CUAN DARI BISNIS KULINER DI KOTA MEDAN
Budaya kuliner masyarakat urban di Kota Medan menjadi
peluang bisnis bagi orang-orang yang jeli. Usaha makanan dan minuman menjamur
di mana-mana di kota ini, mulai dari mi balap, lontong, kedai kopi, hingga
warung teh susu telur. Hari masih gelap, Irsan Lubis (40) sibuk memasak mi balap
di Jalan Willem Iskandar, Medan, Sumu, Rabu (8/11) pukul 05.00. Ia buka lebih awal
menyasar pedagang di Pasar Raya MMTC. ”Harus pandai-pandai cari celah agar
usaha bisa jalan. Persaingan usaha kuliner di Medan itu sangat ketat,” kata
Irsan. Sudah lebih dari tiga tahun Irsan jualan mi balap. Dia berjualan di
Jalan Willem Iskandar, atau Jalan Pancing, karena di sana banyak pekerja,
mahasiswa, dan pedagang pasar. Tak kurang dari 15 pedagang mi balap berjejer di
3 kilometer Jalan Willem Iskandar, rasanya juga enak-enak. Tapi, Irsan optimistis
bisa bersaing. Dia berfokus untuk menang di rasa. Setelah mencoba beberapa
resep dan melakukan perbaikan-perbaikan, dia menemukan resep memasak yang lebih
pas dilidah dan di kantong masyarakat urban Medan. Tiga tahun membuka usaha, dagangan
Irsan kian diminati. Dalam sehari, tidak kurang dari enam baskom besar mi ludes
dia jual. Menu paling laris adalah mi balap standar. Beberapa memilih tambahan
telur dadar dengan tambahan harga Rp 3.000.
Target pasar dan kawasan memang sangat menentukan menu dan
harga mi balap. Mi balap seafood justru jadi favorit di warung Mi Balap Mail di
Jalan Gunung Krakatau. Maklum, targetnya masyarakat kelas menengah. Warung itu
berada di kawasan pusat bisnis. ”Salah satu menu favorit di warung kami ini
adalah mi balap seafood, tetapi soal harga kami sebenarnya tetap bersaing,”
kata Edu Gunanda (26), juru masak Mi Balap Mail. Mi Balap Mail adalah yang
paling laris di Medan. Dua juru masaknya tak henti-henti memasak mi balap dari
pagi sampai siang. Satu kuali besar mi bisa ludes dalam sekejap dan langsung lanjut
memasak mi lagi. Sekali memasak bisa sampai 16 porsi. ”Salah satu keunggulan
kami adalah telurnya yang banyak. Untuk sekali masak 16 porsi, kami buat hampir
40 butir telur. Jadi, satu porsi itu lebih dari dua butir telur orak-arik,”
kata Edu. Satu porsi mi balap standar dijual Rp 10.000. Sementara mi balap sea food
dijual Rp 22.000 per porsi. Namun, udang dan potongan cuminya terbilang banyak
untuk ukuran harga itu. Antropolog Universitas Negeri Medan, Erond Litno Damanik,
mengatakan, usaha kuliner memang tak pernah mati di tengah masyarakat Kota
Medan. Kuliner berkembang sesuai budaya dan kondisi sosiologis masyarakat kota.
(Yoga)
Penghasilan dan Belanja Kelas Menengah Melorot
Instrumen Baru BI untuk Menjaga Rupiah
Cermat Memilih Saham Pilihan di Tahun Pemilu
Imbal Hasil Mananjak, Beban Utang Terungkit
Harga Minyak Naik, Kinerja Mendaki
Menadah Untung dari Anak Usaha
Penyaluran KUR Bank Masih Jauh dari Target
SINYAL WASPADA DUNIA USAHA
Dunia usaha masih menghadapi tantangan pada sisa tahun ini, menyusul sejumlah data indikator ekonomi sektor riil yang cenderung melambat. Bank Indonesia (BI) dalam Survei Penjualan Eceran mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) berada pada level yang penuh kewaspadaan lantaran meningkatnya ekspektasi soal kenaikan inflasi. Pada saat yang sama, Indeks Penghasilan Saat Ini serta Indeks Ekspektasi Penghasilan terpantau masih lemah. Indeks Penghasilan Saat Ini pada Oktober 2023 tercatat 116,4 yang merupakan level terendah sepanjang 2023. Adapun, Indeks Ekspektasi Penghasilan terbilang stagnan, yakni berkutat di kisaran 135. Pada kuartal III/2023, pertumbuhan IPR tercatat hanya 1,4% (year-on-year/YoY), terendah sejak kuartal III/2021, sementara pada September 2023 secara bulanan pertumbuhan IPR tercatat -1,5%. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan, dari sisi harga tekanan inflasi pada Desember tahun ini dan Maret tahun depan diperkirakan meningkat. Hal ini tecermin pada Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Desember 2023 dan Maret 2024 yang masing-masing 131,2 dan 133,0, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH bulan sebelumnya masing-masing sebesar 119,9 dan 129,7. Di sisi lain, dunia bisnis di Tanah Air juga dihadapkan pada beberapa kendala yang menghambat ekspansi, mulai dari suku bunga acuan yang tinggi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang membebani impor bahan baku dan bahan penolong. Dalam kaitan ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah akan mengoptimalisasi seluruh paket insentif yang telah diluncurkan sehingga memberikan gairah bagi dunia usaha.
