Tak Cukup Buang Sampah pada Tempatnya
Pesan buang sampah pada tempatnya sudah tak lagi cukup.
Membuang saja tanpa disertai upaya pemilahan
sampah dari hulu, tetap berujung penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.
Di tengah kondisi ini, sejumlah anak muda bergerak mencari penyelesaian. Rifqi
Dwantara (27) dan Yanuardi Satrio (28), alumnus Fakultas Teknik UGM, memilih membantu
warga mengurangi limbahnya dengan mengambil sampah plastik untuk didaur ulang. Di
bawah bendera Paste Lab atau Plastic Waste Laboratory yang dibangun sejak 2021,
Rifqi dan Satrio membangun usaha ekonomi sirkular yang salah satunya menyediakan
layanan jemput sampah plastik bagi masyarakat Yogyakarta. ”Kami berharap bisa
menjadi ruang edukasi bagi masyarakat dalam mengolah sampah. Dimulai dari mengklasifikasikan
sampah organik dan non-organik dari rumah serta tidak malu menggunakan produk
daur ulang.” Ujar Rifqi di Yogyakarta, Rabu (8/11).
Selain menjemput sampah, mereka bekerja sama dengan bank
sampah di Sleman dan para pemungut sampah. Nantinya, sampah plastik yang telah
dipisahkan dari hulu akan diubah menjadi produk yang unik dan bernilai. Produk
yang dihasilkan Paste Lab, antara lain, top table, meja kafe, kursi, stools, hingga
berbagai dekorasi rumah. Ada juga yang bersalin rupa menjadi aneka aksesori, seperti
kacamata, jam tangan, jam dinding, tempat gawai, gantungan kunci, asbak, dan tatakan
gelas. Setiap bulan, Paste Lab mampu mengolah hingga 540 kg sampah plastik. Ke depan
mereka berusaha mengolah lebih banyak
lagi. Selain menyelamatkan lingkungan, Paste Lab juga membuka peluang kerja
bagi 19 pemuda setempat dan para mahasiswa yang tengah menjajal pengalaman
magang. (Yoga)
Asa Pembelajaran Bangkit BerkatKepedulian Pembaca "Kompas"
Kepedihan mendalam dirasakan Ema Hermawati, Kepala Sekolah
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM Sarbini, saat gempa meluluh lantakkan
bangunan sekolahnya, 21 November 2022. Gempa saat itu juga menewaskan ratusan warga
dan mengakibatkan ratusan bangunan rusak. ”Bangunan rusak berat sehingga tidak
bisa digunakan lagi,” ujar Ema, Jumat (17/11) mengenang bencana hampir setahun
silam. Sebersit asa hadir bersama datangnya tim Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas
(DKK) yang melakukan penilaian terhadap kondisi gedung. Yayasan DKK lantas
memutuskan membangun gedung baru. PKBM Sarbini di Desa Sukamanah, Cianjur, Jabar,
rampung dibangun dan diresmikan Jumat pagi. Bangunan itu sumbangan dari pembaca
harian Kompas dan Kompas.id melalui Yayasan DKK. Peresmian gedung baru
dilakukan Pj Gubernur Jabar Bey T Machmudin.
”Terima kasih buat pembaca harian Kompas,” ucap Ema saat
acara peresmian. Keberadaan gedung baru itu untuk menggantikan gedung lama yang
rusak berat akibat gempa yang mengguncang Cianjur, tahun lalu.Gedung baru
berdiri di atas lahan seluas 2.000 meter persegi dengan luas bangunan 515 meter
persegi, terdiri dari 6 ruang kelas, 1 lab komputer, 1 ruang guru dan ruang
ketua yayasan, 1 ruang perpustakaan, mushala, dan 4 toilet, juga terdapat lapangan
upacara dan lapangan olahraga. Dalam sambutannya, Bey mengatakan, pendidikan
dan kesehatan merupakan pilar utama dalam menentukan kemajuan bangsa. ”Negara
yang maju saat ini adalah negara yang cepat responsif terhadap perkembangan
dunia, dan itu tentu harus ditopang oleh pendidikan,” katanya. Bey
mengapresiasi pembangunan PKBM tersebut. Atas semangat gotong royong itu, ia mengucapkan
terima kasih kepada para pembaca harian Kompas dan Kompas.id yang dengan ikhlas
telah memberikan sumbangsih melalui Yayasan DKK. (Yoga)
Indonesia Imbangkan Geoekonomi
Indonesia berupaya menyeimbangkan langkah geoekonominya di antara
blok Timur dan Barat. Manuver itu bisa mengoptimalkan pemanfaatan aktivitas
ekonomi di Asia Pasifik dan kawasan lain. Indonesia telah memastikan menjadi
anggota Kerangka Kerja Ekonomi Indo-Pasifik (IPEF) yang digagas AS. Pada Kamis
(16/11) siang waktu San Francisco atau Jumat pagi WIB, pemimpin 14 anggota IPEF
menyepakati dua dari empat pilar IPEF. Kesepakatan dicapai di sela KTT Kerja
Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Anggota IPEF juga sepakat memulai perundingan
soal pasokan mineral penting. Mengacu pada data Departemen Energi AS, Indonesia
punya empat dari 50 mineral penting. Indonesia punya cadangan besar kobalt,
bauksit untuk aluminium, tembaga, dan nikel. Dalam pertemuan bilateral Indonesia-AS,
ada kesepakatan soal pembentukan kerangka kerja perjanjian mineral penting
(CMA). Lewat CMA, Indonesia ingin jadi pemasok industri kendaraan listrik AS.
