;
Tags

Ekspor

( 1057 )

Dimulainya Ekspor Pasir Laut

KT3 10 Sep 2024 Kompas

Pemerintah menerbitkan regulasi untuk mengimplementasikan kebijakan ekspor pasir laut dengan persyaratan kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Implementasi ekspor pasir laut diatur dalam PP No 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut. Di samping itu, sebagai tindak lanjut atas usulan KKP, dilakukan revisi dua peraturan Mendag di bidang ekspor, yang tertuang dalam, Permendag No 20 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Permendag No 22 Tahun 2023 tentang Barang yang Dilarang iekspor. Kedua, Permendag No 21 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Permendag No 23 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor.

Kedua permendag itu diundangkan pada 29 Agustus 2024. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Isy Karim mengemukakan, revisi dua permendag untuk pengaturan ekspor pasir, laut merupakan amanah PP No 26 Tahun 2023 dan merupakan usulan KKP sebagai instansi pembina atas pengelolaan hasil sedimentasi di laut. ”Ekspor hasil sedimentasi di laut berupa pasir laut dapat ditetapkan sepanjang kebutuhan dalam negeri terpenuhi dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Isy dalam keterangan pers, Senin (9/9).

Hingga April 2024 terdata 66 pelaku usaha yang mendaftarkan konsesi penambangan pasir laut dengan volume sedikitnya 3,3 miliar meter kubik. Setiap perusahaan mengajukan volume penambangan pasir laut yang bervariasi, yakni mulai dari 50 juta hingga 200 juta meter kubik (Kompas.id, 24/4/2024). Perusahaan- perusahaan itu, menurut rencana, bermitra dengan 51 perusahaan kapal isap pasir laut serta 54 perusahaan pembeli pasir laut dari dalam dan luar negeri. Beberapa perusahaan mitra calon pembeli pasir laut tercatat berasal dari China, Johor (Malaysia), dan Brunei Darussalam. Sementara, perusahaan kapal isap yang diusulkan berasal dari Belanda, Belgia, Jepang, Singapura, dan China. (Yoga)


Menggarap Pasar Ekspor Ikan Hidup Premium yang Sedang Tren

KT3 09 Sep 2024 Kompas

Pasar ekspor ikan hidup terbuka seiring tren permintaan dunia terhadap komoditas ikan premium. Produk ikan air laut ataupun air tawar hidup kian digemari dan bernilai tinggi. Indonesia punya potensi menggarap segmen tersebut meski tak semudah membalik telapak tangan. Pendiri dan Direktur PT Mina Jaya Wysia, Udin, mengungkapkan, selama 24 tahun menjalankan bisnis pemasaran ikan, muncul tren konsumsi ikan hidup di pasar luar negeri. Tren ini terus meningkat. Pengiriman ekspor ikan hidup sempat tertahan selama masa pandemi Covid-19, tapi saat ini berangsur pulih. Ekspor komoditas ikan hidup itu didominasi lobster konsumsi 70 %, 20 % berupa ikan jenis lainnya, dan 10 % berupa kerang-kerangan.

Setiap hari, pihaknya mengirim ikan hidup ke luar negeri rata-rata 1-2 ton dengan tujuan utama pasar China, Hong Kong, dan Korsel. Komoditas ikan hidup yang mendominasi pasar ekspor, di antaranya, kerapu, udang ronggeng, kerang, sidat, dan lobster. Semua komoditas itu merupakan hasil tangkapan alam. ”Pasar luar negeri lebih suka ikan hasil tangkapan alam karena tekstur lebih kenyal dan cita rasanya lebih enak. Berapa pun (ikan hidup) yang ada kami kirim. Permintaan ekspor bahkan mengikuti stok karena kekurangan pasokan ikan hidup,” ujar Udin, akhir Agustus 2024. Guna memenuhi permintaan pasar ekspor ikan hidup itu, ia bermitra dengan 160 pengepul ikan dan nelayan dari sejumlah daerah.

