Ekspor
( 1057 )Produsen Batubara Kerek Produksi
Sejumlah produsen batubara bersiap merespons langkah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menaikkan kuota produksi batubara pada tahun ini. Kebijakan pemerintah itu bertujuan menggenjot volume ekspor batubara di tengah tren menguatnya harga dan permintaan komoditas energi ini.
Sekretaris Perusahaan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), Sudin Sudirman mengatakan, GEMS sedang menunggu persetujuan Kementerian ESDM atas revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) yang telah diajukan.
Jika nanti proposal disetujui, GEMS akan mengirim tambahan produksi batubara ke target pasar existing seperti China, India dan negara di kawasan ASEAN. Namun Sudin enggan membeberkan berapa kuota produksi tambahan yang diajukan GEMS. "Kami belum bisa menyampaikan karena sedang proses revisi RKAB, tunggu persetujuan dulu, " ujar dia kepada KONTAN, akhir pekan lalu.
Sebelumnya, Kementerian ESDM menargetkan produksi batubara tahun ini sebesar 550 juta ton. Kini, proyeksi itu naik menjadi 625 juta ton. Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 66.K/HK.02/MEM.B/2021 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri ESDM No.255.K/30/MEM/2020 tentang
Pemenuhan Kebutuhan Batubara Dalam Negeri Tahun 2021. Adapun penambahan 75 juta ton dikhususkan untuk pasar ekspor.
PT Harum Energy Tbk (HRUM) juga berencana mengerek produksi batubara di sepanjang tahun ini. jika semula HRUM mematok pertumbuhan produksi sebesar 25% year-on-year (yoy), kini mereka mengejar pertumbuhan 30% dibandingkan realisasi produksi tahun lalu.
Waspadai Krisis India
Ekonom Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, Minggu (2/5/2021), mengatakan, krisis kesehatan di sejumlah negara akibat ledakan kasus Covid-19 tidak hanya berpotensi melumpuhkan tenaga-tenaga kesehatan. Hal itu juga dapat berimbas pada krisis kesehatan para pekerja di sektor ekonomi, termasuk perdagangan dan industri.
Di India, misalnya, ledakan kasus positif Covid-19 saat ini bukan sekadar membuat tenaga kesehatan kewalahan. Hal itu juga membuat aktivitas ekonomi terhambat oleh karantina wilayah di sejumlah wilayah. Para pekerja penggerak ekonomi pun kian luas terjangkit virus korona baru.
IHS Market mencatat, PMI manufaktur India pada Maret 2021 turun menjadi 55,4. Meski masih di ambang batas ekspansi, angka ini lebih rendah daripada PMI manufaktur pada Januari dan Februari 2021 yang masing-masing sebesar 57,7 dan 57,5. Fithra memperkirakan, lonjakan kasus Covid-19 akan membuat PMI manufaktur India turun sekitar 4 poin pada April 2021. Pada Mei 2021, indeks tersebut bisa lebih turun lagi di ambang batas ekspansi, yaitu menjadi sekitar 50.
Menurut Fithra, jika Indonesia membuka aktivitas ekonomi secara berlebihan dan membiarkan mobilitas masyarakat selama periode Lebaran tahun ini, akan ada guliran ekonomi dari aktivitas tersebut berkisar Rp 50 triliun-Rp 80 triliun. Simulasi hitungan tersebut sudah memperhitungkan masih lemahnya daya beli dan masih sedikit terbatasnya pergerakan masyarakat.
Krisis kesehatan di India, diyakini Fithra, tidak akan berpengaruh signifikan atau hanya sedikit saja mereduksi ekspor Indonesia, terutama minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan batubara, ke negara itu. Pasalnya, Indonesia dapat memanfaatkan pasar-pasar lain, terutama AS, China, dan sejumlah negara di Eropa yang mampu mengendalikan Covid-19 dan ekonominya mulai pulih. ”Namun, yang perlu diwaspadai adalah pasokan vaksin Indonesia yang diproduksi di India diperkirakan bakal terhambat,” kata Fithra.