Indonesia juga meminta dukungan AS soal lamaran menjadi
anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Mayoritas dari 38
anggota OECD merupakan negara dengan PDB tinggi. Lamaran ke OECD dan keterlibatan
di IPEF dilakukan kala Indonesia menolak bergabung dengan BRICS. Pakar politik
luar negeri BRIN, Siswanto, mengatakan, Indonesia berusaha menunjukkan keseimbangan
hubungan dengan AS dan China. Hal itu tak lepas dari persepsi bahwa Indonesia terlalu
dekat dengan China. ”Dalam hampir dua periode pemerintahan terakhir, AS menganggap
Indonesia tidak sesuai dengan kepentingannya. Persepsi itu muncul karena
kebijakan Indonesia memang lebih ke Timur (China),” ujarnya. Indonesia kini
menjadi anggota Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan (RCEP). AS dan sekutunya
melihat RCEP sebagai salah satu blok geeokonomi yang dimotori China. AS berusaha
menandingi, antara lain lewat IPEF. Bedanya, RCEP memberikan akses pasar, IPEF
tidak. (Yoga)
Daerah Belum Tetapkan Upah Minimum
Tantangan Optimalkan Kekayaan Bengkulu
Dengan segala potensi sumber daya alam, baik perkebunan,
pertanian, dan perikanan tangkap maupun budidaya, provinsi berpenduduk 2,06
juta jiwa itu masih tergolong sebagai daerah miskin di Sumatera. Data BPS pada Maret
2023, jumlah penduduk miskin di Bengkulu sebanyak 288.460 jiwa atau setara
14,04 %. Persentase penduduk miskin di Bengkulu menjadi terbesar kedua di Sumatera,
setelah Aceh. Pada triwulan III tahun 2023, perekonomian Bengkulu tumbuh 3,96 %
secara tahunan dengan besaran produk domestik regional bruto (PDRB) Rp 23,76
triliun. Struktur perekonomian Bengkulu didominasi lapangan usaha pertanian,
kehutanan, dan perikanan sebesar 28,9 %, Namun, laju pertumbuhan PDRB di sektor
penopang utama ekonomi di Bengkulu masih tergolong kecil, hanya 2,76 % secara
tahunan, lebih rendah dibandingkan beberapa sektor lain, di antaranya sektor penyediaan
akomodasi yang tumbuh 10,05 %, serta sektor informasi dan komunikasi yang
tumbuh 9,91 %.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu,
Kamaludin berpendapat, lambatnya pembangunan di Bengkulu tidak semata karena factor
aksesibilitas yang sulit. Ia menilai belum ada terobosan pemda yang menghasilkan
lompatan bagi kemajuanBengkulu. Pergerakan ekonomi di Bengkulu lebih banyak terjadi
secara alami. Semestinya ada rancangan besar pengembangan ekonomi Bengkulu dari
sektor utamanya yang kemudian terdiferensiasi membentuk sektor baru. Hasil dari
sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi bahan baku sektor
perindustrian. Selanjutnya, hasil dari sector perindustrian menjadi barang utama
sektor perdagangan. Di sektor pariwisata, kekayaan alam berupa pantai, ombak, gunung,
hingga bunga Rafflesia arnoldii yang jadi ikon Bengkulu menjadi daya tarik yang
dapat dijual kepada wisatawan domestik dan mancanegara. ”Dibutuhkan jalan tol
dari Bengkulu menuju Lubuk Linggau, Sumsel, sehingga aksesnya menjadi lebih
cepat,” katanya. (Yoga)
Pengusaha Perikanan Minta PNBP Dikurangi
Buruh Minta UMP Jakarta Naik 15 Persen
Serda Mugiyanto, Manis Kelengkeng untuk Memberdayakan Petani
Pernah terpuruk karena kehilangan kaki kanannya saat
bertugas, Serda Mugiyanto (45) berhasil bangkit. Selain bertugas sebagai Bintara
Pembina Desa (Babinsa) Komando Rayon Militer (Koramil) 19/Borobudur, Magelang,
Jateng, Mugiyanto juga mengelola perkebunan kelengkeng di Desa Borobudur, Magelang.