Sebagian ekspor ikan-ikan hidup langsung mengisi kebutuhan hotel, restoran, hingga katering. Kegemaran orang menyantap masakan segar mendorong kebutuhan penyediaan ikan hidup. Pasokannya yang terbatas mendongkrak harga, contohnya, harga ekspor udang ronggeng hidup Rp 800.000-Rp 1 juta per kg. Padahal, bobot tiap ekor udang ronggeng 100 gram atau maksimal 10 ekor per kg. Harga bawal, mencapai Rp 400.000 per kg atau lima kali lipat dibanding harga ikan bawal beku berkisar Rp 60.000-Rp 80.000 per kg. Permintaan lobster pasir hidup ukuran konsumsi ke pasar China juga terus mengalir dengan harga sekitar Rp 400.000 per kg atau dua kali lipat harga lobster segar Rp 200.000 per kg.

Berbeda dengan ikan hidup, ikan segar adalah ikan yang mati tidak lama setelah dipanen, tetapi belum mengalami pembekuan. Ikan hanya bertahan dalam waktu singkat. Terkait pengemasan dan pengiriman ikan hidup disesuaikan dengan jenis ikan dan daya tahan hidup selama waktu pengiriman. Contoh, ikan sidat yang dikemas dengan kantong berisi air dan oksigen mampu bertahan hidup 25-30 jam dalam perjalanan. Sementara, lobster konsumsi yang dikemas tanpa air dalam kondisi tubuh lemas atau ”pingsan” hanya mampu bertahan maksimal 20 jam perjalanan. Sementara udang ronggeng yang dikemas pada wadah kering beroksigen hanya bertahan hidup 18-20 jam. Meski demikian, tidak semua ikan hidup untuk konsumsi bebas ditangkap di alam. (Yoga)


Inggris Menangguhkan Ekspor Senjata

KT3 04 Sep 2024 Kompas

Pemerintah Inggris menangguhkan 30 dari 350 izin ekspor persenjataan ke Israel. Namun, izin ekspor suku cadang jet F-35, yang dipakai Israel untuk mengebom Gaza dan Tepi Barat, tidak termasuk yang ditangguhkan. Menlu Inggris David Lammy mengumumkan penangguhan di parlemen, Senin (2/9) di London. Suku cadang jet tempur, pesawat nirawak, dan helikopter akan terdampak. ”Ini bukan larangan total, bukan embargo senjata,” ujarnya. Menurut BBC, pengumuman itu lebih bersifat politis daripada berdampak secara militer. Porsi ekspor senjata Inggris ke Israel hanya 1 % dari seluruh impor pertahanan Israel. Hingga 69 % persenjataan Israel dipasok AS.

Pemerintah Inggris juga tidak menjual langsung persenjataan ke Israel. Inggris hanya menerbitkan izin ekspor bagi produsen untuk menjual senjata ke Israel. Menurut Lammy, penangguhan akan dicabut jika Inggris menilai risiko berkurang. ”Penilaian membuat saya tidak bisa menyimpulkan selain bahwa untuk sebagian ekspor senjata Inggris ke Israel, ada risiko jelas senjata itu dipakai untuk melakukan atau memfasilitasi pelanggaran serius hukum kemanusiaan internasional,” ujarnya. Meski menangguhkan izin ekspor, London tidak menyimpulkan ada pelanggaran hukum internasional oleh Israel di Gaza dan Tepi Barat. (Yoga)


