Dongkrak Produktivitas dengan Pola Baru
Rendahnya produktivitas kebun masih jadi masalah utama petani kopi di sejumlah daerah. Melalui komunitas, para petani belajar bersama memperbaiki pola budidaya demi mendongkrak produktivitas kopi. Sinergi sejumlah pihak, mulai dari petani hingga pemerintah, menjadi bagian terpenting. Salah satu komunitas yang berkontribusi membagikan pola budidaya kopi itu ialah Kopista Indonesia. Melalui komunitas Kopista, petani kopi asal Kelurahan Sekincau, Lampung Barat, Lampung, berbagi ilmu tentang budidaya kopi yang baik kepada petani. Komunitas yang berdiri pada 2015 ini sudah mendampingi 250 petani kopi di Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Bengkulu. Menurut pendiri komunitas Kopista, Supriyono (48), Kamis (25/7) rendahnya produktivitas kebun disebabkan mayoritas petani masih melakukan pola-pola lama dalam budidaya kopi.
Mereka membiarkan saja kebun kopinya tanpa diberi pupuk dan dibersihkan. Petani biasanya hanya sesekali menengok kebun menjelang masa panen raya. Selain itu, mayoritas petani tidak berani menargetkan hasil panen. Padahal, dari perhitungan Supriyono, produktivitas kopi minimal harus mencapai 2 ton per hektar agar petani bisa menikmati nilai ekonomi dari komoditas tersebut. Pemerintah juga bisa membangun kebun percontohan yang dapat menjadi lahan belajar bersama. ”Pemerintah dapat memulai semua itu dengan membuat kebun demplot di setiap kecamatan yang bisa menjadi laboratorium lapangan bagi para petani,” katanya. Pengolah kopi di Rimba Candi, Pagar Alam, Frans Wicaksono (58), mengatakan, petani harus berani keluar dari zona nyaman.
Sejauh ini, pola pertanian kopi di Sumsel menyadur teknologi budidaya atau pengolahan pascapanen yang diwariskan turun-temurun. Kebiasaan warisan yang menghambat perkembangan kopi Sumsel ialah menjemur kopi di aspal atau jalan dan membiarkan kopi diinjak ban kendaraan bermotor. “Kebiasaan itu berisiko membuat kopi terkontaminasi kotoran dari ternak yang lalu lalang dan polusi kendaraan bermotor. Apalagi, kopi memiliki kemampuan menyerap aroma di sekelilingnya sehingga kopi yang dijemur di aspal berpeluang memunculkan aroma dan rasa yang tak sedap,” ungkap Frans yang bermukim di Rimba Candi untuk mengelola kebun kopi warisan ayahnya sejak 2015.
Karena menerapkan teknologi budidaya dan pengolahan pascapanen sesuai standar ekspor, Frans mampu memasarkan kopinya ke Uni Emirat Arab. Salah satu pola yang diterapkan Frans adalah membangun ruang pengeringan yang bisa menjaga suhu stabil dan terhindar dari perubahan cuaca tiba-tiba, serta menggunakan alas pengeringan setinggi 1-1,5 meter dari permukaan tanah. ”Sekarang, tidak ada alasan untuk tidak bisa meningkatkan kualitas panen karena ilmunya bisa dipelajari dengan mudah dan gratis di ponsel pintar. Melalui internet, kita tak perlu takut dengan akses pasar. Kita bisa promosi sendiri produk kita lewat media sosial. Kalau kualitas terbukti, bukan kita yang mencari pembeli, melainkan pembeli yang mendatangi kita,” kata Frans. (Yoga)
Perluasan Objek Cukai Hantam Manufaktur
Tumbuh Selektif dan Prudent, BRI Cetak laba Rp 29,90 Triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan entitas perusahaan anak atau BRI Group berhasil mencatatkan kinerja positif dan berkelanjutan hingga akhir Triwulan II 2024. Dengan pertumbuhan yang selektif dan prudent, BRI secara konsolidasi berhasil mencetak laba Rp29,90 triliun. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Sunarso pada pemaparan press conference kinerja keuangan Triwulan II 2024 di Jakarta (25/7). Sunarso mengungkapkan bahwa kinerja positif BRI Group tersebut tak terlepas dari pertumbuhan penyaluran kredit dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh double digit. "Hingga akhir Triwulan II 2024, penyaluran kredit BRI tercatat Rp1.336,78 trriliun atau tumbuh 11,20% year on year (yoy). Segmen UMKM masih mendominasi penyaluran kredit BRI, dengan porsi mencapai 81,96% dari total penyaluran kredit BRI, atau sekitar Rp 1.095,64 triliun," ungkapnya. Penyaluran kredit yang tumbuh double digit tersebut membuat aset BRI tercatat meningkat. Hingga akhir Juni 2024 tercatat aset BRI tumbuh 9,54% yoy menjadi sebesar Rp1.977,37 triliun. (Yetede)
B-Universe Gelar Malam Apresiasi Satu Inspirasi
