;

Pemulihan Ekonomi Indonesia Makin Lambat

Mohamad Sajili 21 Jul 2021 Kontan

Lonjakan kasus virus korona yang terjadi saat ini membuat para ekonom khawatir terhadap proses pemulihan ekonomi. Terlebih, pemerintah juga sudah memperpanjang pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat hingga 25 Juli 2021 nanti. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, bentuk pola pemulihan ekonomi Indonesia akan mengalami bentuk K-shaped. Artinya, bentuk pola pemulihannya masih belum bisa serentak. Ada sektor tumbuh naik ada juga yang tetap turun. "Ada beberapa sektor masih terdampak pandemi dan ada pulih cukup signifikan," ujar Josua, Senin (19/7). Beberapa sektor yang masih tertekan pandemi seperti pariwisata dan transportasi karena berkaitan dengan mobilitas masyarakat. Sementara sektor yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan antara lain perdagangan, konstruksi, dan manufaktur.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira sependapat dengan Josua. Malah ada sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi seperti teknologi informasi. "Sektor teknologi informasi mengalami pertumbuhan dobel digit," kata Bhima. Tapi Bhima mengingatkan divergensi pertumbuhan sektoral ini perlu dicermati, karena efek terhadap pemulihan ekonomi menjadi lebih lambat dari perkiraan awal. Apalagi beberapa sektor yang tumbuh belum optimal dalam kontribusi ke produk domestik bruto (PB) seperti teknologi informasi. Selain itu model pertumbuhan K-shape membuat penyerapan tenaga kerja menjadi kurang optimal.

Kondisi inilah yang ditakutkan ekonom senior Faisal Basri. Jika model pemulihan ekonomi Indonesia betul-betul K-shape, bakal terjadi jurang yang makin lebar antara yang kaya dan orang miskin. "Yang kaya makin kaya dan orang miskin menjadi makin miskin," tuturnya yang melihat model pemulihan ekonomi yang tengah terjadi memang miskin pemerataan.

Potensi Sumber Penerimaan Negara, Tarif "Agresif" Wajib Pajak Super Rich

R Hayuningtyas Putinda 21 Jul 2021 Bisnis Indonesia

Masyarakat kaya dan superkaya di Tanah Air bakal masuk radar otoritas pajak dalam perluasan lapisan atau bracket Pajak Penghasilan orang pribadi. Kebijakan tersebut diyakini mampu menambah pundi-pundi penerimaan minimal senilai Rp16 triliun dalam satu tahun.Perluasan bracket Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi itu dilakukan dengan menambah tarif untuk wajib pajak dengan penghasilan cukup tinggi.Dalam aturan yang selama ini berlaku, pemerintah hanya menerapkan empat macam tarif PPh orang pribadi. Pertama 5% untuk lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP) sampai dengan Rp50 juta per tahun.Kedua 15% untuk lapisan PKP di atas Rp50 juta—Rp250 juta, ketiga 25% untuk lapisan PKP di atas Rp250 juta—Rp500 juta, dan keempat tarif sebesar 30% untuk lapisan PKP di atas Rp500 juta.

Mengacu pada data Ditjen Pajak, populasi wajib pajak orang pribadi saat ini paling banyak berada pada lapisan pertama, di mana 84,0% dari total populasi atau sebanyak 8,81 juta orang.Populasi wajib pajak pada lapisan kedua adalah sebesar 12,1%, atau sebanyak 1,27 juta orang, sedangkan populasi wajib pajak pada lapisan ketiga adalah sebesar 2,3%, atau sebanyak 240.313 orang.Adapun populasi wajib pajak pada lapisan keempat adalah sebesar 1,64%, atau sebanyak 166.728 orang memiliki penghasilan di atas Rp500 juta.Direktorat Jenderal Pajak mencatat bahwa penambahan bracket dengan mengacu pada tarif 35% akan menyumbang PPh sebesar Rp16 triliun. Angka tersebut setara dengan 19,7% dari total keseluruhan PPh orang pribadi yang berhasil dipungut oleh pemerintah.