Perjalanan hidup Mugiyanto berada di titik nadir tatkala dia kehilangan kaki
kanan saat bertugas di Ambon, Maluku, pada 27 November 2001. ”Di sana saya kena
ranjau antipersonel. Langsung kena kaki saya, langsung hilang kakinya,”
ujarnya, Rabu (25/11). Mugiyanto harus menjalani perawatan di rumah sakit
selama empat sampai enam bulan. Dia juga dibuatkan kaki palsu agar bisa kembali
beraktivitas. Pada 2004, Mugiyanto mengikuti pelatihan vokasi yang digelar
Pusat Rehabilitasi Kemenhan. Setelah itu, dia mulai menggeluti aktivitas
pertanian dengan mengembangkan kebun kelengkeng. Mulanya, Mugiyanto menyewa
lahan 0,25 hektar di Desa Borobudur untuk membudidayakan kelengkeng bersama
warga setempat.
Budidaya itu berhasil sehingga kebun kelengkeng yang ia kelola
terus bertambah luas. Saat ini Mugiyanto mengelola kebun kelengkeng seluas 40
hektar. Lokasinya bukan hanya di Magelang, melainkan juga di Pemalang, Jateng. Saat
ini ada lebih dari 100 petani yang bekerja di kebun kelengkeng yang dikelola
Mugiyanto. ”Saya tidak mau sugih (kaya) sendiri. Saya ingin masyarakat ikut
andil. Kebun itu dikelola dengan sistem ekonomi kemasyarakatan. Jadi, ada bagi
hasil untuk masyarakat,” katanya. Menurut Mugiyanto, budidaya kelengkeng
berpotensi mendatangkan pendapatan yang lumayan. Apalagi, kelengkeng bisa berbuah
di luar musim. Satu hektar lahan bisa ditanami 230 batang pohon kelengkeng
dengan jarak per pohon 7 meter. Dengan asumsi ada 200 batang pohon yang
berhasil berbuah dan menghasilkan 75 kg kelengkeng sekali panen per tahun,
hasil panen per tahun per hektar mencapai 15 ton.
Dengan harga Rp 50.000 per kg, satu hektar kebun kelengkeng
bisa menghasilkan uang Rp 750 juta per tahun. Selain membudidayakan kelengkeng,
Mugiyanto juga melakukan pembibitan. Ia juga mengembangkan wisata petik buah. Mugiyanto
kerap diundang ke banyak daerah untuk membina para petani. Keberhasilannya
mengembangkan kebun kelengkeng dan membina para petani itu membuatnya dijuluki ”Jenderal
Lengkeng”. Atas sejumlah prestasi tersebut, Mugiyanto diganjar sejumlah penghargaan.
Pada 2019, dia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari Kepala Staf TNI Angkatan
Darat. Dari semula kopral kepala, kini ia menyandang pangkat sersan dua. Pada
Juni 2023, Mugiyanto mendapat penghargaan sebagai petani yang sukses dalam
pengembangan komoditas buah kelengkeng dan pembinaan terhadap 10.000 petani
se-Indonesia dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. (Yoga)
BOROBUDUR MARATHON, BERLARI SAMBIL MEMAJUKAN EKONOMI
Salah satu ajang wisata olahraga (sport tourism) yang
ditunggu masyarakat Indonesia ialah Borobudur Marathon 2023 Powered by Bank Jateng,
yang digelar di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jateng. Borobudur Marathon
tahun ini, yang bertajuk ”Voice of Unity”, dipastikan lebih semarak dengan
peserta yang semakin banyak. Pada tahun ini, Borobudur Marathon melombakan kategori
10 km, half marathon (21,0975 km), dan maraton (42,195 km). Dengan semakin
banyak kategori lomba yang dibuka, jumlah pesertanya pun kian bertambah.
Borobudur Marathon tahun 2023 ini diikuti lebih dari 10.000 pelari, dimana Borobudur
Marathon 2022, hanya menjaring 8.000 pelari. Jumlah pelari yang tembus 10.000
ini mirip dengan penyelenggaraan Borobudur Marathon tahun 2019 atau sebelum
pandemi Covid-19.
Tingginya animo pelari yang mengikuti Borobudur Marathon
2023 ini akan berdampak secara langsung bagi perekonomian daerah setempat. Banyaknya
peserta yang berasal dari daerah-daerah tentu akan berimbas pada belanja sektor
jasa di wilayah Magelang, terutama menjelang Borobudur Marathon 2023.
