Ekspor
( 1057 )Strategi Menyeimbangkan Ekspor dan Impor
Kementerian Perhubungan dan Polri, sedang mematangkan kebijakan pembatasan operasional truk dengan tiga sumbu selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 di beberapa jalur strategis. Meskipun kebijakan ini bertujuan mengurangi kemacetan, sejumlah kalangan dunia usaha, terutama eksportir dan importir, mengkhawatirkan dampak negatifnya. Mereka menyatakan bahwa pembatasan truk sumbu tiga akan meningkatkan biaya logistik dan mengganggu aktivitas perdagangan, termasuk ekspor-impor, dengan potensi penundaan pengiriman barang dan meningkatnya biaya distribusi.
Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), berharap pemerintah tidak melarang truk sumbu tiga, melainkan memberikan izin dengan ketentuan tertentu. Subandi, Ketua Umum GINSI, juga menyarankan agar penanganan lalu lintas selama Nataru dibedakan dari Idulfitri, karena lalu lintas cenderung lebih sepi. Iman Gandi, Sekjen ALFI, menekankan bahwa pembatasan ini dapat menaikkan biaya logistik hingga lebih dari 30%, dan mengganggu aktivitas manufaktur dan distribusi barang. Pemerintah juga sedang melakukan evaluasi untuk mengantisipasi masalah transportasi terkait pelarangan truk, meskipun fokus evaluasi saat ini lebih kepada angkutan manusia, bukan barang.
Para pelaku industri berharap agar pemerintah melakukan pengelolaan lalu lintas secara lebih efektif dan mempertimbangkan kebutuhan ekspor-impor dalam kebijakan ini.
China Larang Ekspor Mineral Penting ke AS
Beijing segera membatasi ekspor mineral yang vital untuk produksi semikonduktor dan peralatan militer ke AS. Pembatasan ini diumumkan sehari setelah Washington mengumumkan pembatasan ekspor semikonduktor canggih ke perusahaan China. Langkah China dinilai sebagai balasan telak atas kebijakan AS. ”Untuk menjaga kepentingan keamanan nasional dan memenuhi kewajiban internasional, seperti nonproliferasi, China memutuskan untuk memperkuat kontrol ekspor pada barang-barang penggunaan ganda yang relevan ke AS,” kata pernyataan Kemendag China yang diumumkan di Beijing, China, Selasa (3/12). Bahan-bahan yang dilarang untuk diekspor, antara lain logam galium, antimon, dan germanium. Untuk ekspor grafit, pembatasan ekspor akan dilakukan dengan peninjauan lebih ketat terkait siapa pengguna dan penggunaan akhirnya.
Grafit termasuk komponen utama untuk pembuatan semikonduktor dan kendaraan listrik. Kemendag China juga menegaskan, setiap organisasi atau individu di negara atau wilayah mana pun yang melanggar peraturan yang relevan akan dimintai pertanggungjawaban menurut hukum. Sebelumnya, Washington mengumumkan pembatasan penjualan semikonduktor canggih kepada 140 perusahaan China, di antaranya perusahaan cip China Piotech dan SiCarrier. Pembatasan itu semakin mengekang kemampuan China untuk memproduksi cip yang merupakan komponen utama pembuatan sistem persenjataan canggih dan akal imitasi (AI) atau kecerdasan buatan. Pernyataan Kemendag China menambahkan, AS telah memolitisasi dan menggunakan isu-isu ekonomi, perdagangan, dan teknologi sebagai senjata dalam pembatasan ekspor mereka.
