;
Tags

Ekspor

( 1057 )

Malaysia Masih Kuasai Impor Kalsel

Sajili 27 Jan 2021 Banjarmasin Post

Berdasarkan data BPS Kalsel, nilai impor Kalsel pada Desember 2020 mencapai USD 52,31 juta atau naik 85,35 persen dibandingkan November 2020 yang hanya USD 28,22 juta. Sedangkan, nilai ekspor naik sebesar 9,24 persen. Dari USD 509,72 juta menjadi USD 556,81 juta.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada Desember di antaranya bahan bakar mineral sebesar USD 41,11 juta, mesin-mesin/pesawat mekanik senilai USD 5,98 juta dan kelompok kapal laut sebesar USD 3,30 juta.

Mengenai impor menurut negara asal, dia merincikan, tertinggi berasal dari Malaysia yang mencapai USD 35.75 juta. Diikuti Singapura, USD 11,71 juta dan Cina sebesar USD 1,81 juta.

Terkait negara tujuan ekspor, Edy mengungkapkan pada periode Desember barang-barang dari Kalsel paling banyak diekspor ke Cina dengan nilai USD 226,20 juta. Selain Cina, dia menyampaikan, ekspor Kalsel ke India pada Desember juga lumayan tinggi yakni sebesar USD 109,28 juta.


Ekspor Perikanan Prospektif

Sajili 27 Jan 2021 Kompas

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, total ekspor perikanan Indonesia sepanjang tahun 2020 mencapai 1.262.000-ton senilai 5,203 miliar dollar AS. Volume itu meningkat 6,6 persen dibandingkan ekspor tahun 2019, sementara nilainya tumbuh 5,4 persen.

Di sisi nilai, kontribusi terbesar berasal dari komoditas udang, yakni 2,04 miliar dollar AS atau 39,21 persen dari total nilai ekspor Indonesia tahun lalu, diikuti tuna-cakalang sebesar 724 juta dollar AS (13,92 persen). Sementara komoditas cumi-sotong-gurita tercatat 509 juta dollar AS (9,79 persen), rajungan-kepiting 367 juta dollar AS (7,05 persen) dan rumput laut 279,6 juta dollar AS (5,2 persen).

Adapun dari sisi volume, ekspor udang tercatat 239.230-ton (18,9 persen), tuna-cakalang yakni 195.710-ton (15,51 persen), rumput laut 195.570-ton (15,5 persen) dan cumi-sotong-gurita 140.040 ton (11,1 persen).

Menurut Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Artati Widiarti, komoditas unggulan yang diharapkan mendongkrak ekspor tahun ini adalah udang, rumput laut, tuna-cakalang, dan cumi-sotong-gurita.

Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan dan Perikanan Machmud Sutedja mengemukakan, ekspor udang tahun ini ditargetkan sekitar 2,45 miliar dollar AS atau naik 20 persen, sedangkan rumput laut sekitar 300 juta dollar AS atau tumbuh 7,1 persen.


Dorong Konversi Hasil Ekspor Untuk Otot Rupiah

Sajili 25 Jan 2021 Kontan

Bank Indonesia (BI) terus mendorong eksportir membawa pulang devisa hasil ekspor (DHE) agar masuk ke sistem perbankan dalam negeri.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), nilai Devisa Hasil Ekspor (DHE) Indonesia pada November tahun 2020 lalu sebesar US$ 142,35 miliar. Nilai itu setara dengan 88,8% dari total ekspor Indonesia pada November 2020 sebesar US$ 180,73 miliar. BI berharap DHE yang masuk ke sistem perbankan dalam negeri terus meningkat hingga ke 90%-92% dari total ekspor.

Sekretaris Jenderal DPP Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan ada beberapa pertimbangan eksportir untuk belum sepenuhnya mengkonversikan devisa hasil ekspor yang diperoleh eksportir ke mata uang rupiah dengan pergerakan kurs jual dan kurs beli.

Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno juga meminta adanya jaminan bagi para eksportir untuk mendapatkan nilai kurs yang sama untuk kegiatan ekspor tersebut agar eksportir mau menukarkan DHE ke mata uang Garuda.


Komoditas Ekspor Daerah, Geliut Perikanan Jateng Berlanjut

Ayutyas 21 Jan 2021 Bisnis Indonesia

Geliat-geliut tren ekspor komoditas perikanan dari Provinsi Jawa Tengah diyakini akan terus berlanjut, kendati pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir mengingat masih terjadinya lonjakan kasus di berbagai negara. Berdasarkan data Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang, tren ekspor perikanan dari Jateng terus mengalami penurunan sejak 2018. Faktor yang menyebabkan turunnya nilai ekspor perikanan, terutama disebabkan oleh kondisi alam dan aturan di sejumlah negara tujuan ekspor pada masa pandemi Covid-19.

Saat ini, lumbung utama perikanan Jateng berada di wilayah Kabupaten Tegal, Pemalang, Pekalongan, Demak, Pati, dan Rembang. Daerah tersebut masih menjadi andalan utama lumbung perikanan karena punya wilayah laut cukup luas. Kawasan Pantai Utara (Pantura) masih menjadi penyumbang terbesar hasil perikanan. Sementara itu, untuk kawasan pantai selatan belum memberikan dampak yang signifikan.

