Prospek Bisnis Batu Akik
Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Masih Solid
Antam Klaim Implementasikan Tambang Baik
PT Aneka Tambang atau Antam mengklaim telah menerapkan praktik
pertambangan yang baik dan sesuai dengan regulasi, dalam operasi Unit Bisnis Pertambangan
Nikel Maluku Utara. Pengelolaan lingkungan di sekitar wilayah operasi tambang juga diklaim sesuai standar KLHK.
Corporate Secretary Division Head PT Antam Syarif Faisal Alkadrie melalui keterangan
tertulis, Selasa (14/11) mengklarifikasi pemberitaan berjudul ”Perairan
Halmahera Tercemar Logam Berat” dan ”Ikan Sekarang Su Lari Jauh Tergusur Tambang”,
di Kompas dan Kompas.id pada 7 November. Dalam pemberitaan disebutkan, hasil
uji air laut di Teluk Buli, Halmahera Timur atau dekat operasional tambang UBP
Nikel Maluku Utara, mengindikasikan perairan tercemar logam berat. Kandungan
krom heksavalen (Cr), nikel (Ni), dan tembaga (Cu) melebihi ambang baku mutu
yang diatur PP No 22 Tahun 2021. Indikasi pencemaran juga dirasakan oleh
nelayan karena mereka harus melaut lebih jauh. Tak hanya itu, indikasi pencemaran
juga terlihat dari warna air laut yang keruh di areal dekat lokasi beroperasinya
tambang.
Menurut Syarif, selain regulasi yang berlaku bagi praktik
pertambangan, Antam juga memiliki kebijakan Antam Green Standard (AGS) sebagai pedoman
pengelolaan lingkungan, untuk memberikan arahan, meningkatkan kinerja
lingkungan yang efektif dan efisien untuk menjaga kelestarian lingkungan, serta
terciptanya standardisasi dan konsistensi penerapan pengelolaan lingkungan di
seluruh unit bisnis, unit proyek pengembangan, dan entitas anak perusahaan. Terkait
pengelolaan lingkungan di Maluku Utara, Antam melalui UBP Nikel Maluku Utara
terus berupaya meningkatkan efisiensi air dan penurunan beban pencemar air
dalam proses produksi bijih nikel. ”Kehadiran geotekstil yang dipasang pada
kolam sedimentasi berhasil secara signifikan mereduksi nilai padatan
tersuspensi sebesar 98 %, menurunkan kandungan TSS pada air limpasan sebesar
101,6 ton TSS pada 2022,” katanya. Pengelolaan lingkungan yang dilakukan Antam
juga ditegaskan Syarief telah sesuai standar KLHK, tecermin dari capaian
peningkatan Proper Biru pada 2022 atas kinerja tahun 2021-2022. (Yoga)
Peluang Setelah Kocok Ulang Indeks MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali merombak Indeks Saham MSCI Global Standard dan MSCI Small Cap. Ada tiga saham yang masuk dan enam saham yang tergusur sebagai konstituen indeks MSCI.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Index. Emiten big caps pendatang baru itu menggeser posisi PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Di kategori Small Cap Index, MSCI menambahkan PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Lantas PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Timah Tbk (TINS) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) tersingkir MSCI Small Cap Index.
Pelaku pasar merespons positif saham-saham yang menjadi konstituen Indeks MSCI Global Standard maupun MSCI Small Cap. Tengok saja pergerakan harga AMMN yang kembali menanjak, naik 1,05% ke level Rp 7.225 pada Rabu (15/11).
Saham EMTK dan ARTO melaju lebih kencang, masing-masing 7,41% dan 12,20%. Membawa harga EMTK ke Rp 580 dan ARTO ke Rp 2.300 per saham.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto menilai,
rebalancing
indeks MSCI cukup sesuai ekspektasi mempertimbangkan market cap, free float dan nilai rata-rata transaksi harian. Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menambahkan, masuk menjadi anggota indeks MSCI dapat memoles prospek saham.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sepakat, masuk ke indeks MSCI membawa angin segar bagi pergerakan harga saham. Namun, investor tetap perlu cermat menilai kondisi fundamental, prospek bisnis dan valuasi emiten tersebut. Sementara Analis dan Branch Manager Jasa Utama Capital Sekuritas Solo, Robin Haryadi mengingatkan, manager investasi yang menjadikan MSCI sebagai referensi akan ikut me-rebalancing
portofolio
fund
. Situasi ini menyetir harga saham yang terkena kocok ulang.
