Sektor Manufaktur, Seperti Tekstil, Garmen, dan Alas Kaki, Melakukan PHK.
Dugaan Penyimpangan Penyelenggara Haji 2024
BUMN Menjadi Buah Bibir Politik
Pro dan Kontra RUU EBET
Pendaftaran Program Subsidi Tahap Pertama dan Kedua
The Fed Pangkas FFR
Reputasi Prajogo Pangestu Bertangan Dingin Memoles Perbankan
Mengadukan Kepedihan Hati Dengan Surat Untuk Paus
Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia sepatutnya disambut penuh sukacita. Di mata dunia, Paus Fransiskus telah menjadi simbol perdamaian dan persaudaraan universal. Kedatangannya ke Indonesia makin meneguhkan bahwa negeri tercinta ini adalah tanah air bagi keberagaman, persaudaraan, kedamaian, dan toleransi. Tanpa menghilangkan rasa syukur, bolehlah kita menitipkan seberkas dukacita yang harus ditanggung sebagian warga Indonesia. Dukacita itu tertuang dalam surat-surat yang disampaikan kepada Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini. Menyambut kedatangan Paus Fransiskus, majalah Utusan (majalah kerohanian untuk kaum awam Katolik) dan majalah Rohani (majalah untuk kaum rohaniwan dan rohaniwati) mengundang pembaca untuk menulis surat kepada Paus.
Undangan kedua majalah tua yang terbit di Yogyakarta itu mendapat sambutan di luar dugaan. Ketika registrasi ditutup, pertengahan Juni lalu, tercacat 1.436 pendaftar yang ingin bertulis surat kepada Paus. Sebanyak 75 % umat awam, 10 persen non-Katolik, dan 15 persen rohaniwan-rohaniwati. Perserta tertua berusia kepala tujuh. Yang termuda masih duduk di bangku SMP kelas VII. Ada 585 surat yang masuk, dipilih 95 naskah terbaik. Sebanyak 25 naskah tersebut diterbitkan dalam majalah Utusan dan Rohani. Seluruh 25 surat ini diterjemahkan dalam bahasa Spanyol dan bahasa Inggris dan akan diserahkan kepada Paus Fransiskus. Tidak mudah bagi redaksi melakukan seleksi terhadap naskah-naskah tersebut. Sebab, banyak surat yang sungguh menyentuh hati, terutama dari kategori kaum awam dewasa dan anak muda.
Sayang bila naskah-naskah itu tak terbaca. Maka, 95 naskah pilihan diterbitkan oleh Yayasan Basis menjadi buku berjudul Whispers of Hope, Curahan Hati untuk Bapa Suci. Inilah sepenggal kalimat dalam surat seorang ibu yang disampaikan kepada Paus Fransiskus. ”Bapa, saya merasakan malam-malam yang selalu gelap, napas tercekat terasa sesak di dada dengan amat sangat. Rasanya ingin saya bertanya pada Tuhan, ’Kenapa tidak selesai hidup saya sampai di sini saja? Mampukah saya berjalan di lorong gelap tanpa terlihat cahaya sama sekali?’” Inilah sepenggal kalimat dalam surat seorang ibu yang disampaikan kepada Paus Fransiskus. Suaminya mengkhianatinya. Meski demikian, suaminya tetap meminta untuk berhubungan badan dengannya.
Akhirnya, dengan alasan perbedaan agama, suaminya menceraikannya dan pergi dengan perempuan lain, tanpa mau membayar cicilan rumah, tidak membagi harta bersama, dan menolak memberikan nafkah sesuai putusan pengadilan. Ibu ini terpaksa meninggalkan pekerjaannya. pulang kampung, yang ternyata tak mudah hidup sebagai janda, apalagi ia harus membesarkan seorang putrinya. Ia merasakan, betapa perkawinan yang berjanji untuk setia dalam untung dan malang, sakit dan sehat, seumur hidup itu akhirnya hanya menjadi kepahitan, kekurangan, dan rasa tidak percaya diri. Ia memohon agar Paus menguatkannya untuk menempuh lorong gelap ini dalam perjalanan imannya. Siapa tahu setitik cahaya sudah menantinya di ujung sana. (Yoga)
Puluhan WNI Digerebek Akibat Praktik Judi Daring di Filipina
Otoritas Filipina menggerebek kompleks perjudian daring dan penipuan siber di kawasan resor Barangay Agus, kota Lapu-lapu, Provinsi Cebu. Sebanyak 162 warga asing, sebanyak 83 warga negara China, 70 warga Indonesia, 6 warga Myanmar, 2 warga Taiwan, dan 1 warga Malaysia, ditangkap atas dugaan kejahatan berbasis internet, yakni operasi perjudian daring ilegal. Penggerebekan ini bagian dari komitmen Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr melarang perjudian daring yang sebagian besar melayani klien di China, Juli 2024. Di China, perjudian ilegal dilarang. Kantor berita Filipina, Minggu (1/9) menyebutkan, penggerebekan dilakukan 100 badan pemerintah dari Komisi Anti-Kejahatan Terorganisasi Kepresidenan, Biro Investigasi Nasional, Angkatan Bersenjata Filipina, Pusat Kejahatan Transnasional Filipina, dan Dewan Antar-lembaga Melawan Perdagangan Manusia, Sabtu (31/8).
