Harga Kopi Green Bean Masih Stabil
Bisnis kopi kini sedang bagus-bagusnya. Harganya stabil di posisi Rp 50 ribu per kilogram. Menurut Founder Biji Kopi Borneo, Dwi Putra Kurniawan, harga itu adalah harga kopi dalam bentuk atau jenis Green Bean atau masih beras kopi.
"Jika sudah diolah, pastinya akan lebih mahal dari itu, " kata pria yang juga ketua Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Kalsel itu. Dijelaskan dia, saat ini, dirinya dan tim menggerakkan sektor ekonomi di bidang bisnis kopi dan sektor pertanian kopi.
Kopi yang kami kembangkan di Kalsel ada empat jenis yaitu, pertama. Kopi Liberika yang ada di Tanahlaut, Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Hulu Sungai Tengah dan rencana juga dikembangkan di Barito Kuala.
Dari semua jenis kopi, kemudian digarap dengan tim petani lokal dengan pola kerja sama. Kedepan kami akan mencoba mencatatkan rekor MURI terhadap pengembangan kopi empat jenis sekaligus di sebuah Kota Banjarbaru atau Kebun Kopi Edukasi dan Kabupaten HST.
Kepala Bappeda Kalsel, Fajar Desira mendukung petani kopi di Kalsel ini dikembangkan. Sebab, menurut Fajar kopi ini punya potensi dikembangkan di Kalsel. Apalagi di sektor kopi liberika yang bisa tumbuh di rawa.
Rotan Kalteng Sampai ke Negeri Cina
Bisnis rotan di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menggeliat seiring kenaikkan harga jualnya. Pembeli datang langsung ke petani, bahkan banyak yang dari luar negeri.
Beberapa petani rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur, seperti di Desa Terantang dan desa lainnya di bantaran Sungai Mentaya, mengakui, permintaan rotan dari provinsi tetangga seperti Kalbar dan Kalsel. Bahkan, ada pula dari Korea dan Cina yang langsung membeli pada petani.
Abdul Kadir, satu petani rotan di Kotim, menuturkan, harga rotan memang mulai membaik sepenuhnya. Hal itu membuat kebanyakan pengepul dari Kalsel dan Kalsel mendatangi petani untuk transaksi.
Dia mengatakan, para petani rotan di Kotawaringin Timur dan Katingan, mengaku senang atas naiknya harga jual tersebut. Karena sejak adanya larangan menjual rotan mentah ke luar negeri, rotan mereka malah tak terjual karena harga hancur di pasaran.
Investasi Asing US$ 16 Miliar Siap Masuk, Pembangunan Infrastruktur Logistik Wajib Didukung Value Creation
Infrastruktur sangat
menentukan dan besar pengaruhnya
dalam dua hal penting, yaitu pengembangan ekonomi dan logistik berdaya saing. Namun, infrastruktur
tidak serta merta dapat langsung
memberikan kontribusi terhadap
kedua hal penting tersebut. Sebab, diperlukan pengembangan
pendukung lainnya atau value creation agar terwujud peningkatan
perekonomian dengan kehadiran
infrastruktur tersebut.
Widyaiswara Ahli Utama Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR), Danis H
Sumadilaga mengatakan, di samping
pembangunan infrastruktur yang
dilakukan oleh pemerintah pusat,
ada pengembangan lain yang harus
dilakukan oleh daerah sekitarnya
untuk mendukung upaya pengembangan logistik.
“Artinya, jangan sampai setelah
dibangunnya infrastruktur tapi
terhadap land uses aktivitasnya atau
value creation-nya tidak terbangun
sehingga tidak menimbulkan value
pada daerah sekitarnya,” ungkap
Danis H Sumadilaga dalam acara
Investor Daily Summit 2021 bertajuk
“Mewujudkan Infrastruktur Logistik
yang Berdaya Saing” yang diselenggarakan harian Investor Daily secara
virtual, Selasa (13/7).
