Program Kompor Listrik Didorong Lagi
Pertamina Bangun Stasiun Pengisian Hidrogen
Reksa Dana Berbasis Global Bisa Jadi Pilihan
Reksa dana dengan portofolio berupa efek perusahaan di luar
negeri lebih rentan terdampak oleh pemburukan ekonomi global dibandingkan
dengan investasi di dalam negeri. Namun, di sisi lain, diversifikasi portofolio
menjanjikan keuntungan lebih. Reksa dana atau investasi efek yang dikelola
manajer asset tak hanya menawarkan produk dari dalam negeri. Masyarakat juga memiliki
pilihan untuk berinvestasi di saham, obligasi, atau aset jangka pendek lain
yang diperdagangkan di luar negeri (offshore). ”Untuk investor yang dananya
memadai dan melihat adanya ketidakpastian rupiah dan politik nasional, diversifikasi
global bisa menjadi pilihan,” kata pengamat pasar modal UI, Budi Frensidy, Rabu
(17/1).
Salah satu keuntungan berinvestasi di reksa dana offshore adalah
apresiasi mata uang asing yang digunakan. Investasi reksa dana pendapatan tetap
juga bisa menghasilkan keuntungan dalam bentuk capital gain. Perusahaan
manajemen aset pun coba membuat produk reksa dana offshore lebih tersegmentasi
sehingga menarik minat pasar. Seperti PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)
yang baru saja meluncurkan Manulife Saham Syariah ESG Transisi Global Dolar AS
(MAGET) Kelas A2 berdenominasi dollar AS. (Yoga)
Sawit Diandalkan untuk Perekonomian
Komoditas kelapa sawit akan menjadi salah satu unggulan bagi para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden guna memacu laju pertumbuhan ekonomi mendatang. Upaya tersebut didukung dengan peningkatan tata kelola dan kepastian hokum melalui pembentukan dewan atau lembaga khusus yang berwenang langsung terhadap sawit. Hal ini mengemuka dalam forum diskusi bertajuk ”Urun Rembuk Bersama Stakeholder Sawit Nasional” yang diselenggarakan harian Kompas, di Jakarta, Rabu (17/1). Acara tersebut dihadiri para pemangku kepentingan, antara lain Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin), dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir).
Turut hadir perwakilan Timnas Pemenangan Anies-Muhaimin (Amin), Achmad Nur Hidayat; perwakilan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Panji Irawan; serta perwakilan Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Danang Girindrawardana. Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu contributor yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional. BPS mencatat, ekspor CPO Indonesia ke lebih dari 160 negara pada 2022 mencapai nilai 29,62 miliar USD atau setara Rp 462,04 triliun. Selain itu, terdapat 16,2 juta orang yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit, baik sebagai tenaga kerja maupun pemilik perkebunan rakyat.
”Kami dari pasangan Amin punya concern serius menjadikan sawit sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.,” ujar Achmad.. Panji Irawan menyebut, salah satu fondasi Indonesia Maju sebagaimana visi yang diusung oleh pasangan Prabowo-Gibran adalah menjadikan Indonesia sebagai produsen sawit nomor satu di dunia untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, Danang Girindrawardana berpendapat, komoditas kelapa sawit akan menjadi salah satu penopang utama visi pasangan Ganjar-Mahfud untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7 % dan menciptakan 17 juta lapangan kerja. (Yoga)









