Ekonomi Makro
( 699 )Paradigma Pengembangan Industri Perlu Didesain Ulang
Pemerintah menargetkan Indonesia bisa tumbuh jadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045 atau tepat 100 tahun Indonesia merdeka. Industrialisasi diharapkan jadi motor penggerak utama. Meski demikian, pandemi Covid-19 menjadi salah satu tantangan menuju visi itu. ”Indonesia sekarang memasuki masa pemulihan (pasca)-pandemi. Sementara kami masih menargetkan Indonesia bisa jadi negara berpendapatan tinggi tahun 2045. Dengan adanya pandemi Covid-19, kami merasa perlu mendesain ulang kebijakan untuk mencapai hal itu,” ujar Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada acara Indonesia Development Forum (IDF) 2022 hari kedua, Selasa (22/11) di Badung, Bali. Motor penggerak utama untuk mencapai target 2045 adalah industri. Menurut Airlangga, ketika sektor industri jadi motor penggerak utama, hal itu bisa berdampak langsung, mulai dari transfer teknologi sampai penyerapan tenaga kerja. Hilirisasi industri tetap akan dijalankan.
Langkah strategis ini dinilai telah terbukti berdampak luas, di antaranya terhadap devisa ekspor dan penyerapan tenaga kerja. ”Kami (tetap) bertekad mengurangi ketergantungan impor 35 %. Melalui program Making Indonesia 4.0, industrialisasi fokus menyasar sejumlah sektor industri, antara lain tekstil, makanan-minuman, dan farmasi. Kami juga tidak melupakan perkembangan disrupsi digital yang diperkirakan makin banyak terjadi lima tahun mendatang,” ujarnya. Pada saat bersamaan, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menambahkan, pengembangan industri harus menggunakan paradigm baru. Sejauh ini, paradigma baru yang telah disiapkan pemerintah berpijak pada sejumlah pilar, yaitu digitalisasi, energi terbarukan, industri hijau, penguatan rantai pasok, perluasan ke luar Jawa, dan SDM. (Yoga)
Berkelit dari Ancaman Resflasi
Tahun depan akan menjadi pertaruhan bagi semua negara di dunia untuk bisa menghindari krisis atau sebaliknya, malah jatuh ke dalam lubang resesi sehingga proses pemulihan perekonomian menjadi terhambat. Adalah Bank Indonesia yang memperkenalkan istilah kekinian yaitu resflasi sebagai ancaman baru yang membayangi perekonomian global. Ancaman itu dinamakan resflasi sebagai kependekan dari risiko resesi dan tingginya inflasi. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (21/11), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan istilah stagflasi yang selama ini banyak dikenal, telah mengalami perluasan dengan adanya risiko resesi. Tingginya tingkat inflasi akibat gangguan rantai pasokan dan pengetatan pasar tenaga kerja di AS dan Eropa di tengah pelemahan permintaan global, mendorong risiko perlambatan ekonomi global. Situasi tersebut dapat menekan pertumbuhan global dari yang semula diprediksi berada di 3% pada 2022, turun menjadi 2,6% pada 2023. Inilah mengapa semua negara dihadapkan pada risiko resesi akibat dari perlambatan ekonomi yang dibarengi dengan inflasi tinggi. Kenaikan suku bunga acuan di banyak negara maju tersebut membuat tingkat inflasi akan sulit diturunkan secara cepat karena gangguan yang terjadi berasal dari sisi pasokan. Inflasi yang terjadi itu lebih disebabkan oleh lonjakan harga energi dan gangguan rantai pangan sehingga laju inflasi dan suku bunga seolah-olah saling mengejar. Fed Fund Rate misalnya diperkirakan masih akan naik meskipun tidak sebesar November 2022 mengingat data inflasi di AS telah menunjukkan penurunan. Kenaikan Fed Fund Rate pada sidang Federal Open Market Committee (FOMC) Desember mendatang diperkirakan maksimal mencapai besaran 50 basis poin atau lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan terakhirnya di November 2022.
