Ekspor
( 1057 )Ekspor Indonesia Masih Tersandera Komoditas
Kinerja ekspor Indonesia pada Oktober 2021, diperkirakan masih moncer sejalan dengan kenaikan harga sejumlah komoditas. Hal ini yang mendorong kembali surplus neraca perdagangan pada Oktober. Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan, ekspor Indonesia pada Oktober 2021 meningkat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Meskipun ada sedikit penurunan dibandingkan dengan bulan September 2021. Pertama, kenaikan ekspor didorong oleh meningkatnya aktivitas manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia, terlebih di negara-negara Asia. Kedua, peningkatan harga komoditas, terutama batubara dan Crude Palm Oil (CPO) yang cukup tinggi Sebagai gambaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batubara acuan (HBA) sebesar US$ 161,63 per metrik ton, naik US$ 11,60 per metrik ton dibanding HBA September 2021.
Perdagangan Daerah, Ekspor Jabar Menjanjikan
Perdagangan luar negeri dijadikan modal penting bagi pemulihan ekonomi Provinsi Jawa Barat karena menunjukkan kinerja menjanjikan hingga kuartal III/2021. Pelaku usaha diharapkan membuka pasar baru di luar negara tujuan utama ekspor. Sekretaris Komisi II DPRD Jawa Barat Yunandar Eka Perwira mengatakan pertumbuhan kinerja ekspor nonmigas Jabar menjadi modal penting bagi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Menurutnya pertumbuhan tersebut bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kinerja perdagangan para pelaku usaha di Jabar. “Ini kita jadikan modal untuk kedepannya agar roda perekonomian berputar lebih baik lagi,” katanya, Kamis (4/11). Dia berharap para pelaku usaha Jabar bisa membuka tujuan ekspor baru. Salah satu negara tujuan ekspor yang menjanjikan adalah Tunisia yang selama ini bukan tujuan utama ekspor mulai memperlihatkan kenaikan kerja sama dagang.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan ekspor Jabar semakin membaik karena mitra dagang masih memberikan kepercayaan. Demikian pula dengan naiknya investasi di Jabar meski masih dalam situasi pandemi Covid-19. “Lobi dagang terus dilakukan, membuka pasar luar negeri yang saat ini mulai membaik membuat ekspor nonmigas Jabar yang didominasi produk industri tumbuh tinggi,” ujarnya. Produk yang ekspor yang dilepas antara lain serbuk kelapa, kerajinan rotan, kopi, buah-buahan, hingga tekstil. Pemprov Jabar juga mengikutsertakan produk-produk unggulan dalam kegiatan Trade Expo Indonesia-Digital Edition 2021, dan Dubai Expo 2020. “Selain itu produk ekspor Jabar rutin kami fasilitasi lewat business matching dan business meeting mulai dengan pengusaha Tunisia, Yunani, Senegal, China, Jepang hingga Malaysia,” ujar Kamil. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Moh Arifin Soedjayana mengatakan peningkatan kinerja ekspor nonmigas ditopang oleh upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang terus membuka banyak peluang ekspor di masa pandemi.
Disdag Dorong Ekspor Udang
Memperhatikan perkembangan ekspor Kalsel pada September 2021, ternyata ekspor komoditi perikanan dalam beberapa bulan terakhir ini, selalu mengalami kenaikan, baik volume maupun nilainya. Pada Agustus naik 124 persen dibandingkan dengan Juli 2021
Ini menunjukkan, komoditi perikanan Kalsel punya pangsa pasar yang positif di luar negeri. Satu di antara komoditas perikanan yang diekspor adalah udang. Jenis udang yang diekspor antara lain udang pink, udang Windo dan udang lainnya.
Perdagangan Internasional, Kinerja Ekspor Kian Menjanjikan
Kinerja ekspor Indonesia berpeluang terus menguat seiring dengan pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19 di sejumlah negara tujuan ekspor.
Presiden Joko Widodo mengatakan torehan ekspor Indonesia tengah berada pada masa puncaknya sepanjang tahun ini. Namun, dia mengingatkan agar para pemangku kepentingan tidak lengah dan harus secara konsisten meningkatkan daya saing. Menurutnya, kinerja ekspor dalam negeri berpotensi untuk bergerak positif lantaran pasar ekspor global masih terbuka luas. Alasannya, mitra dagang strategis Indonesia sudah menunjukkan pemulihan ekonomi seiring pelandaian kurva pandemi beberapa waktu terakhir. Dia mencontohkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tahun ini mencapai 7,9% secara year-on-year (YoY), Amerika Serikat mencatatkan 12,2%, Jepang tumbuh 7,6%, dan India tumbuh 20,1%.