(Oleh - HR1)

Rencana Pajak Karbon Antarnegara, Mendag Akan Bawa Ke WTO

R Hayuningtyas Putinda 21 Jul 2021 Bisnis Indonesia

Rencana pengenaan pajak karbon untuk produk impor oleh sejumlah negara maju menjadi perhatian Pemerintah Indonesia. Isu tersebut akan dibawa hingga ke WTO untuk dibahas.Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menuturkan penerapan pajak karbon antarnegara tersebut merupakan strategi negara maju untuk menyeimbangkan harga produksi di negara berkembang. Menurutnya, hal tersebut berpotensi menjadi hambatan dagang baru. Apalagi, rencana itu dilakukan secara sepihak. Adapun, Pemerintah Indonesia bersama negara-negara berkembang tengah mempelajari rencana pajak karbon tersebut. Dia pun menegaskan akan membawa isu tersebut ke forum multilateral dan WTO.“Beberapa negara yang menggodok kebijakan pajak karbon beralasan tujuan kebijakan ini untuk mencapai komitmen carbon neutral 2050, tetapi tidak bisa serta-merta demikian. Negara berkembang punya kemampuan yang berbeda,” imbuhnya.

(Oleh - HR1)

Pengembangan Mata Uang Virtual, Membalut Kripto Dalam Sebuah Burger

R Hayuningtyas Putinda 21 Jul 2021 Bisnis Indonesia

Kafe Red Ruby di Seminyak, Bali punya cara unik untuk memperkenalkan produknya. Mereka menawarkan produk burger dan koktail dibalut dengan hadiah token kripto StarX.Cara baru ini dilakukan sebagai upaya memperkenalkan industry hospitality dengan kripto.Nantinya, poin kripto yang diperoleh sebanyak 100 token StartX untuk setiap pembelian burger dan koktail tidak dapat diperjual belikan.Kripto tersebut hanya dapat digunakan seperti poin sebagaimana ketika kita membeli di sebuah tempat belanja. Bedanya, token tersebut tidak memiliki batas waktu. Untuk saat ini kegunaan token hanya sebatas reward.Namun, kedepannya tidak menutup kemungkinan ditukar dengan kripto lain seperti bitcoin atau cryptocurrency lain dengan catatan apabila izin Startwork sudah diperoleh.“Selanjutnya, bisa diuangkan atau bisa ditransfer ke kripto wallet. Tapi itu langkah ke depannya tidak sekarang,” ujar Director Startworks Global Graham J Bristow kepada Bisnis akhir pekan lalu.Startworks Global merupakan perusahaan yang memelopori transaksi berhadiah kripto tersebut. Ditegaskan oleh Graham, saat ini kripto yang dikembangkan belum dapat difungsikan sebagai alat pembayaran pengganti mata uang rupiah. Hal ini karena Startworks masih dalam proses registrasi di Bappebti, dan ditarget sebelum Desember 2021 rampung.

(Oleh - HR1)

Pembatasan Tetap Perlu

Mohamad Sajili 21 Jul 2021 Kompas

Lonjakan kasus Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM darurat membuat utilitas dan produktivitas sejumlah sektor industri manufaktur menurun. Kendati dilematis, pembatasan tetap diperlukan untuk mengendalikan laju penularan Covid-19 serta menstabilkan pemulihan ekonomi jangka panjang.

Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) mencatat bahwa kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan III-2021 berpotensi melambat dengan perkiraan angka sebesar 49,89 persen. Kondisi tersebut lebih rendah dari capaian sebelumnya, yakni 51,45 persen pada triwulan II-2021 dan 50,01 persen pada triwulan I-2021.

BI memperkirakan volume produksi industri pada triwulan III-2021 akan terkontraksi dengan indeks sebesar 47,17 persen sebagai akibat dari PPKM darurat. Sebagai perbandingan, pada triwulan II-2021, volume produksi meningkat dan ada di level ekspansi 54,2 persen.

Pelambatan pada triwulan III-2021 juga diprediksi terjadi pada indikator volume pesanan barang input, yang diperkirakan menyentuh 53,52 persen meski masih dalam fase ekspansi. Indikator lain, seperti volume persediaan barang jadi dan jumlah tenaga kerja, juga diperkirakan menurun pada triwulan III-2021 karena dampak PPKM darurat.

Meski PPKM darurat juga ternyata tidak sepenuhnya efektif dalam menekan laju penularan Covid-19, kalau dilepas dan dilonggarkan kembali dampaknya justru akan lebih berbahaya bagi perekonomian.

