/3).
Perempuan lulusan SMA kelahiran Sultra itu mengakui tertarik
bekerja di luar negeri dengan gaji 700 USD per bulan lantaran diajak temannya. ATK
dan teman-temannya dikirim ke Kamboja dan tinggal di mes yang berisi puluhan
anak muda Indonesia. Ia dipekerjakan di sebuah perusahaan yang menipu orang-orang
Indonesia, dengan membuat akun Telegram menggunakan data dan wajah orang lain.
Mereka kemudian menghubungi orang Indonesia. ”Jadi kami harus mencari member di
Facebook, Instagram, atau di mana saja ada orang kaya atau berduit. Lalu merayu
mereka agar percaya kepada kami, lalu kami ajak main kripto,” kata ATK. ATK
tidak menerima gaji. Sebaliknya, dia memiliki utang kepada perusahaan sekitar
2.300 USD yang bertambah menjadi 2.500 USD karena beberapa kali sakit. ATK akhirnya
melaporkan kasusnya kepada Kementerian Luar Negeri RI secara daring.
Menurut ATK, saat ini ada banyak anak muda Indonesia bekerja
di berbagai perusahaan di Kamboja. ”Jangan pernah percaya dengan ajakan kerja
di luar negeri. Itu bohong semua,” pesan ATK.Direktur Perlindungan WNI Kemenlu
Judha Nugraha menyatakan, pihaknya telah menerima laporan ATK dan berkoordinasi
dengan KBRI di Kamboja untuk menangani kasus terbut. ”KBRI di Phnom Penh segera
berkoordinasi dengan otoritas setempat. Lokasi tempat kerja ATK sudah
diketahui, dua jam perjalanan darat dari Phnom Penh,” Judha. Sejak 2020-2023,
Kemenlu telah menangani dan menyelesaikan 3.400 kasus terkait online scamming
yang menimpa WNI di delapan negara dan 1.748 orang di antaranya berada di
Kamboja. ”Ini menjadi keprihatinan kita, berbagai upaya kita lakukan, keberangkatan
ke Kamboja masih terus terjadi terutama terkait online scam dan judi online,”
kata Judha. (Yoga)
Biaya Perekrutan Baru ”Start Up” di ASEAN Dikurangi
Sebanyak 41 % perusahaan rintisan bidang teknologi digital
atau start up di Asia Tenggara menurunkan anggaran perekrutan karyawan baru
sepanjang 2023, karena akses terhadap pendanaan ke investor yang kian
berkurang. Situasi itu terungkap dalam laporan riset ”Southeast Asia Startup
Talent Trends Report 2024”. Laporan riset yang juga laporan tahunan Glints dan
Monk’s Hill Ventures edisi tahun 2024 ini dirilis resmi pekan lalu. Meski
anggaran perekrutan baru menurun, 78 % start up di Asia Tenggara masih berupaya
merekrut tenaga profesional yang mampu mendukung perusahaan berekspansi dan
berinovasi. Hanya 19 % start up menyatakan tidak ada perekrutan baru dan 3 %
yang menyatakan tidak yakin akan membuka lowongan pekerjaan baru.
Laporan riset Southeast Asia Startup Talent Trends Report 2024
menganalisis lebih dari 10.000 data lowongan pekerjaan start up di Singapura,
Indonesia, dan Vietnam, serta wawancara kepada lebih dari 70 start up di
wilayah tersebut. Menurut laporan itu, gaji pekerja start up di Asia Tenggara
yang bekerja di bidang pengembangan bisnis dan penjualan telah meningkat 20 %.
