Industri lainnya
( 1893 )Industri Pertahanan Butuh Komitmen Kuat untuk Bangun Kemandirian
UU No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan mengamanatkan terbangunnya kemampuan industri pertahanan dalam negeri yang mandiri. Namun, sepuluh tahun setelah UU No 16/2012 diterbitkan, baru 15-25 % pengadaan alat utama sistem persenjataan dari dalam negeri. Perlu ada lembaga kuat sebagai eksekutor untuk menjadi jembatan antara kebijakan dan implementasi kemandirian industri pertahanan. UU No 16/2012 mengatur adanya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) untuk mengoordinasi kebijakan nasional dalam perencanaan, perumusan, pelaksanaan, pengendalian, sinkronisasi, dan evaluasi industri pertahanan. Dalam sidang terakhir KKIP pada 13 April 2021, Presiden Jokowi menggarisbawahi pentingnya kesinambungan pengadaan alat pertahanan demi kemandirian industri pertahanan. Namun, hal ini belum diikuti instruksi rinci lengkap dengan target waktu dan konsekuensinya.
Kepala Bidang Teknologi dan Offset KKIP Yono Reksoprodjo, pertengahan September 2022, menekankan, jika Indonesia memang berniat membangun industri pertahanan, perlu ada komitmen pemerintah untuk menghargai produk dalam negeri dengan cara membelinya. Menurut dia, pengerahan kementerian dan lembaga untuk membeli alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) perlu disertai instruksi presiden. Perlu ada mekanisme yang disertai sanksi apabila hal itu tidak dipatuhi. Dalam diskusi buku Ilusi Membangun Kemandirian Industri Alpalhankam Nasional, Bobby Rasyidin, Dirut Defend ID, holding industri pertahanan, menyebutkan, saat ini baru 25 % kebutuhan alpalhankam kementerian dan lembaga yang dipenuhi di dalam negeri. Ketua Perhimpunan Industri Pertahanan Swasta Nasional Jan Pieter Ate memperkirakan, baru 15 % pengadaan alutsista Tentara Nasional Indonesia yang berasal dari dalam negeri. (Yoga)
GROUNDBREAKING PABRIK WAVIN : Indonesia Siap Stop Impor Pipa
Presiden Joko Widodo memastikan Indonesia tidak akan mengimpor pipa lagi setelah Wavin menyelesaikan pembangunan pabriknya di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah. Untuk diketahui, hingga saat ini sebanyak 80% produk pipa yang digunakan di dalam negeri masih diperoleh dari impor. Keberadaan pabrik Wavin pun diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pipa nasional, sehingga bisa menyetop impor. “Setelah pabrik Wavin jadi, impor pipa tidak akan ada lagi, dan di Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Batang akan tercipta lapangan kerja yang tidak kecil,” kata Presiden saat groundbreaking pabrik Wavin di Batang, Senin (3/10).Dalam pidatonya, Presiden Jokowi juga menyebut bahwa Wavin menyusul 10 perusahaan berskala global lainnya yang sedang dalam proses konstruksi pembangunan pabrik di Kawasan Industri Batang.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, nantinya pipa yang diproduksi dari pabrik baru tersebut juga ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pipa di Asia Tenggara, Asia Pasifik, dan Eropa. Dengan begitu, Indonesia bakal menjadi salah satu pusat produksi pipa Wavin di dunia
Penyesuaian Tarif Baru Penyebrangan
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menerapkan penyesuaian tarif baru atau kenaikan tarif di 53 lintasan penyeberangan di seluruh Indonesia. Hal ini mengacu kepada Keputusan Menteri Perhubungan No. 184/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Perhubungan No. 172/2022 tentang Tarif Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan Kelas Ekonomi Lintas Antarprovinsi dan Lintas Antarnegara.