Salah satunya adalah pemanfaatan kredit usaha rakyat (KUR) yang memang belum maksimal, yakni hanya mencapai 67,3% dari target Rp297 triliun per Oktober 2023. Jika dicermati, insentif tersebut hanya menyasar sisi permintaan atau konsumsi dan berfokus pada masyarakat kelas bawah serta kelompok rentan. Sementara itu, dua kelompok masyarakat terkesan terabaikan karena luput dari radar insentif, yakni masyarakat kelas menengah yang mendominasi konsumsi nasional serta dunia usaha. Oleh karena itu, pelaku usaha pun meminta kepada pemerintah untuk me-racik skema stimulus atau insentif yang meringankan beban operasional. Sekjen Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) Anggawira mengatakan insentif usaha untuk menekan biaya produksi yang terimbas pelemahan rupiah. Kalangan ekonom pun selaras dengan pengusaha, yang mengusulkan perlunya insentif khusus bagi pebisnis serta kelompok masyarakat kelas menengah. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan beban yang dipikul pebisnis amat berat di tengah ketatnya kebijakan fiskal dan moneter serta ketidakpastian ekonomi global. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan kebijakan pro-stabilitas seperti pada sikap moneter BI berupa kenaikan suku bunga acuan penting dilakukan.
Beban Berganda Dunia Usaha
Dunia usaha tengah menghadapi tantangan berat pada sisa tahun ini. Aktivitas pebisnis mengalami perlambatan menyusul tren konsumsi dan penjualan yang terus menyusut seiring dengan tekanan ekonomi dunia dan dalam negeri. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa ada perlambatan ekspansi bisnis pada paruh kedua tahun ini. Hal itu terlihat dari survei kegiatan dunia usaha pada kuartal III/2023 yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Tingkat saldo bersih tertimbang (SBT) pada kuartal III/2023 sebesar 15,65%. Angka itu menyusut bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 16,62%. Padahal posisi kuartal II/2023 itu lebih tinggal dari 11,05% pada kuartal I/2023. Perlambatan dunia usaha disebabkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT 1,18%), akibat penyusutan panen padi pada musim kemarau atau panen gadu di wilayah Jawa. Selain itu, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran serta reparasi modil dan motor tercatat sangat rendah dengan SBT 0,88%. Termasuk dunia usaha pada penyediaan akomodiasi dan makan minum dengan SBT 0,54% akibat normalisasi pasca Idulfitri. Perlambatan ekspansi bisnis sejalan dengan penurunan optimisme pada tingkat konsumen dan ekspektasi penghasilan. Survei penjualan eceran BI mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) pada kuartal III/2023tercatat tumbuh 1,4% secara tahunan (year-on-year/YoY). Menurut BI, penurunan tersebut disebabkan oleh penyusutan permintaan dalam negeri dan kendala distribusi khusus untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Di sisi lain, dunia bisnis di Tanah Air dihadapkan pada beberapa kendala yang menghambat ekspansi. Mulai dari kenaikan suku bunga acuan hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang membebani impor bahan baku/bahan penolong. Sementara itu, kebijakan insentif yang diberikan oleh pemerintah hanya menyasar kelompok bawah dan rentan serta mengabaikan kalangan menengah yang sesungguhnya memiliki aktivitas konsumsi lebih signifikan. Pemerintah tengah menyiapkan bantuan sosial el nino untuk kebutuhan masyarakat bawah. Kebijakan ini terkesan positif, tetapi sarat kepentingan politis menjelang pemilu. Efek berganda hanya akan dirasakan sesaat, tidak dalam jangka panjang. Perlu ada insentif bagi masyarakat dan dunia usaha untuk mendorong konsumsi dan produksi. Yang lebih penting lagi adalah kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap situasi politik saat ini tidak akan menganggu perekonomian.