Pada kesempatan yang sama,
Chief Risk Officer INA Marita
Alisjahbana menjelaskan, sejumlah investor asing sudah
berbicara dengan INA dan sudah menunjukkan minatnya
untuk berinvestasi melalui INA.
Beberapa di antaranya bersifat
government to government (G to
G) dengan nilai mencapai US$
16 miliar yang terdiri atas Uni
Emirat Arab (UAE) US$ 10 miliar, Japan Bank for International
Cooperation (JBIC) US$ 4 miliar,
dan US International Development Finance Corporation (US
DFC) US$ 2 miliar.
“Investor asing sampai sekarang sudah banyak diajak
bicara dan sudah bekerja sama
dengan INA atau sudah menunjukkan minatnya itu adalah yang
dari hubungan G to G yang
sudah sering dengar dari UEA
US$ 10 miliar, JBIC sudah mengatakan US$ 4 miliar, dari US
DFC US$ 2 miliar,” kata Marita.
(Oleh - HR1)
Hipmi: Potensi Shortfall Pajak 2021 Capai 83 Triliun
Ketua Bidang Keuangan
dan Perbankan BPP Hipmi Ajib Hamdani
mengungkapkan, lonjakan kasus Covid-19
dan imbas pelaksanaan PPKM Darurat
menyebabkan target penerimaan pajak
tahun ini diproyeksikan tidak akan mencapai
target atau shortfall Rp 83 triliun. Artinya,
penerimaan pajak akhir tahun hanya akan
mencapai Rp 1.146,6 triliun dari pagu Rp
1.229,6 triliun.
Ia menjelaskan hitungan
shortfall penerimaan pajak berdasarkan perkembangan terkini
kondisi ekonomi yang berimbas pada kontraksi ekonomi,
karena target pertumbuhan
ekonomi dinilainya mengalami
penyesuaian.
“Kalau target BI, pertumbuhan ekonomi sebesar 3,8%
secara agregat di akhir 2021,
dan inflasi sekitar 3%, maka
perkiraan penerimaan pajak
sebesar Rp 1.146 triliun pada
akhir Desember 2021. Proyeksinya dari penerimaan 2020 sebesar Rp 1.070 triliun, ditambah
de ngan rasio pertumbuhan
ekonomi dan inflasi. Dengan
target penerimaan pajak akhir
tahun sebesar Rp 1.229,6 triliun,
maka potensi shortfall penerimaan pajak bisa mencapai
Rp 83 triliun,”tuturnya saat
dihubungi, Selasa (13/7).
Lebih lanjut, ia mengatakan
proyeksi shortfall pajak tersebut
dapat berubah, apabila perkembangan kondisi ekonomi kembali membaik dengan kasus
harian Covid-19 yang menurun
dan pemerintah tidak memperpanjang PPKM Darurat.
Sementara itu, dari sisi regulasi, pemerintah diharapkan
terus mendorong RUU KUP
dengan fokus ekstensifikasi
dengan membangun single
identification number (SIN) dan
memperluas kewenangan otoritas dengan membuat Badan
Penerimaan Negara masuk
dalam RUU KUP.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics
(Core) Indonesia Yusuf Rendy
mengatakan, perkembangan
ekonomi hingga Mei 2021 sebenarnya telah menunjukkan
akselerasi pemulihan, terutama
tercermin dari sektor perpajakan. Pasalnya, pada periode Mei
penerimaan pajak tercatat Rp
558,9 triliun atau tumbuh positif
6,2% secara year on year (yoy),
naik dibandingkan pertumbuhan April yang tercatat masih
kontraksi 0,5% yoy.
(Oleh - HR1)
Polisi Inggris Mencatatkan Rekor Penyitaan Kripto
London - Kepolisian Inggris mengumumkan telah menyita rekor 180 juta pound (setara US$ 250 juta atau 210 juta euro) dalam bentuk cryptocurrency yang diduga telah digunakan dalam perusahaan kriminal. Jumlah sitaan itu bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap praktik pencucian uang dan penggunaan intelijen internasional yang menerima transfer aset kriminal. Kepolisian juga percaya jaringan itu terkait dengan rekor tangkapan kripto kriminal sebelumnya yang dilakukan bulan lalu.
