Menyejahterakan Guru
Pembayaran tunjangan sertifikasi guru langsung ke rekening guru tiap
bulan diyakini merupakan terobosan yang
akan meningkatkan kesejahteraan guru. Mekanisme baru pembayaran tunjangan guru
yang diluncurkan Presiden Prabowo pada 13 Maret 2025 tersebut (Kompas,
14/3/2025) memberikan kepastian bagi guru untuk menerima tunjangan yang menjadi
hak mereka setiap bulan. Selama ini, tunjangan profesi dibayarkan setiap tiga
bulan sekali, itu pun kalau lancar. Ada beberapa kasus, pembayaran tunjangan
profesi guru oleh pemda, melalui rekening umum kas daerah, tidak selalu lancar.
Tunjangan profesi diberikan kepada para guru, baik guru ASN maupun non-ASN,
yang sudah memperoleh sertifikasi guru. Hingga kini ada 1,8 juta guru bersertifikasi,
sebanyak 392.802 di antaranya merupakan guru non-ASN.
Tunjangan sertifikasi untuk guru ASN yang sebesar satu kali gaji pokok
akan ditransfer pemda dan tunjangan sertifikasi untuk guru non-ASN sebesar Rp 2
juta akan ditransfer Kemendikdasmen. Kelancaran pembayaran tunjangan guru tersebut
bergantung hasil verifikasi dan validasi guru, termasuk validasi rekening guru.
Gerak cepat pemda menyerahkan persyaratan yang dibutuhkan untuk verifikasi dan
validasi tersebut akan menentukan kelancaran pembayaran tunjangan sertifikasi
guru. Mekanisme baru pembayaran tunjangan guru tersebut perlu diikuti langkah
lainnya agar terobosan kebijakan tersebut tak memperlebar kesenjangan kesejahteraan
antara guru bersertifikasi dan yang belum.
Hingga kini masih ada sekitar 1,6 juta guru belum bersertifikasi
(Kompas.id, 16/2/2025). Perlu terobosan kebijakan untuk membantu guru yang
belum bersertifikasi. Pendidikan profesi guru (PPG), syarat untuk mendapat sertifikat
pendidik, dibatasi kuota. Efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah saat
ini semakin membatasi kuota PPG. Meski hanya merupakan salah satu aspek untuk
mewujudkan kesejahteraan guru, tunjangan guru merupakan aspek yang sangat
penting untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Kesejahteraan guru yang baik
diyakini dapat meningkatkan motivasi dan produktivitas guru, dan ini akan berdampak
positif pada kualitas pendidikan. (Yoga)
Geliat Pariwisata Masih Lesu Jelang Lebaran
Dua pekan jelang Idul Fitri, tingkat pemesanan hotel dan paket
perjalanan dalam negeri kurang bergeliat. Trennya justru melambat dibanding Lebaran
tahun lalu. Momentum Lebaran kali ini dikhawatirkan tidak optimal di tengah
lesunya kondisi ekonomi. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi
Sukamdani menilai, tingkat pemesanan hotel pada momen Lebaran kali ini justru lebih
lambat dibanding tahun lalu. Padahal, saat ini sudah tepat dua minggu sebelum
perayaan Lebaran. ”Okupansi hotel (hari ini) masih jelek, rata-rata 20 %. Untuk
Lebaran, kami belum tahu, masih belum kelihatan. Intinya, untuk daerah tujuan
pemudik dihitung H-14, memang lebih lambat dibanding tahun lalu,” tutur
Hariyadi, Minggu (16/3).
Tahun lalu, dari 100 kamar yang tersedia, pihak hotel sudah mengantongi
kepastian reservasi 50 kamar atau setengah kapasitas pada H-14 Lebaran. Saat
ini, ada penurunan tren tingkat reservasi sekitar 30 %. “Harapannya, mendekati
hari H, sekitar H-5 atau H-3 itu (tren) naik, hotel bisa picking up,” kata
Hariyadi yang juga Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia. Hariyadi tetap
meyakini tren semasa musim puncak (peak season) akan tetap lebih tinggi
dibanding masa normal. Ia memprediksi tingkat keterisian hotel akan mencapai 80-100
%, seperti Lebaran tahun lalu, bergantung pada hotel favorit dan lokasinya. Menurut
Sekjen Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto
Ardiansjah, tren perjalanan saat Lebaran mendatang menyusut tipis, karena
kondisi daya beli masyarakat yang masih lesu.
