Optimalisasi Dana Jangka Panjang untuk Pembangunan
Lembaga pengelola aset investasi jangka panjang, seperti dana pensiun (dapen) dan lembaga jaminan sosial, memiliki potensi besar untuk mendongkrak performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu dekat. Meskipun saat ini terdapat penurunan alokasi investasi pada saham, sejumlah lembaga ini memiliki likuiditas yang kuat untuk menambah investasi di pasar saham, terutama pada saham dengan valuasi menarik.
Felix Darmawan, seorang analis dari Panin Sekuritas, mengungkapkan bahwa dana pensiun yang lebih agresif dapat melihat saham dengan valuasi menarik sebagai peluang investasi. Martin Aditya dari PT Capital Asset Management juga meyakini bahwa dana pensiun dapat memainkan peran penting dalam memulihkan pasar saham, khususnya pada emiten berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan.
Syarif Yunus, Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK, menekankan bahwa langkah ini dapat memberikan dampak positif bagi IHSG, namun perlu dukungan dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan investor. Sementara itu, Bam-bang Sri Muljadi dari Asosiasi Dana Pensiun Indonesia mengungkapkan bahwa dana pensiun cenderung menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.
Di sisi lain, Togar Pasaribu dari AAJI melihat saham sebagai instrumen yang menjanjikan untuk profitabilitas dan penguatan pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Iwan Pasila, juga mendorong asuransi untuk menyesuaikan kebijakan investasi dengan karakteristik dan durasi kewajiban masing-masing. Secara keseluruhan, investasi dari dana pensiun dan lembaga pengelola jangka panjang diyakini dapat memberikan angin segar bagi pasar saham Indonesia.
RI Bersiap Jadi Pemain Utama Industri Nikel Dunia
Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen nikel global, dengan cadangan nikel yang mencapai 72 juta ton atau 52% dari total cadangan nikel dunia. Nikel memiliki peran penting dalam industri baja tahan karat (stainless steel) dan pembuatan baterai, terutama untuk mobil listrik dan perangkat elektronik. Permintaan global terhadap nikel diperkirakan akan terus meningkat, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri baterai yang mencapai sekitar 600.000 ton per tahun.
Untuk mengoptimalkan potensi cadangan nikel tersebut, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan pihak asing sangat diperlukan. Eramet, salah satu entitas bisnis global, telah memulai kolaborasi dengan Indonesia sejak 2006, dengan tetap mematuhi standar global dalam hal tanggung jawab lingkungan, sosial, dan tata kelola. Praktik bisnis yang mengarah pada "smart mining" dan keberlanjutan (sustainability) serta pengelolaan emisi karbon menjadi bagian penting dalam operasional mereka.
Selain itu, potensi cadangan nikel yang belum dieksplorasi di daerah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua perlu dikelola dengan hati-hati dan melibatkan studi yang kredibel dari berbagai lembaga, termasuk institusi pendidikan dan penelitian. Dengan kesadaran akan tanggung jawab lingkungan dan sosial serta kolaborasi yang tepat, Indonesia dapat menjadi pemimpin pasar global dalam industri nikel. Pemerintah, dalam hal ini, memiliki peran kunci dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri nikel secara berkelanjutan.
Moody’s: Ekonomi Indonesia Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian
Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investor Service memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan rata-rata 5,0% pada tahun 2025 dan 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi yang kuat, dan stabilitas ekspor komoditas. Namun, Moody’s juga mengingatkan pemerintah Indonesia untuk mewaspadai dampak dari kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 dengan outlook stabil, mencatatkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang kuat, didukung oleh sumber daya alam melimpah dan demografi yang baik. Kebijakan fiskal dan moneter yang dikelola dengan baik juga memperkuat profil kredit Indonesia. Meski demikian, tantangan utama Indonesia adalah belum optimalnya basis pendapatan negara.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan apresiasi atas penilaian positif Moody’s dan menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat stabilitas ekonomi dan fiskal serta memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya memperluas sektor manufaktur dan komoditas, penguatan pendapatan pemerintah, serta pendalaman pasar keuangan sebagai upaya meningkatkan peringkat kredit Indonesia ke depan.
