PERMINTAAN PEMBIAYAAN : KREDIT BANK LAWAN KELESUAN
Potensi pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini diprediksi tak seagresif pada 2022. Dinamika internal yang memasuki tahun politik dan perkembangan global yang kian tak menentu, menjadikan lambatnya permintaan pembiayaan.
Proyeksi terakhir yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit bank sebesar 10,7% year-on-year (YoY). Angka itu lebih optimistis dibandingkan dengan perkiraan awal yang disusun lembaga itu yang memproyeksikan kredit tumbuh tahun di kisaran 8,9% YoY.Dalam tiga kuartal terakhir 2023, bank sentral mematok rentang pertumbuhan kredit bank di kisaran 10,4%—10,9%. Pada 2022, pertumbuhan kredit perbankan tercatat 11,4%.Hingga kuartal III/2023, outstanding kredit perbankan senilai Rp6.803,4 triliun atau tumbuh 8,7% dibandingkan dengan periode yang sama 2022.
Menurut Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, pertumbuhan kredit masih melaju positif. Namun, pertumbuhannya diperkirakan terbatas di kisaran 7% hingga 9%.Dia menuturkan, pertumbuhan kredit yang diprediksi hanya akan menyentuh single digit, lantaran adanya tren kenaikan suku bunga hingga 25 basis poin ke level 6%.
Sementara itu, peneliti dari Lembaga ESED Chandra Bagus Sulistyo mengatakan, pertumbuhan kredit terdorong lantaran aktivitas perekonomian yang menunjukkan kondisi pemulihan sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang pemilu.
Head of Emerging Business Banking PT CIMB Niaga Tbk. Tony Tardjo menyatakan sejumlah alasan di balik sikap optimistis terhadap laju pembiayaan untuk tumbuh lebih tinggi.Emiten dengan kode saham BNGA itu mematok target penyaluran kredit, khususnya kepada sektor usaha mikro kecil dan menengfah (UMKM) pada sisa tahun ini dapat mencapai digit ganda atau sekitar Rp25 triliun di tengah tren suku bunga yang tinggi.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Agustya Hendy Bernadi mengaku optimistis menghadapi situasi yang akan berkembang pada tahun depan. Bahkan, menurutnya, Pemilu cenderung memberikan dampak positif terhadap perekonomian, sehingga berdampak pada penjualan pelaku UMKM yang merupakan core business BRI.
Adapun, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Sigit Prastowo mengatakan, hal ini didasarkan capaian Bank Mandiri yang mencatatkan kinerja, di mana kredit perseroan tumbuh 12,71% secara tahunan, melampaui industri 8,96% YoY.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memproyeksikan penyaluran kredit akan tetap konservatif di 9% hingga 10% pada akhir tahun ini.Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Jahja Setiaatmadja memproyeksikan kenaikan suku bunga memang tidak akan secara langsung memberi dampak kepada sejumlah segmen.