Media nasional Beritasatu.com kembali memberikan apresiasi terhadap para tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia atas inovasi dan program mereka yang menginspirasi. Terdapat 24 orang penerima apresiasi Satu Inspirasi 2024 yang telah melalui proses seleksi ketat dan panjang. Malam Apresiasi Satu Inspirasi yang digelar Kamis (25/07/2024) dihadiri oleh para tokoh salah satunya adalah komisaris utama media Disway, Dahlan Iskan hingga Tokoh Muda Inspiratif yaitu Gibran Rakabuming Raka. Selain itu datang tokoh lainnya yaitu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian hinga mantan wakil gubernur Jawa Timur, Emil Dardak. Direktur Pemberitaan B-Universe (holding grup Beritasatu.com) Apreyvita Wulansari menjelaskan, Satu Inspirasi 2024 ini merupakan event kali kedua, setelah pada 2023 digelar dengan nama APDI (Apresiasi Pemerintah Daerah Indonesia) Guna melebarkan penerima penghargaan, yang tidak hanya berasal dari kalangan birokrat, maka nama acara tersebut diubah menjadi Satu Inspirasi. (Yetede)
Laba Emiten Sawit Menghijau, Sahamnya Berkilau
Perang Diskon dan Promo Mobil di GIIAS 2024
Dagang Sapi Kursi Komisaris BUMN
Mimpi Indah Transisi Energi
Ikrar pemerintahan Presiden Jokowi mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai mitigasi krisis iklim sepertinya bakal menjadi angan-angan saja. Kebijakan pemerintah jauh dari target itu karena segera terbangun 12 unit pembangkit listrik tenaga uap batu bara captive hingga enam tahun ke depan. PLTU batu bara 30 gigawatt yang dibuat perusahaan untuk memasok kebutuhan listriknya sendiri itu tersebar di banyak smelter. Di kompleks smelter nikel PT Indonesia Morowali Industrial Park, telah beroperasi dua pembangkit yang mengkonsumsi 9 juta ton batu bara setiap tahun. Penggunaan pembangkit batu bara di kompleks smelter nikel tersebut bertolak belakang dengan slogan pemerintah soal ekosistem smelter ramah lingkungan.
Di banyak forum, para menteri mempromosikan nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Tapi pengerukannya memicu deforestasi dan pengolahannya menghasilkan emisi besar. Deforestasi dan emisi adalah kombinasi maut penyuplai gas rumah kaca penyebab krisis iklim. Data Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030 menunjukkan ketidak seriusan pemerintah dalam mitigasi iklim. Pemerintah merencanakan pembangunan pembangkit berkapasitas 40.967 megawatt dengan 29 % berbahan baku batu bara. Program itu membuktikan bahwa kebijakan Jokowi hanya manis di bibir, tapi lain di hati. Soalnya, dalam KTT Perubahan Iklim (Conference of the Parties) Ke-28 di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Desember 2023, Jokowi blakblakan meminta negara maju berinvestasi mengurangi emisi di Indonesia sebanyak US$ 1 triliun.
Analisis Institute for Essential Services Reform mencatat masih ada 86 pembangkit batu bara yang beroperasi di Indonesia. Sebanyak 12 pembangkit layak dipensiunkan untuk mengurangi emisi dan polusi serta meningkatkan kualitas udara. Namun, alih-alih mematikan, pemerintah malah mengizinkan 12 PLTU captive baru. Pembangkit batu bara memang lebih murah dalam menghasilkan listrik ketimbang energi baru terbarukan. Pembangkit batu bara bisa dibangun di mana saja, termasuk di mulut tambang, sehingga menekan harga listrik. Namun harga listrik sesungguhnya bergantung pada pasokan. Makin banyak pasokan listrik dari sumber yang bersih, harga setrumnya akan makin murah. (Yetede)
Bisakah Roti Awet Tiga Bulan
Buntut Temuan Pengawet Kosmetik dalam Roti Okko
Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM mengumumkan hasil uji laboratorium terhadap produk roti Okko dan Aoka. Pada 23 Juli 2024, BPOM menyatakan roti Okko mengandung sodium dehydroacetate atau natrium dehidroasetat, yang biasa digunakan untuk pengawet kosmetik. Zat itu tidak masuk daftar bahan tambahan pangan (BTP) yang diizinkan BPOM. Sedangkan roti Aoka dinyatakan bebas dari kandungan tersebut. Pengumuman BPOM tersebut berbeda dengan pernyataan Plt Deputi Bidang Pengawasan Makanan Olahan BPOM, Ema Setyawati, pada 17 Juli 2024.
Saat itu Ema memastikan hasil uji laboratorium BPOM tidak mendeteksi bahan pengawet berbahaya pada roti Okko ataupun Aoka. "Kami sudah melakukan (tes), hasilnya baik-baik saja. Itu dihasilkan dari laboratorium kami sendiri," ujarnya, Rabu, 17 Juli lalu. Namun, dalam keterangan resmi pada 23 Juli lalu, BPOM menyatakan roti Okko positif mengandung natrium dehidroasetat. Saat jumpa pers pada Kamis, 25 Juli 2024, Ema menuturkan BPOM mulai menyidik PT Abadi Rasa Food, produsen roti Okka, pada 2 Juli lalu.
Awalnya BPOM menginspeksi sarana produksi, lalu mendapati produsen tidak menerapkan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB) dengan benar dan konsisten. "Kemudian dari penemuan ini, BPOM menginstruksikan penghentian kegiatan produksi dan peredaran," ucapnya. Peraturan BPOM Nomor 17 Tahun 2022 menyebutkan natrium dehidroasetat merupakan unsur kimia yang ditambahkan dalam produk kosmetik dengan batas takaran maksimum 0,6 % sebagai asam. Pengawet seperti zat itulah yang diduga membuat roti Okko awet hingga lebih dari tiga bulan. (Yetede)