Puluhan Ribu Warganet Tolak UU TNI
Penolakan terhadap revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) tidak hanya dilakukan melalui aksi demonstrasi, tetapi juga secara daring melalui petisi yang diinisiasi oleh Imparsial Indonesia. Hingga Jumat pagi (21/3), petisi tersebut telah ditandatangani oleh 41.287 orang. Menurut Imparsial, revisi UU TNI dinilai tidak mendesak dan justru mengancam profesionalisme militer, karena memungkinkan TNI menjalankan fungsi-fungsi non-pertahanan, seperti menduduki jabatan sipil. Sebagai tokoh utama dalam gerakan ini, Imparsial menegaskan bahwa yang lebih mendesak adalah reformasi peradilan militer melalui revisi UU No. 31 Tahun 1997, bukan revisi terhadap UU TNI.
Sepinya Transaksi Emas Perhiasan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Peningkatan Likuiditas Bersifat Sementara
Langkah Baru Setelah Melepas Bisnis Supermarket
Utang Negara-Negara Dunia Meningkat Tajam
Ekonomi Indonesia Tetap Resilient
Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service menegaskan, perekonomian Indonesia tetap resilien, ditopang pertumbuhan stabil dan solid serta kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal yang terjaga. Indonesia juga unggul dari sumber daya alam dan bonus demografis. Moody's memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5% tahun 2025 dan 2026, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang relatif kuat, serta volume komoditas yang stabil dan akan mendukung pertumbuhan ekspor. Namun, Moodys menilai, pemerintah perlu mewaspadai perlambatan akibat dinamika global seperti perang tarif. Moody's menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung ketahanan ekonomi yang berkelanjutan. Faktor struktural seperti sumber daya alam yang melimpah dan demografi yang kuat menjadi pilar utama yang mendukung stabilitas ekonomi Indonesia.
Lembaga ini memprediksi beban utang Indonesia tetap stabil dan pada tingkat yang relatif rendah, jika dibandingkan dengan ukuran ekonominya dan negara peers. Meski ada tantangan dalam kondisi fiskal yang lebih luas, terutama masih belum optimalnya basis pendapatan negara, situasi ini diyakini Moody's masih terkelola dengan baik. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter yang dikelola dengan baik dalam menjaga disiplin fiskal, stabilitas makro ekonomi serta inflasi, dianggap memperkuat profil kredit Indonesia. Komitmen otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga kredibilitas kebijakan juga mendukung stabilitas makro ekonomi tetap terjaga. Faktor-faktor tersebut melandasi profil sovereign credit rating (SCR) Indonesia berada pada level Baa2 dengan outlook stabil. (Yetede)
Barito Renewables Energy Mencetak Laba 2 Triliun
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menorehkan kinerja impresif sepanjang tahun buku 2024 dengan meraup pendapatan konsolidasi yang solid dan laba bersih yang bertumbuh. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasi, Jumat (21/3/2025), emiten energi terbarukan Prajogo Pangestu itu berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 597 juta, naik tipis dari tahun sebelumnya US$ 594 juta. Energi angin berkontribusi 4% terhadap total pendapatan konsolidasi. Kenaikan pendapatan tersebut didorong kontribusi kuat segmen energi angin yang tetap beroperasi optimal dan memberi pendapatan stabil. Padahal, pada kuartal III-2024, emiten berkode saham BREN tersebut sempat terdampak kegiatan pemeliharaan tak terencana di segmen panas bumi terutama pada unit 2 Drajat yang menyebabkan produksi menurun sementara.
BREN juga berhasil mencatatkan EBITDA tumbuh 86,3% menjadi US$515 juta berkat implementasi inisiatif efisiensi biaya yang disiplin, sehingga mendorong ekspansi marjin EBITDA menjadi 86.3%. EBITDA yang lebih tinggi ini mendorong laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 122 juta atau Rp 2 triliun, naik dari sebelumnya US$ 107 juta. CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan tak memungkiri bahwa sepanjang tahun buku 2024, BREN menghadapi tantangan dari sisi operasional. Namun, perseroan tetap berkomitmen pada efisiensi dan keberlanjutan. "Meski, terdapat hambatan sementara dalam produksi panas bumi, portofoio energi terbarukan kami yang ekstensif berkontribusi pada pendapatan yang stabil dan peningkatan profitabilitas," jelas Hendra, Jumat (21/3/2025). (Yetede)