Ini mencerminkan kebutuhan mendesak start up untuk menghasilkan uang di tengah
kondisi pendanaan yang semakin sulit. Sementara bidang pekerjaan teknisi pada
start up di Asia Tenggara mengalami penurunan gaji terbesar yang dipengaruhi PHK
dan pemotongan biaya. Situasi ini menyebabkan meningkatnya pasokan talenta teknologi
di pasar sehingga memberikan tekanan pada gaji. Gaji untuk insinyur turun 2 %
pada 2023 dan posisi insinyur yunior turun paling tajam, yakni 6 %. (Yoga)
Keterampilan Sosial Dorong Pertumbuhan Karier
Keterampilan sosial atau softskill yang dimiliki pekerja
semakin menjadi kebutuhan sentral di tempat kerja. Perusahaan menyadari tugas
yang memerlukan keterampilan sosial manusia tidak dapat digeser dengan teknologi
kecerdasan buatan. Berdasarkan survei oleh LinkedIn dan perusahaan konsultan
riset pasar Censuswide pada 4.323 manajer perekrutan di 18 negara, antara lain,
di Eropa, AS, China, India, dan Indonesia, diidentifikasi sepuluh keterampilan sosial
yang paling dibutuhkan pada 2024. Keterampilan komunikasi menempati urutan
pertama, diikuti oleh keterampilan melayani pelanggan, kepemimpinan, manajemen
proyek, manajemen, analisis, bekerja dalam tim, penjualan (sales), keterampilan
memecahkan masalah, dan keterampilan riset. Survei LinkedIn dan Cencuswide itu
dilakukan 15 Desember 2023 sampai 4 Januari 2024.
Survei juga menemukan bahwa keterampilan sosial akan semakin
menjadi sumber pertumbuhan karier individu. Vice President LinkedIn Aneesh
Raman, dalam blog perusahaan, Minggu (3/3) mengatakan, kolaborasi antarpekerja
juga semakin menjadi pusat pertumbuhan perusahaan, karena itu, sudah saatnya
para pemimpin perusahaan mulai berkomunikasi secara jelas dan penuh empati
kepada anggota tim. Setahun terakhir muncul banyak prediksi yang mengatakan, kecerdasan
buatan akan mengubah pekerjaan. LinkedIn menyoroti, sejalan dengan fenomena
itu, keterampilan sosial berupa kemampuan beradaptasi termasuk keterampilan sosial
permintaannya melonjak.
”Pasar tenaga kerja diisi oleh narasi-narasi kemajuan teknologi
kecerdasan buatan untuk bisnis. Kami menyaksikan, keterampilan sosial yang
dipadukan dengan kemampuan belajar keterampilan teknik (hard-skills) menjadi
semakin penting,” ujar Country Lead LinkedIn Indonesia Rohit Kalsy. Menurut
Rohit, dalam riset LinkedIn dan Cencuswide yang terpisah, keduanya menemukan
bahwa 97 % dari 254 manajer perekrutan di Indonesia yang disurvei pada 15 Desember
2023-4 Januari 2024 memprioritaskan keterampilan sosial itu pada calon
karyawan. Karyawan yang sudah lama bekerja dalam perusahaan juga diharapkan
memiliki keterampilan sosial dan keinginan mempelajari keterampilan teknis
baru, terutama keterampilan teknis yang berhubungan dengan kecerdasan buatan. (Yoga)
Data Center Milik Bitera Topang Ekonomi Digital
Anak Usaha YKP BRI Penuhi Kebutuhan Pekerja Profesional
ESG untuk Bisnis Berkelanjutan
Usaha BUMN Karya Kurangi Beban Utang
Sejumlah emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya tengah berupaya memperbaiki kinerja keuangan. Caranya, lewat restrukturisasi utang untuk melancarkan arus kas. Teranyar, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) baru menggelar empat rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 21-22 Februari 2024.
Hasil RUPO itu menyetujui perpanjangan tanggal jatuh tempo dan besaran bunga utang, serta mekanisme pembayaran bunga untuk tiga obligasi yang diterbitkan WSKT. Yaitu, Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Tahun 2018, Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2020, dan Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2018.
Sementara, peserta RUPO Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 tidak menyetujui usulan WSKT. Maka WSKT berencana menggelar kembali RUPO untuk Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 pada 22 Maret 2024.
Waskita menargetkan restrukturisasi utang akan efektif pada akhir kuartal I 2024 ini. Manajemen WSKT pun berupaya merealisasikan master restructuring agreement (MRA) dengan 21 kreditur. Namun, skemanya belum diketahui.
"Diterimanya usulan restrukturisasi dalam RUPO diharapkan bisa membuat WSKT melakukan
settlement
atas suspensi saham perseroan," ujar Wiwi Suprihatno, Direktur Keuangan WSKT kepada KONTAN, Senin (26/2).