Eko mengatakan, saati ni prioritas pemerintah adalah mengutamakan keselamatan dan kesehatan di lingkungan industri. Oleh karena itu, kami terus ingatkan industri untuk melaksanakan protokol kesehatan (prokes) dengan ketat supaya industri bisa bertahan dan berdaya saing.


Industri Manufaktur Minta Bisa Beroperasi

Mohamad Sajili 21 Jul 2021 Surya

Pemerintah mewacanakan untuk memperpanjang penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Namun para pelaku usaha di sektor industri manufaktur meminta pemerintah untuk mempertimbangkan sejumlah aspek. Tujuannya agar titik keseimbangan antara upaya menjaga kesehatan masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi nasional tetap bisa berjalan secara beriringan.

Para pelaku usaha yang bernaung dalam berbagai organisasi dan asosiasi itu juga meminta agar pemberlakukan PPKM Darurat tetap memperkenankan industri manufaktur untuk bisa beroperasi dengan sejumlah syarat yang ketat.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid, mengatakan, pada dasarnya para pelaku ekonomi mendukung penuh kebijakan pemerintah untuk meredam laju pandemi. Namun para pelaku usaha sektor industri manufaktur juga perlu memberikan masukan dan pertimbangan kepada pemerintah terkait wacana perpanjangan kebijakan PPKM Darurat tersebut.


Arus Kapal dan Barang Meningkat di Semester I/2021

Mohamad Sajili 21 Jul 2021 Surya

Aktivitas distribusi logistik yang perlahan membaik mencatatkan pertumbuhan arus kapal dan barang di lingkungan pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III. Pertumbuhan itu tercatat pada semester 1 tahun 2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2020.

VP Corporate Communication Pelindo III Suryo Khasabu menyebut pertumbuhan arus kapal dan barang di lingkungan perseroan berkisar pada angka 6-7 persen. Dia menyebut arus kapal misalnya, pada periode semester 1 2021 tercatat sebanyak 38.534 unit sementara di tahun 2020 tercatat sebanyak 36.384 unit.

Arus kapal secara satuan unit di semester 1 tahun 2021 ini tumbuh 6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara untuk satuan gross tonnage (GT) mengalami pertumbuhan 7 persen dari 147,5 juta GT di tahun 2020 menjadi 157,9 juta GT di tahun 2021.

Pertumbuhan arus kapal dipengaruhi oleh adanya peningkatan arus kapal general cargo dalam negeri dan curah kering baik domestik maupun internasional pada Pelabuhan Gresik. Peningkatan arus kapal juga terjadi pada kegiatan kapal Ro-Ro di Pelabuhan Lembar.


Pertahankan Usaha Kripik dan Kerajinan Anyaman

Fadilla Anggraini 21 Jul 2021 Sumatera Ekspres

BATANG HARI LEKO - Tidak hanya sibuk mengurus keluarga, para ibu-ibu terutama anggota TP PKK Desa Sako Suban Kecamatan Batang Hari Leko masih menyempatkan melakukan berbagai usaha kecil guna membantu ekonomi keluarga dan menjaga silaturahmi. Mulai dari usaha pembuatan keripik ubi maupun pisang, hingga kerajinan anyaman. "Usaha ini sudah lama dilakukan ibu-ibu di desa kita, memang untuk penjualan baru sekitaran Desa Sako Suban. Ini kita lakukan secara tradisional, selain membantu keluarga, juga menjaga silaturahmi dengan ibu-ibu yang lain," ujar Ketua TP PKK Desa Sako Suban, Suryani.

Suryani menambahkan selain melaksanakan usaha tersebut, TP PKK Desa Sako Suban juga terus berupaya mengembangkan kemampuan anggota melalui berbagai pelatihan. Selain itu berbagai kegiatan rutin PKK seperti pengajian, arisan bersama, hingga posyandu terus dilakukan meskipun intensitas sedikit berkurang di masa pandemik Covid-19. "Kita juga ikut membantu pemerintah desa dalam upaya memerangi Covid-19, kita di setiap kegiatan PKK selalu mensosialisasikan tentang protokol kesehatan, selain itu secara pribadi dengan warga kalau ketemu selalu disampaikan," bebernya. Selain berbagai kegiatan dan usaha, pihaknya juga terus berupaya menjaga kesehatan dengan menggalakkan olahraga di kalangan para ibu-ibu. "Kita terus rutin melakukan senam, kadang juga bermain voli. Ini untuk meningkatkan imunitas, jadi tidak mudah tertular Covid-19," katanya.

