Industri lainnya
( 1893 )PENEMUAN HIDROKARBON : INDUSTRI HULU MIGAS MAKIN MENARIK
Industri hulu minyak dan gas bumi Tanah Air menjadi lebih menarik setelah Pertamina Hulu Energi mengumumkan penemuan hidrokarbon di dua wilayah kerjanya yang terletak di Aceh dan Papua.
Pertamina Hulu Energi Regional 4 menemukan hidrokarbon setelah melakukan kegiatan pengeboran sumur eksplorasi Markisa (MKS)-001. Sumur eksplorasi tersebut terletak di Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP, Field Papua, Kabupaten Aimas, Provinsi Papua Barat.Setelah dilakukan serangkaian evaluasi terhadap properti formasi dengan menggunakan Eline logging tools, Pertamina Hulu Energi (PHE) Regional 4 mengusulkan dua interval Drill Stem Test (DST) yang berada dalam Formasi Kais, DST#1: 2012–2020 mMD dan DST#2: 1932–1942,5 mMD.
Adapun di Aceh, Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHENSO) Regional 1 Sumatra menemukan indikasi hidrokarbon berupa gas melalui pengeboran Sumur Eksplorasi R2. Sumur eksplorasi tersebut terletak di WK North Sumatra Offshore dengan operator PHE NSO, yang berada di lepas pantai Lhokseumawe, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.Deputi Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Benny Lubiantara mengatakan bahwa penemuan hidrokarbon yang terus berkelanjutan di ujung barat dan ujung timur Indonesia menunjukkan potensi hulu migas masih menjanjikan.
“Ini akan semakin menguatkan keyakinan kita bersama bahwa dengan pengeboran eksplorasi yang masif dan penemuan hidrokarbon yang dihasilkan akan menjadi pondasi yang kuat untuk mencapai target 1 juta BOPD minyak dan 12 BSCFD gas pada 2030,” katanya dikutip Rabu (17/8).Benny meyakini penemuan hidrokarbon di Papua Barat akan mendorong kegiatan eksplorasi yang lebih masif dan agresif di masa mendatang di wilayah tersebut.Penemuan hidrokarbon tersebut, kata Benny, akan menambah rasio kesuksesan pengeboran sumur eksplorasi pada 2022. Sampai dengan semester pertama 2022, success ratio pengeboran sumur eksplorasi mencapai 75%, lebih tinggi dibandingkan dengan ca-paian tahun lalu yang sebesar 55%, dan mengungguli capaian global pada 2021 sekitar 23,8%.
Tiongkok dan Taiwan Meradang, TPT Siap Raih Peluang
Belum hilang dalam ingatan atas dampak krisis energi China pada 2021 yang dilanjutkan dengan pergolakan perdagangan akibat invasi Rusia ke Ukraina, perekonomian dunia kembali dibuat bersiaga dengan ketegangan antara Taiwan dan China. Reaksi pemerintah Negeri Tirai Bambu dengan menembakkan sejumlah peluru kendali ke wilayah perairan Taiwan sebaiknya ditangkap sebagai sinyal bahwa Tiongkok tidak memandang kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat yang merupakan musabab ketegangan ini sebagai hal yang biasa. Dan, sudah barang tentu bahwa apapun yang terjadi di negara dengan industri terbesar di dunia sekaligus perekonomian terbesar di Asia akan memberikan dampak serius ke negara lain, tak terkecuali Indonesia. Mengutip dari laman portal daring Bisnis Indonesia, Menteri Perindustrian telah menyiapkan sejumlah persiapan untuk menghadapi dampak tersebut. Pemerintah menyatakan akan mempercepat proses investasi di kawasan industri. Selain itu, calon pengelola kawasan industri akan mendapatkan pendampingan, serta mendapatkan fasilitas nonfiskal seperti pengamanan sebagaimana objek vital nasional dan objek tertentu. Mari kita mengambil contoh industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang telah eksis di Tanah Air sejak dekade 1970-an dan mencapai masa kejayaannya pada 1990-an. Sempat dicap sebagai sunset industry saat krisis ekonomi Asia 1998, industri ini justru membuktikan daya tahan yang cukup mengesankan hingga saat ini. Industri ini tumbuh 12,45% pada kuartal pertama 2022 berkat topangan konsumsi dalam negeri. Dari sisi ekspor, hingga paruh kedua 2022, TPT mencatatkan surplus neraca perdagangan lebih dari US$4 miliar.
Presiden Dorong Industrialisasi Pertanian
Program penanaman 1 juta pohon kelapa genjah digulirkan untuk mengoptimalkan produktivitas pertanian, khususnya di lahan yang kurang produktif. ”Yang paling penting setelah ditanam, disiapkan juga industrialisasinya. Karena kelapa bisa dipakai untuk gula semut. Bisa juga dipakai untuk minyak kelapa. Ini nanti disiapkan di sini. Di setiap desa yang ada kelapa genjahnya dengan jumlah banyak sehingga ada tambahan income untuk masyarakat,” kata Presiden Jokowi seusai penanaman pohon kelapa genjah bersama sejumlah petani, di Desa Sanggang, Kabupaten Sukoharjo, Jateng, Kamis (11/8) siang.