Beda lagi
Research Analyst
Erdikha Elit Sekuritas, Ika Baby Fransiska yang menilai saham AMMN layak koleksi. Namun, dia menyarankan strategi
buy on weakness
pada Rp 7.000, dengan target Rp 7.500.
Surplus Neraca Dagang Menciut dari Tahun Lalu
Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Oktober 2023. Namun, surplusnya mengecil dibandingkan Oktober 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan barang pada bulan lalu sebesar US$ 3,48 miliar. Angka tersebut lebih rendah dari US$ 5,59 miliar pada Oktober 2022.
Ekonom Bank Danamon Irman Faiz melihat, ini sebagai bukti bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia perlahan menipis. "Pergerakan ini menegaskan bahwa tren penurunan surplus neraca perdagangan Indonesia sedang berlangsung," terang dia kepada Kontan, Rabu (15/11).
Di sisi lain, data BPS memperlihatkan, nilai ekspor barang Indonesia pada bulan lalu US$ 22,15 miliar atau naik 6,76% mom. "Kenaikan nilai ekspor pada Oktober 2023 didorong oleh peningkatan ekspor non minyak dan gas," tutur Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, Rabu (15/11). Pudji memerinci, ekspor non migas Oktober 2023 sebesar US$ 20,78 miliar atau naik 7,42% mom. Kenaikan terutama pada golongan bahan bakar mineral (HS 27) yang naik 24,61% mom, kemudian logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71) naik 43,1%, serta alas kaki (HS 64) naik 39,55%. Sedangkan ekspor migas pada Oktober 2023 turun 2,38% mom menjadi US$ 1,37 miliar, yang didorong penurunan nilai ekspor minyak mentah sebesar 11,85% mom.
Di saat yang sama, BPS mencatat, secara total impor Indonesia pada Oktober tahun ini US$ 18,67 miliar atau naik 7,68% mom.
Aktivitas impor memang lebih besar pada Oktober 2023. Hal itu tecermin dari peningkatan impor barang modal dan impor barang konsumsi. Pada bulan lalu, impor barang modal tercatat US$ 1,82 miliar atau naik 11,08% secara tahunan (yoy). Sedangkan impor barang konsumsi sebesar US$ 3,42 miliar atau naik 3,83% yoy.
Sedangkan dari sisi ekspor, Fiaz melihat koreksi harga komoditas berkontribusi pada penurunan pendapatan ekspor. Dia meyakini, pola tersebut akan bertahan setidaknya hingga akhir 2023. Ini pun akan mempengaruhi pergerakan neraca transaksi berjalan. Dari kalkulasi Faiz, transaksi berjalan di sepanjang 2023 akan mencatat defisit di kisaran 0,4% produk domestik bruto (PDB). Bahkan, ada kemungkinan melebar menjadi 1,0% PDB pada 2024.
Mobilitas, Kunci Kinerja Emiten Tol
Kinerja emiten jalan tol diproyeksi masih prospektif di periode kuartal IV 2023 ini. Meski, kinerja sejumlah emiten jalan tol terbilang beragam.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menyatakan, secara umum, emiten jalan tol per Juni 2023 masih mencatatkan pertumbuhan kinerja. Sentimen penggeraknya terkait mobilitas masyarakat yang sudah semakin normal.
Namun Fajar memperkirakan, kinerja emiten jalan tol pada kuartal IV 2023 dan tahun 2024 masih prospektif. Terlebih tahun depan konsumsi masyarakat diprediksi melonjak seiring dengan hajatan pemilu 2024. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto juga sependapat, melihat kinerja rata-rata emiten jalan tol sejauh ini positif dari sisi
top line. Ini seiring semakin tingginya lalu lintas masyarakat.
Maka Pandhu melihat prospek jalan tol cenderung positif seiring pembangunan yang terus berlanjut. Namun, Pandhu mengingatkan, proyek jalan tol adalah padat modal, sehingga sulit melakukan balik modal secara cepat.
Sentimen utama positif dari kinerja emiten jalan tol tentu masih pada proyek infrastruktur yang akan dibangun oleh pemerintah.
Berbeda, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana yang merekomendasikan
buy if break
untuk JSMR dengan target harga Rp 4.800 - Rp 5.000 per saham. Serta
speculative buy
untuk CMNP dengan target harga Rp 1.650 - Rp 1.700 per saham.