Kementerian Perdagangan mencatat, total perdagangan Indonesia-India pada 2020 senilai 14,18 miliar dollar AS. Neraca perdagangan Indonesia masih surplus 6,65 miliar dollar AS dari India. Produk ekspor utama Indonesia ke India adalah batubara, CPO, tembaga, karet, dan pupuk kimia. Sementara impor utama Indonesia dari India adalah daging kerbau beku, kacang, hidrokarbon siklik, produk baja, dan gula.
Pada 2020-2021, kapal yang membawa barang ekspor Indonesia ke India didominasi kapal tanker untuk barang curah cair, misalnya CPO, dan tongkang untuk barang curah padat seperti batubara. Untuk produk jenis itu umumnya bongkar muat tidak perlu banyak kontak fisik dengan awak kapal.
Atase Perdagangan Indonesia untuk New Delhi, India, Bona Kusuma menuturkan, Pemerintah India tetap mempertahankan pelayanan publik, salah satunya pelayanan kegiatan ekspor dan impor, meskipun pelayanan tersebut tidak berjalan secara penuh. Selain itu, Kementerian Perdagangan juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan untuk memastikan proses karantina di seluruh pelabuhan muat, terutama di Pelabuhan Dumai, Riau. Proses tersebut hanya dilakukan terhadap awak kapal dan bukan terhadap kapal dan muatan.
Kasus Covid-19 Meledak, Indonesia Tetap Ekspor ke India
Indonesia tetap
melakukan kegiatan ekspor ke
India, meski negara tersebut
tengah melakukan karantina
wilayah (lockdown) akibat lonjakan kasus Covid-19. Dalam
gelombang kedua serangan
virus Covid-19, India mencatatkan 18,3 juta kasus infeksi
dan 204 ribu orang yang meninggal, dengan rekor 3.645
kematian dalam satu hari.
“Secara umum, tidak ada
kendala dalam kegiatan fasilitasi ekspor impor antara Indonesia dan India. Protokol
kesehatan diterapkan untuk
mencegah warga negara asing masuk, termasuk India.
Namun hal ini tidak mengganggu kelancaran bongkar
muat barang,” kata Menteri
Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dalam keterangan resmi, Kamis (29/4).
“Pelabuhan Dumai merupakan salah satu pelabuhan
dengan terminal curah cair
terbesar di Indonesia. Di tengah pandemi Covid-19, Dumai tetap menjadi pelabuhan
umum yang tertinggi dalam
pengapalan CPO dan turunannya di Indonesia. Kebanyakan
ekspor Indonesia ke India saat
ini adalah produk liquid atau
cair yang perpindahannya
lebih banyak melalui saluran
pipa, jadi sangat minimal keterlibatan orang,” terang Direktur Jenderal Perdagangan
Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi
Sumedi.
(Oleh - HR1)
Vaksinasi Topang Ekspor
Prospek kinerja ekspor Indonesia akan sangat bergantung pada perkembangan vaksinasi di negara mitra dagang utama. Selain ekspor ke China dan Amerika Serikat yang perekonomiannya membaik seiring penanganan Covid-19 dan vaksinasi yang cepat, Indonesia bisa mendapat momentum dari kondisi India yang tengah bergumul dengan penanganan pandemi.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam kunjungannya ke Kompas, Rabu (28/4/2021), menyatakan, perkembangan penanganan Covid-19 dan laju vaksinasi di negara-negara mitra dagang utama akan menentukan kinerja perdagangan dan prospek ekonomi RI ke depan.
Terkait hal itu, China dan Amerika Serikat (AS) terbilang cepat di antara 10 negara utama tujuan ekspor Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang diolah Kementerian Perdagangan, per 24 April 2021, China sudah memvaksin 28 persen populasinya, sementara AS telah memvaksin 50 persen populasinya.
Menurut Lutfi, pada Mei 2021, AS bahkan diprediksi sudah bisa menuntaskan vaksinasinya hingga 100 persen. Pertumbuhan produk domestik bruto AS diprediksi mencapai 5,1 persen pada 2021. Adapun nilai ekspor Indonesia ke AS pada 2020 mencapai 18,62 miliar dollar AS. Sementara ekonomi China diproyeksikan tumbuh 8,4 persen tahun ini. Nilai ekspor Indonesia ke China tahun 2020 mencapai 31,78 miliar dollar AS.
