Masih Hasilkan Polusi, Penggunaan Scrubber pada PLTU Dipertanyakan
61% Saham RI di Freeport Dekati Kepastian
Pemerintah Rancang Program Asuransi Wajib agar Kompetitif
Medco Energi Raih Pinjaman Jumbo Rp 7,5 Triliun
Habiskan Rp 35 Triliun, Grup Astra Lanjut Ekspansi Bisnis
Dilema Formula Penetapan UMP 2024
Hadapi Tantangan Perekonomian Global Perlu Reformasi Struktural
Operator Telekomunikasi Seluler Vs Raksasa Bisnis Digital
Keluhan akan penurunan pendapatan operator telekomunikasi
mengemuka. Wakil Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh
Indonesia Merza Fachys menyatakan, rata-rata peningkatan pendapatan industri
operator telekomunikasi seluler per tahun selama periode 2013-2022 adalah 5,69
%, jauh lebih kecil dibandingkan dengan tren peningkatan biaya hak penggunaan
frekuensi yang mencapai 12,1 % sehingga membebani keuangan operator. Sementara
pertumbuhan lalu lintas konsumsi data seluler sebesar 80,7 % pada periode
2013-2022 tidak berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan
operator. Ini karena harga lalu lintas data per gigabit telah mengalami
penurunan signifikan sebesar minus 32 %. Akibatnya, rerata belanja layanan
seluler saat ini masih sangat rendah, yaitu di kisaran Rp 38.000 per orang per
bulan.
”Operator telekomunikasi seluler jika tidak mau mati harus
mendigitalkan bisnis, jangan hanya berjualan
layanan infrastruktur telekomunikasi. Kalau semua operator seluler
beralih berbisnis digital, bisnis infrastruktur ditinggalkan, maka ini yang
bahaya,” ujar Merza di Jakarta, Senin (13/11). Menurut Staf Khusus Menteri
Komunikasi dan Informatika Sarwoto Atmosutarno, industri telekomunikasi seluler
berevolusi menghadapi pemain bisnis digital atau over-the-top (OTT). OTT yang
dia maksud adalah OTT raksasa dari luar negeri yang memiliki produk mirip
dengan layanan telekomunikasi seluler. Dan, inilah yang turut mendisrupsi
bisnis operator telekomunikasi seluler. Pendapatan layanan voice (telepon)
terus turun hingga kurang dari 50 % total bisnis. Adapun pendapatan operator
telekomunikasi seluler dari berjualan data seluler tidak sebanding dengan
kenaikan konsumsi data seluler. (Yoga)
Tol Yogyakarta-Bawen Ungkit Pariwisata
Panjang total Tol Yogyakarta-Bawen 75,12 km, melintasi 8,80
km wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan 66,32 km wilayah Jateng. Menurut
rencana, akan ada enam gerbang di Tol Yogyakarta-Bawen. Sebagian gerbang tol berlokasi
di Magelang, Jateng, karena trase jalan tol itu memang melewati Magelang. Dirut
PT Jasamarga Jogja-Bawen, AJ Dwi Winarsa mengatakan, hingga Oktober 2023,
progres konstruksi Seksi 1 jalan tol itu mencapai 59,26 %. Progres pembebasan
lahan jalan tol tersebut 80,15 %. ”Jalan Tol Yogyakarta-Bawen termasuk Proyek
Strategis Nasional untuk mendukung program pemerintah dalam pengembangan
infrastruktur. Jika beroperasi penuh, Semarang menuju Yogyakarta atau sebaliknya
dari 3 jam menjadi 1,5 jam,” ucap Dwi, Rabu (25/11). Pembangunan Tol
Yogyakarta-Bawen diharapkan dapat memperlancar distribusi barang dan jasa serta
meningkatkan konektivitas di selatan Jawa, juga diharapkan mendorong
pengembangan industri dan pariwisata di wilayah sekitarnya.
