B-Universe dan BEI Kolaborasi Tingkatkan Pertumbuhan Investor Pasar Modal
Rencana Kolaborasi TikTok Shop dan Pemain Lokal
Angin Segar Saham GoTo
Kampanye dan Natal Memutar Roda Ekonomi
Jadwal Penerapan NPWP Berbasis NIK Diundur
Insentif PPN Mengerek Penjualan Properti
Asing Mulai Aksi Beli Tapi Masih Hati-Hati
ENERGI BARU TRANSISI ENERGI
Upaya pemerintah melaksanakan transisi energi mendapatkan tambahan tenaga setelah Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Amerika Serikat. Pascabertemu Presiden Joseph R. Biden, Indonesia dipastikan membawa pulang komitmen investasi miliaran dolar AS untuk salah satu aksi penanggulangan perubahan iklim tersebut.Kementerian Luar Negeri menyampaikan setidaknya ada enam dokumen kerja sama antarpemerintah (government-to-government/GtG) yang disepakati, termasuk kesepakatan pembentukan comprehensive strategic partnership, kerja sama di bidang kesehatan, ESDM, maritim, dan kebudayaan.Khusus untuk dunia bisnis, ada kesepakatan kerja sama dengan total nilai US$25,85 miliar guna mempercepat transisi energi melalui investasi pembangunan fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS), pengembangan kilang petrokimia, pengolahan nikel untuk baterai kendaraan listrik, serta pembangunan modul dan panel surya di Tanah Air.
Bahkan, Pemerintah Amerika Serikat (AS) juga memastikan percepatan realisasi pendanaan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang sudah disepakati sejak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 2022 di Bali. Kemitraan tersebut nantinya bakal memobilisasi pendanaan hingga US$20 miliar dari publik dan swasta.
Presiden Jokowi pun merasa senang dengan komitmen ExxonMobil mengembangkan fasilitas CCS dan kilang petrokimia di Indonesia. Saat bertemu dengan Chairman ExxonMobil Corporation Darren Woods, Jokowi berharap investasi tersebut bisa membantu Indonesia memenuhi target net zero emission.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memastikan pemerintah akan memfasilitasi rencana investasi ExxonMobil di Indonesia, karena perusahaan asal Negeri Paman Sam itu juga ingin mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) dan infrastruktur hijau di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.Dalam pengembangan fasilitas CCS, ExxonMobil menggandeng PT Pertamina (Persero) agar bisa mengoptimalkan potensi di Laut Jawa dengan potensi penyimpanan CO2 hingga 3 giga ton. Jack P. Williams, Senior Vice President ExxonMobil Corporation berharap kerja sama yang dilakukan oleh pihaknya dan Pertamina bisa mengurangi emisi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan seluruh kawasan.Hal senada disampaikan Presiden ExxonMobil Indonesia Carole Gall yang menyebut rencana kerja sama itu bakal meningkatkan pertumbuhan industri domestik, serta kapasitas penangkapan karbon di Asia Pasifi k.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, proyek tersebut berpeluang untuk menyimpan CO2 di wilayah strategis, dengan pengembangan CCS Hub di wilayah Jawa yang dekat dengan lokasi industri.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pentingnya kepastian kebijakan dan regulasi dalam proses realisasi investasi AS di Indonesia yang biasanya dilakukan untuk jangka panjang.
Mengawal Penyerapan Gas Bumi
Gas bumi sebagai komoditas energi yang diyakini menjembatani transisi energi bersih memiliki peran sentral di Indonesia. Jumlah cadangan gas yang sedemikian besar merupakan tumpuan keberhasilan Indonesia untuk menyediakan energi hijau bagi masyarakat dan dunia. Keberlimpahan sumber daya alam ini tentu saja menguntungkan Indonesia. Kebutuhan gas nasional berlimpah bahkan di beberapa wilayah di Tanah Air mengalami surplus gas hingga 10 tahun mendatang. Berdasarkan data Neraca Gas Indonesia 2023—2032, kebutuhan gas nasional sangat cukup hingga 2032. Kebutuhan gas ini dapatkan dari sejumlah proyek gas dan pasokan gas potensial. Dalam beberapa tahun mendatang, beberapa kargo liquified natural gas (LNG) dari Blok Tangguh, Blok Masela, dan Bontang direncanakan untuk mendukung transisi energi nasional. Guna mendorong optimalisasi gas bumi, pemerintah menerapkan sejumlah mekanisme penting a.l. mendorong produksi di sejumlah lapangan kerja minyak dan gas (migas), mengembangkan lapangan konvensional dan nonkonvensional, sekaligus peningkatan produksi melalui workover dan enhanced gas recovery (EGR). Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 68% produksi gas diserap oleh pasar domestik. Pemerintah tidak ketinggalan mengembangkan infrastruktur gas di seluruh wilayah Indonesia. Di sisi lain, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pun tengah berburu calon pembeli gas alam cair yang belum terkontrak untuk jangka waktu hingga 10 tahun ke depan guna. Langkah ini ditempuh untuk memastikan keseimbangan neraca gas nasional. Pemerintah meyakini bahwa seluruh LNG yang belum terkontrak dapat terserap di dalam negeri, seiring dengan mulai beroperasinya sejumlah fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) dalam waktu dekat. Berdasarkan data SKK Migas, produksi LNG pada 2030 diproyeksikan berada di level 432,6 kargo. Sementara itu, kontrak LNG domestik dan ekspor tidak banyak bergeser, masing-masing di level 62 kargo dan 66 kargo.