Penggerebekan dilakukan setelah ada perintah untuk memantau pergerakan 13 orang asing ilegal yang masuk Filipina dan telah melewati batas waktu serta bekerja tanpa izin. Mereka diperiksa terlebih dahulu dan ditahan sebelum dideportasi. Sementara pemilik resor menghadapi tuntutan pidana karena menyembunyikan orang asing yang tinggal secara ilegal. ”Ini akan menjadi peringatan bagi siapa saja yang coba memulai operasi perjudian daring ilegal yang sudah dilarang presiden,” kata Komisaris Imigrasi Filipina Norman Tansingco. Pada Juli2024, Marcos mengatakan, operasi perjudian illegal besar-besaran di Filipina mengabaikan hukum nasional. Marcos khawatir industri ini memicu kejahatan lain, termasuk pencucian uang. Marcos pun melarang perjudian daring. BBC, 23 Juli 2024, melaporkan, judi daring ilegal secara lokal dikenal dengan POGO atau Philippine Offshore Gaming Operators.
IndustriPOGO terdiri dari 400 perusahaan berlisensi dan tidak berlisensi. Mereka mempekerjakan 40.000 orang secara langsung dan tidak langsung. Industri ini menghasilkan 166,5 miliar peso (Rp 46 triliun) per tahun. Dari POGO berlisensi, yakni 46 perusahaan, pemerintah mendapat 24,5 miliar peso tahun 2024 dalam bentuk biaya dan pajak POGO. Dari 46 perusahaan berlisensi, separuhnya perusahaan China. Selain perjudian daring, orang-orang yang ditangkap juga melakukan penipuan keuangan, penipuan cinta, skema investasi daring, perdagangan manusia, penyiksaan, penculikan, dan pembunuhan. Menurut Komisi Anti-Kejahatan Terorganisasi Kepresidenan, penggerebekan di Tourist Garden Resort itu berawal dari Kedutaan Besar Indonesia di Manila yang meminta bantuan penyelamatan delapan WNI yang dilaporkan dipaksa bekerja di kompleks permainan daring itu. (Yoga)
Hambatan Karier dan Pekerja NPC
Karyawan yang tidak terlalu peduli dengan pekerjaan, tidak terlampau hirau dengan tempat dan teman kerja, menurut istilah gen Z, adalah pekerja ”NPC”. The Wall Street Journal, Senin (2/9) menyebutkan, perusahaan kini tengah berupaya untuk semakin terlibat dengan karyawan mereka, terutama para pekerja muda. Survei menunjukkan, perusahaan paling kesulitan bekerja dengan karyawan berusia muda. Majalah Forbes, 18 Agustus 2024, menerbitkan laporan tentang ketidakterlibatan (disengagement) karyawan yang lebih banyak merugikan mereka sendiri. Selain menghambat karier, mengurangi kebahagiaan, juga akan dicap sebagai NPC atau non-playable character. NPC merupakan istilah para pemain gim dan generasi Z.
NPC sering diasosiasikan dengan karakter yang tidak berpengaruh dalam permainan. Karakter ini berperilaku sesuai program saja. Tidak bisa berpikir. Tidak mampu berinteraksi. Membosankan. Di tempat kerja, pekerja NPC dianggap kurang berkomitmen secara emosional. Mereka kurang antusias dengan pekerjaan dan tempat kerja. Padahal, dalam lingkungan pekerjaan dengan teman-teman di kantor, musti bisa membawa diri sebaik-baiknya, untuk membangun kredibilitas dan reputasi positif. Dengan demikian, kesuksesan di tempat kerja meningkat. Survei Gallup menemukan, banyak pekerja tidak terikat secara emosional dengan tempat kerjanya. Bahkan, rasa terikat anjlok ke titik terendah dalam 11 tahun terakhir. Hasil survei menyebut, satu dari tiga pekerja kesulitan memotivasi diri sendiri agar semangat kerja.
Ciri orang yang berjarak lalu berdampak buruk pada rekan dan tempat kerja, yakni konsisten lelah dan sinis. Ciri selanjutnya, hanya berbuat minimal. Lebih buruk lagi, kadang memanfaatkan rekan kerja untuk menyelesaikan tugas. Ini membuat pekerja berjarak menjadi kehilangan integritas dan kredibilitas. Relasi cuma formal dan minimal. Untuk menghindarkan pekerja dari label NPC agar pekerja bersatu dan punya ikatan dengan tempat kerja, pekerja perlu mengingatkan diri sendiri dengan dampak dirinya pada sekitar. Selalu sampaikan kepada diri: saya penting. Pekerja perlu senantiasa berkontribusi pada gagasan baru. Guna memperbaiki ini, pekerja perlu menantang diri sendiri untuk belajar hal baru dan membangun ikatan dengan tempat kerja. (Yoga)









