Komoditas Perkebunan, Tangkal Hambatan Ekspor Sawit
JAKARTA — Pemerintah terus berupaya menangkal berbagai hambatan tarif dan nontarif yang kerap menjadi ganjalan ekspor komoditas sawit Indonesia supaya kinerja perdagangan tetap terjaga. Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Asep Asmara menjelaskan bahwa Uni Eropa menjadi salah satu kawasan dengan restriksi sawit yang paling beragam. Selain kriteria keberlanjutan yang tertuang dalam kebijakan Renewable Energy Directive (RED II) yang berimbas ke hambatan pada produk biodiesel Indonesia, terdapat pula kebijakan-kebijakan lain yang berdampak pada komoditas ini.
Salah satunya adalah penghapusan insentif pajak produk biofuel dari sawit yang diberlakukan oleh Prancis pada 2018. Peraturan tersebut menetapkan bahwa minyak sawit tidak tergolong dalam produk biofuel sehingga tidak mendapatkan fasilitas insentif pajak yang telah ditetapkan. Terdapat pula kebijakan batas kontaminan 3-MCPD ester sebesar 2,5 ppm dan glycidol ester (GE) maksimal 1 ppm yang diadopsi negara-negara Uni Eropa. Aturan ini lantas menghambat perdagangan minyak sawit yang memiliki kandungan 3-MCPD di atas 3 ppm.
Selain itu, ada juga kebijakan pelabelan di Uni Eropa yang merugikan produk sawit. Di antaranya label ‘0% palm oil’ pada produk cokelat di Belgia, larangan pasokan barang berbahan minyak sawit oleh sejumlah supermarket di Belanda, dan pembatasan penggunaan minyak sawit untuk produk yang dipasarkan melalui jaringan ritel Carrefour di Prancis.
Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan kebijakan terhadap minyak nabati seharusnya dilakukan secara adil dan tidak hanya menyasar pada minyak sawit. Dalam hal standardisasi, misalnya, dia mencatat bahwa produk minyak sawit menjadi yang paling banyak menjadi sasaran regulasi dibandingkan dengan minyak nabati lain.
“Sejak 1995 ada hampir 700 sertifikasi dan standar yang dikembangkan dan diimplementasikan di minyak sawit, padahal untuk rapeseed, sunflower, dan soybean oil hanya sekitar 30 dalam kurun yang sama,” kata Mahendra.
(Oleh - HR1)
Kinerja 2020, Mark Dynamics Raup Laba Bersih Rp144,19 Miliar
Bisnis, Medan - Produsen cetakan sarung tangan kesehatan berbasis porselen PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. (MARK) membukukan laba bersih sepanjang 2020 sebesar RP 144,19 miliar atau tumbuh 63,85% dibandingkan dengan periode sebelumnya Rp 88,00 miliar. Kenaikan laba bersih dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat akkibat pandemi Covid-19. Capaiann laba bersih itu juga didukung oleh penetrasi pasar baru perseroan dalam menerapkan strategi efisiensi dan meningkatkan kualitas produk cetakan sarung tangan.
Pelanggan MARK adalah pemain utama produsen sarung tangan di pasar internasional, yakni Hartalega, Top Gloves, Kossan, dan Sri Tang. Pandemi Covid-19 membuat MARK berhasil melebarkan sayapnya sampai China dan mendapatkan kepercayaan dari korporasi besar di negara tirai bambu ini, seperti Intco, Zhong Hong Pu Lin, dan Bluesail. Adapun, Malaysia adalah negara tujuan ekspor produk MARK dengan pangsa pasar yang paling besar yaitu 67%, disusul Thailand, China, dan Vietnam. Sepanjang 2020, MARK menjadi tujuan utama produsen sarung tangan dunia. Hal ini mendorong peningkatan average selling price (ASP) sekitar 15%.
(Oleh - IDS)
Vanili Kini Dibutuhkan Dunia, Harganya Capai Rp 2 Juta/ Kg
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, tanaman vanili dapat mendatangkan keuntungan karena harganya bisa mencapai Rp 2 juta per kilogram. Hal ini disampaikan saat mengunjungi sentra petani vanili di Salatiga, Jawa Tengah.
“Kebutuhan vanili dunia besar. Harapannya petani Salatiga bisa serius menanamnya karena sekilo vanili mencapai Rp 2 juta,” jelas Mentan, ditemui di sentra petani vanili Salatiga, Sidomukti, Rabu (31/3).
Ia mengatakan Salatiga cocok dijadikan tempat menanam vanili karena suhu dan kelembaban udaranya. Suhu udara di Salatiga dinilai cukup sejuk untuk tanaman vanili.
Sementara Wali Kota Salatiga Yuliyanto mengatakan saat ini budidaya tanaman vanili di Kota Salatiga mencapai 3,7 hektar. Pemkot Salatiga juga mengupayakan penambahan budidaya tanaman vanili di Salatiga.
“Kami mengupayakan penambahan tanaman vanili di Salatiga. Di antaranya pemberian 3 ribu batang tanaman vanili dan 12 ribu kilogram pupuk organik kepada para petani,” jelas Yuliyanto.
