;
Tags

Ekspor

( 1057 )

Pabrik yang "Direbut" RI dari China Kini Ekspor Mesin Cuci ke Jepang

Sajili 24 Sep 2021 Sinar Indonesia Baru

Sejumlah perusahaan asing telah merelokasi atau memindahkan pabriknya dari China ke Indonesia. Salah satunya produsen mesin cuci dari PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PT PMI). Perusahaan tersebut kini berhasil melakukan ekspor perdana ke Jepang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, relokasi dan ekspor produk mesin cuci ke Jepang tersebut sangat membanggakan. Sebab, negara tersebut dikenal memilik pasar yang sangat sensitif dan selektif terhadap kualitas produk. Artinya, kualitas mesin cuci produksi PT PMI telah diakui.


Masih Tersendat di Belahan Barat

HR1 20 Sep 2021 Koran Tempo, 7 September 2021

Operator kapal barang atau kargo mengoptimalkan pengiriman peti kemas ke Eropa dan Amerika selama masa pandemi Covid-19, sehingga peti kemas di Asia langka. Direktur Utama PT Samudera Indonesia Tbk, Bani Maulana Mulia, mengatakan operator harus mengejar permintaan jasa pengiriman yang sedang melonjak drastis di rute terpadat, dari Cina menuju negara-negara Barat tersebut. “Semua tersedot ke rute yang lebih menguntungkan,” kata Bani, kemarin. Pandemi Covid-19 kemudian memicu pembatasan akses antarnegara. Penurunan kinerja berbagai pelabuhan pangkal atau hub internasional membuat kontainer kosong menumpuk. Untuk bertahan, kata Bani, operator kapal kontainer harus mengurangi muatan agar tidak menghamburkan biaya operasional. “Susah mencari kapal yang menganggur untuk menambah kapasitas karena semuanya sudah penuh." Adapun Direktur Eksekutif National Maritime Institute, Siswanto Rusdi, khawatir akan potensi lonjakan permintaan kargo ekspor dari Indonesia menjelang akhir tahun ini. Tanpa layanan kontainer yang memadai, para pelaku usaha akan melewatkan periode padat atau peak season. “Sangat disayangkan bila bisnisnya terganggu. Padahal permintaan barang dari Eropa pasti tinggi ketika Natal.”

Impor Bahan Baku Tumbuh 59,9%, Neraca Perdagangan Cetak Rekor, Pemulihan Ekonomi Tengah Berlangsung

KT1 17 Sep 2021 Investor Daily, 16 September 2021

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 mengalami surplus hingga US$ 4,47miliar, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Rekor surplus tertinggi sebelumnya adalah sebesar US$ 3,58 miliar yang dibukukan pada Oktober bulan lalu. Pencapain ini dinilai semakin memperkuat optimisme bahwa pemulihan ekonomi tengah berlangsung. Surplus neraca perdagangan pada Agustus 2021 yang merupakan surplus bulanan  ke-17 secara berturut-turut tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor yang melonjak bersamaan dengan kenaikan ekspor yang tinggi.

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan, nilai ekspor pada Agustus 2021 yang sebesar US$ 21,42 miliar itu juga merupakan rekor tertinggi sejak Agustus 2021. Ia juga memaparkan, komoditas non migas yang menyumbang surplus terbesar pada Agustus 2021 adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, neraca perdagangan dengan beberapa negara mengalami defisit, diantaranya dengan Australia sebesar US$ 453,9 juta, Thailand USD 334 juta, dan Tiongkok US$ 175,5 juta.

Sedangkan barang impor modal mencapai US$ 2,41 miliar yang secara bulanan menunjukkan kenaikan 34,56%. Kontribusi impor barang modal terhadap keseluruhan impor mencapai 14,47%. Peneliti Center of Return on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat, kondisi neraca perdagangan yang mengalami surplus pada Agustus 2021. Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono memandang, surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga  ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. "Kedepannya, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung pemulihan ekonomi," kata dia. (YTD)

Ekspor dari RI di Agustus 2021 Senilai USD 21,42 Miliar

Sajili 16 Sep 2021 Sinar Indonesia Baru

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2021 mencapai USS 21,42 miliar atau naik 20,95 persen dibanding ekspor pada bulan Juli 2021 Sedangkan dibanding Agustus 2020 nilai ekspor naik 64,10 persen.

Dia menuturkan ekspor non- migas Agustus 2021 mencapai US$ 20,36 millar, naik 21,75 persen dibanding Juli 2021, dan naik 63.43 persen dibanding ekspor nonmigas Agustus 2020.

