;
Tags

Ekonomi Makro

( 699 )

Menjaga Keberlanjutan Sukses Inovasi

KT3 03 Dec 2022 Kompas

Di tengah ketidakpastian akhir pandemi Covid-19, dunia dihadapkan pada krisis pangan dan energi. Inflasi dan resesi ekonomi yang memicu instabilitas politik di sejumlah negara membuat pemenuhan kebutuhan dasar jadi lebih menantang. Namun, kondisi itu juga bisa menjadi peluang mendorong riset dan inovasi lebih maju. Terganggunya rantai pasok global obat dan alat kesehatan pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020 membuat Kemenristek saat itu bergerak cepat mengoordinasi semua lembaga riset dan perguruan tinggi membuat berbagai produk kesehatan yang dibutuhkan dalam menangani Covid-19. Dengan tujuan terarah, penugasan gamblang, pendanaan jelas, sistem pendanaan riset yang  dipermudah, hingga koordinasi lintas keilmuan dan lembaga yang lincah, terpacu lahirnya banyak inovasi dalam waktu singkat dan kondisi terbatas. Dukungan penuh lembaga sertifikasi membuat berbagai inovasi segera diserap pasar sekaligus membantu masyarakat. Sejumlah inovasi itu di antaranya menghasilkan bahan dan alat uji cepat antigen, ventilator, laboratorium uji bergerak, robot pembersih ruang isolasi, dan vaksin. Sebagian inovasi itu tak dipakai lagi seiring terkendalinya penyebaran Covid-19, tetapi sebagian baru akan dipakai dalam waktu dekat, seperti vaksin. Berbagai riset terkait pandemi Covid-19, terutama epidemiologi, pun dilakukan. Hasil riset jadi dasar pengambilan kebijakan dan edukasi warga, khususnya terkait pelaksanaan aturan pembatasan kegiatan masyarakat.

”Riset dan inovasi terkait optimasi hasil pangan, teknologi pascapanen, dan pengolahan pangan beserta diversifikasinya penting dikedepankan pada 2023,” kata Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan  kewirausahaan ITB, R Sugeng Joko Sarwono, Rabu (23/11). Untuk bidang energi, riset inovasi energi baru dan terbarukan berbasis solar, arus sungai, dan laut diprediksi naik. Demikian pula inovasi teknologi alat transportasi listrik dan penunjangnya, mengingat pemerintah mendorong transisi dari kendaraan  berbasis mesinpembakaran internal ke kendaraan listrik. Ketidakjelasan akhir pandemi membuat riset dan inovasi teknologi farmasi, khususnya obat dengan bahan baku dalam negeri serta obat herbal, juga akan berkembang. Riset alkes diyakini akan berkembang menggantikan alkes impor. Semua jenis riset dan inovasi yang makin berkembang tahun depan itu berbasis kecerdasan artifisial, mesin pembelajar, hingga mahadata. Karena itu, tersedianya sumber daya manusia bermutu bidang teknologi informasi akan makin penting. Dorongan inovasi ini guna memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. ”Untuk jadi negara maju pada 100 tahun kemerdekaannya tahun 2045, Indonesia harus meningkatkan pendapatan per kapita yang kini 4.000 USD menjadi 12.000 USD,” kata Gatot Dwianto, anggota Next Federation, lembaga pendorong integrasi dan transformasi sumber daya industri global. Lompatan pendapatan per kapita bakal terwujud jika pertumbuhan ekonomi didorong inovasi, tak hanya bertumpu pada ekspor komoditas. (Yoga)


