;
Kategori

Politik dan Birokrasi

( 6612 )

Prioritas Belanja Pemerintah Fokus pada Produk Lokal

08 May 2025


Presiden Prabowo telah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 46 Tahun 2025 sebagai bentuk revisi atas kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Perubahan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat penggunaan produk dalam negeri, terutama yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi. Dalam aturan baru tersebut, pemerintah — termasuk BUMN dan BUMD — wajib memprioritaskan pembelian produk dengan TKDN di atas 25% jika skor gabungan TKDN dan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) melebihi 40%. Urutan prioritas pembelian diatur secara rinci, dimulai dari produk dengan TKDN tinggi, hingga ke produk dalam negeri yang tercatat di Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) jika opsi lainnya tidak tersedia.

Berbeda dengan Perpres No. 16 Tahun 2018, di mana produk impor dapat dibeli lebih leluasa saat tidak ada produk dalam negeri yang memenuhi skor 40%, Perpres 46 Tahun 2025 memperketat ruang pembelian produk impor, sekaligus memperluas kewajiban penggunaan produk dalam negeri. Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari kalangan investor asing, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani, yang menyatakan bahwa kebijakan ini disambut positif oleh pelaku usaha internasional sebagai bagian dari deregulasi dan insentif TKDN yang lebih menarik.


Subsidi Belum Jalan, Sektor Menunggu Kepastian

08 May 2025

Sejak dihentikannya program subsidi pembelian motor listrik sebesar Rp7 juta per unit oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, penjualan sepeda motor listrik di Indonesia mengalami penurunan drastis. Penurunan ini salah satunya dirasakan oleh Polytron, yang mencatat penurunan penjualan hingga 50% pada awal tahun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ketidakpastian kebijakan subsidi menyebabkan masyarakat menunda pembelian, berdampak pada lesunya industri motor listrik.

Ketua Umum Aismoli, Budi Setiadi, menegaskan perlunya kepastian pemerintah terhadap kelanjutan insentif agar tidak membingungkan konsumen dan merugikan pelaku industri. Ia menyarankan agar subsidi diberikan dalam jangka panjang seperti di India, serta mendorong insentif nonfiskal dan pembangunan infrastruktur pendukung.

Meskipun saat ini subsidi masih tertunda akibat fokus pemerintah pada negosiasi dagang dan alokasi anggaran prioritas seperti program Makan Bergizi Gratis dan Danantara, Presiden Prabowo Subianto telah memastikan bahwa skema subsidi akan dilanjutkan pada 2025 sebagai bagian dari lima paket stimulus ekonomi nasional. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung transisi menuju kendaraan listrik, meski dengan penyesuaian skema dan waktu implementasi.


Pemerintah Siap Genjot Belanja dan Daya Beli

07 May 2025

Pemerintah siap menggenjot belanja dan daya beli masyarakat mulai kuartal 11-2026 untuk mencegah berlanjutnya tren perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dengan begini, pertumbuhan ekonomi 2025 bisa dijaga di atas 5%.  Konkretnya, pemerintah akan merilis kebijakan yang berfokus  pada peningkatan daya beli, stimulus ekonomi, mendorong investasi, dan mengakselerasi belanja. Poin terakhir menjadi fokus utama pemerintahan dengan target penyerapan bisa lebih tinggi dari siklus kuartalnya untuk mendorong  multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi yang tahun ini ditargetkan 5,2%. Hingga 25 April 2025, pemerintah telah  membuka blokir anggaran kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp86,6 triliun dari anggaran yang sebelumnya diblokir sebesar Rp 256,1 triliun.

Dengan pembukaan blokir tersebut, K/L bisa kembali melakukan efisiensi anggaran. Hal ini diatur Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025. Sementara itu, ekonom menilai, pemerintah juga perlu mengevaluasi rencana pemangkasan anggaran masif, lantaran bisa menambah tekanan ke ekonomi. Bahkan, pemerintah perlu membatalkan rencana tersebut, jika dirasa merugikan ekonomi. Alasannnya, di tengah tren pelemahan daya beli msayarakat, ekonom membutuhkan dukungan fiskal yang ekspansif. Apalagi, sektor swasta tengah lesu, terimbas kontraksi daya beli. (Yetede)