INDUSTRI LOGAM NASIONAL : Maspion Ekspor 10 Kontainer Aluminium
Maspion Group kembali melepas ekspor produk aluminium sebanyak 10 kontainer senilai US$1,2 juta menuju ke 6 negara. Presiden Direktur Maspion Group Alim Markus mengatakan, perseroan sejauh ini terus berupaya menangkap peluang pasar global, sehingga akhirnya mampu menembus banyak negara tujuan. “Kita dengan jeli dan tekun terus mengembangkan produk-produk yang dibutuhkan, dan bagaimana mengembangkan pasar ke seluruh dunia. Saat ini kita sedang berupaya masuk ke Uni Emirat Arab, seperti Dubai agar pasar kita lebih luas lagi,” jelasnya usai pelepasan ekspor produk aluminium, Kamis (29/9).Adapun, dalam pelepasan ekspor produk aluminium ekstrusi, tangga aluminium, dan foil aluminium itu dihadiri langsung oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. Produk tersebut akan dikirim ke 6 negara tujuan di antaranya Amerika Serikat, Australia, Inggris, Selandia Baru, Belgia, dan Vietnam.
Pabrik Biogas Terkompresi Dibangun di Sumut
Pabrik biogas terkompresi terbesar di Asia dibangun di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Menurut Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo, saat peletakan batu pertama pabrik biogas terkompresi PT United Kingdom Indonesia Plantations, di Langkat, Rabu (28/9) pabrik itu merupakan satu dari 25 pabrik yang akan dibangun di Sumut hingga 2024. ( Yoga)
India Berupaya Menjadi Raksasa Produsen Chip
Bersama negara lain seperti AS, India telah berupaya menjalin aliansi strategis seputar semikonduktor, sebuah perangkat penting yang digunakan di banyak perangkat mulai smartphone hingga lemari es. Bahkan pemerintah India telah mengambil langkah membawa produksi chip kedalam negerinya dan memberikan insentif bagi industri tersebut. "Saya pikir India memiliki peran penting untuk dimainkan," ujar Pranay Kotashane, Ketua program geopolitik teknologi tinggi di Takhasila Institute kepada CNBC. India sendiri tidak berada dalam gabungan negara-negara terkemuka untuk semikonduktor, karena itu tidak banyak perusahaan raksasa chip di India dan perusahaan manufaktur terdepan. Meski India belum memiliki perusahaan semikonduktor, pemerintahan PM Narendra Modi telah meluncurkan upaya memikat raksasa perusahaan asing. Salah satunya Desember lalu India menyetujui rencana pemberian insentif US$ 10 miliar untuk industri semi konduktor. Neil Shah dari konsultan teknologi Counterpoint Research berkata, "Kekuatan India adalah pasar konsumsi domestik yang besar dalam hal semikonduktor, menjadi ekonomi berpenduduk terbesar ke dua dunia. Rencana insentif akan membantu, selain itu India memiliki banyak teknisi yang mahir berbahasa Inggris dan tenaga kerja murah sehingga hemat biaya", (Yoga)
PRESIDENSI G20 : INDUSTRI & PANGAN JADI PRIORITAS
Kelangsungan sektor industri dan penanganan krisis pangan ekonomi global menjadi aspek mendesak dibahas dalam forum G20. Dua sektor itu menjadi kunci ketahanan laju perekonomian negara di dunia selama terjangan pandemi Covid-19.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia meyakini aspek industri sangat penting untuk menjadi wacana yang perlu segera dibahas, karena industri terbukti menjadi motor penggerak perdagangan, mengamankan rantai pasokan, serta investasi. Berdasarkan studi UNIDO pada 2022, kata dia, kapabilitas industri telah menjadi kunci di negara dengan ketahanan pandemi Covid-19. Selain itu, negara dengan indeks kinerja industri yang lebih kompetitif, juga terbukti lebih tahan dari dampak pandemi Covid-19.“Oleh karena itu, G20 harus mempromosikan kesetaraan untuk meningkatkan industri. Ini adalah panggilan yang serius untuk G20 untuk memiliki kerja sama yang lebih baik untuk memberikan insentif dan dukungan yang diperlukan guna mendorong aspek industri pada adopsi teknologi pada negara maju maupun negara berkembang,” katanya di forum Trade, Investment, and Industry Ministerial Meeting, Kamis (22/9).