Menjaga Sense of Crisis dalam Titik Terang

HR1 03 Dec 2022 Bisnis Indonesia

Indonesia agaknya bisa bernapas lega karena efek domino resesi global belum akan terasa hingga tahun depan menyusul masih kuatnya elemen penggerak pertumbuhan ekonomi yang tecermin dari proyeksi atas laju PDB yang akan berada dalam kisaran angka 5%. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2023 seperti dikutip dari kanal YouTube Kementerian Keuangan, Kamis (1/12), keyakinan tersebut ditopang dari seluruh elemen pembentuk pertumbuhan yang berasal dari konsumsi, investasi dan ekspor. Selain dapat menangani pandemi Covid-19, Indonesia dianggap cukup kompeten dalam mengatasi dampak resesi bila dibandingkan dengan banyak negara-negara lain di dunia. Perekonomian Indonesia saat ini dalam tren pemulihan positif yang tumbuh cukup kuat di atas 5% selama lima triwulan berturut-turut. Melihat masih besarnya peluang untuk terhindar dari risiko resesi, harian ini berharap agar Indonesia tetap waspada dan berhati-hati atas segala kemungkinan yang terjadi. Meskipun saat ini kondisi masih dalam keadaan normal, sense of crisis tetap harus dikedepankan agar Tanah Air tidak gagap dalam merespons kemungkinan skenario terburuk. Sikap siaga ini terkait dengan langkah exit strategy atas kondisi pemburukan terjadi di tingkat global dengan melakukan langkah-langkah konkrit dari sisi fiskal dan moneter.

IKI November 50,89 Industri Masih Ekspansif

KT1 01 Dec 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Meski ekonomi global makin lesu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada November 2022 mencapai 50,89, yang menunjukkan sektor industri di Tanah Air masih ekspansif. Subsektor industri alat transportasi tercatat memperoleh angka IKI tertinggi, menembus 60. "Hasil survei IKI November 2022 angkanya 50,89, artinya industri manufaktur ekspansif dan ada optimisme bagi perekonomian nasional secara umum. IKI mensurvei 23 subsektor industri nasional, dengan 2.000 responden yang terbilang sangat baik,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat melansir data IKI terbaru, Jakarta, Rabu (30/11/2022). Menperin mengatakan, ada 11 dari total 23 subsektor industri yang berada pada kondisi ekspansif. Ke-11 subsektor tersebut mempresentasikan kontribusi 71,3%. Sedangkan 12 subsektor industri lainnya dalam kondisi tertekan. Salah satu yang pertumbuhannya mengalami pelemahan adalah subsektor industri tekstil. “Sebsektor tekstil yang melemah itu karena pasar Eropa dan Amerika turun. Alasan lebih rinci tekanan-tekanan ini sedang kami pelajari, maka perusahaan diharapkan mengisi kuesioner secara faktual, sehingga kita tahu apa yang sedang terjadi,” kata Agus. (Yetede)

Ekonomi Indonesia Masih Bertumbuh

KT3 01 Dec 2022 Komaps

Di tengah perlambatan ekonomi global, BI memprediksi perekonomian Indonesia pada 2023 dan 2024 masih bertumbuh. Pertumbuhan ini akan ditopang oleh konsumsi, investasi, dan ekspor. BI juga memprediksi inflasi bisa terkendali. Hal ini mengemuka dalam Pertemuan Tahunan BI 2022 di Jakarta, Rabu (30/11) yang bertajuk ”Sinergi dan Inovasi Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Menuju Indonesia Maju”. Presiden Jokowi dalam sambutan pada acara ini mendorong seluruh jajarannya tetap optimistis menghadapi kondisi perekonomian global tahun depan yang masih diwarnai ketidakpastian. Namun, Presiden juga mewanti-wanti agar tetap waspada dan berhati-hati menyusun kebijakan.

”(Otoritas) fiskal, moneter, harus selalu berbicara, harus selalu berdampingan sehingga semua policy yang ada itu betul-betul bermanfaat bagi rakyat dan negara,” ujar Presiden. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 diproyeksikan tetap kuat di kisaran 4,5-5,3 %. Pertumbuhan ini akan terus meningkat menjadi 4,7-5,5 % pada 2024. ”Pertumbuhan ditopang oleh konsumsi, investasi yang meningkat karena hilirisasi infrastruktur penanaman modal asing, pariwisata, dan lainnya,” ujar Perry. Inflasi juga diperkirakan akan terkendali sehingga bisa kembali ke sasarannya, yakni 3 % plus minus 1 % pada 2023 dan 2,5 % plus minus 1 % pada 2024. (Yoga)


Melambat, Ekonomi 2023 Diramal Tumbuh 5%

HR1 01 Dec 2022 Kontan

Ekonomi Indonesia masih akan berada di kisaran 5% tahun depan. Berarti selama kurang lebih 10 tahun, ekonomi Indonesia selalu berkutat sekitar 5% saja. Sejumlah lembaga internasional pun sudah memproyeksi laju ekonomi Indonesia tahun depan di kisaran angka tersebut. Proyeksi tersebut diperkuat dengan prediksi dari Bank Indonesia (BI). Bank Sentral memproyeksi ekonomi Indonesia di kisaran 4,5% - 5,3% di 2023. Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, Indonesia masih punya modal untuk bisa membuat ekonomi tumbuh positif tahun depan. Namun, ketidakpastian global tahun depan menjadi faktor penghambat. "Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2023 memang tetap kuat, tetapi sedikit melambat ke titik tengah kisaran 4,5% yoy hingga 5,3% yoy tersebut,” terang Perry dalam Pertemuan Tahunan BI 2022, Rabu (30/11) di Jakarta. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memastikan, pemerintah tetap akan hati-hati dalam mengambil langkah.