Akan tetapi, lepas dari kondisi China dan AS, Indonesia patut mewaspadai lonjakan kasus Covid-19 di India. Kementerian Perdagangan mencatat, meski Indonesia masih mengalami surplus perdagangan dengan India, ada pelemahan ekspor ke India pada dua bulan pertama tahun 2021. Surplus RI dengan India tercatat turun dari 1,4 miliar dollar AS pada Januari-Februari 2020 menjadi 790 juta dollar AS pada Januari dan Februari 2021.
Lutfi menambahkan, ada beberapa produk unggulan yang akan diandalkan untuk ekspor tahun ini. Pertama, besi dan baja yang pangsa pasar terbesarnya adalah China (69 persen), minyak kelapa sawit dengan pangsa pasar terbesar China (17 persen) dan India (15 persen), serta perhiasan dengan pangsa pasar terbesarnya Singapura (36 persen).
Produk unggulan lainnya adalah produk otomotif dan suku cadangnya dengan pangsa pasar terbesar Filipina (24 persen) serta produk elektronik dengan pangsa pasar terbesar AS (20 persen) dan Singapura (17 persen). Periode super siklus atau kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan yang saat ini terjadi ikut menguntungkan RI.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economy Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, meski ekspor ke India dapat terganggu, prospek ekspor ke AS dan China masih jauh lebih besar. ”Jadi, terlepas dari kondisi India saat ini, potensi ekspor RI setahun ini masih tinggi karena negara-negara lain permintaannya masih tinggi,” ujarnya.
Gapki: Ekspor Sawit RI ke India Masih Normal
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bahwa lonjakan kasus Covid-19 di India yang terjadi sejak
pekan lalu belum mempengaruhi kinerja ekspor
minyak sawit nasional. Ekspor sawit Indonesia
ke India hingga saat ini masih berjalan normal.
Pada 2020, India merupakan pasar ekspor
terbesar kedua untuk sawit Indonesia dengan
volume 4,65 juta ton setelah Tiongkok yang
sebesar 5 juta ton.
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, pekan lalu,
India memang mengalami kasus
lonjakan Covid-19 gelombang
kedua. Namun sejauh ini dampak
lonjakan kasus tersebut belum
dirasakan Indonesia, kecuali
terjadi tambahan kasus hingga
selama satu bulan baru hal itu
nantinya akan berdampak, termasuk terhadap kinerja ekspor sawit
nasional. “Sikap Indonesia masih
memasang status wait and see
dan terus melihat perkembangan
India. Kami berharap kasus Covid-19 di India segera turun,” kata
Joko Supriyono saat buka puasa
Gapki bersama media di Jakarta,
Rabu (28/4).
Joko menjelaskan, India memang pasar terbesar ekspor sawit
Indonesia. Saat ini, Pemerintah
India tengah dihadapi kepanikan
karena jumlah kematian dalam
sehari sangat banyak. Lonjakan
kasus Covid-19 di India diduga
terjadi karena masyarakatnya
menganggap remeh Covid-19 pascavaksinasi.
Ekspor minyak sawit RI Maret
2021 mencapai 3,24 juta ton atau
62,70% lebih tinggi dari Februari
yang hanya 1,99 juta ton. Kenaikan
harga dan volume menghasilkan
nilai ekspor sawit Maret 2021 sebesar U$ 3,74 miliar atau lebih tinggi
dari Februari 2021 yang hanya US$
2,08 miliar. Konsumsi domestik
pada Maret 2021 mencapai 1,59
juta ton atau sedikit terkoreksi dari
Februari 2021 yang sebesar 1,61
juta ton, konsumsi minyak sawit
untuk biodiesel pada Maret 2021
turun 0,50% menjadi 625 ribu ton
dari 635 ribu ton pada Februari,
oleokimia juga turun 3,40% menjadi
168 ribu ton dari 174 ribu ton. Secara year on year (yoy) sampai Maret
2021, konsumsi dalam negeri 3,80%
lebih tinggi dari 2020.
