PENERAPAN RUPIAH DIGITAL : RISIKO INSTABILITAS BIKIN WASWAS
Bank Indonesia tengah mengkaji adanya risiko dari penerapan mata uang digital bank sentral alias central bank digital currency yang menurut International Monetary Fund berpotensi menimbulkan instabilitas moneter.
IMF dalam Implications of Central Bank Digital Currencies for Monetary Policy Transmission yang dipublikasikan kemarin, mencatat dampak central bank digital currency (CBDC) terhadap transmisi kebijakan moneter diperkirakan relatif kecil pada kondisi normal.Hanya saja, dampak itu bisa lebih signifikan di lingkungan dengan suku bunga rendah atau tekanan pasar keuangan. Atas dasar itu bank sentral perlu mempertimbangkan fitur desain yang bersifat kehati-hatian seperti batasan kepemilikan dan transaksi, serta menjaga stabilitas suku bunga acuan.Fitur-fitur tersebut akan membatasi potensi perpindahan simpanan ritel atau uang tunai ke CBDC dan dengan demikian akan memastikan bahwa CBDC tidak memiliki dampak signifi kan terhadap transmisi kebijakan moneter.“Kita assessment itu semuanya, masukan-masukan juga kita perhatikan,” kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Rabu (15/11).
Consultative paper menjelaskan desain pengembangan Rupiah Digital tahap immediate state, yaitu wholesale Rupiah Digital cash ledger, yang meliputi pengenalan teknologi dan fungsi dasar, seperti penerbitan, pemusnahan, dan transfer dana. Dampak dari penerbitan Rupiah Digital pada sistem pembayaran, stabilitas keuangan, dan moneter juga dibahas di dalam consultative paper tersebut.
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam Central Bank Digital Currency Virtual Handbook menyatakan bahwa tujuan kebijakan dan ukuran keberhasilan CBDC harus ditetapkan secara jelas. Pengkajian dan pengembangan CBDC membutuhkan keputusan yang kompleks dalam lingkungan digital yang berubah dengan cepat.
Dalam laporan tersebut, IMF menyoroti beberapa dampak dari pengembangan CBDC. Perubahan lingkungan makro ekonomi yang disebabkan oleh CBDC diperkirakan bisa memperkuat saluran transmisi kebijakan moneter jika CBDC dirancang dengan tepat.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky menuturkan adanya CBDC berpotensi menjadikan transmisi kebijakan moneter lebih teramplifikasi.
Menurut Teuku, hal yang perlu diperhatikan saat ini yakni desain dari CBDC agar dapat dikembangkan karena skema tersebut sangat beragam. “Ada CBDC retail, CBDC wholesale, ada CBDC yang menjangkau keseluruhan, jadi tidak dibedakan wholesale dan ritelnya,” katanya.
EMITEN BATU BARA : Produksi SMMT Menyusut
Emiten tambang batu bara, PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT) mencetak produksi batu bara sebesar 1,95 juta ton hingga 9 bulan 2023.Direktur Utama Golden Eagle Energy Budi Susanto mengatakan SMMT mencetak volume produksi hingga 1,95 juta ton, atau turun 20% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 2,44 juta ton.SMMT mencetak volume penjualan yang turun menjadi sebesar 1,96 juta ton sampai kuartal III/2023. Volume penjualan ini turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,25 juta ton.Sementara itu, untuk proyeksi harga batu bara, Direktur SMMT Denny Kusmayadi menuturkan SMMT melihat memang terjadi penurunan harga batu bara pada 2023 dibanding 2022 dan 2021. Meski demikian, SMMT memperkirakan di akhir tahun ini akan terjadi peningkatan harga batu bara.
Dia memerinci, harga batu bara pada sisa 2023 masih akan berada di atas US$60 per ton. Sementara itu, pada 2024, SMMT memperkirakan harga batu bara melandai dengan menyentuh level US$59,2 per ton, dan turun kembali ke level US$40 per ton sampai kuartal III/2024.
Pada perkembangan lain, SMMT merombak susunan direksi dan komisaris setelah diakuisisi oleh PT Geo Energy Investama. Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), pemegang saham SMMT menyetujui pengangkatan Ng See Young sebagai Komisaris Utama, Yanto Melati sebagai Komisaris, dan Komisaris Independen Richard Ong.Selain itu, Budi Susanto menjabat sebagai Direktur Utama SMMT menggantikan Roza Permana Putra. SMMT juga mengangkat dua direksi lainnya, yakni Yuliana, dan Denny Kusmayadi.