Pada penyitaan-penyitaan aset digital sebelumnya, Polisi Metropolitan tidak mengatakan jenis kripto apa yang terlibat. Seiring berkembangnya teknologi dan platform online, beberapa kriminal beralih ke metode pencucian yang lebih canggih untuk keuntungan mereka. Cryptocurrency sulit dilacak, pada gilirannya membuatnya sulit untuk diatur. Bitcoin, unit virtual paling populer di dunia, dibuat pada 2008 sebagai alternatif dari mata uang tradisional. Mata uang kripto tersebut dicetak dengan memecahkan teka-teki menggunakan komputer canggih yang menghabiskan banyak sekali listrik.
(Oleh - IDS)
Industri Mamin Jadi Motor Ekspor dan Investasi
Industri makanan dan minuman (mamin)
kini menjadi motor pertumbuhan ekspor dan investasi
nasional. Tahun lalu, ekspor dan investasi mamin
masih bisa tumbuh, kendati pandemi Covid-19
menghantam dunia. Tren ini berlanjut pada 2021.
Ke depan, prospek mamin
berbasis lokal sangat
menjanjikan dan bisa bersaing dengan produk asing,
bahkan mampu bersaing di
kancah global. Potensi bahan baku
lokal yang sangat besar di dalam
negeri bisa menjadi keuntungan
yang dapat menjadi amunisi untuk
industri mamin bersaing di kancah
internasional. Sejalan dengan itu,
dibutuhkan sinergi dari seluruh para
pemangku kepentingan untuk mewujudkan produk mamin berbasis lokal
dengan keunggulan tersendiri, yang
didorong keberlanjutan rantai pasok
dari hulu ke hilir.
Demikian rangkuman dalam
Investor Daily Summit 2021 sesi tiga
dengan tema Memperkuat Industri
Makanan Minuman Berbasis Lokal,
Selasa (13/7). Dalam sesi tersebut,
hadir sebagai keynote speaker Wakil
Menteri Perdagangan (Wamendag)
Jerry Sambuaga, sedangkan panelis
terdiri atas Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman
Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, Presiden Direktur PT Nestle
Indonesia Ganesan Ampalavanar, VP
General Secretary Danone Indonesia
Vera Galuh Sugijanto, dan Direktur
PT Garuda Food Putra Putri Jaya
Tbk (Garuda Food) Paulus Tedjosutikno.
Perjanjian dagang berikutnya
yang berpengaruh signifikan adalah
Indonesia-European Free Trade
Association (EFTA) atau IE-CEPA.
Adapun anggota EFTA adalah
Swiss, Liechtenstein, Norwegia,
dan Islandia. Perjanjian dagang ini
memberikan sebuah kesadaran
bahwa produk-produk dari Indonesia, termasuk minyak sawit mentah
(CPO) bisa masuk kawasan itu.
Adhi S. Lukman mengatakan, industri makanan masih tumbuh 1,58%
tahun lalu saat ekonomi kontraksi
2,07%. Tren ini berlanjut pada kuartal I-2021. Pada kuartal itu, industri
mamin tumbuh 2,45%, melampaui
laju produk domestik bruto (PDB)
0,74%.
“Industri mamin punya prospek
bagus sekali, kita punya potensi
besar untuk ketersediaan bahan
baku di dalam negeri. Perlu kolaborasi, inovasi, sinkronisasi kebijakan
dari hulu ke hilir sehingga potensi
yang sangat besar bisa kita raih, dan
menjadi keunggulan indonesia, serta
berkontribusi ke pembangunan indonesia ke depannya,” kata Adhi
Adhi melanjutkan, penjualan
produk mamin Indonesia di luar negeri juga terus bertumbuh tiap tahunnya. “Ekspor kita terus meningkat.