Gap Literasi dan Inklusi Keuangan 35,42%
JAKARTA, ID – Meski mengecil dibandingkan dengan tahun 2019, gap antara literasi dan inklusi keuangan tahun 2022 mencapai 35,42%. Masyarakat yang literasinya masih tertinggal dari inklusi sudah terbukti menjadi mangsa para predator keuangan, yakni para penyelenggata pinjaman online (pinjol) ilegal dan investasi bodong atau perusahaan ilegal yang berkedok investasi. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022, indeks literasi keuangan masih di bawah 50% yaitu 49,68%, meski naik dari tahun 2019 yang sebesar 38,03%. Sedangkan inklusi keuangan sudah mencapai 85,10%, naik dari 76,19% pada 2019. Dengan demikian, pada 2022 terjadi gap literasi dan inklusi sebesar 35,42%. Angka tersebut turun dari gap di tahun 2019 yang mencapai 38,16%. Sementara itu, pada tahun 2016 terjadi gap sebesar 38,10% dengan indeks literasi keuangan 29,70% dan indeks inklusi 67,80%. Sedangkan pada 2013 terjadi gap sebesar 37,90% dengan indeks literasi 21,84% dan indeks inklusi mencapai 59,74%. (Yetede)
Pemerintah Masih Terbitkan Surat Utang Tiga Kali Lagi
Pemerintah masih terus mengandalkan utang sebagai salah satu pembiayaan belanja negara. Salah satunya adalah lewat penerbitan surat utang negara.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, realisasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dari awal tahun hingga 17 November 2022 sudah mencapai Rp 877,1 triliun.
Realisasi penerbitan SBN tersebut sudah tembus 91,26% dari target penerbitan surat utang negara yang sebesar Rp 961,4 triliun. Target tersebut seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2022.
Deni Ridwan, Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menjelaskan, realisasi penerbitan SBN tersebut sudah termasuk penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk.
Nah, pada kuartal IV-2022 ini, pemerintah masih akan menerbitkan SBN sebanyak tiga kali lagi. Yakni, SBN yang bakal terbit pada tanggal 22 November dan 29 November, serta pada 6 Desember 2022.
"Jadi lelang SBN masih ada tiga kali lagi, yaitu tanggal 22 dan 29 November, serta tanggal 6 Desember 2022, sebagaimana jadwal lelang yang telah dipublikasikan di situs DJPPR," tutur Deni kepada KONTAN, Kamis (17/11).
Efisiensi, GoTo Pangkas Jumlah Karyawan
Setelah beberapa hari diterpa rumor, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk akhirnya mengumumkan pemangkasan 12 % karyawan tetap atau1.300 orang. Pemangkasan karyawan ini dilakukan demi meningkatkan efisiensi. ”Layoff adalah salah satu bentuk perampingan biaya perusahaan. Ini hal yang normal dalam sebuah business cycle,” kata analis Sucor Sekuritas, Paulus Jimmy, di Jakarta, Jumat (18/11). Perampingan ini buruk bagi karyawan, tetapi dinilai baik bagi perusahaan. Seusai pengumuman pemangkasan karyawan itu, harga saham GoTo naik 2,6 % menjadi Rp 220 per saham. Ketidakpastian global, kenaikan bahan bakar, pangan, dan kenaikan tensi geopolitik membuat perlambatan ekonomi. ”Situasi ini menyebabkan fenomena PHK termasuk di perusahaan teknologi. Di sisi lain, kenaikan suku bunga global untuk melawan inflasi jadi terkait satu sama lain,” ujar Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas.
Kenaikan tingkat suku bunga cenderung berdampak buruk pada saham-saham di sector teknologi. Rasio harga saham terhadap pendapatan meningkat dan dividen menurun. Suku bunga tinggi memperlambat laju arus kas dan bisa jadi memangkas investasi untuk inovasi di perusahaan teknologi. Dalam keterangan tertulisnya, manajemen GoTo mengatakan, tantangan makroekonomi global berdampak signifikan bagi pelaku usaha. GoTo perlu beradaptasi untuk memastikan kesiapan perusahaan menghadapi tantangan ke depan. Pada akhir kuartal kedua 2022 GoTo menghemat biaya struktural sebesar Rp 800 miliar dari berbagai aspek, seperti teknologi, pemasaran, marke- ting, dan outsourcing. Tim manajemen GoTo juga sepakat mengembalikan sebagian gaji mereka untuk mendukung langkah penghematan itu. GoTo meyakini, langkah efisiensi ini tidak memengaruhi layanan kepada konsumen serta mitra pengemudi dan pedagang. (Yoga)
Terang Indonesia di Tengah Prospek Suram Ekonomi Dunia
Presidensi G20 Indonesia terselenggara di tengah suramnya prospek ekonomi dunia. Meski telah pulih dari pandemi Covid-19, negeri ini masih berhadapan dengan berbagai permasalahan dunia yang menantang. Kombinasi tiga guncangan yang terjadi di luar kelaziman membayangi prospek pemulihan. Pertama, berlanjutnya kebijakan nol Covid di China. Kebijakan China yang terus menerapkan pengujian Covid-19 secara masif serta penguncian wilayah secara berkala menggerus kepercayaan konsumen dan investasi. Kedua, sangat persistennya inflasi. Dislokasi rantai pasokan dan kenaikan harga komoditas menjadi masalah. Selain itu, banyak negara juga menjalankan kebijakan fiskal ekspansif, melakukan pembiayaan melalui utang guna menopang konsumsi rumah tangga saat pandemi. Ketiga, invasi Rusia ke Ukraina. Perang yang memicu kenaikan harga makanan, pupuk, dan energi di dunia memperburuk inflasi.