Selama ini, China menguasai pasokan mineral penting. Menurut laporan dari Uni Eropa yang diterbitkan tahun 2024, China menyumbang 94 % produksi galium dunia pada 2023. Logam ini vital dalam pembuatan sirkuit terpadu, LED, dan panel fotovoltaik yang digunakan dalam panel surya. Tahun lalu, China menyumbang 83 % produksi germanium dunia. Logam Germanium sangat penting untuk pembuatan serat optik, teknologi inframerah, dan panel surya. China juga menyumbang 48 % suplai antimon dunia pada 2023. Antimon digunakan dalam pembuatan peluru, senjata nuklir, misil berpemandu inframerah, baterai, dan fotovoltaik atau teknologi yang mengubah sinar matahari menjadi listrik. (Yoga)
Prabowo Optimistis RI Tidak Impor Beras Lagi Tahun 2025
IKM Rendang dengan Pengemasan Standar Kualitas Ekspor
Pelaku industri kecil menengah (IKM) mengemas rendang di Sentra Rendang Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (28/11/2024). Pemerintah Kota Padang memfasilitasi IKM yang terseleksi untuk menggunakan gedung sentra rendang dalam memproduksi dan mengemas produk rendang mereka yang sesuai standar kualitas ekspor, dalam memenuhi standar kemasan dari negara-negara tujuan untuk menembus pasar ekspor. (Yoga)
Agustina Widayati Membawa Gerabah Pundong Menembus Pasar Export
Agustina Widayati (40) hanya lulusan SMA. Namun, kreativitas dan semangat ingin maju membuat perempuan asal Kecamatan Pundong, Bantul, DI Yogyakarta, ini bisa membawa kerajinan gerabahnya menembus pasar ekspor ke sejumlah negara. Bersama sang suami, Parjono (50), Agustina merintis usaha kerajinan gerabah atau keramik di Desa Srihardono, Pundong, pada 2003. Usaha yang diberi nama Parjono Keramik Jaya (PKJ) itu betul-betul dimulai dari nol. ”Awalnya kami memproduksi gerabah yang sangat standar, yakni gerabah yang habis dibakar kemudian dijual, tanpa dicat atau diproses. Istilahnya gerabah merahan,” kata Agustina di rumah sekaligus tempat usahanya, Senin (25/11).
Sebelum merintis usaha itu, sang suami telah memiliki bekal keterampilan dari pekerjaannya sebagai desainer di tempat usaha kerajinan gerabah serupa di Pundong. Kecamatan itu dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan gerabah di DIY, bersama Kasongan yang juga telah melegenda. ”Setelah menikah, suami membuat usaha gerabah sendiri karena kalau ikut kerja dengan orang terus penghasilannya tak bisa menghidupi keluarga secara layak,” ujar Agustina. Parjono mengurus produksi, Agustina menangani pemasaran dan desain. Dari produksi gerabah sederhana itu, keduanya terus meningkatkan keterampilan dan kualitas produk dengan memakai bahan baku tanah liat terbaik dari Kasongan berciri khas warna terakota. Selain itu, variasi jenis produk dan modelnya juga terus dia kembangkan.
Agustina rajin mengikuti tren gerabah terkini lewat berbagai pelatihan, pameran, ataupun sumber-sumber lain. Kini, jenis produk yang dibuat PKJ di antaranya mencakup guci, vas, kap lampu, tempat lilin, hingga mangkuk buah. Kapasitas produksinya mencapai 2.000 buah gerabah per bulan. Pada 2015, Agustina menyewa lahan di depan rumahnya untuk gudang produksi untuk memperluas pemasaran dan meraih kepercayaan sejumlah vendor di Yogyakarta, yang membeli dalam skala besar gerabah dari perajin kemudian mengekspornya. Agustina mengombinasikan gerabah dengan anyaman rotan. Metode tersebut dipakainya sejak 2018 dan menjadi salah satu spesialisasi PKJ. Selain itu, dia mengembangkan desain gerabah dengan cat bakar sehingga memunculkan tekstur permukaan yang unik, membuat gerabah memiliki tampilan rustik atau seperti fosil.