Tahun lalu, ekspor naik 14% menjadi
US$ 31 miliar dan berkontribusi 24%
terhadap produk manufaktur. Pertumbuhan ekspor kita khusus untuk
semiprocess dan process food naik,
meski impornya juga naik,” ujar dia
(Oleh - HR1)
Baru 95 Hari Kerja, INA Sudah Berhasil Gaet 3 Investor Asing
Jakarta - Baru bekerja 95 hari, Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) sudah berhasil mengajak tiga investor asing untuk berkomitmen menanamkan modal senilai US$ 3,75 miliar di aset jalan tol. Dari total komitmen US$ 3,75 miliar itu, senilai US$ 750 juta di antaranya berasal dari INA dan masing-masing dari tiga investor asing itu US$ 1 miliar. Setelah MoU, tahap berikutnya adalah due diligence agar komitmen ini bisa terealisasi ke dalam transaksi.
Selain itu, INA telah meneken kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk menjajaki investasi di sektor energi. Kerja sama juga dilakukan dengan Kementrian BUMN serta BUMN, antaralain Telkom, Angkasa Pura, Pelindo, Pertamina, dan Kimia Farma. Saat ini, INA sedang menindaklanjuti 8-10 aset yang berpotensi untuk diadakan kerja sama dengan lembaga ini. Semua proyek tersebar di berbagai sektor, mulai jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga healthcare services.
(Oleh - IDS)
Subsektor Kurir dan Pos Pulih lebih Cepat
Jakarta - Subsektor kurir dan pos bakal pulih lebih cepat dari hantaman pandemi Covid-19, dibandingkan subsektor logistik lainnya. Sebab, kurir dan pos terdongkrak booming bisnis perdagangan elektronik (e-commerce). Masih ada peluang di sektor logistik di tengah pandemi, terutama untuk pergudangan, pos, dan kurir. Hal ini ditopang juga oleh pembangunan infrastruktur yang memicu efisiensi sektor logistik.
Perusahaan yang terdampak berat pandemi Covid-19 kini menerapkan tiga strategi untuk bertahan. Pertama, kolaborasi dengan perusahaan lain untuk menjangkau konsumen ritel. Kedua, adaptasi model bisnis. Ketiga, memacu efiesiensi dengan menerapkan teknologi informasi (TI). Perusahaan logistik yang terimbas positif pandemi juga akan menghadapi tantangan, seperti tuntutan mengirim barang tepat waktu dan kualitas tetap baik.
Sektor logistik juga berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional. Sektor ini mendorong pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan membangun kolaborasi ekosistem logistik. Kemudian, memanfaatkan teknologi untuk melakukan inovasi layanan logistik, serta meningkatkan efisiensi supply chain dalam mendukung berbagai industri lainnya dalam konsep track, trace, dan timeliness.
(Oleh - IDS)
2030, Pertamina Targetkan Portofolio Energi Hijau 17%
Guna mewujudkan transisi
energi, Pertamina menargetkan portofolio
energi hijau sebesar 17% dari keseluruhan
bisnis energinya pada tahun 2030.
Menurut CEO Pertamina
NRE Dannif Danusaputro di
Jakarta, Selasa (13/7), pada tahun 2019 portofolio energi hijau
Pertamina mencapai 9,2%. Seiring dengan target pemerintah
untuk mencapai target bauran
energi baru terbarukan sebesar
23% pada tahun 2025, Pertamina
sebagai BUMN energi mendukung upaya pemerintah untuk
mencapai target tersebut, salah
satunya yaitu dengan berupaya
meningkatkan portfolio energi
hijaunya hingga 17% pada tahun
2030.
Termasuk dalam portofolio
tersebut antara lain geothermal,
hydrogen, electric vehicle (EV)
battery dan energy storage system
(ESS), gasifikasi, bioenergy,
green refinery, circular carbon
economy, serta EBT.