Secara kumulatif, nilai ekspor indonesia Januari hingga Agustus 2021 mencapai US$ 142,01 millar atau naik 37,77 persen dibanding periode yang sama 2020. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 134,13 millar atau naik 37,03 persen.

Menurut provinsi asal barang, kata dia, ekspor indonesia terbesar pada Januari hingga Agustus 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 21,56 miliar (15,18 persen), diikuti Jawa Timur US$ 14,87 miliar (10,47 persen) dan Kalimantan Timur US$ 13,33 miliar (9,39 persen).


Komoditas Pertanian, Ekspor Kopi Terkendala Logistik

KT1 13 Sep 2021 Bisnis Indonesia

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia memperkirakan volume pengiriman kopi bakal lebih rendah pada tahun ini akibat masalah kelangkaan peti kemas yang memicu lonjakan biaya pengapalan. Ketua Bidang Kopi Speciality dan industri Kopi Indonesia Moelyono Soesilo menyebutkan harga rata-rata kopi saat ini 15% lebih tinggi dibangdingkan dengan tahun lalu. Namun, dia menjelaskan pelaku usaha tidak dapat memanfaatkan kenaikan harga ini secara optimal akibat kendala pengapalan.

Data Kementerian Perdagangan memperlihatkan ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah dalam kode HS 09 selama dalam kurun waktu Januari-Juli 2021 bernilai US$756,2 juta, naik tipis 1,02% dibandingkan dengan Januari-Juli 2020 yang bernilai US$748,6 juta. Kopi asal Indonesia masih menjanjikan seiring dengan besarnya permintaan dari negara lain. "PPI bersama buyer telah menandatangani kontrak ekspor kopi ke Mesir sebanyak 600 ton, terhitung mulai September hingga Desember 2021, dengan nilai setara dengan US$1,2 juta," ujar Direktur Utama Perusahaan Perdagangan Indonesia Nina Sulistyowati.

Koordinator Wakil Ketua Umum III Kamar dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Sintha  W. Kamdani menilai produk pertanian menjadi salah satu kelompok produk yang memperlihatkan pertumbuhan ekspor sepanjang pandemi. Kendala terbesar untuk ekspor pertanian sejauh ini masih berkutat pada kesiapan pasokan karena produktivitas Indonesia yang fluktuatif, selain itu, terdapat kendala dalam pemenuhan standar produk. "Bila kita ingin mengembangkan ekspor produk pertanian secara signifikan, kami harap kedepannya pemerintah melakukan reformasi sistematik di sektor pertanian dan edukasi petani agar produk pertanian kita bisa diekpor," kata Sintha. (YTD)

Produk Oleokimia, Peluang Ekspor Terbuka Lebar

KT1 11 Sep 2021 Bisnis Indonesia

Peluang Indonesia untuk memperbesar ekspor produk oleokimia masih terbuka lebar seiring dengan berkurangnya hambatan di negara tujuan utama. Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Asep Asmara menjelaskan bahwa sejumlah produk sawit telah diselamatkan dari hambatan perdagangan itu adalah penghentian pengenaan bea masuk antidumping (BMAD) pada produk fatty alcohol oleh Uni Eropa. "Ada beberapa yang diselamatkan sehingga untuk prospek kedepannya, kami optimis masih bisa meningkat," katanya, Kamis (9/9)

Oleokimia adalah bahan kimia apapun yang berasal dari lemak. Contoh hasil olahan oleokimia yaitu mentega, sabun dan minyak goreng. Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor oleokimia menunjukkan tren pertumbuhan positif 9,57% dari US$2,61 miliar pada 2021. 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat mengemukakan bahwa sejauh ini tidak ada hambatan besar bagi ekspor produk oleokimia. Hambatan itu hanya untuk produk biodiesel dan dumping di Uni Eropa dan AS. Dia mengemukakan bahwa kebutuhan produk oleokimia sangat luas, mencakup kebutuhan industri kosmetik, industri kesehatan, pangan, dan pestisida. Kebutuhan yang luas ini diikuti pula dengan kemampuan produksi Indonesia yang meningkat. Dari kapasitas produksi yang tinggi ini, data Gapki menunjukkan bahwa sebagian besar oleokimia dikirim ke pasar ekspor. (YTD)

 


Ekspor Prebiotik ke Shanghai

Sajili 10 Sep 2021 Surya

Produsen prebiotik Pro Em-1, PT Agro Mitra Alimentare (AMA) yang berlokasi di Jabung, Kabupaten Malang, melakukan ekspor perdana dengan tujuan pelabuhan Shanghai. Pelepasan truk pengangkut kontainer berisi 1.020 botol tersebut dilakukan Direktur Utama PT. AMA, Apt Ge Recta Geson S Si bersama Bupati Malang, HM Sanusi.

