;

Prospek Saham Bank di Tengah Dinamika Pasar

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Bisnis Indonesia (H)

Turunnya saham perbankan besar memberikan tekanan signifikan terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG), yang mempengaruhi kapitalisasi pasar bank buku IV yang mencapai Rp2.303 triliun, atau lebih dari 20% dari total market cap IHSG sebesar Rp11.302 triliun. Penurunan saham perbankan ini dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang lebih terbatas, yang menyebabkan dolar AS menguat dan memukul rupiah, mengurangi minat investor asing, serta menyebabkan likuiditas pasar semakin ketat.

Selain itu, kebijakan pemerintah terkait Bank BUMN, seperti konsolidasi Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih yang kurang dikomunikasikan dengan jelas, menambah ketidakpastian di pasar. Meskipun demikian, kalangan perbankan dan analis tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan kinerja perbankan pada 2025. Beberapa perusahaan juga tetap berkomitmen untuk memberikan dividen kepada pemegang saham, yang menjadi faktor pendorong untuk mempertahankan minat investor.

Di tengah sentimen negatif tersebut, para pemimpin pasar atau "market movers" tetap memainkan peran penting dalam menjaga kepercayaan pasar dan memastikan bahwa perbankan dapat menghadapi tantangan ini dengan fokus pada potensi pertumbuhan dan stabilitas di masa depan.


Stabilisasi Harga Daging Jelang Lebaran

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Bisnis Indonesia

Lebih dari 20 tahun upaya pemerintah untuk mencapai swasembada daging sapi, harga daging sapi tetap terus meningkat, dari Rp67.000/kg pada 2010 menjadi Rp120.000/kg pada 2024. Berbagai kebijakan yang telah diambil, seperti membuka impor daging sapi tanpa kuota, kebijakan impor sapi betina produktif, dan program seperti SIKOMANDAN dan Upsus SIWAB, tidak berhasil menurunkan harga daging sapi. Bahkan, populasi sapi di Indonesia justru menurun drastis, sementara impor daging sapi semakin meningkat.

Selain itu, kebijakan yang diluncurkan juga tidak diimbangi dengan pendalaman analisis yang mendalam mengenai permintaan dan penawaran daging sapi, serta potensi pertumbuhan peternakan sapi domestik. Beberapa faktor yang mempengaruhi termasuk ketidakjelasan data terkait pemotongan ternak sapi, pola perbibitan yang tidak terarah, dan pengabaian tradisi dalam budi daya peternakan rakyat. Akibatnya, kebijakan impor tidak berhasil menciptakan iklim yang mendukung pertumbuhan peternakan sapi domestik.

Pemerintah kini beralih ke Program Peningkatan Susu dan Daging Nasional (P2SDN) untuk mendukung program MBG, yang melibatkan impor 1,3 juta ekor sapi dalam lima tahun ke depan. Pemerintah juga merencanakan impor daging sapi dan kerbau sebanyak 280.000 ton pada tahun ini untuk mengatasi lonjakan harga pada saat Idulfitri.

Namun, untuk mengendalikan harga daging sapi, diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif dan berbasis data yang akurat, termasuk penetapan harga yang tepat dan peningkatan produksi domestik, bukan hanya bergantung pada impor. Kebijakan yang tidak terkoordinasi dengan baik dan tidak memperhatikan faktor-faktor struktural dalam industri peternakan dapat menghambat keberhasilan dalam mencapai harga daging sapi yang terjangkau.


Praktik Kecurangan Minyakita Meningkat

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Bisnis Indonesia

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya praktik kecurangan oleh tujuh perusahaan yang memproduksi dan mengemas minyak goreng MinyaKita dengan takaran kurang dari 1 liter. Beberapa perusahaan, seperti CV Briva Jaya Mandiri, CV Bintang Nanggala, dan KP Nusantara, diduga mengurangi takaran minyak goreng yang seharusnya 1 liter menjadi hanya 700 ml, merugikan masyarakat. Amran menekankan pentingnya sanksi berat terhadap perusahaan-perusahaan nakal ini, dan menyerahkan penegakan hukum kepada Satgas Pangan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso juga mengungkapkan bahwa PT Artha Eka Global Asia (AEGA), yang terlibat dalam pengurangan takaran MinyaKita, telah disegel dan disita barang-barangnya. Puan Maharani, Ketua DPR, menyoroti kurangnya pengawasan yang menyebabkan kasus penyunatan takaran dan peredaran MinyaKita palsu. Dia mendesak agar pengawasan produk pangan diperketat untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan.