Strategi Indonesia Menembus Pasar Afrika dengan Transfer Teknologi

KT3 04 Sep 2024 Kompas

Pupuk berbahan batubara buatan warga Indonesia, Raden Umar Hasan Saputra, diminati di Afrika. Enam negara di Afrika telah meminta transfer teknologi pembuatan pupuk tersebut, diikuti pembangunan pabrik berkapasitas jutaan ton per tahun. Transfer teknologi dinilai sebagai celah besar untuk masuk pasar Afrika yang saat ini dikuasai China. Tingginya minat Afrika terhadap pupuk batubara itu terlihat dalam ajang Forum Indonesia Afrika (IAF) 2024. Dari lima kepala negara yang hadir di IAF, dua di antaranya langsung menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk transfer teknologi pembuatan pupuk batubara tersebut. Kedua negara itu adalah Liberia dan Zimbabwe. Adapun Eswatini langsung meminta pembangunan pabrik di lokasi. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Kementan Liberia, PT Saputra Global Harvest sebagai produsen pupuk batubara, dan Dubes RI untuk Nigeria, Selasa (3/9) di Nusa Dua, Badung, Bali.

Kerja sama ini merupakan bagian dari IAF 2024 yang berlangsung 1-3 September 2024. ”Potensi nilai kesepakatan bisnis dari IAF ini 5 juta USD,” kata Saputra, pencipta pupuk batubara sekaligus Komisaris Utama PT Saputra Global Harvest. Di Indonesia, pupuk batubara itu menggunakan merek Futura. Sementara di luar negeri, pupuk yang telah dipatenkan di AS itu disebut coal fertilizer. Pupuk ini hasil penelitian tentang aktivasi unsur hara dalam batubara yang dilakukan Saputra selama tujuh tahun. Pupuk itu disebutkan mempunyai keunggulan memperbaiki unsur hara. Saat ini, pabrik pupuk batubara telah berjalan di tiga negara di Afrika, yaitu Nigeria, Botswana, dan Malawi. (Yoga)


Derita Petani Sawit Dampak Merosotnya Eskpor

KT1 29 Aug 2024 Tempo

SERIKAT Petani Kelapa Sawit (SPKS) mengeluhkan dampak penurunan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) belakangan ini. Kepala Departemen Advokasi SPKS Marselinus Andry mengatakan penurunan ekspor CPO berimbas langsung pada harga tandan buah segar atau TBS produksi petani.

Ekspor CPO turun ketika permintaan global terhadap CPO anjlok. Berkurangnya pasokan CPO di pasar internasional pada akhirnya menekan harga CPO di pasar dunia. Untuk mengurangi kerugian akibat penurunan ekspor dan penumpukan pasokan di dalam negeri, pabrik sawit menekan harga pembelian TBS dari petani. "Lebih terkena dampak lagi petani swadaya yang rantai pasoknya panjang," ujar Marselinus kepada Tempo, kemarin, 28 Agustus 2024.

Adapun SPKS mencatat harga TBS milik petani swadaya kini Rp 1.700-2.000 per kilogram. Sedangkan penetapan harga TBS saat ini sebesar Rp 2.500-2.800 per kilogram. Beban petani bertambah berat akibat perubahan musim. Di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, misalnya, Marselinus berujar, perubahan musim dari hujan ke kemarau saat ini membuat produksi merosot. (Yetede)

Ekspansi ke Pasar Ekspor

HR1 28 Aug 2024 Kontan

Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terus melebarkan sayap ke pasar ekspor. Kali ini, KLBF tengah menyasar Afrika dan Timur Tengah, sembari tetap memperkuat kehadirannya di pasar Asia Tenggara. Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy mengatakan, sebagai langkah awal, KLBF perlu mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di masing-masing negara. KLBF juga gencar memperkuat posisi di Asia Tenggara. Khususnya di Filipina, Myanmar dan Malaysia. Ketiga negara ini memberikan pertumbuhan yang baik terhadap penjualan KLBF di kawasan ASEAN. Untuk pasar ASEAN, KLBF mulai memperkuat posisi di Thailand. Pada pertengahan 2024, KLBF melalui anak usahanya Kalbe International Pt Ltd. telah mengakuisisi 49% saham Alliance Pharma Co Ltd. 