Para pelaku pariwisata di Magelang menyambut baik
pembangunan Tol Yogyakarta-Bawen. Keberadaannya diyakini bakal membuat
mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar sehingga perjalanan menuju destinasi
wisata lebih mudah. Ketua Forum Daya Tarik Wisata Kabupaten Magelang Edward
Alfian mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, salah satu gerbang
Tol Yogyakarta-Bawen bakal berlokasi di Mungkid, Magelang. Jika sudah beroperasi
penuh, gerbang tol itu diperkirakan bakal dilalui 24 juta orang setiap tahun.
Kondisi itu tentu menghadirkan peluang besar bagi para pelaku wisata di
Magelang. ”Ini menjadi pendorong bagi kami untuk terus memperbarui dan meningkatkan
fasilitas penunjang untuk wisatawan. Orang yang berwisata itu pasti butuh daya
tarik wisata, tempat makan, dan oleh-oleh, serta tempat menginap. Itu semua
harus kita sediakan," katanya. (Yoga)
ANAK DISABILITAS, Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan
Sakit katarak kongenital sejak bayi tidak menghalangi Melia
Rahayu Aquini (13) untuk mengembangkan bakat. ”Cita-cita aku mau menjadi musisi,
jadi sekarang mulai belajar piano dulu,” kata Melia di Sekolah Luar Biasa (SLB)
G milik Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jakarta, Rabu (8/11). Melia
merupakan anak penyandang disabilitas dwituna, meliputi tunanetra dan tunagrahita.
Meski demikian, Melia dianugerahi bakat luar biasa, yaitu bernyanyi. Ia pernah menyabet
juara Festival dan Lomba Seni Siswa 2023 Se-DKI Jakarta. Saat ini, Melia duduk
di bangku kelas VI SD Luar Biasa (SDLB) Rawinala. Menjelang lulus SD, Melia ingin
melanjutkan pendidikan ke SMP reguler atau sekolah inklusi. ”Saya mau ke
sekolah biasa karena saya ingin merasakan menjadi orang normal itu bagaimana,”
ucapnya.
Ananda Fahira Ayun Rachmatika Hajiani (11), siswa kelas V
SLB Yayasan Putra Pancasila Bumiayu, Kedungkandang, Malang, Jatim, sejak kecil
tinggal bersama neneknya, Suwanti (62), di Tajinan, Malang. ”Awalnya saya takut
mengajak Fahira keluar. Takut dia kena bully karena ada saja orang yang
bisik-bisik dan itu membuat tidak nyaman,” kata Suwanti, Senin (6/11). Seiring
berjalannya waktu, akhirnya, ia mencari sekolah inklusi untuk cucunya, juga
guru les mengaji. Alhasil, Fahira bisa menyalurkan talenta menyanyinya. Suara
”emas” Fahira menjadikannya juara mengaji di tingkat lokal, provinsi, hingga se-Jawa.
Bahkan, Fahira sempat melakukan rekaman menyanyi di sebuah studio. ”Guru
nyanyinya juga disabilitas netra, guru mengajinya juga. Jadi, semua paham dan
mendukung kondisi Fahira. Tetapi, yang terpenting adalah dukungan keluarga.
Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak Nahar menyampaikan, masih minimnya pemahaman
dari keluarga dalam merawat dan mengasuh anak penyandang disabilitas merupakan
tantangan yang dihadapi oleh keluarga anak disabilitas. Tantangan terberat
adalah stigma, yang bersumber dari diri sendiri, keluarga terdekat, ataupun
masyarakat luas. Tantangan berikutnya adalah masih minimnya aksesibilitas.
”Kenyataannya, mewujudkan hadirnya aksesibilitas tersebut masih sulit dan
memerlukan upaya ekstra karena masih banyak pemangku kepentingan yang belum
mengarus utamakan kebutuhan bagi anak penyandang disabilitas,” ujarnya. (Yoga)