Masing-masing dari tiga faktor itu memengaruhi tiga ekonomi utama dunia. Di AS, kebijakan kenaikan suku bunga untuk menurunkan inflasi meningkatkan risiko resesi. DiChina, pembukaan kembali ekonomi secara lambat merusak kepercayaan masyarakat pada perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Di Eropa, krisis energi menekan rumah tangga dan membebani pertumbuhan. Kombinasi semuanya sangat mungkin menjadikan 2023 lebih sulit ketimbang 2022. Sedang di Indonesia, perekonomian RI pulih dengan baik. Pertumbuhan mulai kembali pada tahun lalu, dan tahun ini perekonomian berjalan baik. Pertumbuhan semester I-2022 tercatat 5,2 % (year on year/yoy). Pertumbuhan sebesar ini cukup kuat menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Ekspor juga kuat. Hal ini mengesankan, mengingat pertumbuhan melambat di dua mitra dagang utama Indonesia: AS dan China.
Namun, sebagai negara dengan perekonomian terbuka, masalah dunia akan memengaruhi Indonesia. IMF memperkirakan inflasi Indonesia 7,2 % (yoy) tahun ini, lebih rendah daripada banyak negara lain. Selain itu, meski di banyak negara lain inflasi didorong secara domestik, inflasi Indonesia sebagian besar dari luar negeri, inflasi yang diimpor. Penyebab utamanya, kenaikan harga komoditas akibat pertumbuhan yang kuat tahun lalu dan invasi Rusia ke Ukraina. Bidang lain untuk melihat efek dari ekonomi global yang lemah ialah nilai tukar. Januari 2022, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ialah Rp 14.266. Per November, rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 15.698. Namun, depresiasi rupiah relatif rendah. Contohnya, di periode itu, pound sterling melemah 14,4 % terhadap dollar AS. Dengan kinerja rupiah lebih baik, RI mengalami tekanan inflasi impor lebih moderat. (Yoga)
Dunia Kerja Membaik, tetapi Belum Pulih 100 Persen
Kondisi ketenagakerjaan Indonesia semakin membaik, seperti kenaikan jumlah penduduk bekerja, penduduk bekerja penuh waktu, bekerja di sektor formal, dan penurunan tingkat pengangguran terbuka. Hal ini diyakini berjalan seiring dengan menguatnya perekonomian. Meski demikian, kondisi tersebut belum 100 % menyamai masa sebelum pandemi Covid-19. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2022, jumlah angkatan kerja 143,72 juta orang atau naik 3,57 juta orang dibanding Agustus 2021. Adapun jumlah penduduk bekerja tercatat 135,3 juta orang atau meningkat 4,25 juta orang dibanding Agustus 2021.