Ekspor komoditas perikanan Jateng diyakini masih bertumbuh, kendati tidak terlalu tinggi. Melihat kondisi pandemi yang masih belum teratasi di sejumlah negara, diproyeksikan ekspor perikanan akan tumbuh sekitar 5%-10%. Produksi perikanan asal Jateng akan terus bertambah, terutama untuk orientasi ekspor seperti rajungan, ikan nila, dan surimi. 

Produk perikanan Jateng secara keseluruhan mampu diserap oleh 28 negara tujuan di luar negeri, dengan total jenis komoditas sebanyak 63 jenis produk. Komoditas yang menempati 10 peringkat tertinggi menurut nilai dari 63 produk perikanan di antaranya adalah daging rajungan, surimi, daging nila, makarel, cumi-cumi, tepung ikan, udang putih, sotong, bloso dan daging kakap. pengembangan sektor perikanan diharapkan bisa memberikan dampak positif, terutama meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memberdayakan potensi yang ada di daerah, serta mendongkrak ekonomi nasional dengan peningkatan devisa.

Gurita RI Jangkau Pasar Meksiko

Ayutyas 21 Jan 2021 Investor Daily, 21 Januari 2021

Komoditas gurita (Octopus sp) asal Luwuk Banggai, Sualawesi Tengah (Sulteng), berhasil menjangkau pasar Meksiko. Volume gurita yang diekspor sebanyak 20.500 kilogram (kg) senilai Rp 1,10 miliar. Pandemi Covid-19 rupanya tidak menghalangi permintan komoditas KP Indonesia, termasuk di pasar ekspor. Terbaru, Stasiun KIPM Luwuk Banggai, Sulteng, melepas ekspor langsung 1 kontainer gurita ke Meksiko. Pelepasan tersebut dikemas dengan tema Menembus Batas Tatanan Normal Baru dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional. 

Kegiatan ekspor tersebut dibuka Sekda Kabupaten Banggai Abdullah Ali dan dihadiri Kepala Kantor Pelayanan Bea Cukai Luwuk, Dinas Perikanan, Kepala Syahbandar Luwuk, Dinas Perdagangan dan Pengelola KM Meratus. BKIPM akan terus melakukan pelayanan secara optimal sekaligus mendorong pelaku usaha untuk mengekspor produknya. 

Kenaikan Ekspor Belum Dinikmati Pencari Sarang

Sajili 20 Jan 2021 Kompas

Volume ekspor sarang burung walet di Jawa Tengah meningkat 15,3 persen pada tahun 2020 ketimbang periode sama 2019. Berdasarkan data Balai Karantina Pertanian Semarang, volume ekspor sarang burung walet pada 2020 mencapai 64.094 kilogram (kg) atau naik 15,3 persen dari 2019 yang sebesar 55.576 kg. Nilai ekspor juga meningkat, dari Rp 1,2 triliun pada 2019 menjadi Rp 1,5 triliun pada 2020.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut, tren ekspor sarang burung walet secara nasional meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Data sistem perkarantinaan Badan Karantina Pertanian, Kementan, IQFAST, mencatat, selama pandemi Covid 19, jumlah ekspor sarang burung walet 1.155 ton dengan nilai Rp 28,9 triliun atau meningkat 2,13 persen dari pencapaian pada 2019 yang 1.131,2 ton atau senilai Rp 28,3 triliun.

Dari Kebumen, Jateng, dilaporkan, pencari sarang burung walet di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, tidak menikmati langsung kenaikan ekspor komoditas ini. Pemasukan yang didapat pencari sarang burung walet hanya berkisar Rp 500.000-Rp 1 juta sekali panen.

 


Ekspor Mobil Anjlok 66%

Ayutyas 20 Jan 2021 Investor Daily, 20 Januari 2021

Ekpor mobil sepanjang 2020 turun 66,18% menjadi 285.207 unit dibanding tahun sebelumnya 843.429 unit. Penurunan ekspor mobil terjadi baik dalam bentuk utuh (CBU) maupun terurai (CKD). Berdasarkan data GAIKINDO, ekspor mobil CBU pada 2020 mencapai 232.175 unit, turun 30,1% dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 332.004 unit. Ekspor mobil dalam bentuk CBU dilakukan oleh sembilan produsen. Ekspor CBU didominasi oleh Daihatsu yang mencapai 91.472 unit atau 39,4% dari total. Sementara itu, ekspor mobil dalam bentuk CKD anjlok hingga 89,6% pada tahun 2020 menjadi tinggal 53.032 unit dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 511.425 unit. 

