Ekspor
( 1057 )Harum Aroma Rempah Indonesia di India
Pecinta masakan India atau penggemar film India pasti tidak asing lagi dengan beragam masakan khas India. Ya, kekhasan mayoritas kuliner India adalah kaya rempah nan beraroma kuat, seperti rogan josh, tikka masala, kofta, atau chole bhature. Dan rempah bagi rakyat India adalah budaya. Rempah hadir di beragam hal, mulai dari makanan hingga obat-obatan. Tak heran, ketika gelombang pandemi menerjang, kebutuhan rempah-rempah kian melonjak. Sebagai salah satu pengekspor rempah, diantaranya cengkeh, Indonesia merasakan efek positifnya. ”Permintaan akan cengkeh melonjak saat pandemi dan cengkeh merah populer dan paling dicari di India. Bagi India, cengkeh merah itu komoditas premium. India juga impor dari Afrika, tetapi utamanya dari Indonesia,” kata Konsul Jenderal RI di Mumbai Agus Prihatin Saptono dalam satu sesi wawancara khusus, Sabtu (10/7/2021).
Selain cengkeh, rempah-rempah seperti lada, pala, jahe, kayu manis, dan vanila termasuk dalam 20 besar komoditas ekspor Indonesia ke India. Pada tahun 2020 total impor rempah-rempah India sekitar 206.000 ton. ”Kue” itu begitu besar. Namun, dari total impor itu, Indonesia baru memasok sekitar 31.000 ton saja, dengan nilai sebesar 111 juta dollar AS. Di pasar rempah India, Indonesia merupakan eksportir rempah terbesar ke-2 di India setelah Vietnam.
Pada tahun 2020 total impor rempah-rempah India sekitar 206.000 ton. ”Kue” itu begitu besar. Namun, dari total impor itu, Indonesia baru memasok sekitar 31.000 ton saja, dengan nilai sebesar 111 juta dollar AS. Di pasar rempah India, Indonesia merupakan eksportir rempah terbesar ke-2 di India setelah Vietnam. Tingginya kebutuhan India akan rempah-rempah, kata Agus, merupakan pasar potensial bagi Indonesia. Apalagi, jumlah penduduk India besar lebih dari 1,3 miliar dan pada tahun 2040-2050 India diprediksi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah China. ”Potensi ini belum dilirik Indonesia. Untuk itu, kami dorong terus. Kami berusaha menghubungkan UKM dan berbagai organisasi terkait rempah untuk meningkatkan industri domestik kita,” kata Agus.Dongkrak Produksi dari Kluster Udang
Pemerintah berencana mengembangkan percontohan kluster udang atau shrimp estate di tiga wilayah di Indonesia. Pembentukan kluster udang merupakan salah satu upaya menggenjot peningkatan ekspor udang hingga 250 persen sampai tahun 2024. Pelaksana Tugas Direktur Pakan dan Obat Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan Tri Hariyanto mengemukakan, upaya peningkatan produksi dan ekspor udang akan dilaksanakan melalui pengembangan kluster udang, revitalisasi tambak dan kluster kawasan budidaya udang, serta penyederhanaan perizinan tambak udang.
Tiga lokasi kluster udang itu meliputi Kebumen di Jawa Tengah, dengan potensi 350 hektar, Sumbawa Barat di Nusa Tenggara Barat dengan potensi 5.060 hektar, dan Sulawesi Tenggara dengan potensi seluas 2.487 hektar. Luas kluster udang di tiap wilayah ditetapkan minimal 1.000 hektar. Pada 2022, alokasi program kluster udang direncanakan senilai Rp 250 miliar untuk area 100 hektar atau 33 persen dari pagu anggaran sektor perikanan budidaya.
Upaya lain adalah revitalisasi tambak udang yang akan dilaksanakan di delapan lokasi, meliputi Tanggamus di Lampung; Belitung di Kepulauan Bangka Belitung; Cilacap di Jawa Tengah; Sumbawa di Nusa Tenggara Barat; Tarakan di Kalimantan Utara; serta Pinrang, Luwu, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan. Selain itu, sistem integrasi tambak udang dibentuk dengan mengadopsi kawasan industri perikanan yang ada di Mesir. Di Mesir, luas tambak 1.200 hektar memproduksi 2 miliar ekor udang per satu siklus, yakni empat bulan, dan ditopang teknologi canggih.