Laris di Masa Covid -19, Bibit Jahe Merah Langka
Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto mengatakan, hebohnya konsumsi jahe di Indonesia menyebabkan stok jahe habis terjual. Bahkan, jahe-jahe yang digunakan sebagai bibit juga dijual untuk konsumsi masyarakat.
Ia mengatakan, hal ini menyebabkan stok benih jahe menipis untuk ditanam kembali di tahun 2020 kemarin. “Jadi agak sulit juga kami mencari untuk perbanyakan benihnya dalam skala yang luas di 2020,” imbuh Prihasto.
Oleh sebab itu, pihaknya akan fokus menggenjot produksi bibit jahe di tahun 2021 ini untuk memulihkan kembali produksi jahe dalam negeri. Pada tahun 2019 Kementan mencatat adanya produksi 174.000 ton. Kemudian, di tahun 2020 sebanyak 183.000 ton.
Indeks Penjualan Riil Masih di Atas 100
Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2020 tercatat sebesar 100.6. lebih tinggi dari IPR bulan Maret sampai dengan November 2020. Bila indeks penjualan riil periode survei lebih tinggi dari 100, hal tersebut menunjukkan, penjualan pada periode tersebut lebih tinggi dibanding tahun dasar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Selatan, Amanlison Sembiring, dalam siaran persnya, menjelaskan, kinerja penjualan eceran pada Januari 2021 secara bulanan tercatat menurun dibandingkan Desember 2021.
Begitu juga dari IPR Januari 2021 yang terkontraksi 3.2 persen (mtm), menurun dari pertumbuhan 12,75 persen (mtm) pada Desember 2020. Optimisme pelaku usaha terhadap penjualan eceran tersebut terindikasi pada indeks ekspektasi penjualan sebesar 159,2, meningkat dari 152,6 pada bulan Desember 2020.
Aset Kripto Kian Digandrungi
JAKARTA - Investasi aset digital cyrptocurrency seperti Bitcoin kian digandrungi. Co-founder Cyrptowatch dan pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menuturkan instrumen investasi ini menjadi populer, khususnya dikalangan milenial, karena memiliki sejumlah kelebihan yang menarik animo para investor.
Meski modal yang di gelontorkan tak harus sabar, kripto menjanjikan imbal hasil (return) yang tinggi, bahkan hingga lebih dari 100 persen, Sebagai Contoh, sejak awal 2020 hingga Februari 2021, harga cyrptocurrency jenis Bitcoin telah melonjak 570 persen ke level US$ 53 ribu per 1 Bitcoin .
Presiden Komisioner HCF International, Sutopo Widodo, mengungkapkan, di pasar Indonesia, saat ini sudah ada lebih dari 3 juta orang yang bertransaksi cyrptocurrency, khususnya Bitcoin. ke depan, jumlah ini diprediksi terus meningkat pesat. Sutopo mengungkapkan, di balik sederet potensi keuntungan, masyarakat perlu betul-betul memahami risiko atau kelemahan berinvestasi di cyrptocurrency. "Harganya sangat fluktuatif sehingga perlu beljara manajemen risiko keuangan yang baik dan benar." ucapnya.
Menurut Sutopo, terdapat sejumlah sentimen yang mempengaruhi kenaikan nilai cryptocurrency. di antaranya semakin banyak perusahaan International global yang menggunakan dan mengivestasikannya ke portofolio mereka, seperti Tesla, MicroStrategy, dan Square. "Sentimen berikutnya, beberapa pemerintahan global mulai menciptakan mata uang digital masing-masing, seperti Cina, lalu semakin banyak juga negara yang menyambut positif dan menerima mata uang kripto, seperti AS, Jepang, dan Jerman." ucapnya.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Sidharta Utama, mengimbuhkan saat ini terdapat 229 aset kripto yang diperdagangkan di pasar fisik oleh 13 perusahaan pedagang aset kripto yang telah terdaftar. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Bappebti Nomor 7 Tahun 2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang dapat diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto. "Perdagangan aset kripto di dalam negeri diharapkan dapat terus meningkat, dengan nilai kapitalisasi yang besar, serta kualitas dan aspek keamanan yang membaik."
(Oleh - HR1)
Siap-Siap Sambut Bursa Aset Digital
JAKARTA - Tren Investasi aset digital kripto atau cyrpto currency semakin berkembang pesat. Kementerian Perdagangan selaku regulator mendorong pembentukan bursa kripto pertama di Indonesia, Digital Future Exchange (DFX). Di bawah naungan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX), serta di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). DFX nantinya memperdagangkan aset kripto, seperti Bitcoin dan Ethereum.
Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang, menuturkan kehadiran bursa khusus tersebut diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan pasar dan industri kripto dalam negeri. "Kami melihat ini sebagai sebagai kesempatan serta potensi yang bisa digarap karena DFX membutuhkan keahlian dan keterampilan yang berbeda dengan industri perdagangan berjangka Komoditas lainnya," Ujarnya kepada Tempo, Kemarin.