Ekspor komponen juga menurun 22,9% pada 2020 menjadi 61.177.323 pieces dibanding tahun sebelumnya 79.300.676 unit. Ekspor komponen otomotif ini dilakukan oleh Toyota, Honda, Hino, dan Suzuki. Tidak hanya Ekspor, impor mobil juga mengalami penurunan hingga 53,5% pada tahun 2020 menjadi 34.353 unit dibanding tahun 2019 yang sebanyak 73.879 unit. Kemendag tengah menyiapkan argumentasi pendukung sanggahan (submisi) keberatan untuk membebaskan mobil Indonesia dari bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) atau safeguard yang dibuat oleh pemerintah Filipina. Produk yang dikenakan safeguard oleh otoritas FIlipina adalah mobil penumpang dan kendaraan niaga ringan (LCV). Pengenaan safeguard tersebut akan efektif berlaku lima belas hari sejak tanggal penetapan. Pengenaan safeguard tersebut bakal berlaku selama 200 hari.

Industri kendaraan bermotor merupakan salah satu yang didorong pengembangannya di Tanah Air. Hal ini karena industri tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan yang juga mendukung perekonomian nasional. Perkembangan otomotif Indonesia tersebut, menunjukkan tren yang menggembirakan. Menperin mengungkapkan, ada dua faktor yang akan membuat investasi di sektor otomotif semakin bertambah. Selain itu, industri otomotif global memiliki Global Value Chain yang tinggi, sehingga perbedaan harga antarnegara relatif rendah. Dalam hal ini, Indonesia diuntungkan karena telah mampu mengekspor produk otomotif ke lebih dari 80 negara dengan rata-rata 200.000 unit per tahun.

Biji Mete Sultra Tembus Vietnam dan India

Sajili 18 Jan 2021 Sinar Indonesia Baru

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Kendari menyatakan bahwa selama 2020 pemasaran komoditas biji mete organik asal Sulawesi Tenggara (Sultra) mampu menembus pasar ekspor ke dua negara, yaitu India dan Vietnam.

“Selain Vietnam, selama 2020, Sultra berhasil mengekspor biji mete ke India dengan total 103,7 ton. Volume ekspor tersebut dengan nilai perdagangan mencapai Rp15,5 miliar,” kata Kepala Karantina Pertanian Kendari, Prayitno Ginting di Kendari, Minggu (17/1).

Disebutkan, angka ekspor biji mete Sultra sebesar 0,6 persen dari total perdagangan domestik biji mete Sultra. “Sementara itu di awal tahun ini baru ekspor lagi 48 ton biji mete ke Vietnam, dengan nilai sekitar Rp1 miliar,” katanya.

 


Ekspor Sarang Walet Sumbang Rp 28 Triliun

Ayutyas 18 Jan 2021 Investor Daily, 18 Januari 2021

Ekspor sarang burung walet (SBW) sepanjang 2020 mencapai Rp 28,90 triliun, atau meningkat 2,13% dari 2019 yang sebesar Rp 28,30 triliun. Ekspor sarang walet menjadi salah satu penyumbang utama pada peningkatan ekspor produk pertanian tahun lalu. Tren ekspor SBW menunjukkan peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir. Hal itu karena rumah dari burung walet (Collocalia sp) itu dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan dan banyak dihasilkan di Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. SBW dapat hidup baik dengan ekosistem yang terjaga, mulai dari hutan, laut dan sungai. 

Saat ini, SBW yang diperdagangkan merupakan komoditas binaan dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian (Kementan) untuk produktivitasnya. Untuk pendampingan eksportasi, mulai dari harmonisasi aturan, persyaratan teknis sanitasinegara tujuan, dan bimbingan teknis sanitari dan keamanan pangan (food safety) dilakukan oleh Barantan Kementan. Partisipasi dan dukungan dinas pertanian, peternak dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan komoditas SBW sangat diperlukan. Salah satunya terhadap penyakit flu burung atau avin influenza (AI).

(Oleh - IDS)

Ekspor Besi dan Baja Tembus US$ 10 Miliar

Ayutyas 18 Jan 2021 Investor Daily, 18 Januari 2021

Nilai ekspor produk besi dan baja sepanjang tahun 2020 mencapai US$ 10,85 miliar atau sekitar Rp 152,29 triliun, naik 46,84% dari tahun sebelumnya US$ 7,38 miliar. Pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan bagi industri baja Tanah Air untuk memacu pertumbuhan ekspornya pada tahun lalu. Hasil bagus tersebut karena banyak pabrik baja di dunia seperti di Eropa yang mengurangi produksi selama pandemi. Tren bagus ekspor baja akan berlanjut pada tahun ini karena pandemi Covid-19 masih berlanjut. Sehingga, industri baja nasional harus mampu mengambil peluang emas ini untuk menguasai pasar luar dan dalam negeri. 

Langkah positif pemerintah untuk mengendalikan importasi dan memberikan perlindungan terhadap industri baja nasional adalah kebijakan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai technical barrier impor, tetapi juga erat kaitannya dengan keamanan dan keselamatan pengguna baja, sehingga harus diberlakukan secara wajib.  Kemenperin sendiri telah menargetkan pengurangan impor baja sebesar 35%. Langkah yang ditempuh antara lain meningkatkan penggunaan baja dalam negeri, meningkatkan pengawasan baja yang tidak memiliki SNI wajib dan mencari investasi untuk subtitusi impor. Pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk industri baja berbenah dan bangkit. 

(Oleh - IDS)