Perizinan juga akan disederhanakan dari 21 izin menjadi tiga izin saja. Pemerintah menargetkan kenaikan bertahap ekspor udang hingga 250 persen dalam kurun tahun 2019-2024. Target itu sejalan dengan rencana kenaikan nilai ekspor dari 1,7 miliar dollar AS menjadi 4,25 miliar dollar AS. Secara tahunan, nilai ekspor udang diharapkan tumbuh rata-rata 20 persen, sedangkan pertumbuhan volume ekspor diharapkan rata-rata 15 persen per tahun.RI Siapkan Sejumlah Strategi Genjot Ekspor Sektor Industri
Pemerintah tengah berupaya menggenjot ekspor. Sejumlah strategi pun disiapkan untuk mewujudkan hal tersebut.
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menjelaskan, sektor industri telah menyumbang 77,30% dari total ekspor Indonesia sebesar USS 16,60 miliar. Sektor-sektor yang memberikan sumbangan masih didominasi oleh industri besi dan baja, mesin dan elektronika, perhiasan, alas kaki, kertas dan pulp, pakaian.Hingga Mei 2021 tercatat surplus Indonesia sudah mencapai US$ 10,17 Miliar.
Jerry menilai, semua kementerian, lembaga dan stakeholder harus meningkatkan sinergi dan kolaborasi. Kementerian perdagangan sendiri menurut Jerry bekerja keras dalam hal-hal yang berkaitan dengan sektor hilir seperti pembukaan akses pasar, fasilitasi pameran, pemasaran dan kelancaran supply chain, serta standarisasi dan pengujian kualitas produk.
Ekspor Pupuk Diperkirakan Capai 13,7 Miliar Dollar AS Hingga Akhir 2021
Kementerian Perdagangan memperkirakan ekspor pupuk akan mencapal 13,7 miliar dolar AS hingga akhir 2021. Optimisme tersebut mengemuka setelah Temu Bisnis Produk Kimia Nasional.
Dengan asumsi ekspor bulanan selama delapan bulan (Mei - Desember) sama dengan realisasi selama empat bulan (Januari - April) maka hingga akhir 2021, ekspor produk kimia diperkirakan mencapai 13-13,7 miliar dolar AS atau meningkat sebesar 27,3-33.4 persen dibandingkan tahun 2020.
Didi menegaskan secara keseluruhan, selama periode 2015 -2020, ekspor produk-produk kimia mengalami tren positif, baik dari sisi nilai dan volume, Tren nilai naik 3,2 persen sedangkan tren volume naik 8,2 persen, Sementara, pada periode Januari - April 2021, nilai ekspornya tumbuh signifikan sebesar 38.1 persen.
Dalam pembukaan, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan menyampaikan bahwa permintaan impor dunia naik 4,5 persen selama 2016- 2020, sementara tren ekspor indonesia hanya tumbuh 3.2 persen.
Ekspor Tambang Kalteng Naik 15 Persen
Ekspor bahan hasil tambang seperti batu bara dan emas serta kelapa sawit Provinsi Kalimantan Tengah, mengalami kenaikkan mencapai 15,76 persen. Hal itu berdasar data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik setempat.
Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Kalteng, Akhmad Tantowi menyebutkan, ekspor Kalimantan Tengah pada Mei 2021 senilai 284,43 juta Dolar Amerika, naik sebesar 15,76 persen dibanding April 2021. Sedangkan data impor naik 30,40 persen menjadi 3,26 juta Dolar Amerika.
Lebih jauh Tantowi menyampaikan, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia masih menjadi negara tujuan utama ekspor Kalimantan Tengah selama Mei 2021. Secara kumulatif, nilai ekspor Kalimantan Tengah naik sebesar 45,87 persen dari 821,23 juta Dolar Amerika pada Januari sampai Mei 2020, menjadi 1.197,89 juta Dolar Amerika pada Januari sampai Mei 2021.
Biaya Kargo Melonjak, Ekspor Tekstil Bali Merosot
DENPASAR — Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Bali merosot tajam karena tingginya biaya kargo yang berpengaruh terhadap frekuensi pengiriman barang. Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bali Dolly Suthajaya mengatakan pandemi Covid-19 turut berdampak pada menurunnya lalu lintas transportasi udara maupun laut. Hal ini menyebabkan harga kargo pesawat meningkat dan langka-nya ketersediaan kontainer untuk memenuhi kebutuhan ekspor. “Sebelum pandemi banyak penerbangan ke luar negeri, sehingga ongkos kargo lebih terjangkau. Kalau sekarang lebih menggunakan pesawat khusus logistik, itupun biayanya tinggi dan jarang ada juga,” ujarnya kepada Bisnis, Senin, (5/7). Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali, realisasi ekspor industri TPT pada Januari— Mei 2021 senilai Rp22 miliar atau turun 52% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).