Kades Sako Suban Karnadi menuturkan bahwa pihaknya di masa pandemik terus memberikan support kepada ibu-ibu PKK melalui sokongan moril dan material. Selain PKK, pihaknya terus berupaya menjaga infrastruktur desa agar bisa dilalui masyarakat serta membantu mobilisasi perekonomian masyarakat. "Kita melakukan perbaikan jalan poros desa dan menuju desa kita, kita gandeng pihak ketiga. Selama ini kalau hujan sulit dilalui, alhamdulillah sekarang bisa dilalui," bebernya.

Lebih Memilih Jual Gabah

Fadilla Anggraini 21 Jul 2021 Sumatera Ekspres

Dalam beberapa pekan terakhir, harga beras dari Rp 8.000 turun menjadi Rp 6.500 per kilogramnya. Sementara harga gabah hanya 3.700 per kg dari harga standar Rp 4.200 per kg. Turunnya harga beras membuat sejumlah petani memilih menjual gabah ketimbang beras. Seperti yang dilakukan petani di Desa Sukamulya Kecamatan Semendawai Suku III, OKU Timur. Mereka menjual gabah karena lebih mahal dari pada beras. Selain itu, faktor cuaca yang tidak mendukung membuat petani enggan memproses gabah hingga menjadi beras. "Kalau dari selisih harga, setelah kami hitung-hitung, lebih baik langsung menjual dalam bentuk gabah," kata Jono, petani di Desa Sukamulya. Dikatakan, harga penjualan gabah di tingkat petani saat ini mencapai Rp 3.800 per kilo atau Rp 380.000 per satu kuintal (100 kg). Sementara harga beras Rp 6.500 per kilo. Penjualan beras hampir sama dengan penjualan dalam bentuk gabah setelah masuk dengan upah kerja buruh untuk yang diangkut dengan kendaraan roda empat ke gudang penggilingan padi, "Belum lagi, proses penjemuran sebelum gabah itu di pabrik menjadi beras, semuanya membutuhkan waktu dan biaya," jelasnya.

Hal ini dibenarkan Sawon, petani lainnya. Kini petani enggan memproses gabah menjadi beras, mereka lebih memilih menjual gabah setelah dipanen. "Jadi sekarang pabrik penggilingan lumayan sepi, meski masih ada masyarakat yang memproses gabah menjadi beras, namun sudah tidak banyak seperti tahun sebelumnya," terangnya. Kemudian faktor menurunnya pendapatan padi yang diproses menjadi beras juga menjadi alasan petani lebih memilih jual gabah ketimbang beras. "Saat ini satu karung dari sawah hanya menghasilkan beras 40 - 45 kilogram. Kalau dulu satu karung gabah diproses mampu menghasilkan beras 50 - 60 kilogram, sekarang menurun drastis," jelasnya. 

Sedangkan Yoso, tengkulak beras asal Belitang, menjelaskan, memang ada penurunan harga beras maupun gabah di OKU Timur. Untuk harga di tingkat petani, Yoso masih membeli beras Rp 7.000 per kilogramya. "Harga gabah juga murah, dihargai Rp 3.800 per kilogram, itu harganya sudah bagus dibandingkan harga beras,"kata Yoso. Penurunan harga beras dan gabah dibenarkan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten OKU Timur Ir Tubagus Sunarseno MSi. "Saya belum mengetahui pasti apa penyebab turunnya beras dan gabah petani OKU Timur. Mungkin ini bersifat sementara," katanya.