Pada 2018, Agustina mendapat penghargaan Satu Indonesia Awards tingkat Provinsi DIY dari Astra, karena dia juga mempekerjakan penyandang disabilitas dalam usahanya. Agustina mengikuti berbagai pelatihan untuk mempelajari seluk-beluk proses ekspor. Peluang muncul saat mengikuti pameran Indonesia International Furniture Expo (Ifex) di Jakarta pada 2023. ”Waktu itu produk saya diminati calon pembeli dari Yunani, Mauritius, dan Dubai (UEA). Yang pertama pesan pembeli dari Yunani sebanyak 1.000 vas yang diekspor Agustus 2023. Menyusul pesanan dari Mauritius,” katanya. Pasar ekspor berikutnya dia dapatkan saat mengikuti Jogjakarta International Furniture and Craft Fair (Jiffina) 2024. Waktu itu, dua calon pembeli dari Perancis dating langsung ke rumah dan tempat produksinya. Menurut Agustina, penghasilan dari ekspor langsung lebih tinggi ketimbang menjual ke vendor. (Yoga)
Produksi Perikanan bertumbuh
Pekerja terlihat sedang memasukkan ikan cakalang yang telah dipilah berdasarkan ukuran di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta, Senin (25/11/2024). Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, nilai ekspor hasil perikanan sampai September 2024 tercatat mencapai 4,23 miliar dollar AS atau bertumbuh dan naik 3,1 persen dibandingkan periode serupa pada tahun lalu. (Yoga)
Sokong Pertumbuhan dengan tiga syarat ekspor
Ekonomi Indonesia bisa tumbuh 8 % pada 2029 jika tiga prasyarat ekspor terpenuhi. Untuk mencapainya, pemerintah bakal menggulirkan dua langkah konkret, yakni hilirisasi komoditas dan menjadikan industri kecil menengah menjadi bagian rantai pasok industri besar. Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Kamis (21/11) mengatakan, ekspor menjadi bagian strategi utama pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 % pada 2029. Ada tiga prasyarat utama ekspor dapat mendukung target pertumbuhan itu tercapai. Pertama, ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi harus meningkat. Targetnya, nilai ekspor nonmigas Indonesia bisa naik dari 259 miliar USD pada 2023 menjadi 400 miliar USD pada 2029.
”Dalam kurun waktu itu, target pangsa ekspor global harus tumbuh dari 1,1 % menjadi 1,4 %,” ujarnya dalam Seminar Nasional ”Proyeksi Ekonomi Indonesia” yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara hibrida di Jakarta. Prasyarat kedua, partisipasi Indonesia dalam rantai pasok global harus semakin kuat. Targetnya, partisipasi tersebut dapat tumbuh dari 0,8 % pada 2022 menjadi 1,2 % pada 2029. Ketiga, Indonesia juga harus meningkatkan ekspor jasa. Ekspor jasa ditargetkan naik dari 23,2 miliar USD pada 2022 menjadi 42,2 miliar USD pada 2029. ”Ketiga prasyarat itu perlu ditopang dengan peningkatan daya saing serta penguatan diplomasi ekonomi dan promosi ekspor,” katanya. (Yoga)
Target Ekspor RI dibayangi Efek Trump
Target ekspor nasional 2025-2029 untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 % pada 2029 menghadapi tantangan berat. Dua di antaranya adalah kebijakan perdagangan AS di era kepemimpinan Donald Trump dan deindustrialisasi akibat serbuan produk-produk impor. Kemendag telah membuat target tahunan pertumbuhan ekspor seiring target tahunan pertumbuhan ekonomi 2024-2029. Agar ekonomi RI tumbuh 5,06 % pada 2025, ekspor ditargetkan tumbuh 7,01 % atau senilai 294,45 miliar USD. Target pertumbuhan ekonomi dan ekspor tersebut terus meningkat setiap tahun. Hingga 2029, ekspor ditargetkan tumbuh 9,64 % menjadi 405,69 miliar USD agar ekonomi RI dapat tumbuh 8 %.
Anggota Komisi VI DPR, Amin AK, Rabu (20/11) mengatakan, kinerja neraca perdagangan Indonesia memang masih surplus. Namun, dari waktu ke waktu tren surplus tersebut cenderung turun. ”Di tengah kondisi itu, tantangan sektor perdagangan makin berat. Apalagi Trump akan menaikkan tarif semua produk impor yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekspor Indonesia ke AS,” ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Kemendag di Jakarta. Trump berencana menaikkan tarif impor 10-20 % terhadap semua barang yang masuk pasar AS. Bahkan, tarif impor barang asal China akan dinaikkan 60-100 %. Trump juga berencana mengevaluasi kembali sistem tarif preferensi umum (GSP). Kebijakan itu berpotensi menghilangkan keistimewaan bea masuk barang tertentu ke pasar AS yang didapat negara berkembang, termasuk Indonesia. (Yoga)
Dorong Ekspor Nonkomoditas untuk Diversifikasi Ekonomi
Upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) di bawah kepemimpinan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam mengatasi tantangan ekspor dan impor Indonesia. Dalam menghadapi ketidakpastian pasar global dan fluktuasi harga komoditas, Budi Santoso menekankan pentingnya peningkatan ekspor nonkomoditas, dengan fokus pada sektor industri dan produk bernilai tambah, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekspor sektor pertanian yang meskipun kecil, memberikan sinyal positif bagi diversifikasi ekspor Indonesia. Ekspor sektor industri, yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan meskipun sektor pertambangan dan migas terdampak oleh tantangan global.