Usai pelepasan kontainer ekspor menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tersebut, Ge Recta mengatakan, ekspor ini menjadi terobosan baru bagi PT. AMA, yang baru operasional dalam dua tahun terakhir.

Diakui Recta, permintaan produk prebiotik Pro Em-1 di pasar domestik selalu meningkat di tengah peningkatan jumlah penderita Covid 19. Padahal produk ini tidak hanya untuk pencegahan dan pengobatan infeksi karena covid-19 saja. Tapi juga infeksi lainnya.


Sumut Ekspor Kubis ke Malaysia dan Taiwan

Sajili 07 Sep 2021 Sinar Indonesia Baru

Provinsi Sumatera Utara hingga kini masih rutin mengekspor kubis ke mancanegara, seperti Malaysia dan Taiwan. Hingga awal September 2021, sudah ada ekspor kubis sebanyak 9,3 ton dengan total nilai Rp28,67 miliar.

Ekspor kubis dari Sumut pada tahun 2020 tercatat sebanyak 22,6 ton senilai Rp68,8 miliar dengan tujuan ekspor ke Taiwan, Malaysia, dan bahkan Singapura. Andi Yusmanto menyebutkan kubis yang diekspor memiliki standar tinggi, termasuk dalam jumlah berat kubis per buahnya.


Ekspor Andaliman dari Sumut ke Jerman Berlanjut

Sajili 02 Sep 2021 Sinar Indonesia Baru

Ekspor andaliman atau "merica batak" dari Sumatera Utara ke Jerman berlanjut setelah ekspor perdana dilakukan Maret 2021.

"Setelah ekspor perdana andaliman ke Jerman pada Maret 2021 dengan volume 574 kilogram, pada Agustus ada pengiriman lagi sebanyak 1.200 kilogram," ujar Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Andi Yusmanto di Medan, Minggu.

Andaliman yang diekspor ke Jerman itu. merupakan produksi dari Kabupaten Samosir, Sumut. Kalau sebelumnya nilai ekspor 574 kilogram itu sebesar Rp431 juta, maka yang 1.200 kilogram tersebut senilai Rp709,715 juta.

"Syukur masih terus ada permintaan andaliman dari Jerman dan petani serta eksportir Sumut juga masih bisa terus memenuhinya,"katanya.


Luhut Minta Ikan dari Biak Numfor Kontinu

IDR 01 Sep 2021 Investor Daily, 1 September 2021

Jakarta - Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta ekspor komoditas kelautan dan perikanan (KP) dari Biak Numfor ke Singapura bisa dilaksanakan secara kontinu dengan tetap menjaga kualitas. Ekspor komoditas KP Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia. Beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) mampu memproduksi hingga angka triliunan rupiah, salah satunya dimiliki Kabupaten Biak Numfor.

Melalui ekspor perdana dari Biak Numfor ke Singapura itu diharapkan terjadi peningkatan devisa negara dan pendapatan daerah serta kesejahteraan nelayan. Menko Luhut juga mengingatkan agar selalu memperhatikan pemanfaatan komoditas KP secara berkelanjutan dan ingin agar pengelolaan komoditas ekspor itu dijaga kualitas dan mutu produknya. Target ekspor komoditas perikanan dari Biak Numfor sudah dicanangkan sejak Maret 2021 bersama Kota Tual. Ekspor komoditas KP dari Biak Numfor kali ini ada sebanyak 28 ton melalui pesawat kargo dari Sriwijaya Air. 

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP menyebutkan, ekspor perdana itu merupakan langkah bahwa KKP turut mengawal perekonomian Indonesia Timur, khususnya Papua. Biak menjadi hub ekspor untuk produk perikanan dari wilayah Papua, seperti Nabire, Jayapura, Serui, dan Bintuni, yang berada pada WPPNRI 717 yang kaya ikan bernilai ekonomis tinggi seperti tuna, tongkol, cakalang, kerapu, lobster, dan kepiting. Ekspor ini menjadi langkah awal yang baik bagi Kabupaten Biak Numfor unutk dapat memasarkan produknya ke luar negeri.