Menurut pengamat pertanian Khudori, meskipun penyunatan volume MinyaKita dapat mengurangi kepercayaan konsumen, harga MinyaKita yang lebih murah dibandingkan minyak goreng kemasan dan curah tetap menjadi daya tarik. Namun, harga MinyaKita telah melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, dengan harga rata-rata mencapai Rp17.645 per liter, jauh lebih tinggi dari HET yang seharusnya Rp15.700 per liter. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam pengawasan harga dan distribusi yang perlu segera diperbaiki.


KPK Sita Uang Rp 2,6 Miliar dalam Operasi

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Bisnis Indonesia

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan, dengan mengamankan delapan orang dan uang sebesar Rp2,6 miliar. Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, mengonfirmasi bahwa OTT ini terkait dengan dugaan suap dalam proyek yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemerintah Kabupaten OKU.

Fitroh juga menyebutkan bahwa kepala Dinas PUPR dan tiga anggota DPRD Kabupaten OKU termasuk di antara yang terjaring dalam OTT ini. Meskipun identitas lengkap para tersangka belum diumumkan secara resmi, Juru Bicara KPK, Tessa Mahardika, memastikan bahwa mereka yang terjaring OTT sudah tiba di Gedung Merah Putih KPK di Jakarta untuk proses lebih lanjut. Kejadian ini menunjukkan keseriusan KPK dalam memberantas korupsi, khususnya terkait dengan proyek-proyek pemerintah daerah yang rentan akan praktik suap.


Pasar Saham Berharap Pemangkasan Suku Bunga

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia diperkirakan akan lebih fluktuatif pada pekan ketiga Maret 2025, terutama menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) pada 19 Maret dan Federal Reserve (The Fed) pada 20 Maret. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa keputusan kedua bank sentral ini akan menjadi faktor penentu bagi pasar.

Menurut Rully, jika BI menurunkan suku bunga, ada risiko pelemahan rupiah, tetapi di sisi lain bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar saham dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, jika BI mempertahankan suku bunga, dampak jangka panjangnya bisa lebih kompleks karena tingkat optimisme terhadap ekonomi Indonesia masih rendah.

VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menambahkan bahwa konsensus memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga karena ekonomi AS masih kuat. Jika suku bunga turun, akan ada peralihan dana ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk saham. Audi mencontohkan bahwa saat BI menurunkan suku bunga dari 6,5% ke 4,75% pada 2016-2017, IHSG menguat hingga 15,32% pada 2016 dan 19,9% pada 2017.

Dari sisi teknikal, IHSG saat ini bergerak dinamis setelah menembus level support 6.500-6.600, yang bertahan sejak 2022. Rully memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.350-6.720 selama pekan ini. Ekonom Panin Sekuritas, Felix Darmawan, menambahkan bahwa tanpa sentimen global positif dan masuknya dana asing, IHSG kemungkinan akan sideways atau mengalami koreksi dengan batas bawah di sekitar 6.500.

Restitusi Pajak Membengkak di Awal Tahun

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Kontan
Restitusi pajak mengalami lonjakan signifikan hingga Februari 2025, mencapai Rp 111,04 triliun, naik 93,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak, Dwi Astuti, menyebutkan bahwa lonjakan ini terutama berasal dari restitusi PPN Dalam Negeri (PPN DN) sebesar Rp 86,31 triliun dan restitusi PPh Pasal 25/29 Badan sebesar Rp 22,96 triliun.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai kenaikan restitusi ini mencerminkan kelebihan pembayaran pajak akibat perlambatan ekonomi, penurunan harga komoditas, dan tekanan likuiditas bisnis. Ia menekankan bahwa pemerintah harus memastikan penerimaan pajak tetap kuat agar lonjakan restitusi tidak mengganggu stabilitas fiskal.

Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi sejak 2023 menyebabkan laba bersih perusahaan lebih rendah dari proyeksi, sehingga banyak wajib pajak mengajukan pengembalian pajak. Ia mencontohkan bahwa PPh Pasal 25 tahun 2023 dihitung berdasarkan laba 2022 yang lebih tinggi, sehingga terjadi kelebihan pembayaran.

Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, Prianto Budi Saptono, memperingatkan bahwa lonjakan restitusi bisa menggerus target penerimaan pajak 2025. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan intensifikasi pajak, seperti menerbitkan Surat Permintaan Penjelasan atas Data dan/atau Keterangan (SP2DK) dan melakukan pemeriksaan agar penerimaan pajak tetap stabil.

Emiten Batubara Masih Tertekan

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Kontan
Sektor batubara masih akan menghadapi tekanan pada 2025 akibat peningkatan produksi domestik China, yang menyebabkan harga batubara tetap rendah. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menjelaskan bahwa tingginya persediaan batubara di China serta potensi peningkatan pasokan dari Rusia menjadi faktor utama yang membatasi harga batubara global. Ia memperkirakan harga batubara Newcastle akan turun ke US$ 110 per ton dari US$ 135,7 per ton di 2024.

Dari sisi produksi, Indonesia dan Australia tetap menjadi pemasok utama batubara global. Produksi Indonesia diprediksi tumbuh 8,1% yoy pada 2025, namun laba perusahaan batubara diperkirakan turun 25%-33% akibat harga yang lebih rendah dan kenaikan biaya operasional.

Analis Indo Premier Sekuritas, Reggie Parengkuan, menyoroti bahwa kebijakan B40, yang mewajibkan industri menggunakan bahan bakar biodiesel 40% mulai 1 Januari 2025, akan berdampak negatif pada profitabilitas emiten batubara. Harga bahan bakar B40 lebih mahal 17% dibandingkan B35, menyebabkan biaya tunai penambang naik 3%-5%.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan, memperkirakan permintaan batubara China akan melemah karena musim dingin yang lebih hangat. Selain itu, permintaan batubara dari Jepang, Korea, dan Taiwan juga akan berkurang seiring dengan transisi ke energi nuklir dan tenaga air.

Meski demikian, Erindra Krisnawan menilai bahwa saham emiten batubara tetap menarik bagi investor karena menawarkan dividen yield sebesar 8%-14%. Ia merekomendasikan AADI, yang bisa mendapatkan keuntungan jika ada pemotongan royalti, serta UNTR, yang memiliki profil laba lebih stabil dari bisnis kontraktor pertambangan dengan dividen yield sebesar 10,8%.

Investor Asing Masih Lanjutkan Aksi Jual Saham Bank

Hairul Rizal 17 Mar 2025 Kontan
Jelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bank-bank pelat merah, aksi jual investor asing masih tinggi, dengan nilai mencapai Rp 1,8 triliun dalam sepekan. Namun, beberapa broker asing seperti JP Morgan Sekuritas dan UBS Sekuritas Indonesia mulai melakukan aksi beli di saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan nilai beli bersih masing-masing Rp 1,39 triliun dan Rp 208,64 miliar.

Menurut VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, minat asing terhadap saham perbankan masih ada karena valuasi yang murah, ditambah dengan rencana pembagian dividen dan buyback saham. Namun, ia menyebut faktor global, seperti kebijakan tarif AS dan kinerja yang di bawah ekspektasi, masih membatasi arus masuk asing.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa sentimen negatif juga datang dari kebijakan pemerintah baru, seperti penghapusan kredit UMKM yang memicu spekulasi perlambatan pertumbuhan kredit. Selain itu, kehadiran Badan Pengelola Investasi Dana Anagata Nusantara (BP Danantara) juga menjadi sumber kekhawatiran bagi investor asing.

Di sisi lain, Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, menilai saham perbankan masih menarik, meskipun aksi jual asing masih terjadi akibat kondisi pasar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed.