PERDAGANGAN ECERAN : MOMENTUM POSITIF BISNIS RITEL
Bisnis ritel di Indonesia diprediksi makin bergairah pada akhir 2023 hingga tahun depan, seiring dengan momentum libur Natal dan tahun baru serta pesta demokrasi 2024.
Periode akhir tahun ini bisa jadi merupakan musim paling sibuk bagi pengusaha ritel di Tanah Air. Potensi peningkatan kesibukan usaha ritel terjadi karena libur Natal dan Tahun Baru 2023/2024 bersamaan waktunya dengan musim pesta demokrasi berupa pemilihan umum 5 tahunan. Kondisi itu masih ditambah dengan momen pemerintah menggenjot pengeluaran setiap akhir tahun. Ketiga fenomena itu bisa berdampak positif pada kenaikan pengeluaran masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey menyatakan bahwa pengusaha ritel telah bersiap menyambut peningkatan transaksi ritel di Indonesia. Pada tahap awal, dia memastikan kebutuhan pokok atau kebutuhan sehari-hari telah tersedia menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023/2024.
Untuk mencegah potensi kenaikan harga barang kebutuhan pokok, Roy mengimbau masyarakat berbelanja dengan wajar. Alasannya, semua produk yang ada di ritel modern telah dimaksimalkan agar tersedia menjelang dan saat Nataru.
Dari sisi harga, Roy memprediksi ada potensi kenaikan tetapi tidak signifi kan. Potensi kenaikan harga merujuk kepada barang kebutuhan pokok seperti beras, cabai, dan gula. Semua komoditas itu kini bergantung kepada produktivitas petani dalam negeri, alias di luar kendali peritel.
Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kamis (16/11) pukul 13.02 WIB, mayoritas harga pangan tercatat mengalami kenaikan rata-rata secara nasional.Harga beras premium dan medium mengalami kenaikan masing-masing menjadi Rp15.000 per kilogram (kg) dan Rp13.170 per kg. Harga bawang merah dan bawang putih bonggol juga naik ma-sing-masing menjadi Rp28.280 per kg dan Rp35.810 per kg.Berbagai jenis cabai dilaporkan juga naik seperti cabai merah keriting naik 0,05% menjadi Rp63.220 per kg dan cabai rawit merah naik 0,3% menjadi Rp73.550 per kg.
Dalam kesempatan itu, dia meminta pemerintah menjadikan ritel modern sebagai sektor prioritas karena merupakan salah satu pendukung konsumsi rumah tangga.
Sementara itu, konsultan properti Colliers Indonesia memprediksi sektor properti ritel dan mal pulih serta tumbuh lebih baik sepanjang 2023 terutama setelah memasuki kondisi pascapandemi Covid-19. Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menyatakan bahwa pemulihan bisnis ritel ditopang pula oleh geliat kunjungan mal setelah pembatasan mobilitas.
Pada kesempatan lain, pendiri PT Sri Pertiwi Sejati H. Asmat Amin menyatakan pembangunan tempat ritel baru menjadi pilihan tepat sebagai instrumen investasi setelah berakhirnya pandemi Covid-19.
Salah satu daerah yang dibidik Sri Pertiwi Sejati adalah Cikarang Kabupaten Bekasi Jawa barat yang memiliki permintaan dan kebutuhan properti komersial terutama untuk daerah pengembangan baru cukup titnggi.
Hal senada disampaikan CEO Cinity Ming Liang. Dia berpendapat ruang ritel sebagai bagian dari pusat kuliner, fesyen, dan hiburan sudah tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup masyarakat kota mandiri baru.