Perbankan Harus Lebih Selektif dalam Menyalurkan Kredit

07 May 2025
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025 yang melambat ke level 4,87% secara (yoy) dinilai menjadi sinyal  bagi pertahanan perbankan untuk  mewaspadai potensi risiko ke depannya. Industri perbankan diimbau untuk berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Langkah tersebut dilakukan demi menjaga kualitas kredit yang tetap bagus. Sehingga, perbankan tidak agresif dalam memberikan fasilitas pinjaman kepada calon debitur. Berdasarkan BPS, dibandingkan kuartal IV-2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru terkontraksi 0,98% Menanggapi data tersebut, Ekonom Senior & Assoociate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai bahwa ini harus menjadi perhatian pemerintah dan para pengambil kebijakan, terutama di bidang ekonomi. Sedangkan, bagi pelaku sektor keuangan, khususnya perbankan, sikap yang harus diambil ke depannya adalah harus lebih hati-hati, lebih selektif terutama bagi kredit yang masih berjalan. Kemudian, tetap prospek kredit juga perbankan harus lebih hati-hati. "Saya katakan ke teman-teman perbankan, dalam situasi ekonomi seperti ini lebih baik sikap kita adalah under promising, overdeliver. Yang penting orientasinya bukan lagi ekpansi kredit yang ngebut, tapi lebih kepada penjagaan kualitas aset atau kredit. (Yetede)

TPT Harus Dimulai dengan Mengurangi Pekerja Informal

07 May 2025
penurunan jumlah pengangguran terbuka (TPT) harus dimulai dengan mengurangi pekerja informal.  Kenaikan jumlah pekerja akan memberikan efek domino terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan TPT mencapai 4% pada 2029. Adapun target TPT pada tahun ini sekitar 4,5% sampai 5%. Oleh karena itu, pemerintah harus konsisten meningkatkan kesempatan kerja lebih tinggi dari penambahan jumlah usia angkatan kerja. Berdasarkan data BPS, 7,28 juta penduduk termasuk dalam kelompok TPT pada Februari 2025 dengan presentase TPT mencapai 4,76%. Bila diteiti lagi, penduduk bekerja pada kegiatan informal sebanyak 86,58 juta orang (59,4%), sedangkan yang bekerja ada kegiatan formal sebanyak 59,19 juta orang (40,6%). Dibanding Februari 2024, persentase penduduk bekerja pada kegiatan formal mengalami penurunan sebesar 0,23%. Deputi Bidang kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappanas Maliki mengatakan, untuk menyerap bonus demografi yang saat ini dialami oleh Indonesia tidak bisa sekedar menciptakan laangan kerja, tetapi harus menghadirkan lapangan kerja formal. Pencipataan lapangan kerja harus dibarengi juga dengan persiapan tenaga kerja. (Yetede)

Stimulus Baru Jadi Jurus Pemerintah Pulihkan Ekonomi

07 May 2025
Pemerintah berupaya mempercepat realisasi belanja APBN sebagai respons atas perlambatan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2025, yang dipicu antara lain oleh kontraksi belanja pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan percepatan program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta dukungan terhadap sektor perumahan melalui FLPP dan insentif perpajakan.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa penyaluran bantuan sosial dan pencairan gaji ke-13 ASN akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan pada kuartal II/2025. Kebijakan ini diharapkan menjadi stimulus fiskal yang efektif.

Namun, beberapa lembaga seperti Bank Permata dan Ciptadana Sekuritas menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 ke kisaran 4,5%–4,8%, di bawah target semula 5% atau lebih. Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyoroti bahwa ketidakpastian global, terutama akibat perang dagang, telah menekan investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Selain tekanan eksternal, analis seperti Renno Prawira dari Ciptadana Sekuritas juga menggarisbawahi tantangan domestik seperti pelemahan daya beli dan defisit fiskal. Untuk menjaga momentum, pelonggaran kebijakan moneter menjadi opsi yang dipertimbangkan. Ekonom OCBC, Lavanya Venkateswaran dan Ahmad A. Enver, memproyeksikan suku bunga acuan BI bisa turun ke 5,25% pada akhir 2025, jika stabilitas rupiah terjaga dan tekanan global mereda.

Pemerintah dan otoritas moneter berupaya mengombinasikan stimulus fiskal dan potensi pelonggaran moneter guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi domestik maupun global. 

Insentif Segera Digarap demi Jaga Momentum

07 May 2025

Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono, tengah menyiapkan insentif dan disinsentif bagi pelaku usaha sebagai bagian dari implementasi kebijakan Zero Over Dimension Overload (ODOL) yang ditargetkan berlaku pada tahun 2026. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan angka kecelakaan dan kerusakan infrastruktur akibat kendaraan dengan muatan berlebih.

Agus menyatakan bahwa kebijakan ini tidak hanya fokus pada pelarangan, tetapi juga disertai solusi konkret yang saat ini sedang dibahas bersama para pemangku kepentingan. Ia menyoroti bahwa penerapan Zero ODOL dapat meningkatkan biaya transportasi secara signifikan, sehingga perlu dukungan insentif agar implementasinya efektif.