Perikanan Daerah, Pasar Ekspor Ikan Kerapu Sumbar Perlu Dipacu
Ikan Kerapu dari Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu komoditas unggulan yang perlu dikembalikan agar pasar ekspor makin luas. Ikan jenis tersebut kini diminati oleh pasar Hong Kong. Sedikitnya 20 ton kerapu diekspor ke negara tersebut dalam setahun. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Desniarti mengatakan setiap tahunnya ikan kerapu di Sumbar di ekspor ke Hong Kong melalui jalur laut. Sejauh ini ekspor baru bisa dilakukan satu kali dalam setahun karena ikan kerapu baru bisa dipanen bilsa telah mencapai ideal yakni 500 gram hingga 1 kilogram.
"Untuk menunggu berat ikan 500 gram hingga 1 kilogram butuh waktu mampir 1 pula. Makanya ikan kerapu di Sumbar hanya bisa ekspor satu kali dalam satu tahun," katanya saat dihubungi Bisnis dari Padang, Minggu (17/10). Menurutnya, ikan kerapu saat ini dibudayakan di kawasan Kota Padang, Kepulauan Mentawai dan Kabupaten Pesisir Selatan. "Budi saya ikan kerapu itu paling besar di Kabupaten Pesisir Selatan yakni di Sungai Nyalo, Sungai Nipah, dan Sungai Bungin," ujarnya. Dari sejumlah daerah itu, DKP Sumbar mencatat produksi ikan kerapu di Sumbar per tahun masih berkisar 60 ton per tahun. Dengan permintaa pasar Hong Kong 20 ton. Maka masih ada sisa 40 ton untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Namun, Desiarti berharap agar pasar ekspor ikan kerapu terus diperluas serta diiringi peningkatan produksi melalui budi daya ikan kelompok. Dalam perkembangan lain, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Timur menyebutkan hasil produksi budi daya ikan kerapu di daerah itu mencapai 69 ton per tahun. "Dari data terakhir, produksi budi saya ikan kerapu dalam satu tahun di Kabupetan Aceh Timur mencapai 69 ton," kata Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dari Perikanan Kabupaten Aceh Timur M Fitriyadi di Aceh Timur di lansir Antara.
Krisis Energi di China dan India Bisa Pacu Ekspor RI
Krisis energi yang terjadi belakangan, membawa berkah bagi Indonesia. Hal tersebut mendorong kinerja ekspor. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan akan kembali mencatat surplus. Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mencetak surplus US$ 3,68 miliar. Walaupun angka ini lebih kecil dari surplus Agustus sebesar US$ 4,74 miliar. Indonesia juga ketiban berkah dari krisis energi di China dan India. Saat ini, China sedang mengalami kekurangan batubara untuk produksi listrik, sehingga mengganggu kinerja manufaktur. India juga sedang mengalami hal sama. Krisis energi di China dan India tersebut bisa mendorong kedua negara itu mengimpor batubara dari Indonesia lebih banyak lagi.
Kinerja manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia lain juga menggembirakan, salah satunya Thailand. Ini pun memperlebar peluang ekspor yang lebih tinggi. Sementara kinerja impor September, diperkirakan sebesar US$ 15,60 miliar atau turun 6,45% mtm. Hanya, secara tahunan impor masih tercatat naik 34,68% yoy. Peningkatan impor secara tahunan, didorong oleh ekspansinya kinerja manufaktur Indonesia karena ada pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 yang meningkatkan permintaan.
Basis Penentu Ekspor & Impor Komoditas
Jika tidak ada halangan, pemerintah akan memakai neraca komoditas sebagai patokan untuk menentukan persetujuan ekspor atau impor (PE/PI) bagi pengusaha. Itulah salah satu manfaat dari neraca komoditas. Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan, pemerintah akan menetapkan neraca komoditas pada tahun 2022 lewat Peraturan Presiden yang masih tahap harmonisasi. Penerapan penggunaan neraca komoditas tersebut, katanya, akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, ada lima komoditas yang penerbitan persetujuan ekspor dan impor (PE dan PI) harus berdasarkan neraca komoditas. Yakni gula, garam, daging, beras dan produk perikanan. Tahap kedua, pelaksanaan bagi sejumlah komditas akan dilakukan pada tahun 2023.
Jokowi Berencana Setop Ekspor CPO
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana menghentikan ekspor minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) agar komoditas tersebut dapat diolah didalam negeri menjadi produk turunan yang bernilai tambah. Indonesia harus punya keberanian menghentikan ekspor komoditas perkebunan tersebut dan tidak boleh gentar apabila terdapat negara lain atau organisasi tertentu yang melayangkan gugatan atas keputusan tersebut. Jokowi mengatakan, Indonesia harus mengasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi, yang mengombinasikan pemanfaatan kekayaan alam dan kearifan dan teknologi yang melestarikan.