Di sisi lain, penurunan kinerja ekspor juga dialami oleh Provinsi Bengkulu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Bengkulu pada Mei 2021 mencapai US$13,68 juta atau terus mengalami penurunan dalam 4 bulan berturut-turut sejak Februari 2021. Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal mengatakan nilai ekspor Bengkulu pada Mei 2021 turun sebesar 12,47% dibandingkan dengan April sebesar US$15,63 juta. “Kalau kita hitung dari Februari nilai ekspor Bengkulu memang terus mengalami penurunan. Penurunan nilai ekspor pada Mei ini yang paling signifikan dibanding sebelumnya,” ujar Win dikutip dari Antara. Data BPS menyebutkan, pada Februari 2021 nilai ekspor Bengkulu tercatat sebesar US$17,11 juta. Nilai ekspor tersebut turun 7,75% ke angka US$15,78 juta pada Maret. Penurunan kembali terjadi pada April 2021 yang tercatat sebesar US$15,63 juta atau turun 0,94% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
(Oleh - HR1)Gereget Budidaya Lobster
Kebijakan yang dinantikan pelaku usaha budidaya lobster akhirnya tiba. Pemerintah menerbitkan regulasi yang melarang ekspor benih bening lobster untuk tujuan pengembangan budidaya lobster di dalam negeri. Larangan ekspor benih lobster diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus spp) di Wilayah Negara Republik Indonesia, yang diundangkan pada 4 Juni 2021. Aturan itu merupakan revisi terhadap aturan sebelumnya, yakni Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12/2020.
Bergulirnya regulasi baru terkait larangan ekspor benih untuk pengembangan budidaya lobster mengawali babak baru kebangkitan bisnis lobster di Tanah Air. Jika skema penghentian ekspor benih lobster ini berjalan mulus, Indonesia berpeluang untuk bangkit sebagai pengekspor terbesar lobster di dunia. Namun, upaya menggenjot budidaya lobster di Tanah Air tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ibarat pemula, dibutuhkan pendampingan teknis dari hulu hingga hilir serta tata kelola budidaya lobster. Pengaturan benih yang boleh ditangkap, kecukupan pakan, penanganan penyakit, teknologi pembesaran lobster, hingga dukungan pasar menjadi syarat mendasar untuk bisa bangkit.
Di sisi lain, penyelundupan benih bening lobster masih terus berlangsung karena keuntungan sesaat yang menggiurkan. Beberapa waktu lalu, penyelundupan benih lobster terbesar tahun 2021 di Sumatera Selatan terungkap. Tim gabungan Bea dan Cukai Sumatera bagian timur, Polda Sumsel, dan Balai Karantina Ikan Palembang menggagalkan penyelundupan 225.664 benih lobster senilai Rp 33,84 miliar. Benih yang berasal dari Pantai Krui, Kabupaten Pesisir Barat Lampung, itu, direncanakan dikirim ke Malaysia dengan harga sudah mencapai Rp 150.000 per ekor. Sebelumnya, Januari hingga pertengahan Juni 2021, Bea dan Cukai mencatat lima kasus penindakan penyelundupan 228.810 ekor benih lobster dengan nilai Rp 9,77 miliar. Sepanjang 2020, sewaktu kebijakan ekspor benih lobster masih dibuka, terdata 18 kali penyelundupan yang digagalkan Bea dan Cukai dengan total 2,83 juta ekor benih senilai Rp 47,29 miliar.
Pemberlakukan Pajak Ekspor Sawit, Hilir Minta Kelonggaran Insentif
JAKARTA – Revisi pungutan ekspor terhadap produk minyak sawit mentah atau CPO beserta turunannya diyakini mampu mempertahankan struktur ekspor yang didominasi oleh produk hilir. Akan tetapi pelaku usaha tetap berharap banyak pada selisih pungutan yang lebar agar bisa dirasakan manfaatnya sebagai insentif. Lewat penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua atas PMK No. 57/PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, pemerintah secara resmi mengubah batas pengenaan tarif progresif dari semula pada harga CPO US$670 per ton menjadi US$750 per ton.