(Oleh - HR1)
Sektor Manufaktur Sumbang 79,66 Persen Ekspor RI di Triwulan I 2021
Neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas sepanjang Januari-Maret 2021 mengalami surplus sebesar US$ 3,69 miliar.Secara kumulatif, nilai ekspor industri pengolahan nonmigas pada Januari-Maret 2021 adalah sebesar US$ 38,96 miliar atau naik 18,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
Industri manufaktur masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Sepanjang tiga bulan tahun ini, sektor manufaktur memberikan kontribusi terbesarnya hingga 79,66 persen dari total nilai ekspor nasional yang menyentuh US$ 48,90 miliar.
Jatim Siap Perbesar Ekspor Sarang Walet
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), siap mendukung pengembangan ekspor Sarang Burung Walet (SBW). Mengingat potensinya yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor dan meningkatkan penghasilan devisa negara.
Nilai ekspor Sarang Burung Walet Jatim pada tahun 2020 adalah 99.43 juta dolar AS dengan total berat 209,5 kilogram. China merupakan pasar utama ekspor SBW disusul Hongkong, Amerika Serikat, dan Singapura.
Untuk mendukung hal tersebut, Disperindag Jatim telah menerapkan sejumlah strategi antara lain memfasilitasi standarisasi, fasilitasi kelancaran proses ekspor melalui koordinasi dengan instansi sektoral terkait kegiatan ekspor. Dengan berbagai strategi maupun kebijakan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor Jatim utamanya pada komoditas Sarang Burung Walet.
Perdagangan Daerah, Kinerja Ekspor Kopi Kebal Di Tengah Pandemi
Bisnis, SURABAYA — Tren permintaan pasar ekspor komoditas kopi tahun ini diprediksi mengalami peningkatan meskipun masih di tengah pandemi Covid-19. Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Jawa Timur memprediksi kinerja ekspor mampu meningkat hingga 20%.
Sekretaris Gaeki Jatim Ichwan Nursidik mengatakan peningkatan itu seiring dengan adanya potensi sejumlah pengembangan pasar baru. Pasar baru yang potensial bagi komoditas kopi Jatim yakni Irak, Iran, Lebanon, UEA, Filipina, Malaysia, dan China terutama untuk jenis kopi olahan.
Data Gaeki menyebutkan bahwa ekspor kopi Jatim pada 2020 mencapai 64.621 ton dengan total nilai US$138,5 juta atau turun dibandingkan dengan 2019 yang mampu mencapai 70.238 ton atau US$148,9 juta.
Kinerja ekspor kopi 2019 lebih tinggi jika dibandingkan dengan kinerja ekspor 2018 yang mencapai 66.881 ton atau US$154,8 juta.
Ichwan menyatakan dengan mulai bergeraknya roda perekonomian, awal tahun ini ekspor kopi Jatim juga menunjukan tren yang positif.
Pada kuartal I/2021 tercatat sudah ada ekspor kopi sebanyak 23.102 ton dengan nilai US$46,3 juta. Volume ekspor itu meningkat 52% dibandikan dengan kuartal I/2020 yakni 15.193 ton atau US$33,5 juta.
Bahkan, lanjut Ichwan, jika melihat kinerja dari bulan ke bulan, ada tren peningkatan yang bagus, dari Januari 2021 ekspornya 6.693 ton atau US$13,7 juta
Kemudian Februari meningkat menjadi 7.227 ton atau US$14,6 juta, dan pada Maret naik lagi menjadi 9.236 ton atau US$17,8 juta.
“Pasar ekspor pada Maret lalu ini cukup bagus, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, bahkan dibandingkan Maret 2020 ada tren kenaikan sampai 101%, karena Maret tahun lalu volumenya hanya terealisasi 4.606 ton,” imbuhnya.
Ichwan menambahkan dari data kinerja ekspor kopi Jatim selama kuartal I/2021, sebanyak 17,8 juta kg dikontribusi oleh kopi jenis Robusta dengan nilai US$31,9 juta, disusul kopi olahan 4,51 juta kg dengan nilai US$11,4 juta, serta kopi jenis Arabika sebanyak 669.330 kg dengan nilai US$2,95 juta.