Kelapa genjah dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pohon ini bisa dipetik hasilnya setelah 2,5 tahun-3 tahun ditanam. Satu pohon bisa menghasilkan 140-180 buah kelapa selama satu tahun. Presiden menekankan, aspek industrialisasi mesti menyertai upaya peningkatan produktivitas hasil pangan. Untuk kelapa genjah, setidaknya mampu menghasilkan produk turunan, seperti gula semut, minyak kelapa, dan minuman segar. Program penanaman 1 juta pohon kelapa genjah juga menjadi upaya untuk mengoptimalisasi lahan-lahan yang kurang produktif, seperti pekarangan dan kebun. (Yoga)
NFCX Siap Ngebut di Bisnis Motor Listrik
Emiten grup MCAS, PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) gelontorkan dana sekitar Rp 300 miliar–Rp 400 miliar sampai dengan tahun 2023 untuk memproduksi motor listrik Volta. Hingga akhir tahun 2022, NFC Indonesia menargetkan produksi motor listrik bisa mencapai 10.000 unit.
Vice President of Investor Relations of MCAS Group, Zefanya Angelina Halim mengatakan, pihaknya melihat potensi usaha segmen energi bersih di Indonesia sangatlah besar, terutama untuk motor.
Mengingat penjualan motor nasional mencapai 5-6 juta motor per tahunnya dan juga mayoritas penduduk Indonesia adalah pengguna motor.
Mengembangkan Ekosistem Industri Pertahanan Indonesia
Akhir Juni 2022 lalu, galangan kapal nasional, PT PAL Indonesia telah dipilih Departemen Pertahanan Nasional Filipina untuk memproduksi dua kapal perang jenis ”landing platform dock” atau LPD yang akan digunakan oleh Angkatan Bersenjata Filipina. Kesepakatan ini merupakan kedua kalinya Manila memesan LPD dari Indonesia. Sebelumnya PT PAL telah menyerahkan dua LPD kepada Angkatan Laut Filipina pada 2016 dan 2017. Selain itu, pada 1 Juli, Pemerintah Indonesia juga mengumumkan bahwa PT PAL akan menandatangani kontrak dengan Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) untuk memasok setidaknya satu LPD.
Keberhasilan PT PAL memproduksi dan memasarkan kapal jenis LPD berawal dari paket offset atau alih teknologi hampir dua decade lalu atau tepatnya pada 2004 ketika Pemerintah Indonesia membeli empat LPD kelas Makassar dari galangan kapal Korea Selatan, Dae Sun Shipbuilding and Engineering. Kontrak tersebut mencakup izin produksi, di mana kapal ketiga dan keempat akan dibangun oleh PT PAL dengan bantuan dan supervisi Dae Sun, yakni KRI Banjarmasin-592 dan KRI Banda Aceh-593, yang masing-masing mulai beroperasi pada 2009 dan 2011.
Dari kesepakatan antara PT PAL dan Dae Sun tersebut, galangan kapal Indonesia dapat dinilai berhasil memanfaatkan program alih teknologi(transfer of Technology/ToT) untuk membangun dan mengekspor kapal perang buatan dalam negeri. Meskipun LPD bukanlah kapal perang yang kompleks, baik dari segi pembuatan maupun spesifikasi, seperti fregat atau kapal selam, kemampuan industri pertahanan nasional dalam menyerap teknologi dari kerja sama pembelian dan pengembangan alutsista tersebut perlu diapresiasi, karena skema ini berhasil meningkatkan kapasitas dan kapabilitas industri strategis Indonesia. (Yoga)
Gandeng Jenama Besar untuk Perluas Pasar
Ekspor untuk memperluas pasar merupakan salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM serta industri kecil menengah atau IKM. Opsi jalan keluar yang bisa mereka ambil adalah berkolaborasi dengan perusahaan dengan jenama besar, seperti masuk ke rantai pasok produksi. ”Masuk ke pasar luar negeri berarti pelaku usaha harus memahami permintaan konsumen di negara lain. UMKM dan IKM, termasuk yang dikelola wirausaha perempuan, bisa memanfaatkan perusahaan besar agar mereka mendapatkan akses pasar,” ujar Chair of Business 20 (B20) Indonesia dan CEO of Sintesa Group Shinta W Kamdani dalam konferensi pers terkait inisiatif One Global Women Empowerment (OGWE), Selasa (9/8) di Jakarta.