Setidaknya akan terjadi lonjakan jumlah pengunjung hotel atau penginapan,
konsumen rumah makan atau restoran akan meningkat, permintaan jasa transportasi
bertambah untuk mobilitas para peserta, dan obyek wisata kian ramai pengunjung.
Hal tersebut tentu akan berdampak bagi perekonomian di wilayah Magelang dan
sekitarnya. Apalagi, hampir semua peserta sudah mempersiapkan alokasi anggaran pribadinya
untuk mengikuti event lari di Magelang itu. Berdasarkan hasil survei Borobudur
Marathon tahun 2022, rata-rata uang yang dibelanjakan pelari berkisar Rp 4 juta
per peserta, untuk biaya pendaftaran peserta, biaya transportasi ke wilayah Magelang,
biaya rekreasi, biaya penginapan, konsumsi harian, transportasi selama di Magelang,
hingga belanja oleh-oleh. (Yoga)
NELAYAN BENGKULU KALAH BERTARUNG DI LAUT YANG KAYA
Dengan susah payah, Zulkoto (50) dibantu 30 tetangganya di kampung
nelayan Malebero, Kota Bengkulu, mendorong perahu motor dari daratan ke bibir
pantai, Rabu (15/11) sore. Dibutuhkan 30 menit untuk mendorong perahu berukuran
20 gros ton tersebut hingga sampai di pinggir laut. ”Kami biasanya melaut sejauh
30-40 mil ke arah utara menuju perairan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara,” ucap ayah
dua anak itu. Saat ini laut masih bersahabat. Para nelayan di Bengkulu sedang
panen ikan tuna, layur, dan tongkol. Dalam sehari melaut, nelayan bisa mendapat
ikan 700-800 kg. Sayangnya, meski ikan melimpah, nelayan tetap tidak dapat
menikmati untung banyak karena harga ikan di pasaran anjlok. Ikan tongkol
paling tinggi dibeli Rp 13.000 per kg, tuna Rp 22.000 per kg, dan layur Rp 30.000
per kg. Harga jual itu bisa lebih rendah jika kualitas ikan hasil tangkapan
nelayan rusak karena terlalu lama di darat atau kekurangan es batu. Ikan
tongkol bisa jatuh pada harga Rp 10.000, tuna Rp 18.000, dan layur hanya Rp
20.000 per kg.
Tempat pelelangan ikan di kawasan Pulau Baai, yang
seharusnya menjadi tempat negosiasi harga, juga tak terpakai. Setelah mendarat,
sebagian besar nelayan menjual hasil tangkapan kepada tengkulak, karena ratusan
nelayan telah meminjam perahu untuk modal melaut. Mereka juga meminjam uang
sayur untuk keluarganya pada tengkulak. Bos nelayan adalah pemilik kapal yang
juga membeli semua ikan hasil tangkapan nelayan. ”Kami bagi hasil dengan bos. Kalau
sedang musim panen, alhamdulillah bisa dapat Rp 500.000 setelah dua hari melaut.
Itu setelah dipotong modal dan utang,” kata Setrayandi (43), nelayan asal
Sumbar, yang merantau ke Bengkulu sejak lima tahun lalu. Kekayaan laut di
Bengkulu membawa Setrayandi merantau ke provinsi di pesisir barat Sumatera itu.
Ia berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, namun, nyatanya nasib
nelayan tradisional sama saja. Hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan.
Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu Syafriandi
mengakui potensi perikanan di Bengkulu belum tergarap secara optimal karena
keterbatasan sarana dan prasarana. Selain ukuran kapal nelayan yang masih di
bawah 30 GT, nelayan juga belum mempunyai fasilitas cold storage untuk
menyimpan ikan agar tetap segar. Bahkan, Bengkulu juga masih kekurangan es untuk
mengawetkan ikan. Saat musim panen ikan seperti sekarang, kebutuhan es untuk
nelayan di Bengkulu bisa mencapai 300 ton per hari. Namun, kapasitas produksi
es baru 175 ton per hari. Pemprov Bengkulu tengah membangun Pelabuhan Perikanan
Nusantara di Kabupaten Seluma. Pelabuhan itu ditargetkan selesai pada 2024 dan diharapkan
dapat mendukung usaha nelayan, khususnya yang berasal di luar Kota Bengkulu.
Pemerintah juga mengupayakan pembangunan pabrik es di Pulau Enggano, untuk
memenuhi kebutuhan es untuk nelayan di Enggano dan nelayan lain yang sedang
mencari ikan di perairan sekitar pulau tersebut. (Yoga)