Sementara itu Pertamina NRE
sendiri memiliki aspirasi untuk
menjadi Indonesia Green Energy
Champion di tahun 2026 dengan
kapasitas terpasang sebesar 10
GW, yang dikontribusikan dari
gas to power sebesar 6 GW,
energi terbarukan 3 GW, dan
pengembangan energi baru sebesar 1 GW.
Untuk mencapai target tersebut, Pertamina NRE menyasar
baik pada captive market, yaitu
wilayah operasi Pertamina, maupun di luar itu, termasuk ekspansi ke pasar luar negeri. Selain
itu upaya yang juga dilakukan
adalah pengembangan secara
anorganik.
Saat ini proyek EBT yang
telah dioperasikan Pertamina
NRE antara lain PLTS Badak
dengan kapasitas sebesar 4 MW,
PLTBg Sei Mangkei berkapasitas 2,4 MW, O&M PLTBg
Kwala Sawit dan Pagar Merbau
berkapasitas 2x1 MW, dan PLTS
di sejumlah SPBU Pertamina
dengan total kapasitas 260 KW.
Sedangkan proyek yang sedang
berjalan antara lain PLTGU
Jawa-1 dengan kapasitas 1,8
GW, PLTS Sei Mangkei sebesar 2 MW, PLTS RU Dumai
berkapasitas 2 MW, dan PLTS
RU Cilacap dengan kapasitas
sebesar 2 MW.
(Oleh - HR1)
Turunkan Harga Tes Covid-19
Indonesia masih kedodoran menghadapi wabah Covid-19. Jumlah testing dan tracing yang belum maksimal dinilai menjadi salah satu pemicu lonjakan kasus Covid-19 hari-hari ini. Apalagi, sejumlah pihak menilai, tarif tes Covid-19 secara mandiri di Indonesia masih memberatkan sehingga angka testing masih jalan di tempat. Sebagai catatan, Selasa (13/7), kasus baru infeksi Covid-19 di Indonesia mencapai 47.899 dengan jumlah kematian 865 orang. Ini adalah angka kasus baru dan kematian harian tertinggi di dunia. Bahkan, kasus harian Covid-19 di Indonesia sudah melampaui India.
Berdasarkan data Covid19.go.id, total spesimen diperiksa hingga kemarin mencapai 22,13 juta. Perinciannya, jumlah tes PCR dan tes cepat molekuler (TCM) sebanyak 1796 juta dan tes antigen sebanyak 4,17 juta. Jumlah tes Covid-19 bahkan lebih rendah dibandingkan jumlah total vaksinasi dosis pertama yang mencapai 36,91 juta. Salah satu penyebabnya rendahnya jumlah testing di Indonesia adalah masih tingginya biaya tes Covid-19. Saat ini, harga tes antigen di Indonesia berkisar antara Rp 100.000-Rp 250.000. Memang, harga tersebut dalam rentang harga tes antigen yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, yakni maksimal Rp 250.000 di Jawa dan Rp 275.000 di Luar Jawa. Namun, biaya tersebut relatif mahal jika dibandingkan biaya tes di negara lain, kecuali di sejumlah negara maju. UNICEF mencatat, rata-rata biaya tes antigen di dunia berkisar US$ 4-US$ 4,20 atau Rp 58.000 hingga Rp 60.900 (kurs Rp 14.500 per dollar AS).
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman berharap, pemerintah bisa menekan harga alat tes Covid-19 menjadi lebih terjangkau. Tingginya biaya tes ini menyebabkan testing, tracing dan treatment (3T) di Indonesia belum berjalan maksimal. Menurut dia, testing tidak harus melalui tes swab PCR. Tes antigen pun cukup ideal sesuai standar dan rekomendasi WHO. Apalagi teknologi PCR dan antigen semakin berkembang, sehingga hasil tes menjadi lebih akurat dengan harga yang lebih murah.