Analis JP Morgan, Harsh Wardhan, dalam risetnya menyebut bahwa saham bank masih menarik secara teknikal, tetapi menghadapi tantangan jangka menengah terkait likuiditas perbankan. Karena itu, JP Morgan memangkas rekomendasi saham BBNI dan BBRI dari overweight menjadi netral, serta BMRI dari netral menjadi underweight.

Tanggulangi Kemiskinan dengan Zakat

Yuniati Turjandini 17 Mar 2025 Investor Daily (H)

Zakat, infak,dan sedekah (ZIS) dinilai tidak hanya sebagai pranata keagamaan namun juga pranata sosial-ekonomi yang efektif untuk penanggulangan kemiskinan dan mendorong perubahan sosial. Era 2000-an telah menjadi saksi transformasi zakat nasional dari ranah karitas ke ranah pemberdayaan, yang didorong oleh pengelolaan zakat secara kolektif, transparan,dan profesional oleh masyarakat sipil, maupun lembaga amil zakat (LAZ), meningkat dari Rp 4 triliun pada 2015 menjadi Rp 40 triliun pada 2024. penghimpunan zakat oleh lembaga amil zakat resmi masih jauh dari potensinya. Berdasarkan data Kemenag, potensi zakat nasional per tahun di Indonesia Rp 327 triliun. Sedangkan data Baznas menyebutkan, total pengumpulan ZIS pada 2023 mencapai Rp 32,3 triliun, naik 43,6% dari 2022 di Rp 22,5 triliun. Sedangkan pada 2021, pengumpulan ZIS baru Rp14,1 triliun.

Baznas dalam Laporan Pengelolaan Zakat Nasional Tengah Tahun 2024 menyebutkan, jumlah pengumpulan nasional semester I-2024 baik dari pengelola zakat maupun pengumpulan off balance sheet mencapai Rp26,1 triliun. Sedangkan jumlah mustahik penerima pendistribusian dan pendayagunaan sebanyak 37,448,724 mustahik, naik 34,92%. Pengamat gerakan zakat dari UI yang juga Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono berpendapat, penghimpunan zakat yang lebih maksimal akan membuat pengelolaan zakat bisa memberi dampak sosial maupun ekonomi yang jauh lebih besar. “Zakat nasional yang diinisiasi dan dikelola masyarakat sipil berperan penting dalam memfasilitasi zakat sebagai gerakan sosial-ekonomi yang independen dan mengizinkan perbaikan kesejahteraan umat tanpa bergantung pada intervensi negara," ujar Yusuf, Sabtu (15/03). (Yetede)


Masih Tingginya Volatilitas Pasar Saham

Yuniati Turjandini 17 Mar 2025 Investor Daily

Volatilitas pasar saham diperkirakan cukup tinggi pada pekan ini. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam rentang lebar di kisaran 6.370-6.630. "Pasar modal Indonesia tengah menghadapí periode volatilitas tinggi, setelah IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 1,98% ke level 6.515 pada akhir pekan lalu. Sejumlah faktor, baik eksternal maupun domestik, menjadi pemicu utama tekanan jual yang membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," kata founder Stocknow.id Hendra Wardana, Minggu (16/3/2025). Dari sisi eksternal, pelemahan pasar saham global, khususnya S&P 500 yang telah kehilangan US$ 5,28 triliun dalam tiga minggu terakhir, turut memberikan dampak negatif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan The Fed terkait suku bunga semakin memperburuk sentimen investor. "Jika inflasi AS masih tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga untuk memberi stimulus ekonomi, yang pada gilirannya bisa memperlambat pemulihan pasar saham, yang pada akhirnya berpotensi memperpanjang tekanan di pasar saham," ujar dia. Sementara dari dalam negeri, tekanan fiskal mulai terasa setelah pemerintah mencatat defisit APBN per Februari 2025 sebesar Rp 31,2triliun. Defisit ini dapat membatasi ruang gerak pemerintah. Di sisi lain, investor asing masih terus melakukan aksi jual bersih (netsell). Dalam satu pekan terakhir,net sell asing mencapai Rp1,77triliun. (Yetede)


Pilihan Editor