Kendati penurunan harga tiket pesawat sedikit mendongkrak animo masyarakat,
efeknya tidak terlalu besar. Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo)
Pauline Suharno mengatakan, ia sedikit kecewa karena diskon tiket domestik Lebaran
baru diumumkan sebulan sebelum Lebaran. Padahal, jika diumumkan sejak jauh
hari, efeknya akan lebih baik. ”Kami jualan (tiket pesawat dan paket
perjalanan) dari Agustus-September tahun lalu (2024). Kalau (harga tiket)
diturunkan dari tahun lalu, akan lebih baik lagi. Supaya mengalihkan traveler
yang ke luar negeri menjadi ke dalam negeri,” ujar Pauline. (Yoga)
Penjualan Kue Kering Laris Manis
Pengunjung terlihat mengerumuni kios kue kering Satu Hati di Pasar Jatinegara,
Jakarta Timur, untuk membeli kue kering yang akan disuguhkan kepada tamu saat
Lebaran, Sabtu (15/3/2025). Sebulan terakhir menjelang Lebaran penjualan kue kering laris manis, dalam sehari
Satu Hati mampu menjual sekitar 3 kuintal berbagai jenis kue kering dengan rentang harga Rp 60.000-Rp 185.000 per
kilogram. (Yoga)
THR, Berkah Tahunan yang dinanti Pekerja untuk Banyak Keperluan
Menjelang Idul Fitri, THR menjadi berkah tahunan yang dinanti pekerja.
Tahun ini, pengemudi dan kurir daring turut mendapat bonus hari raya. Namun,
sebagian buruh pabrik masih luput. THR digunakan untuk mudik, perayaan, dan
tabungan. “Sebagian THR tahun ini dialokasikan untuk orangtua, saudara, dan
keperluan saat mudik ke Blitar, termasuk bekal perjalanan pulang ke Jakarta.
Sisanya ditabung, baik dalam bentuk tunai maupun reksa dana. Meski tak banyak,
penting menyisihkan sebagian THR untuk tabungan,” ujar Rikha Khulafaurus (36) ASN
di Jakarta
Menurut Sri Rahmawati (46), Buruh Garmen dan Pengurus FSBPI Sukapura,
Jakut, “Bagi buruh, THR penting untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Sayangnya, tiap tahun masih ada buruh yang terlambat atau bahkan tidak menerima
THR. Saya berharap pemerintah lebih tegas mengawasi perusahaan agar pembayaran
THR tepat waktu, terutama tahun ini yang sudah ada indikasi keterlambatan, yang
bisa berdampak pada daya beli buruh.
“Saya baru tahu dari teman bahwa mitra Grab bisa mendapat bonus hari
raya (BHR). Syaratnya cukup berat, seperti menyelesaikan 250 order dalam
sebulan, bekerja 9 jam sehari, pencapaian 90, rating baik, dan tidak melanggar
kode etik. Jadi, saya harus berusaha mencapai target itu jika ingin mendapat
BHR. Jika berhasil, bonusnya bisa membantu biaya servis motor dan kebutuhan
hidup,” ujar Onta (37), Pengojek Daring asal Kota Tangerang, Banten. (Yoga)
Deklarasi Menolak Proyek Strategis Nasional Dari Merauke
Penolakan terhadap beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) muncul dari
Merauke, Papua Selatan. Perwakilan masyarakat adat dan masyarakat lokal sejumlah
daerah yang terdampak proyek warisan Presiden Jokowi mendeklarasikan
penghentian PSN yang dianggap mengorbankan rakyat. Koordinator Solidaritas Merauke,
Franky Samperante, Sabtu (15/3) mengatakan, deklarasi ini merupakan hasil pertemuan
Konsolidasi Solidaritas Merauke yang berlangsung pada 11-14 Maret 2025 di
Merauke. Selama empat hari, 250 warga masyarakat adat dan masyarakat lokal yang
terdampak PSN serta berbagai organisasi masyarakat sipil bertemu untuk membahas
berbagai persoalan yang dihadapi. Perwakilan yang hadir merupakan masyarakat
terdampak proyek food estate (lumbung pangan) Sumut, Kalteng, Keerom (Papua),
serta Merauke dan Mappi (Papua Selatan).