"Sawit, juga sama. Suatu titik nanti setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmestik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan produk turunan lainnya" kata Jokowi saat memberikan pengarahan pada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII dan Program Pendidikan Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Istana Jakarta, Rabu (13/10). Presiden mengatakan, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia adalah anugrah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sebuah musibah.
Merujuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO Indonesia telah menunjukkan tren penurunan, artinya ekspor sawit dalam bentuk olahan atau hasil hilirisasi jauh lebih dominan ketimbang dalam bentuk mentah (CPO). Ekspor sawit pada 2017 mencapai 33,72 juta ton dengan ekspor CPO hanya 7,08 juta ton (20,99%) dan pada 2018 ekspor sawit 36,33 juta ton berupa CPO hanya 6,55 juta ton. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono pernah mengatakan, komposisi ekspor sawit RI sudah didominasi komoditas olahan, seperti olein, fraksi refined, dll, Hal itu mengindikasikan bahwa hilirisasi sawit nasional sudah berjalan. (yetede)
Jokowi Berencana Setop Ekspor CPO
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana menghentikan ekspor minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) agar komoditas tersebut dapat diolah didalam negeri menjadi produk turunan yang bernilai tambah. Indonesia harus punya keberanian menghentikan ekspor komoditas perkebunan tersebut dan tidak boleh gentar apabila terdapat negara lain atau organisasi tertentu yang melayangkan gugatan atas keputusan tersebut. Jokowi mengatakan, Indonesia harus mengasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi, yang mengombinasikan pemanfaatan kekayaan alam dan kearifan dan teknologi yang melestarikan.
"Sawit, juga sama. Suatu titik nanti setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmestik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan produk turunan lainnya" kata Jokowi saat memberikan pengarahan pada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII dan Program Pendidikan Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Istana Jakarta, Rabu (13/10). Presiden mengatakan, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia adalah anugrah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sebuah musibah.
Merujuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO Indonesia telah menunjukkan tren penurunan, artinya ekspor sawit dalam bentuk olahan atau hasil hilirisasi jauh lebih dominan ketimbang dalam bentuk mentah (CPO). Ekspor sawit pada 2017 mencapai 33,72 juta ton dengan ekspor CPO hanya 7,08 juta ton (20,99%) dan pada 2018 ekspor sawit 36,33 juta ton berupa CPO hanya 6,55 juta ton. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono pernah mengatakan, komposisi ekspor sawit RI sudah didominasi komoditas olahan, seperti olein, fraksi refined, dll, Hal itu mengindikasikan bahwa hilirisasi sawit nasional sudah berjalan. (yetede)
Jokowi Berencana Setop Ekspor CPO
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana menghentikan ekspor minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) agar komoditas tersebut dapat diolah didalam negeri menjadi produk turunan yang bernilai tambah. Indonesia harus punya keberanian menghentikan ekspor komoditas perkebunan tersebut dan tidak boleh gentar apabila terdapat negara lain atau organisasi tertentu yang melayangkan gugatan atas keputusan tersebut. Jokowi mengatakan, Indonesia harus mengasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi, yang mengombinasikan pemanfaatan kekayaan alam dan kearifan dan teknologi yang melestarikan.
"Sawit, juga sama. Suatu titik nanti setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmestik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan produk turunan lainnya" kata Jokowi saat memberikan pengarahan pada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII dan Program Pendidikan Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Istana Jakarta, Rabu (13/10). Presiden mengatakan, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia adalah anugrah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sebuah musibah.
Merujuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO Indonesia telah menunjukkan tren penurunan, artinya ekspor sawit dalam bentuk olahan atau hasil hilirisasi jauh lebih dominan ketimbang dalam bentuk mentah (CPO). Ekspor sawit pada 2017 mencapai 33,72 juta ton dengan ekspor CPO hanya 7,08 juta ton (20,99%) dan pada 2018 ekspor sawit 36,33 juta ton berupa CPO hanya 6,55 juta ton. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono pernah mengatakan, komposisi ekspor sawit RI sudah didominasi komoditas olahan, seperti olein, fraksi refined, dll, Hal itu mengindikasikan bahwa hilirisasi sawit nasional sudah berjalan. (yetede)
Pilihan Editor
-
Transaksi BUMN via PaDi Capai Rp 11,4 Triliun
16 Feb 2021 -
Rasio Utang Luar Negeri RI Nyaris 40% dari PDB
16 Feb 2021 -
Tersangka Baru Kasus Asabri Bertambah Lagi
17 Feb 2021 -
UMKM di Pare-Pare Dapat Bantuan Rp 4 Miliar
15 Feb 2021 -
Sejak Pandemi Fokus Pasar Lokal
15 Feb 2021