Presdir Unilever Indonesia sekaligus Chair of B20 Women in Business Action Council Ira Noviarti menyampaikan, ”OGWE menurut rencana akan diluncurkan pada 22 Agustus 2022,” sekretariat OGWE akan ada di masing-masing negara. Sekretariat ini, menurut Head of Sustainability and Corporate Affairs Unilever Indonesia sekaligus Co-Chair of B20 Women in Business Action Council Nurdiana Darus, bertugas menjalankan berbagai layanan OGWE. ”Sejauh ini sudah ada 18 perusahaan skala besar, baik nasional maupun internasional, yang bergabung dalam OGWE, seperti P&G, Unilever, Grab, dan Tokopedia,” ujarnya. (Yoga)
INVESTASI INDUSTRI KIMIA & FARMASI : Kemenperin Andalkan Substitusi Impor
Plt Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian Ignatius Warsito mengatakan bahwa ada dua strategi yang bakal digunakan pihaknya untuk mengejar target serapan investasi sektor industri kimia dan farmasi. Pertama, kebijakan substitusi impor sebesar 35% dari total bahan baku yang juga diterapkan terhadap produk hilir farmasi. Kedua, harga gas US$6 dolar untuk keperluan industri. Pemerintah, sambungnya, optimistis substitusi atau pengendalian impor untuk bahan baku mampu menjadi faktor yang bisa mengakselerasi target serapan investasi. Pemerintah memang berencana menaikkan target realisasi investasi pada 2023 menjadi Rp1.200 triliun. Di industri kimia dan farmasi, pemerintah sedang mengejar target investasi senilai US$38 miliar atau sekitar Rp200 triliun.
RENCANA KERJA PELINDO : Volume Angkutan Laut Kerek Kinerja Pelabuhan
Tingginya volume angkutan laut domestik sepanjang semester I tahun ini menumbuhkan optimisme di kalangan pelaku industri jasa pelabuhan, termasuk PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Sepanjang semester I tahun ini, volume angkutan laut domestik mencapai 26,75 juta ton, atau tumbuh 1,33% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Group Head Sekretariat Perusahaan Pelindo Ali Mulyono mengatakan bahwa perseroan optimistis kinerja Pelindo akan terus meningkat seiring dengan pulihnya kondisi perekonomian nasional. “Kami optimistis kinerja Pelindo akan terus meningkat seiring dengan kondisi perekonomian yang semakin membaik, serta transformasi yang terus berjalan di dalam perusahaan,” katanya Senin (8/8). Ke depan, Pelindo menargetkan pertumbuhan positif hingga akhir 2022, baik untuk arus peti kemas maupun non-peti kemas. “Dengan target arus peti kemas sebesar 17,3 juta TEUs dan non-peti kemas sebesar 144,3 juta ton,” imbuh Ali. Adapun, volume angkutan laut domestik juga tercatat tumbuh positif secara bulanan, yakni sebesar 6,89% dibandingkan dengan Mei 2022 yaitu 25,02 juta ton.
Antam Bangun Kawasan Industri Bahan Baku Baterai EV
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menggandeng
produsen prekursor terbesar di
dunia asal Tiongkok, CNGR, untuk
membangun kawasan industri yang
menghasilkan produk hilir nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan
listrik (electric vehicle/EV). Kerja
sama ini akan mengadopsi teknologi terbaru pembangunan lini
produksi nikel yang berkomitmen
pada pengurangan karbon dan green
development.
“Terkait proyek hilirisasi nikel,
Antam saat ini fokus mengembangkan bisnis EV battery ecosystem.
Kami sangat mengapresiasi niat
CNGR untuk bekerja sama dalam
pengembangan fasilitas produksi
hilir nikel. Kami memahami, CNGR
merupakan mitra strategis yang
potensial bagi Antam, karena memiliki pengalaman teknologi canggih
dalam pengolahan nikel dan memiliki kinerja bisnis perusahaan yang
baik,” kata Direktur Utama Antam
Nico Kanter dalam keterangan
resminya, Senin (8/8/2022)
Asaki dan AKLP Sampaikan Permasalahan Gas hingga ODOL ke Menperin
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan pertemuan dengan asosiasi-asosiasi industri pada Kamis (4/8/2022) lalu. Pertemuan ini untuk membahas gejolak ekonomi global dan antisipasi sektor industri dalam menghadapi kondisi tersebut. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) dan Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) yang termasuk asosiasi yang diundang langsung menyampaikan keluh kesah yang mereka alami. Kedua Asosiasi tersebut menyampaikan permasalahan gangguan pasokan gas hingga meminta pemerintah mengkaji ulang rencana penerapan Over Dimension dan Overloading atau ODOL pada tahun ini. “Selama ini pemenuhan gas hanya berkisar 60% dari kebutuhan. Hal tersebut tentu sangat membebani biaya produksi dan daya saing industri keramik Jawa Timur, di mana rata-rata pembelian harga gas berada di atas
US$ 7,5/mmbtu,” kata Edy kepada Investor Daily, Jakarta, belum lama ini. (Yetede)