Selain itu, juga datang perwakilan korban proyek Rempang Eco City di Kepri,
proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim dan proyek geotermal atau panas bumi Poco
Leok di NTT. ”Kami menuntut penghentian total PSN serta proyek-proyek atas nama
kepentingan nasional lainnya yang mengorbankan rakyat,” demikian petikan deklarasi
yang disepakati. Pelaku kejahatan negara dan korporasi wajib mengembalikan
semua kekayaan rakyat yang dicuri dan segera memulihkan kesehatan dan ruang
hidup rakyat di seluruh wilayah yang dikorbankan atas nama kepentingan
nasional. Ketua Komnas HAM, Atnike Sigiro, yang hadir dalam deklarasi,
mengatakan, pada 2020-2023, lembaganya menerima 114 kasus aduan terkait PSN
yang diduga kuat melanggar HAM dalam berbagai bentuk. Komnas HAM juga telah
menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada kementerian dan lembaga terkait. Franky
Samperante menyebutkan, deklarasi ini menjadi awal untuk melawan PSN yang
justru mengancam kehidupan dan ruang hidup masyarakat. (Yoga)
Diskon Tarif Jalan Tol Diberlakukan dan WFA Diperpanjang
Guna mengurangi
kepadatan selama masa Lebaran 2025, sejumlah kementerian memperpanjang
kebijakan bekerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA), hingga 8 April
2025. Pemerintah memberikan fleksibilitas WFA bagi ASN. Dalam Surat Edaran
Menteri PAN dan RB No 2 Tahun 2025, ASN dapat melaksanakan WFA empat hari,
yaitu 24-27 Maret. Kementhub mengusulkan untuk memperpanjang WFA sekaligus work
from home (WFH) agar arus balik dapat terurai, seperti saat mudik. Permintaan
belum diajukan, tetapi setidaknya dua kementerian telah memperpanjang WFA
hingga 8 April.
”Sejauh ini, WFH waktu kembali
belum kami ajukan, tetapi dari Kemendikdasmen sudah menerapkan sampai 8 April.
Kemudian juga serupa dengan Kementerian BUMN,” kata Menhub, Dudy Purwagandhi
saat konferensi pers seusai rapat koordinasi angkutan Lebaran 2025 di Jakarta,
Jumat (14/3). Kementrian PAN dan RB, belum memberlakukan WFA/WFH saat arus balik.
Namun, setidaknya arus balik diperkirakan dapat terurai karena pemberian diskon
tarif tol. Pemberian diskon tersebut diharapkan mendorong para pemudik kembali
lebih awal ke Jakarta dan ke daerah asal masing-masing. Sejauh ini pemerintah
menetapkan diskon 20 % untuk tarif tol. Kebijakan itu berlaku empat hari saat
arus mudik, yakni 24-27 Maret. Saat arus balik, aturan itu juga berlaku dua
hari pada 8-9 April. (Yoga)
Mengejar 2.000 wajib pajak demi mengoptimalkan penerimaan negara
Untuk menambal penurunan
signifikan dalam penerimaan pajak pada awal tahun ini, Kemenkeu menyasar 2.000
wajib pajak demi mengoptimalkan penerimaan negara pada 2025. Namun, upaya ini
hanya dinilai sebagai solusi parsial jika tanpa diimbangi dengan reformasi sistem
administrasi perpajakan secara komprehensif. Wakil Menkeu, Anggito Abimanyu
dalam konferensi pers APBN Kita edisi Maret 2025, di Jakarta, Kamis (13/3)
mengatakan, salah satu langkah untuk mengurangi selisih penerimaan pajak adalah
dengan mengoptimalkan sumber lain melalui transformasi program bersama (joint
program).