Namun, Budi juga mengakui bahwa Indonesia masih bergantung pada impor untuk mendukung produksi dan investasi, terutama impor bahan baku dan barang modal yang menunjang aktivitas industri domestik. Meski demikian, ketergantungan pada impor barang konsumsi juga mengalami kenaikan, yang menunjukkan adanya tantangan dalam menekan impor barang konsumsi.
Di sisi lain, pemerintah menghadapi masalah serius terkait dengan banjir impor ilegal, khususnya dalam sektor tekstil. Dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Budi Santoso mendapat sorotan tajam terkait efektivitas Satgas Pengawasan Barang Impor Ilegal yang dibentuk untuk menanggulangi masalah ini. Meski telah melakukan penyitaan terhadap barang-barang ilegal, seperti 90.000 rol kain tekstil ilegal asal China, DPR mempertanyakan mengapa impor ilegal masih terus membanjiri pasar Indonesia. Anggota DPR, seperti Darmadi Durianto dan Amin, menilai bahwa regulasi yang diterbitkan Kemendag sering berubah-ubah, dan hal ini menyebabkan kebingungan serta ketidakefektifan dalam pengawasan.
Menteri Budi Santoso menjelaskan bahwa tindakan penyitaan barang-barang ilegal dilakukan karena tidak memenuhi syarat administratif yang ditetapkan, dan ia berjanji akan terus berkoordinasi dengan tim Satgas untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, ia juga menyadari perlunya kebijakan yang lebih stabil dan lebih terkoordinasi agar dapat mengurangi ketergantungan pada impor serta mengatasi penyelundupan barang ilegal yang merugikan industri domestik.
Secara keseluruhan, meskipun Kemendag berupaya memperkuat ekspor nonkomoditas dan mengurangi ketergantungan pada impor, tantangan yang dihadapi, terutama terkait dengan impor ilegal dan ketidaktepatan regulasi, masih menjadi hambatan besar dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Ambisi Tinggi Pertumbuhan Ekspor Nasional
Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), yang dipimpin oleh Fajarini Puntodewi, menargetkan pertumbuhan ekspor Indonesia yang ambisius dalam beberapa tahun mendatang. Target pertumbuhan ekspor Indonesia untuk 2025 dipatok antara 7,1% hingga 9,64%, dengan tujuan mencapai ekspor sebesar US$405,69 miliar pada 2029. Kemendag optimis bahwa neraca perdagangan Indonesia akan tetap surplus pada akhir tahun 2024, didukung oleh kinerja ekspor yang terus meningkat, seperti tercatat dalam data BPS yang menunjukkan kenaikan ekspor nonmigas.
Namun, tantangan datang dari kebijakan perdagangan internasional, terutama dengan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS. Fajarini mengingatkan bahwa kebijakan proteksionis yang diterapkan Trump, seperti penambahan tarif impor terhadap berbagai barang dari negara mitra utama Indonesia seperti China, dapat berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Meskipun demikian, ia berharap kebijakan tersebut tidak mengganggu pertumbuhan ekspor Indonesia yang terus menunjukkan hasil positif sejak masa pemerintahan Trump sebelumnya. Selain itu, kebijakan tarif ini berpotensi menaikkan harga barang global, yang mungkin memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengisi celah pasar, terutama dalam sektor barang-barang yang terpengaruh oleh tarif tinggi.
Di sisi lain, ekonom Yusuf Rendy Manilet mengingatkan bahwa meskipun Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan pada periode Januari hingga Oktober 2024, pencapaian tersebut masih jauh dari target yang lebih tinggi. Pelemahan rupiah dan berkurangnya aliran mata uang asing dapat memperburuk kondisi ini, yang pada gilirannya bisa memicu kenaikan harga barang impor.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat tantangan geopolitik dan perdagangan global, target Kemendag yang optimistis untuk pertumbuhan ekspor Indonesia tetap ada, dengan harapan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan peluang dalam dinamika perdagangan global yang berubah.
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