Dengan aksi korporasi itu, peluang melakukan penetrasi pasar di Negeri Gajah Putih telah terbuka lebar. Kartika mengatakan, pasar Thailand khususnya obat resep sangat positif, khususnya obat-obatan khusus, onkologi dan kanker. Demi menjaga margin, KLBF juga berupaya melepas ketergantungan dari bahan baku impor yang rentan dipengaruhi fluktuasi rupiah. KLBF pun berupaya meningkatkan kemampuan untuk memproduksi bahan baku obat sendiri. Terbaru, KLBF telah menjalin kerja sama dengan Livzon Pharmaceutical Group Inc dengan mendirikan perusahaan patungan untuk memproduksi bahan baku obat yang akan dimanfaatkan untuk pasar dalam dan luar negeri. Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, segmen obat speciality KLBF seperti onkologi dan biosimilar akan meningkat secara bertahap di masa mendatang. Natalia mempertahankan rekomendasi beli KLBF dengan target harga di Rp 1.800 per saham.

Hak Ekspor Produk Turunan Sawit Berpotensi Menumpuk

KT3 22 Aug 2024 Kompas

Pasar utama ekspor produk turunan kelapa sawit diperkirakan masih lemah hingga akhir tahun ini, yang berpotensi menyebabkan hak ekspor komoditas andalan utama Indonesia tersebut menumpuk lagi. Hak ekspor merupakan insentif pemerintah bagi para eksportir produk turunan sawit yang memenuhi kewajiban memasok kebutuhan pasar domestik (DMO) minyak goreng rakyat. Dengan hak ekspor itu, mereka bisa mengekspor CPO dan turunan sebanyak empat kali volume penyaluran DMO. Mereka juga bisa memperoleh pengali ekspor dari pengemasan dan distribusi minyak goreng ke luar Jawa masing-masing 2-2,25 kali dan 1,3-1,65 kali. Hal itu merupakan amanat Pasal 11 Permendag No 18 Tahun 2024 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat yang diundangkan pada 14 Agustus 2024.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, Rabu (21/8) mengatakan, saat ini, hak ekspor CPO dan produk turunan 3,6 juta ton, berkurang cukup signifikan dari Maret 2024 di 5,58 juta ton. ”Ini berkat lonjakan ekspor produk turunan sawit pada Juni 2024. Namun, peningkatan ekspor tersebut tidak bertahan lama dan justru turun pada Juli 2024,” ujarnya. BPS mencatat, volume ekspor CPO tertinggi sepanjang Januari-Juli 2024 hanya terjadi pada Juni 2024, yakni 2,67 juta ton. Selain itu, kisaran volume ekspornya hanya 1,4 juta-1,8 juta ton. Pada Juli 2024, volume ekspor CPO dan produk turunan hanya 1,62 juta ton, turun 64,81 % secara bulanan.

”Jika kondisinya tetap sama hingga akhir tahun ini, pertumbuhan ekspor CPO RI bakal melambat dan bakal menyebabkan hak ekspor menumpuk lagi,” katanya. Pada Maret 2024, hak ekspor produk turunan sawit menumpuk hingga mencapai 5,58 juta ton atau setara 2,5 bulan kebutuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut. Penumpukan itu terjadi lantaran pasar ekspor CPO melemah (Kompas, 13/3/2024). Kendati begitu, ekspor CPO RI masih berpeluang tumbuh hingga akhir tahun ini. Utamanya jika ada gangguan panen raya biji bunga matahari dan rapeseed di UE pada akhir Agustus-September 2024. (Yoga)


Ekspor Ratusan Ton Kelapa ke China dari Sultra

KT3 20 Aug 2024 Kompas

Sebanyak 646 ton kelapa asal Sultra diekspor secara bertahap ke pasar China. Pengiriman ini menandakan besarnya potensi komoditas nontambang wilayah ini. Selama ini kekayaan hasil bumi Sultra tertekan masifnya pertambangan nikel dan belum adanya keseriusan pengembangan hingga hilirisasi. Pada Senin (19/8) sebanyak 54 ton kelapa bulat diekspor dari Pelabuhan Pelindo Kendari, Sultra. Ekspor ini bagian dari total 646 ton yang akan diekspor secara bertahap ke China. Nilai ekspor mencapai Rp 2,5 miliar. Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean menuturkan, ekspor kelapa menjadi poin penting untuk pengembangan komoditas di daerah. Hal ini menunjukkan potensi hasil perkebunan menembus pasar dunia.