”(Program) ini dilakukan oleh
eselon satu Kemenkeu. Ada lebih dari 2.000 wajib pajak yang sudah diidentifikasi,
kemudian akan dianalisis, dilakukan pengawasan, pemeriksaan, penagihan, dan
intelijen,” ujarnya. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Direktorat
Jenderal Pajak Kemenkeu, Dwi Astuti menyebut, 2.000 wajib pajak yang disebutkan
oleh Wamenkeu adalah campuran wajib pajak perorangan dan wajib pajak badan.
Ekonom dan pakar kebijakan publik
UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai, langkah pengawasan yang berfokus
pada 2.000 wajib pajak yang sudah teridentifikasi memberikan sinyal bahwa pemerintah
tidak tinggal diam atas penurunan penerimaan pajak. Penerimaan pajak pada Februari
2025 tercatat Rp 187,8 triliun atau terealisasi 8,6 % dari target APBN 2025,
anjlok 30,19 % dibanding penerimaan pajak tahun lalu, yakni Rp 269,02 triliun
atau 13,53 % dari target APBN 2024. (Yoga)
Kepercayaan Publik dan APBN
Setelah drama penundaan, Menkeu
memaparkan kinerja APBN Januari-Februari 2025 yang memicu kekhawatiran baru,
karena menunjukkan anomaly, dimana defisit APBN sudah terjadi sejak awal tahun.
Defisit per 28 Februari 2025 tercatat Rp 31,2 triliun atau 0,13 % dari produk
domestik bruto (PDB) melebar dari Rp 23,5 triliun (0,10 % PDB) per Januari 2025
dan dikhawatirkan terus membengkak dengan adanya berbagai program populis
pemerintah yang semua membutuhkan dukungan pembiayaan dari APBN. Pendapatan
negara Januari-Februari tercatat Rp 316,9 triliun (10,5 % target penerimaan
2025) turun 20,8 % dari periode sama 2024. Sementara realisasi belanjaRp 348,1
triliun atau 9,6 % dari total rencana belanja 2025. Penerimaan pajak per
Februari 2025 Rp 187,8 triliun, anjlok 30,2 % dibanding Februari 2024.
Realisasi penerimaan PPN Januari
2025 anjlok 92,75 % (yoy), sementara PPh Badan dan PPh 21 anjlok 77,14 % dan
43,64 %. Dampak melemahnya harga komoditas, pembatalan PPN 12 %, mekanisme baru
tarif efektif rata-rata PPh 21, dan penerapan sistem perpajakan baru, Coretax,
yang bermasalah menjadi penyebab penerimaan pajak jeblok. Menkeu mengatakan
defisit ini masih dalam target defisit APBN 2025 sebesar 2,53 % PDB. Untuk menutup
defisit ini, selama dua bulan pertama 2025 pemerintah sudah membuat utang baru
Rp 438,1 triliun atau 35,7 % dari total rencana utang Rp 775,9 triliun pada
2025. Serangkaian program populis pemerintah, yang sifatnya lebih politis
ketimbang ekonomis dikhawatirkan bisa mengancam pertumbuhan ekonomi jika tidak
didukung strategi dan basis fiskal yang kuat.