INDUSTRI NIKEL : MENEPIS CADANGAN YANG MENIPIS
Kenyataan yang menunjukkan bahwa cadangan nikel nasional mulai menipis membuat banyak pihak gundah. Dengan cadangan yang diperkirakan hanya cukup hingga 7 tahun ke depan, asa Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik bisa terancam. Kerja keras penghiliran, termasuk kepada nikel, ternyata memunculkan beragam persoalan. Salah satunya adalah menipisnya cadangan nikel nasional, karena masifnya kegiatan pertambangan untuk memasok kebutuhan smelter tidak disertai dengan aksi eksplorasi yang memadai. Alhasil, cadangan nikel kadar tinggi atau saprolite yang menjadi bahan baku stainless steel mengalami penurunan secara drastis. Djoko Widajatno, Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), mengatakan, masifnya pembangunan smelter sebagai dampak dari penghiliran dan pelarangan ekspor bijih mentah telah menyedot komoditas tersebut. Djoko pun meminta pemerintah untuk mengambil langkah cepat guna mengantisipasi realitas menipisnya cadangan nikel nasional. Setidaknya ada tiga upaya yang bisa dilakukan pemerintah agar bisa menyiasati cadangan nikel saat ini. Pertama, mengimpor bijih nikel dari negara produsen komoditas tersebut, seperti Australia, dan Filipina. Kedua, melakukan moratorium pembangunan smelter agar bisa menahan kebutuhan umpan bijih nikel untuk fasilitas pemurnian dan pengolahan. “Ketiga, melakukan eksplorasi di green field untuk mineral kritis atau mineral strategis dengan tujuan menambah cadangan nikel,” katanya. Kegelisahaan serupa juga sempat disampaikan oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), yang memaparkan bahwa cadangan nikel kadar tinggi di Indonesia kemungkinan akan habis dalam kurun waktu 6 tahun. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menepis anggapan yang menyebut bahwa cadangan nikel Indonesia mulai menipis. Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno mengatakan bahwa sampai dengan saat ini, cadangan nikel di Indonesia masih berada di angka 5 miliar ton. Angka tersebut terbagi atas dua jenis, yaitu nikel saprolite sebanyak 3,5 miliar ton, dan nikel limonite 1,5 miliar ton. Selain itu, pemerintah juga memberikan penawaran kepada lembaga riset untuk melakukan penelitian eksplorasi terkait dengan cadangan nikel. Bahkan, Tri menyampaikan bahwa wilayah Indonesia bagian timur diperkirakan masih menyimpan potensi cadangan nikel yang cukup besar. Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan bahwa kegiatan eksplorasi membutuhkan investasi yang tidak sedikit, sehingga pemerintah bakal berupaya lebih keras untuk meningkatkan kegiatan tersebut. Beberapa wilayah yang memiliki kandungan nikel, tetapi belum dieksplorasi (green field) diketahui tersebar di Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Melihat wilayah green field nikel yang masih luas dan menjanjikan dengan potensi cadangan yang besar, serta peluang industri hilir nikel yang masih dibutuhkan, Indonesia adalah pilihan yang menarik untuk dilakukan pengembangan investasi pada sektor pertambangan nikel.
FENOMENA EL NINO : Produksi Garam Jatim Siap Melompat
Produksi garam Jawa Timur pada tahun ini diproyeksi bakal menyentuh 900.000 ton. Angka ini melompat dua kali lipat dari capaian tahun lalu yang berkisar 450.000 ton.Hal tersebut diungkapkan oleh Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Jawa Timur. HMPG memperkirakan bahwa produksi garam wilayah ini akan berkisar 850.000—900.000 ton. Angka ini setara dengan produktivitas rata-rata 90—100 ton per hektare.Ketua HMPG Jawa Timur M. Hasan menjelaskan bahwa proyeksi awal garam di wilayah ini hanya bakal mencapai 750.000 ton.
“Dibandingkan dengan produksi tahun lalu, produksi tahun ini juga termasuk lebih tinggi, karena cuaca yang lebih bagus, dan ada kemarau panjang. Meskipun saat ini beberapa daerah sudah mulai hujan deras,” katanya, Rabu (8/11). Dia mengatakan bahwa produksi garam dari Jatim pada 2022 hanya mampu mencapai 450.000 ton.
Selain itu, Hasan mengatakan bahwa harga jual garam di tingkat petani masih tergolong cukup bagus dan termasuk berada pada rentang harga normal, yakni Rp1.500—Rp1.700 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut juga masih berada di atas biaya produksi atau HPP petambak garam, sehingga para petambak masih mendapatkan keuntungan. Kendari demikian, HMPG Jawa Timur masih akan terus berjuang untuk mendorong pemerintah agar menetapkan HPP garam petambak yang diusulkan sebesar Rp1.500—Rp2.000 per kilogram.Kementerian Perindustrian mencatat bahwa kebutuhan garam nasional saat ini sekitar 4,9 juta ton per tahun.