Saat harga CPO di bawah atau sama dengan US$750 per ton maka tarif pungutan ekspor ditetapkan sebesar US$55 per ton untuk produk CPO. Selanjutnya, setiap kenaikan harga CPO sebesar US$50 per ton akan diikuti dengan kenaikan tarif pungutan sebesar US$20 per ton untuk produk CPO dan US$16 per ton untuk produk turunan sampai harga CPO mencapai US$1.000 per ton. Kenaikan tarif ini lebih rendah dibandingkan aturan terdahulu. Sementara itu, Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan periode 2011–2014 sekaligus ekonom pertanian dari IPB University, mengatakan struktur ekspor CPO dan upaya penghiliran bisa tetap terjaga selama selisih pungutan antara produk hulu dan hilir sebesar US$20 per ton tidak diubah.“Struktur ekspor seharusnya tidak berubah. Bahkan saat crude naik US$20, refined naik US$16 per ton. Masih lebih besar kenaikan untuk produk mentah,” ujarnya.
(Oleh - HR1)Akselerasi Dagang, Bali Dirancang Jadi Hub Ekspor
DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali merancang Pulau Dewata menjadi hub ekspor terutama produk pertanian, kelautan, dan industri kreatif seiring tingginya aktivitas di Pelabuhan Benoa.
Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan terkait dengan rencana menjadikan Pulau Dewata sebagai hub ekspor telah dibicarakan dengan Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, hingga Menteri Pariwisata. Rencana itu didasari oleh aktivitas Pulau ini yang secara alamiah sudah digunakan menjadi hub ekspor produk-produk dari berbagai wilayah, misalnya dari Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa yang melakukan ekspor melalui Pelabuhan Benoa.
Ketua GPEI Bali Panudiana Kuhn mengatakan langkah pertama untuk menjadikan Bali sebagai hub ekspor yakni dengan meningkatkan kompetensi dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang bergerak di dalamnya. Peningkatan SDM tersebut, imbuhnya, dapat melalui pelatihan dan pendidikan vokasi seperti sekolah khusus menjahit untuk memenuhi kebutuhan SDM dalam bidang industri kreatif. “Bali sebenarnya punya peluang, hanya saja memang anak-anak kita banyak yang lebih memilih sekolah di bidang pariwisata. Kalau ada hub ekspor maka dapat membuka peluang untuk bidang lainnya,” jelas Kuhn.
(Oleh - HR1)
Produk Hortikultura, Komoditas Ekspor Pisang Grecek Kutai Timur Diperkuat
BALIKPAPAN — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur serius menggarap potensi buah pisang Kepok Grecek menjadi komoditas ekspor unggulan dengan memperkuat dan mengembangkan produksi.Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur Erry Erriadi mengatakan pengembangan komoditas dilakukan di Kabupaten Kutai Timur dengan didukung oleh pengadaan bantuan kepada petani.“Total pagu anggaran untuk pengadaan benih pisang 27.000 polybag, 385 liter herbisida dan kapur dolomit 80 kilogram adalah Rp702,5 juta,” ujarnya, Jumat (25/6).Dengan total luas tanam mencapai 1.700 hektare (ha), kata Erry, masih ada potensi lahan mencapai 500 ha untuk pengembangan komoditas pisang di Kutim yang akan dialokasikan pada tahun anggaran 2022.Dari sisi pemasaran, pisang Kepok Grecek sudah berhasil diekspor ke Malaysia dan memenuhi pasar lokal untuk Samarinda, Balikpapan, Bontang dan Sangatta.
Sementara itu, Ketua Koperasi Taruna Bina Mandiri, Priyanto menyatakan komoditas pisang Kepok Grecek dari Desa Kadungan Jaya, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur sudah diekspor ke Malaysia. “Dikirim dari Jakarta langsung ke Kuala Lumpur,” ujarnya.Dia menjelaskan pengiriman langsung dari Balikpapan ke Malaysia tidak memungkinkan mengingat jumlah muatan kurang sehingga dikirim melalui Jakarta dengan waktu tempuh perjalanan selama 13 hari. Ekspor ke Malasyia sudah berlangsung sejak 2019 rata-rata dua kali pengiriman dalam sebulan.Terakhir, Koperasi Taruna Bina Mandiri melakukan ekspor pada 20 Juni 2021 sebanyak dua kontainer 20 feet yang mencapai 34 ton, dan kembali pada 24 Juni sebanyak dua kontainer 20 feet mencapai 36 ton.
(Oleh - HR1)Pilihan Editor
-
Mencegah Korona Tak Masuk Bank
06 Jun 2020 -
Mendorong Ekonomi atau Menjaga Kesehatan
06 Jun 2020 -
BNI Syariah Perluas Jangkauan Internasional
31 May 2020 -
Mal dan Retail Siapkan Rencana Buka 8 Juni
31 May 2020 -
Menggulirkan New Normal dari Sudut Mal
28 May 2020