Disokong Laba yang Tumbuh Kuat
Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dalam sembilan bulan pertama tahun ini ciamik. Pertumbuhan kinerja BBRI yang diprediksi terus berlanjut bakal memoles prospek saham emiten bank pelat merah ini.
Hingga akhir kuartal III-2023, laba bersih BBRI tumbuh 12,4% secara tahunan atau
year on year
(yoy) menjadi Rp 43,9 triliun. Kenaikan laba bersih ini didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,9% yoy.
Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi mengatakan, penyaluran kredit BBRI secara konsolidasi mencapai Rp 1.250,7 triliun, naik 12,5% yoy.
Kredit BBRI masih bertumbuh di semua segmen. Total kredit di segmen mikro menjadi penyumbang utama, dengan pertumbuhan 11,6% yoy menjadi Rp 61,5 triliun.
Porsi terbesar kredit mikro BBRI diisi oleh Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dalam riset 26 Oktober 2023, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo dan Abyan H. Yuntoharjo mengatakan, adanya perubahan substansial pada program KUR, membuat BBRI menggeser fokusnya dengan mengembangkan pinjaman Kupedes.
Sedangkan
net interest margin
(NIM) secara konsolidasi terkerek lebih tinggi menjadi 8,05%, didukung oleh margin yang lumayan besar dari Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Pegadaian. BBRI menjaga NIM secara konsolidasi berada di 7,7%-7,9% di akhir tahun 2023.
Menurut Mirae Asset Sekuritas, sinergi yang tercipta dari
holding
ultra-mikro mulai membuahkan hasil. Pendapatan non bunga tumbuh cukup kuat, yakni 12,7% yoy. Mirae Asset menilai, sinergi dari perusahaan ultra-mikro terbukti penting dalam menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam aset, pendapatan, dan profitabilitas.
Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya dan Ryan Santoso dalam riset 26 Oktober 2023 mengatakan, kredit BBRI yang direstrukturisasi akibat Covid-19 turun 15% yoy menjadi Rp 70,9 triliun per September 2023. BBRI kemungkinan lebih agresif menghapus pinjaman yang direstrukturisasi akibat Covid-19.
Namun, BBRI sendiri meyakini berkeyakinan hal tersebut tidak akan meningkatkan
cost of credt
karena bank sudah mengalokasikan rasio cakupan NPL
coverage
yang besar mencapai 228% pada September. Dengan membaiknya situasi perekonomian, BBRI meyakini rasio cakupan NPL siap kembali ke level sebelum pandemi, yakni 175%-200%.
BCA Pencetak Cuan Tertinggi Bagi Investor
Kinerja perbankan dalam sembilan bulan pertama tahun ini masih tampil memukau, terutama bank-bank besar. Laba bersih mereka berlanjut tumbuh tinggi.
Kemampuan perbankan mengelola modal untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham juga meningkat. Hal itu tercermin dari rasio
return one equity
(RoE).
Dalam sembilan bulan pertama 2023, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tampil sebagai bank pemberi cuan paling tinggi bagi pemilik saham perbankan di Tanah Air.
Walau bukan pencetak laba tertinggi, namun BCA tampil sebagai bank paling menguntungkan bagi investor. RoE bank ini mampu bertengger di level 23,5% pada periode Januari-September 2023, naik dari level 20,6% pada periode yang sama 2022.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) jadi penghasil laba tertinggi di Indonesia. Hingga September 2023, BRI meraup untung Rp 43,9 triliun, naik 12,4%. Namun, dari sisi pencetak untung bagi pemodal, posisi bank ini masih kalah dari BCA dan Bank Mandiri. RoE BRI ada di level 19,7% dan Bank Mandiri 22,6%.
Bank Mandiri ada di posisi kedua sebagai bank paling menguntungkan bagi pemilik modal. RoE bank ini naik 250 basis poin secara tahunan.
Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha bilang pencapaian tersebut merupakan hasil dari implementasi strategi berkelanjutan yang dimiliki Bank Mandiri selama ini. Hal ini terlihat dari efektivitas biaya operasional. Rasio CIR yang turun 228 bps jadi 38,1%. Di sisi lain, biaya kredit juga turun 50 bps menjadi 0,96%.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menempati posisi kelima RoE tertinggi setelah BNI, naik 250 bps secara tahunan menjadi 15,4% per September 2023.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan optimistis RoE ini masih akan terus tumbuh hingga akhir tahun. Targetnya hingga 16%.