Selain WSKT, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan 11 lembaga keuangan juga sudah menyepakati MRA dengan nilai outstanding Rp 20,58 triliun. Nilai ini setara 87,1% dari jumlah utang yang direstrukturisasi per 23 Januari 2024.
"Kami konsisten membayar kupon obligasi dan sukuk yang sudah jatuh tempo," kata Mahendra Vijaya, Sekretaris Perusahaan WIKA kepada KONTAN, Senin (26/2).
Sementara PT PP Tbk (PTPP) memilih mendivestasikan aset. Sekretaris Perusahaan PTPP Bakhtiyar Efendi menyatakan, PTPP berupaya menurunkan utang melalui divestasi aset senilai Rp 3 triliun di tahun ini. Divestasi dilakukan terhadap aset properti, pabrik precast, peralatan dan saham sejumlah cucu usaha.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, masih susah memprediksi apakah langkah restrukturisasi BUMN karya, khususnya WSKT, bisa memperbaiki kinerjanya. Sebab sulit mengukur kekuatan dan kemampuan WSKT dalam membayar utangnya tersebut.
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, kemampuan keuangan masing-masing emiten BUMN Karya dalam membayar utangnya berbeda-beda. Ia melihat, rasio utang ADHI lebih kecil dari WIKA. Rasio utang WIKA pun lebih kecil dari WSKT.
PR Mengatasi Pengangguran
Masih tingginya tingkat pengangguran terbuka nasional menunjukkan
beratnya pekerjaan rumah dan tantangan kita dalam mengatasi problem
pengangguran. Menurut BPS, jumlah angkatan kerja nasional kita per Agustus 2023
sebanyak 147,71 juta orang, meningkat 3,99 juta dibandingkan Agustus 2022
(Kompas, 23/2). Sementara angka tingkat pengangguran terbuka 5,32 %, turun 0,54
% dibandingkan Agustus 2022. Meski tingkat pengangguran terbuka dua tahun
terakhir terus menurun, angkanya masih sangat besar, yakni 7,8 juta orang. Tingkat
pengangguran terbuka (TPT) 5,32 % saat ini juga masih jauh di atas target Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 3,6-4,3 %. Pemerintah
menargetkan TPT turun menjadi 4,74 % per Agustus 2024 dan 4,26 % per Agustus
2025.
Tingginya TPT menunjukkan penciptaan lapangan kerja tak bisa
mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja (AK). Sulitnya menekan pengangguran
juga terkait problem pemerataan kesempatan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Percepatan penurunan tingkat pengangguran hanya bisa dicapai melalui akselerasi
pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam hal ini, selain meningkatkan kualitas AK
(melalui pendidikan dan pelatihan), mendorong sektor-sektor ekonomi dengan efek
pengganda besar juga penting untuk perluasan lapangan kerja, khususnya di
sektor formal. Penciptaan lapangan kerja merupakan isu krusial karena penduduk
usia kerja menyumbang 69,3 % populasi. Ini kekuatan penting bonus demografi
untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ironisnya, AK kita didominasi pekerja tak
terampil, dengan pendidikan SD ke bawah 39,76 %, SMP 18,24 %, SMA 19,18 %.
Kondisi ini menyebabkan mereka tak siap masuk pasar kerja
dengan upah layak sehingga sebagian besar terserap di sektor informal (59,11 %).
Tantangan yang kita hadapi dalam penciptaan lapangan kerja antara lain terus menurunnya
kemampuan perekonomian dalam menciptakan lapangan kerja baru karena investasi yang
ada lebih banyak padat modal. Problem lain, ada mismatch antara lulusan dan kebutuhan
industri. Upaya menjembatani melalui sekolah kejuruan dan vokasi guna mencetak lulusan
siap kerja justru ikut menyumbang angka pengangguran karena kompetensi lulusan
belum sesuai harapan. Bagaimana kita mampu membaca dan beradaptasi dengan kebutuhan
dan tuntutan baru ini akan menjadi kunci dalam menjawab pekerjaan rumah
mengatasi pengangguran. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Bantuan Donatur Diduga Disalahgunakan
18 Feb 2021 -
Cerutu Jatim Kian Diminati Pasar Luar Negeri
17 Feb 2021 -
Ciputra Ekspansi di Puncak Tidar Malang
16 Feb 2021