Hal yang sama juga dialami petani di Muara Telang, Banyuasin. Saat ini harga gabah alami penurunan cukup drastis. Biasanya kita jual Rp 4 ribuan sekarang turun jadi Rp 3 ribuan," ujar Joko, petani di Muara Telang. Menurunnya harga gabah, lanjutnya, secara otomatis menyebabkan harga beras juga turun. "Mungkin ini juga ada pengaruh tengkulak, karena ada permainan dari mereka. Biasanya kalau lagi susah seperti ini kendali ada di tengkulak," ungkapnya. Kemudian dengan kejadian ini, ada beberapa petani yang tidak dapat membayar cicilan ke bank.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Banyuasin Erwin Ibrahim mengatakan kalau harga beras di Banyuasin terpantau stabil. "Terpantau stabil harga beras, terutama di Pasar Sukajadi dan Pangkalan Balai," ujarnya kemarin. Bahkan pihaknya terus melakukan pemantauan setiap harga sembilan bahan pokok (sembako) di Banyuasin. "Terus dipantau termasuk harga beras," bebernya. Dikatakan, untuk harga beras lokal dijual pedagang sekitar Rp 10.000 - Rp 11.000/kg. Sedangkan harga beras bermerek sekitar Rp 198.000 - Rp 212.000/ 20 kg.

Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di OKI. Zainuri petani mengaku, harga beras memang alami penurunan. Tapi tak terlalu signifikan. Dari sebelumnya Rp 8.500 menjadi Rp 8.000/kg. Ini terjadi karena sekarang lagi panen serentak. Belum terlalu anjlok harganya masih dibilang bagus," terangnya kemarin (20/7). Sebenarnya, lanjutnya, tergantung kualitas beras. Ada juga yang dijual diangka Rp 9.000/kg. Rasanya pulen, berasnya putih bersih. Banyak tengkulak yang datang ke sini membeli beras langsung ke petani. "Untuk tahun ini panen lebih banyak dan masih mendapatkan untung meski sedikit. Kita lakukan sistem tanam 3 kali jadi mungkin sebulan ke depan akan kembali masuk masa tanam," ujarnya.

Sementara itu di Pasar Kayuagung harga beras seperti Raja masih Rp 215.000/ 20 kg, Selancar Rp 100.000/ 10 kg. Tidak terjadi penurunan harga beras meski di beberapa tempat terjadi panen serentak. Upih, pedagang beras mengatakan, masih banyak yang mencari beras super yang harganya tetap. Kalau beras medium memang per kg itu bervariasi ada yang Rp 7.500/kg ada yang Rp 9.000/kg tergantung permintaan pembeli. "Yang beli beras sekarang normal tidak ada lonjakan," tandasnya.

Tambal Sulam Anggaran Pemulihan Ekonomi

Mohamad Sajili 21 Jul 2021 Koran Tempo

Kementerian Keuangan melakukan pengalihan fokus (refocusing) dan realokasi anggaran untuk menambal kebutuhan program penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PCPEN). Yang diminta melakukan refocusing adalah seluruh kementerian dan lembaga negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta kementerian dan lembaga negara menghemat belanja barang dan belanja modal, khusus yang bersifat non-operasional. Refocusing juga menyasar sisa anggaran belanja yang belum terserap hingga 30 Juni 2021. Namun skema ini tidak berasal dari alokasi belanja pegawai, belanja operasional, anggaran tahun jamak (multiyears contract), maupun dana penanganan pandemi yang dialokasikan oleh berbagai lembaga.

Akhir pekan lalu, Sri Mulyani mengatakan negara membutuhkan tambahan Rp 55,21 triliun untuk program PCPEN tahun ini. Kebutuhan anggaran mungkin meningkat jika pemerintah memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Anggaran PCPEN pun naik dari Rp 699,43 triliun menjadi Rp 744,75 triliun.

Sri menyebutkan potensi anggaran hasil refocusing mencapai Rp 26,2 triliun. Pemerintah memangkas pagu belanja perjalanan dinas, renovasi gedung, maupun dari tunjangan kinerja aparat sipil negara (ASN). Kementerian Keuangan juga menyisir daerah yang belum melakukan penyesuaian dan refocusing anggaran.

Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah, mengatakan, bila potensi refocusing belanja digabung dengan penarikan anggaran transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar Rp 5 triliun, akan ada Rp 31 triliun dana tambahan. DPR, menurut Said, meminta pemerintah menyiapkan skenario anggaran terburuk bila tingkat kasus harian Covid-19 tak juga reda.


Pilihan Editor