Stok Gabah yang Terakhir
Arsimah, seorang petani, terlihat sedang menjemur gabah di Desa Sukabudi, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Hari Rabu (4/9/2024). Gabah kering panen ini adalah stok terakhir yang dijual seharga Rp 7.500 per kilogram. Sudah 3 bulan persawahan di kawasan tersebut mengalami kekeringan. Sehingga hasil panen tidak maksimal, padahal harga gabah kering panen sedang bagus. (Yoga)
Kelas Menengah Berburu Diskon, untuk Hadapi Tekanan Ekonomi
Kelas menengah tengah gelisah. Gegabah sedikit soal alokasi belanja, seketika mereka bisa terperosok ke kelas bawah. Apalagi, kondisi ekonomi makro juga sedang lesu. Mereka pun bersiasat jitu agar hidup bisa terus maju. Akhir Juli lalu, Abidzar (27) menemukan lubang di bagian kelingking kaki kanan sepatunya. Karyawan pemasaran mobil ini sadar harus segera menutup lubang itu agar tetap tampil rapi dan profesional demi menarik pembeli. Namun, saat pergi ke tukang reparasi sepatu, ongkos perbaikannya Rp 200.000 atau separuh harga sepatu baru serupa. Menurut dia, lebih baik beli sepatu baru saja. Irina (26), istrinya yang juga karyawan, mengingatkan agar tidak lantas membeli sepatu baru, karena gaji mereka berdua pas-pasan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
”Ada biaya KPR, makan, listrik, internet, bensin kendaraan, dan pulsa, belum biaya susu dan perlengkapan bayi kami yang baru berusia 1 tahun. Semua harus dihitung betul kalau ada biaya tambahan,” ujar Irina, Selasa (3/9). Irina lalu berselancar di toko daring. Pada 8 Agustus, 2 pekan setelah kejadian itu, ada periode diskon 8.8 di toko daring. Besaran diskonnya beragam, mulai 8 % hingga 50 %. Akhirnya, Irina dan Abidzar menemukan sepatu berwarna coklat gelap merek lokal seharga Rp 400.000. Namun, karena ada periode diskon 8.8, mereka memperoleh diskon 50 % sehingga harga sepatu itu menjadi Rp 200.000, sama dengan biaya reparasi sepatu lamanya. ”Kami menyebutnya ini taktik belanja cerdas,” ujar Irina.
Mengejar potongan harga juga dilakukan Ria (32) dengan belanja bulanan di pasar swalayan di Pondok Aren, Tangsel, yang memberi harga lebih murah 10-30 % disbanding swalayan lainnya. Toko tersebut juga kerap memberi promo beli 1 gratis 1 lagi untuk berbagai produk. Tak heran, hampir setiap hari, apalagi akhir pekan, pasar swalayan itu disesaki konsumen. Saking ramainya, Ria dan Beni, suaminya, kerap kali harus mengantre hingga 30 menit hanya untuk mendapat parkir mobil. Mereka juga harus berebut troli belanja dengan konsumen lainnya. ”Tetapi, saat membaca tulisan ’Anda telah berhemat Rp 100.000 atau Rp 200.000 atau Rp 300.000’ di struk, rasanya senang sekali,” ujar karyawan swasta bidang keuangan itu.
Baik Ria maupun Irina mengatakan, setiap bulan mereka harus bersiasat menganggarkan belanja bulanan. Sebab, kenaikan gaji mereka tak secepat kenaikan harga barang/jasa. Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah mengatakan, kecenderungan konsumen mal saat ini memang menahan belanja, khususnya untuk merek global. Biasanya mereka membeli barang saat diskon. Pasangan Irina-Abidzar dan Ria-Beni adalah gambaran kelas menengah Indonesia yang kini tengah goyah. Kendati keduanya bekerja di sektor formal dan sudah memiliki mobil, mereka harus bersiasat karena pendapatan yang stagnan. (Yoga)
Ketika Tanah 0,75 Meter Persegi Terkena Pembebasan Jalan Tol di DIY
Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo di DI Yogyakarta terus bergulir. Dari puluhan bidang tanah, terdapat satu bidang lahan yang dibebaskan dengan luasan hanya 0,75 meter persegi. Hal itu terungkap saat pembayaran ganti rugi lahan untuk proyek Jalan Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo seksi II dilaksanakan di Kantor Desa Sendangadi, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (3/9). Hari itu, sebanyak 52 bidang tanah menerima pembayaran ganti rugi senilai total Rp 88 miliar. Salah satu bidang tanah yang dibayarkan ganti ruginya adalah tanah warisan orangtua Heru (50) di Dusun Ngemplak, Desa Sendangadi.
Tak seperti pemilik lahan lain yang dibayar ratusan juta rupiah hingga miliaran rupiah, keluarga Heru harus puas dengan nilai ganti rugi terendah, yakni Rp 5,4 juta. Luas lahan yang dibebaskan hanya 0,75 meter persegi. ”Waktu tahu yang kena pembebasan seluas itu, saya juga tertawa. Tidak sampai 1 meter persegi,” ujar Heru di rumahnya di Jombor, Sleman. Secuil tanah yang kena pembebasan proyek tol itu masih berstatus milik orangtuanya yang diwariskan kepada delapan anak, termasuk Heru sebagai anak keenam, dengan total luas tanah 640 meter persegi. ”Waktu mengurus pengukuran tanah untuk pembagian warisan, diblokir BPN karena akan dibebaskan untuk pembangunan tol. Jadi, tanah tidak bisa dibagi dulu,” ujarnya.
Saat mengetahui luasan yang kena pembebasan hanya 0,75 meter persegi, pihak keluarga berniat mengikhlaskan tanah tersebut agar pembagian tanah warisan bisa dilanjutkan. Meskipun begitu, hal itu tak dimungkinkan sehingga pihak keluarga, yang diwakili kakak tertua Heru, mengikuti prosedur ganti rugi tersebut. Tanah yang terkena proyek tol itu hanya terpotong sedikit di bagian pojok karena masuk dalam ruang udara tol layang (elevated) yang akan dibangun melintasi wilayah tersebut. Sebagian konstruksi Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo di wilayah DIY memang dibangun melayang. Nasib berbeda dialami Maryadi (74) yang menerima ganti rugi terbesar, yakni Rp 4,1 miliar dengan total lahan 565 meter persegi. ”Nilai ganti rugi memuaskan karena di atas harga pasaran di lokasi tersebut, alhamdulillah,” ujar Maryadi. (Yoga)