Multifinance Cari Pendanaan
Menjelang tutup tahun 2023, sejumlah perusahaan pembiayaan (multifinance) sudah mengambil ancang-ancang mencari sumber pendanaan operasional tahun 2024. Terbaru, pekan lalu, PT Indomobil Finance Indonesia (Indomobil Finance) berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$ 400 juta atau setara Rp 6,2 triliun.
Pendanaan itu diraih Indomobil Finance dari pinjaman sindikasi 33 bank di dalam dan luar negeri. Manajemen Indomobil Finance menyebut, dana pinjaman sindikasi itu akan digunakan untuk operasional satu tahun ke depan.
Selain Indomobil Finance, PT BNI Multifinance atau BNI Finance juga gencar mencari pendanaan untuk tahun 2024. Anak usaha Bank BNI ini menargetkan pendanaan tahun depan Rp 5,25 triliun.
Direktur Bisnis BNI Multifinance Albertus Hendi mengatakan, target pendanaan itu meningkat 75% dibandingkan prediksi pendanaan tahun ini Rp 3 triliun.
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) juga membidik pendanaan baru lebih dari Rp 4 triliun pada 2024. Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa bilang, target itu meningkat dibanding tahun ini. "Selain dari bank, kami juga berencana menerbitkan obligasi sebagai sumber pendanaan," katanya.
Sementara itu, PT Federal International Finance (FIF) akan mengalokasikan penerimaan angsuran konsumen sebagai salah satu sumber pendanaan di 2024. "Selain itu, melakukan diversifikasi sumber pendanaan melalui pinjaman bank di dalam dan luar negeri negeri serta obligasi," kata Margono Tanuwijaya, Presiden Direktur FIF.
MEMACU MESIN MANUFAKTUR
Mesin perekonomian Indonesia terbukti masih solid selama lebih dari 3 tahun, salah satunya tecermin dari kinerja positif neraca perdagangan selama 42 bulan secara beruntun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Oktober 2023 mencetak surplus US$3,48 miliar. Surplus itu diperoleh dari nilai ekspor Oktober 2023 sebesar US$22,15 miliar, sedangkan nilai impor hanya US$18,67 miliar. Dengan pencapaian itu, kinerja dagang selama Januari-Oktober 2023 membukukan akumulasi surplus US$31,22 miliar, kendati lebih rendah US$14,22 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2022 sebesar US$45,44 miliar. Kendati demikian, surplus kinerja perdagangan Indonesia juga diiringi fakta bahwa terjadi penurunan impor bahan baku penolong. Padahal suplai bahan baku menjadi indikator geliat industri manufaktur. Jika berkepanjangan, amat mungkin produktivitas sektor manufaktur, yang selama ini menjadi pilar penting penyokong ekonomi nasional, akan tersendat. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan impor bahan baku/penolong dalam tren menurun selama 5 bulan terakhir. Sejatinya, tren penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2022. Selama Januari-Oktober 2023, nilai impor bahan baku/penolong juga merosot sebesar US$19,32 miliar atau 12,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ada tiga besar golongan barang yang merosot nilai impornya selama periode 10 bulan pertama 2023, yaitu bahan bakar mineral, besi dan baja serta plastik dan bahan dari plastik. Saat dimintai tanggapan, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan memprediksi total impor Indonesia sepanjang 2023 memang turun sebesar 7,7%. Untuk tahun depan, dia menyatakan Kemendag bakal memastikan ketersediaan input bagi industri manufaktur domestik, sejalan dengan kebijakan penghiliran. Kasan juga mengatakan Kemendag fokus pada ekspor barang dan jasa bernilai tambah tinggi guna meningkatkan produktivitas perekonomian. Sebaliknya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menyampaikan catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 sebesar US$3,48 miliar bisa menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Sementara itu, Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar menyatakan penurunan nilai impor bahan baku/penolong menunjukkan ada kontraksi di industri manufaktur. “Jadi banyak yang menahan produksi, melihat situasi, hitung-hitung market daya belinya gimana dengan produksi yang naik,” kata Bobby. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Chandra Wahjudi juga sepakat dengan Bobby. Menurutnya, penurunan impor bahan baku/penolong dipicu antara lain penurunan permintaan. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz juga menegaskan Indonesia memasuki tren penurunan surplus neraca perdagangan.