Dua kali penundaan pengumuman
kinerja APBN di era Prabowo (Oktober 2024 dan Januari 2025) sempat memunculkan
tanda tanya terkait transparansi kinerja keuangan negara dan kredibilitas
fiskal. Di tengah distrust publik yang tinggi, setiap langkah yang ditempuh
pemerintah dicurigai dan dikritisi serta memengaruhi sentimen investor di
pasar. Kondisi ini bisa menyebabkan persepsi risiko Indonesia meningkat dan berimbas
makin tingginya imbal hasil surat utang atau cost of fund untuk pembiayaan
defisit APBN. Diperlukan langkah-langkah kredibel, termasuk manajemen fiskal
yang solid, untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik. (Yoga)
Memilih Investasi dan Mengatur Keuangan
Situasi perekonomian digelayuti
ketidakpastian. Arah kebijakan rezim baru pemerintahan AS memicu gejolak
geopolitik global. Kondisi ekonomi domestik juga menunjukkan kerentanannya. Di
sektor keuangan, misalnya, nilai tukar rupiah dan pasar saham dalam satu momentum
kompak terjerembap akibat hengkangnya investor asing dari pasar keuangan domestik.
Selain karena dampak situasi global, mereka juga mengalihkan aset investasinya
lantaran ragu dengan arah kebijakan pemerintah, termasuk pengelolaan fiskal ke
depan. Pada 28 Februari 2025, rupiah menyentuh titik pelemahan terdalamnya
sejak 2020, yakni ke level Rp 16.575 per USD atau terdepresiasi 2,58 % secara
tahun kalender berjalan. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas
ke level 6.300 atau terendah sejak 2021.
Di tengah gejolak tersebut, masyarakat
turut menghadapi kenaikan harga barang-barang dari tahun ke tahun. Meski laju
inflasi beberapa tahun terakhir terjaga di kisaran 1,5-3,5 %, kenaikan biaya
hidup kian menggerus dompet masyarakat hingga muncul istilah makan tabungan.
Kelas menengah bawah menjadi kelompok paling riskan terdampak berbagai gejolak
ekonomi yang tengah terjadi. Dengan kemampuan finansial yang memadai di atas
kelompok miskin, mereka tidak menerima bantuan sosial pemerintah. Namun, itu
sekadar pas-pasan sehingga rentan tergelincir turun kelas. Agar masyarakat
kelas menengah tidak terperosok ke dalam jurang kemiskinan, ada beberapa hal
yang bisa dilakukan, mulai dari mengatur keuangan hingga memilih instrumen
investasi, sebagai antisipasi terhadap berbagai risiko ke depan.
Di tengah biaya hidup yang terus
meningkat, sementara penghasilan cenderung jalan di tempat, penting bagi warga
kelas menengah untuk mengelola pengeluarannya. Mulai dari mengidentifikasi pengeluaran
rutin sehari-hari, untuk kebutuhan, keinginan, dan untuk ditabung. Dimana 10-20 % dari total penghasilan dapat
dialokasikan untuk ditabung, untuk dana darurat, serta untuk berinvestasi. Head
of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia, Vera Margaret berpendapat, dibutuhkan
juga kesadaran menahan keinginan untuk sesuatu yang lebih penting. Tidak
mengherankan jika belakangan muncul gerakan untuk mengurangi konsumsi
berlebihan dan mendorong gaya hidup minimalis (no buy challange) yang mulai
populer, pada 2025. (Yoga)
Di Tengah Gejolak Pasar, Perusahaan Besar Tetap Optimistis Melakukan IPO
Pelemahan pasar saham saat ini
memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham
perdana atau IPO di 2025. Meskipun kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO,
sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di
bursa. Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun
sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO
sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu
menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja
Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.
Pengamat pasar modal Alfred
Nainggolan, Jumat (14/3) di Jakarta, menilai, terjadi tren penurunan jumlah
korporasi yang melakukan IPO. Jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan
dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang
mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak
lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana Rp 12,4 triliun. Saat
ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham
tengah berada di tren penurunan atau bearish. Namun, kondisi ini tidak
mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana
di pasar modal.
Data BEI per akhir Februari menunjukkan,
ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut,
sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar. Alfred
menilai, IPO saat ini tidak terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena
mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh
dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka. ”Selain
itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO tidak terlalu
mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam
penyerapannya,” kata Alfred. (Yoga)