Senada dengan Agus, Plt. Dirjen Perhubungan Darat, Ahmad Yani, menambahkan bahwa insentif yang sedang dipertimbangkan termasuk keringanan uang muka untuk pembelian kendaraan angkutan dan potensi bantuan berupa subsidi BBM. Pemerintah menekankan pentingnya kebijakan ini, mengingat ODOL menyumbang kerusakan jalan hingga menyebabkan negara merugi sekitar Rp42 triliun per tahun, serta menjadi penyebab kedua tertinggi kecelakaan lalu lintas setelah sepeda motor.


RI Hadapi Tantangan Baru dalam Pemulihan Ekonomi

06 May 2025
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai 4,87% pada kuartal I/2025 menunjukkan tren perlambatan sejak 2023, sehingga membuat target ambisius 8% yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin sulit tercapai. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pertumbuhan ini masih relatif kuat dibanding negara-negara G20, namun pelaku usaha seperti yang disampaikan oleh Ketua Apindo Shinta W. Kamdani masih cenderung wait and see akibat tingginya ketidakpastian investasi.

Ekonom Fithra Faisal Hastiadi dari Samuel Sekuritas memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 hanya tumbuh 4,8%, disebabkan oleh daya beli rendah, suku bunga tinggi, serta regulasi yang belum mendukung. Sementara itu, Mohammad Faisal dari Core Indonesia menilai pertumbuhan 8% tak realistis, tapi angka di atas 6% masih mungkin asal investasi dan konsumsi masyarakat meningkat signifikan. Semua pihak menekankan pentingnya reformasi struktural, penyederhanaan regulasi, dan percepatan belanja pemerintah sebagai kunci pemulihan ekonomi.

Merancang Arah Kebijakan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

06 May 2025
Di tengah meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang ekonomi yang signifikan. Aksi saling balas tarif antara dua kekuatan global itu telah mendorong pergeseran arus perdagangan dan investasi ke kawasan Asia Tenggara, menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi potensial.

Meski Presiden Xi Jinping tidak menyertakan Indonesia dalam kunjungannya ke beberapa negara ASEAN baru-baru ini, hal itu dinilai bukan penolakan diplomatik, melainkan karena hubungan bilateral Indonesia–China telah terjalin erat dan stabil.

Di dalam negeri, pemerintah merespons lonjakan barang impor dari China akibat redireksi pasar dengan menerapkan bea masuk tambahan seperti BMTP dan BMAD untuk melindungi sektor industri dalam negeri, terutama tekstil. Namun, di sisi lain, Indonesia juga berhasil menarik investasi manufaktur dari China, seperti pembangunan pabrik tekstil besar di Jawa Barat yang akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Tokoh penting seperti Pratama Persada (CISSREC) sebelumnya menyoroti pentingnya keamanan data dalam konteks digitalisasi, namun dalam konteks artikel ini, fokusnya lebih pada strategi ekonomi nasional. Pemerintah, melalui kebijakan penghiliran industri yang dipimpin oleh Presiden dan jajarannya, berhasil mendorong peningkatan ekspor produk olahan seperti nikel dan kelapa sawit, yang terbukti lebih tahan terhadap guncangan global.

Namun demikian, agar tidak tertinggal dari negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia, Indonesia harus segera menyederhanakan regulasi investasi, memperkuat kepastian hukum, dan menyesuaikan pembangunan infrastruktur dengan kebutuhan rantai pasok global. Dalam kondisi global yang semakin kompetitif, arah kebijakan jangka panjang seperti penguatan industri berbasis inovasi dan reformasi struktural menjadi sangat krusial untuk meningkatkan daya saing nasional.

Energi Terbarukan Jadi Pilar Cegah Krisis Listrik

06 May 2025
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) yang dipimpin Eniya Listiani Dewi mendorong kelanjutan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Bedugul sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya insiden pemadaman listrik total (blackout) di Bali. Insiden blackout sebelumnya terjadi akibat gangguan pada kabel laut tegangan tinggi (SKLT) yang menghubungkan sistem kelistrikan Jawa-Bali, sehingga membuat pasokan daya ke Bali terputus total.

PLTP Bedugul dinilai strategis karena mampu memperkuat kemandirian energi Bali dengan sumber energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik dari Jawa. Hal ini menjadi semakin penting mengingat kondisi geografis Bali yang rentan terhadap gangguan jaringan lintas pulau.

Sementara itu, Helmy Rosadi, Manajer Teknis PLTU Celukan Bawang, menegaskan bahwa pembangkitnya tidak terlibat dalam penyebab blackout, yang murni berasal dari gangguan transmisi eksternal. Ia menyebut gangguan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di Jawa Timur sebagai pemicu utama yang menyebabkan ketidakseimbangan daya dan anjloknya frekuensi listrik di Bali.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah juga menugaskan PT PLN untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem operasional dan prosedur penanganan gangguan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Keseluruhan upaya ini menunjukkan pentingnya diversifikasi dan penguatan infrastruktur energi lokal, terutama berbasis sumber daya terbarukan.