Berdasarkan data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, volume ekspor biji kopi melalui Pelabuhan Belawan hingga Februari 2021 menuju Amerika Serikat adalah 4.263 ton atau memberi andil sebesar 44,77% terhadap ekspor kopi Sumut.
Adapun nilai ekspornya mencapai US$17,33 juta atau memberi andil sebesar 43,12% terhadap total nilai ekspor kopi Sumut.
Sementara itu, volume ekspor kopi Sumut sepanjang 2020 menuju Negeri Paman Sam adalah 28.824 ton.
(Oleh - HR1)
Cheil Jedang Ekspor Produk Bioteknologi US$ 580 Juta
JAKARTA – PT Cheil Jedang Indonesia (CJI), perusahaan bioteknologi ternama asal
Korea Selatan, menargetkan
ekspor sebesar US$ 580 juta atau
setara Rp 8,41 triliun pada tahun
2021. Seluruh produk ekspor
CJI merupakan produk yang
sangat dibutuhkan dalam mata
rantai perdagangan global untuk
produk pakan dan makanan.
“Target kami bisa menguasai
pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS), karena memang permintaan pasar untuk produk dengan konsep alam dan ramah
lingkungan ini sedang meningkat
di negara tersebut,” kata Wakil
Presiden CJI Plant Pasuruan
Yoon Tae Sang dalam keterangan
resmi, belum lama ini.
Yoon Tae Sang menyampaikan,
cysteine dengan merk Flavor
Nrich™ Master C telah menjawab permintaan pasar global,
khususnya untuk industri makanan. Produk ini merupakan
asam amino alami yang dapat
dipergunakan oleh siapapun,
termasuk para kelompok vegan.
Pada 2021, CJI menargetkan
penjualan produk FlavorNrich™
Master C dapat menembus negara-negara di Eropa dan AS.
Presiden Direktur CJ Indonesia Group Shin Hee Sung mengungkapkan, total investasi untuk
produk asam amino, khususnya
cysteine mencapai US$ 100 juta.
Selain itu, saat ini CJI mengembangkan produksi polihidroksialkanoat (PHA) yang dapat digunakan sebagai bahan tambahan
pakan yang bisa dikembangkan
sebagai bahan biopolimer untuk
produksi plastik ramah lingkungan senilai US$ 50 juta dan segera
dipasarkan dalam waktu dekat.
(Oleh - HR1)
Ekspor Perdana L-Cysteine ke AS
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendampingi Menteri Perdagangan (Mendag) RI Muhammad Lutfi meluncurkan ekspor perdana produk L-Cysteine ke Amerika Serikat. Peluncuran tersebut dilaksanakan di PT. Cheil Jedang (CJ) Indonesia, Pasuruan, Selasa (20/4).
Mendag RI Muhammad Lutfi pun menyampaikan, produk yang diekspor adalah olahan vegetarian dengan rasanya seperti daging, Karena memiliki pasar ekspor premium, harganya Rp9 miliar per kontainer. Prosesnya pun dikemas dengan temperatur kontrol sesuai standar agar tidak mudah hancur.
CEO PT Integra Indocabinet, Halim Rusli, mengklaim permintaan ekspor meubel meningkat meski di saat pandemi Covid-19. Setiap bulan PT Integra mampu mengekspor 1.000 kontainer furniture, dengan pasar utamanya Amerika Serikat.
Mendag Lutfi menilai keberadaan PT Integra sangat penting karena termasuk salah satu pabrik penghasil furniture terbesar di Indonesia dengan pasar utamanya adalah luar negeri. Lutfi menambahkan peluang Amerika Serikat semakin terbuka lebar karena kompetitor Indonesia yakni Vietnam saat ini tengah menghadapi sanksi dari Amerika Serikat.
Pilihan Editor
-
Maskapai Bersiap Terbangkan Penumpang Non-Mudik
07 May 2020 -
Otomotif Global Bersiap untuk Pulih
02 May 2020 -
Penyebab Kenaikan Harga Gula
30 Apr 2020 -
Penjualan Video Game Melejit
29 Apr 2020 -
20.018 WP Badan Ajukan Insentif Pajak
27 Apr 2020