”Kita punya banyak sumber daya, salah satunya kelapa. Ikan juga besar potensinya, bahkan mencapai Rp 476 miliar. Kami berharap ekspor berbagai hasil pertanian, perkebunan, dan kelautan terus ditingkatkan. Ini menjadi tugas kita bersama,” kata Sahat, usai melepas ekspor tersebut. Kelapa merupakan komoditas yang banyak terdapat di Sultra hingga Kalimantan dan Sulawesi. Namun, potensinya belum banyak dikelola untuk pasar yang lebih luas. Padahal, selain kelapa bulat, santan hingga serabut kelapa juga sangat terbuka untuk diekspor. Karena itu, pihaknya terus berusaha menjembatani dengan kementerian teknis dan pemda agar hasil bumi dan laut berorientasi ekspor. Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah persoalan kualitas dari hulu hingga ke hilir. (Yoga)


Optimalisasi Kinerja Ekspor

KT1 14 Aug 2024 Investor Daily (H)
Pemerintah bertekad memperkuat kinerja ekspor  untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah  dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Khususnya ekspor yang terkait dengan barang-barang yang biasa diperdagangkan di pasar luar negeri atau telah biasa di ekspor dan diimpor atau disebut tradable goods. Namun, diperlukan pengolahan lebih lanjut dari komoditas yang diekspor agar bisa memberikan nilai tambah produk yang berujung pada peningkatan kualitas produk ekspor. "Ekspor adalah jawabannya untuk menghasilkan mata uang dan ekspor dalam bentuk tradable goods," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa dalam acara Investor Daily Roundtable. Menururt Suharso, yang diekspor jangan hanya terbatas pada produk mentah tetapi harus dikelola menjadi produk turunan. Khususnya dalam mengoptimalkan sektor terkait atau bacward linkage yang terhubung dengan produk ekspor. (Yeted)

Strategi Baru Tingkatkan Ekspor Furnitur Lokal

HR1 14 Aug 2024 Bisnis Indonesia

Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan penetrasi produk furnitur asal Indonesia di negara tujuan ekspor baru guna menyiasati pelemahan permintaan yang terjadi di pasar tradisional produk nasional. Kementerian Perindustrian mengaku bakal menyusun strategi yang berfokus kepada lima hal, yaitu fasilitasi keter-sediaan bahan baku; fasilitasi ketersediaan SDM terampil; fasilitasi peningkatan pasar dan penguatan riset referensi pasar; fasilitasi peningkatan produktivitas, kapasitas, dan kualitas produk; serta fasilitasi iklim usaha kondusif dan peningkatan investasi. Selain itu, untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku industri furnitur, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pemberian fasilitas insentif perpajakan berupa tax allowance, serta kemudahan prosedur ekspor produk hilir dan impor bahan baku atau bahan penolong. “Semua program tersebut merupakan wujud keberpihakan pemerintah agar industri dalam negeri dapat berdaulat, maju, dan berdaya saing,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, Selasa (13/8).

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian dan di bawah kepemimpinan Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika, telah mengimplementasikan berbagai strategi komprehensif untuk meningkatkan daya saing dan penetrasi pasar global produk furnitur domestik. Dengan fokus pada fasilitasi bahan baku, pengembangan sumber daya manusia terampil, ekspansi pasar, peningkatan produktivitas dan kualitas produk, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif melalui insentif perpajakan dan kemudahan prosedur ekspor-impor, sektor furnitur menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah dua tahun mengalami kontraksi. Upaya ini juga didukung oleh partisipasi aktif dalam pameran internasional seperti IndexPlus Delhi 2024 dan pemanfaatan peluang di pasar non-tradisional seperti India, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri furnitur Indonesia di kancah global.