Adapun dalam pembentukan DFX, BBJ juga bekerja sama dengan 11 perusahaan pedagang aset kripto yang telah terdaftar di Bappebti. Sedangkan PT Kriling Berjangka Indonesia (KBI) akan ikut memberikan dukungan infrastruktur untuk operasi DFX ke depan. Paulus menuturkan saat ini pihaknya masih menyelesaikan urusan perizinan dan administrasi pembentukan DFX di Bappebti. sebelum ditargetkan beroperasi pada awal semester II 2021. "Kami fokus menyiapkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi."
Presiden Komisioner HFX International, Sutopo Widodo, mengatakan industri mengapresiasi langkah pemerintah yang serius memfasilitas perdagangan kripto agar menjadi legal di Indonesia. Kehadiran Bursa diyakini dapat menciptakan pasar yang lebih likuid dan transparan.
Terlebih, prospek perkembangan aset kripto ke depan dinilai cukup menjanjikan. "Ini dapat menjadi salah satu alternatif trading atau investasi yang high right high return. "Sejak awal tahun lalu hingga Februari 2021, misalnya, harga Bitcoin telah melonjak 570 persen, ke level US$ 53 ribu per 1 Bitcoin. Menurut Sutopo, tren Bitcoin ke depan diproyeksikan terus melaju lebih tinggi lagi dalam jangka panjang.
(Oleh - HR1)
Shopee Gaet 180 Ribu UMKM Lokal untuk Ekspor ke Lima Negara
Perusahaan e-commerce Shopee telah menggaet 180 ribu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk mengekspor jutaan produk lewat kanal Kreasi Kreasi Nusantara dari Lokal untuk Global. Produk UMKM itu bakal diekspor ke lima negara tujuan.
Head of Public Policy and Government Relations Shopee Radityo Triatmojo mengatakan sejak pandemi Covid-19 pada tahun lalu, permintaan ekspor untuk produk UMKM lokal cukup tinggi.
“Hingga saat ini, sudah ada 180 ribu UMKM lokal dengan 1,5 juga produk yang dipasarkan di lima negara,” kata Radityo, Kamis (1/4).
Tahun lalu juga, perusahaan menambah dua negara tujuan ekspor, yakni Thailand dan Vietnam untuk memperluas cakupan pasar UMKM ekspor. Hingga saat ini, total ada lima pasar ekspor produk UMKM lokal melalui Shopee, selain Thailand dan Vietnam, ada juga Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Shopee juga akan membekali UMKM binaan dengan materi seperti kiat-kiat sukses ekspor secara spesifik melalui Sekolah Ekspor.
Tekanan terhadap Pasar Obligasi Hanya Sementara
Pasar surat utang negara yang diterbitkan pemerintah Indonesia diproyeksikan menguat seiring dengan kembalinya investor asing dari pasar obligasi Pemerintah Amerika Serikat.
JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah sentimen negatif masih membayangi pasar obligasi atau surat utang Pemerintah Indonesia. Namun, tren rendahnya hasil lelang surat utang negara diproyeksi tidak akan berlangsung lama. Ke depan, pasar obligasi dalam negeri diprediksi kembali perkasa dipengaruhi surat utang Pemerintah Amerika Serikat yang akan segera memasuki periode penurunan imbal hasil.
Pemerintah akan melelang surat utang negara (SUN) dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021. Untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan tersebut, pemerintah kembali menggelar lelang SUN pada Selasa (30/3/2021).
Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Deni Ridwan mengatakan, pada lelang Selasa ini, jumlah penawaran yang disampaikan peserta lelang sebesar Rp 33,95 triliun. Dari hasil tersebut, pemerintah memenangi penawaran sebesar Rp 4,75 triliun.
Jumlah tersebut turun dari lelang pada 16 Maret 2021 yang kala itu jumlah penawaran yang masuk Rp 40,08 triliun. Dari hasil tersebut, pemerintah memenangi sebanyak Rp 18,9 triliun.
”Jumlah penawaran di setiap lelang cenderung turun karena dampak dari kondisi pasar surat berharga negara (SBN) yang saat ini sedang dipengaruhi sentimen kenaikan imbal hasil US Treasury,” ujar Deni.
Berdasarkan data dari laman World Government Bonds pada 30 Maret 2021, tingkat imbal hasil SUN Indonesia tenor 10 tahun berada di kisaran 6,827 persen. Dalam sebulan terakhir, pergerakan imbal hasil SUN Indonesia terpantau melemah 15 basis poin. Adapun imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun diperdagangkan pada level 1,771 persen, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan imbal hasil US Treasury belakangan ini, lanjut Ramdhan, memicu para investor asing memindahkan dana mereka dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju AS. Hal ini terjadi karena tingkat likuiditas di pasar AS jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.
(Oleh - HR1)Indosat Ooredoo Jual Menara Rp 10,86 Triliun
PT Indosat Tbk atau Indosat Ooredoo sepakat menjual lebih dari 4.200 menara senilai 750 juta dollar AS kepada PT Epid Menara Asset Co, anak usaha Edge Point.
Dengan nilai tukar berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, Selasa (30/3/2021), nilai itu setara Rp 10,86 triliun. Indosat Ooredoo akan menyewa kembali menara-menara tersebut selama 10 tahun.