Airlangga menyebut tantangan global saat ini juga membutuhkan solusi global. Dia meyakini mekanisme multilateral akan menjadi platform terbaik, di mana negara-negara G20 dapat menemukan jawaban untuk mewakili kesatuan tujuan. “Indonesia telah bekerja sama dengan anggota G20 lainnya dalam menetapkan arah strategis untuk mengembalikan kepercayaan pada institusi global dengan cara mereformasi itu. Dalam hal ini, reformasi WTO sangat penting,” kata dia.
Exotel Bakal Buka Kantordi Indonesia
CEO Exotel Shivakumar Ganesan menyatakan bahwa pembukaan kantor cabang di Jakarta merupakan salah satu dari sederet rencana yang akan dilakukan Exotel untuk memperkuat segmen banking, financial services, dan insurances (BFSI). Pria yang akrab disapa Shivku itu juga menyebut bahwa Indonesia berada di urutan pertama dan menjadi pasar yang paling penting. Dengan perusahaan membuka kantor cabang di Tanah Air, dia berharap bisa melayani seluruh wilayah Asia Tenggara. Hingga saat ini, Exotel telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan terkemuka di India dan Asia Tenggara, seperti Gojek, Tokopedia, Lazada, hingga Fabelio. “Indonesia adalah pasar yang sangat istimewa bagi kami. Ini sebenarnya adalah pasar terbesar kedua bagi kami ,” kata Shivku, Kamis (22/9). Menurutnya, pihaknya telah memiliki manajer akun dan tim pemasaran khusus untuk Indonesia. Di samping itu, Exotel juga telah memiliki tiga mitra saluran yang telah bekerja sama selama 5 tahun terakhir, dan berharap dapat meningkatkan jumlahnya di masa mendatang. Perusahaan telepon awan itu juga memiliki server dan jalur telekomunikasi yang berpusat di Jakarta. Dengan demikian, dia berharap bahwa lokalisasi data, kualitas, maupun kecepatan layanan akan jauh lebih baik di Ibu Kota.
Tantangan Energi Indonesia Butuh Solusi Multidimensi
JAKARTA,ID-Industri migas Indonesia saat ini tengah menghadapi dua tantangan, yaitu memenuhi kebutuhan energi Indonesia dan mengurangi dampak emisi karbon. Menghadapi dua tantangan energi tersebut, dibutuhkan solusi multidimensi. "Melihat situasi ini, tantangan energi Indonesia membutuhkan solusi multidimensi. Percepatan transisi energi Indonesia membutuhkan upaya bersama," ujar Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA), Irtiza H. Sayyed, pada Upacara Pembukaan Pameran dan Konvensi IPA ke-46. Selain mendorong peningkatan produksi migas, lanjut dia, industri migas saat ini juga tengah fokus untuk menurunkan emisi karbon. Dalam kegiatan operasional dan produksinya, perusahaan migas terus mengembangkan berbagai teknologi yang dapat mengurangi emisi karbon dan menghasilkan energi yang lebih bersih. "Dalam kasus teknologi seperti CCS, investasi yang dibutuhkan sangat besar, dan penerapan pada skala industri merupakan komitmen jangka panjang. Untuk meyakinkan bisnis jangka panjang. Untuk meyakinkan bisnis jangka panjang terhadap investasi semacam itu, para pemangku kepentingan berharap bahwa kebijakan pemerintah akan mendukung teknologi yang mereka bantu besarkan," ujarnya. (Yetede)
KERJA SAMA PROYEK BAHAN BAKAR HIJAU
Direktur Pemasaran Korporat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Riva Siahaan didampingi Direktur Utama PPN Alfian Nasution berjabat tangan dengan Direktur PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) Budi Santoso disaksikan Direktur Utama PT Adaro Power Dharma Djojonegoro seusai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Green Fuel Project antara BPI dan PPN di Nusa Dua, Bali, Selasa (20/9). Kerja sama tersebut merupakan salah satu wujud komitmen Adaro mentransformasi bisnis menjadi perusahaan yang lebih berkelanjutan