”Perekonomian mulai pulih dan menguat. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 4,25 juta orang. Pada saat yang sama terjadi penambahan angkatan kerja 3,57 juta orang. Namun, karena tidak semua tambahan angkatan kerja bisa diserap pasar sehingga sebagian akan menjadi pengangguran,” ujar Margo dalam konferensi pers, Senin (7/11) di Jakarta. Margo menyampaikan, membaiknya kondisi ketenagakerjaan Indonesia juga tecermin pada peningkatan proporsi pekerja formal. Pada hasil Sakernas Agustus 2022, proporsi pekerja formal 40,69 %, naik tipis dibandingkan Agustus 2021 sebesar 40,55 % dan Agustus 2020 sebesar 39,53 %. Meski demikian, pencapaian Agustus 2022 masih lebih rendah dibandingkan Agustus 2019 sebesar 44,12 %. (Yoga)
Waspada Melemah Setelah Kuartal Ketiga
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2022 diperkirakan tidak sebesar kuartal III. Pasalnya, inflasi tinggi dan melemahnya ekspor bakal terjadi pada trimester IV 2022. “Ancaman inflasi dan perlambatan ekspor akibat perlambatan ekonomi mitra dagang ada pada triwulan IV,” ujar ekonom dari Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas), Askar Muhammad, kepada Tempo, kemarin, 7 November. Menurut Askar, dengan ancaman inflasi tinggi 6 % dan melemahnya ekspor, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2022 diperkirakan sebesar 5,1-5,3 %, dengan proyeksi keseluruhan tahun sebesar 5,2-5,4 persen.
Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus angka 5,72 persen atau lebih tinggi dari ekspektasi pemerintah sebesar 5,5 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar produk domestik bruto (PDB) dengan tumbuh 5,39 persen secara tahunan. Namun inflasi tinggi yang diperkirakan terjadi pada triwulan IV dikhawatirkan melemahkan daya beli masyarakat. (Yoga)
Target Ambisius Keluar dari Jebakan Ekonomi 5%
Indonesia harus berjibaku untuk keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi 5% yang sudah berlangsung sejak tahun 2013. Sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat di atas 6%, khususnya selama periode 2008 sampai 2012.
Persoalannya kondisi ekonomi saat ini lagi loyo. Ancaman resesi serta krisis energi dan pangan menghadang laju ekonomi dalam negeri. Upaya untuk keluar dari jebakan ekonomi 5% pun semakin berat.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah menyiapkan beberapa program kebijakan yang telah maupun akan dilakukan. Pertama, menjaga tingkat inflasi. Bersama dengan otoritas terkait, pemerintah akan menjaga inflasi dari sisi suplai, sehingga bisa menjaga daya beli masyarakat.
Kedua, memperbaiki kualitas belanja negara sehingga bisa menggerakkan perekonomian lewat proyek pembangunan.
Ketiga, menggenjot investasi yang salah satunya dengan meningkatkan kemudahan berusaha atau
ease of doing business
(EoDB).
Keempat, mendorong pertumbuhan berbagai sektor usaha. Antara lain sektor manufaktur agar bisa banyak menyerap tenaga kerja. Selain itu, pemerintah akan mendoorong hilirisasi sumber daya alam untuk menghasillkan nilai tambah barang output.
Optimisme Pertumbuhan Triwulan Ketiga
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2022 diprediksi tetap positif meski dibayangi tren inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Ekonom dari Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas), Askar Muhammad, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi secara tahunan di kisaran 5,2-5,4 %, tak jauh dari capaian triwulan II 2022 di 5,44 %. “Penopangnya masih sektor komoditas yang ekspornya cukup tinggi dan sektor industri logam yang menerima penanaman modal atau investasi tinggi,” ujar Askar kepada Tempo, kemarin. Lonjakan harga komoditas menjadi berkah bagi kinerja ekspor Indonesia, khususnya batu bara dan minyak sawit, yang melejit hingga menembus harga tertinggi dengan kenaikan penjualan rata-rata dua kali lipat. Emiten tambang batu bara Adaro Energy Indonesia Tbk, misalnya, mencatatkan laba bersih US$ 1,90 miliar pada periode Juli-September 2022, tumbuh 352,21 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan pun melonjak 130 %, dari US$ 2,56 miliar menjadi US$ 5,91 miliar.
Askar melanjutkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III belum akan banyak dipengaruhi oleh kenaikan inflasi dan suku bunga. Sebab, dampak tren tersebut baru akan muncul dan terefleksi pada akhir triwulan III. “Ini yang patut diwaspadai dan kita akan lebih jauh melihat dampaknya pada pertumbuhan ekonomi triwulan IV,” ujarnya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, berujar pertumbuhan ekonomi pada triwulan III mungkin akan mengalami perlambatan, tapi tidak signifikan. Sebab, tingkat konsumsi masyarakat secara umum masih meningkat dan bakal menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. “Walau pergerakan ekonomi kita lebih banyak didorong oleh kalangan menengah dan atas, serta 83 % konsumsi domestik digerakkan oleh mereka,” ucapnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022