Erick Thohir: Bonus Demografi Perlu Dimanfaatkan Sebelum Piramida Terbalik

KT1 30 Nov 2022 Investor Daily

JAKARTA, ID – Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan, pertumbuhan ekonomi  Indonesia akan berlangsung sampai 2045. Itu sebabnya, momentum bonus demografi perlu dimanfaatkan sebaik mungkin sebelum piramida itu berbalik. Menurut Erick, saat ini, Indonesia menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Acara KTT G20 di Bali, belum lama ini, menjadi salah satu bukti Indonesia dapat sejajar dengan negara - negara lain dan menunjukkan identitas sebagai bangsa besar. Perhatian dunia yang kini tertuju kepada Indonesia, kata Erick, tidak terlepas dari bonus demografi yang telah mendorong perekonomian kelas menengah Indonesia berturut-turut tumbuh sebanyak 145 juta jiwa, lalu 180 jiwa, dan 221 juta jiwa pada 2030. Namun memasuki tahun 2038, Erick mengutarakan, pertumbuhan itu akan mulai melambat, karena populasi Indonesia dihuni generasi tua seperti yang sekarang dialami Jepang. (Yetede)

Dompet BI Bisa Jebol Efek Jaga Rupiah

HR1 25 Nov 2022 Kontan

Bank Indonesia (BI) berupaya membawa nilai tukar rupiah pada tahun 2023 bergerak di titik tengah sasaran, yaitu di level Rp 15.070 per dolar Amerika Serikat (AS). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, upaya BI untuk membuat otot rupiah menguat dan mencapai target tersebut ternyata sangat menguras tenaga bank sentral. Pihaknya, kata Perry, butuh upaya ekstra, dan bahkan harus merogoh kocek BI lebih dalam lagi untuk menjaga otot mata uang Garuda ini. Anggaran BI untuk tahun depan diperkirakan mencatat defisit Rp 19,99 triliun. Nilai terbesar berasal dari defisit anggaran kebijakan sebesar Rp 33,15 triliun. Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana mengungkapkan, meski anggaran Bank Indonesia diperkirakan defisit, ini tidak akan mengganggu langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah pada tahun depan. Salah satunya adalah memaksimalkan devisa hasil ekspor (DHE) untuk masuk dan tinggal lebih lama di dalam negeri.

Menguji Fondasi Ekonomi Domestik

KT1 24 Nov 2022 Tempo

JAKARTA-Kondisi fundamental  perekonomian domestik diyakini masih mumpuni meski terdapat potensi  perlambatan pertumbuhan dan tren kenaikan inflasi. Hal itu dibuktikan  dengan kinerja pertumbuhan ekonomi hingga triwulan III 2022 yang masih diatas rata-rata, yaitu tumbuh 5,72% secara tahunan. Nanum kekuatan fondasi  perekonomian itu kini tengah diuji oleh pelemahan permintaan dan konsumsi, serta badai PHL yang mendorong kenaikan tingkat pengangguran. Kepala Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar Hirawan, menuturkan kinerja produk domestik bruto (PDB) Indonesia secara umum masih positif dengan optimisme konsumsi yang terjaga, dengan indeks keyakinan konsumen dan penjualan retail masih diatas level 100. "Kondisi saling bertentangan yang kita lihat sekarang adalah pertumbuhan ekonomi kuat. Ini menunjukkan adanya guncangan dalam perekonomian, yang biasanya langsung berdampak secara jangka pendek atau bisa juga ada jeda yang menimbulkan dampak jangka menengah  dan panjang," ujar Faajar kepada Tempo, kemarin. (Yetede)

PROYEKSI EKONOMI Indonesia Tidak Lepas dari Risiko

KT3 24 Nov 2022 Kompas

Di tengah terpaan krisis bertubi-tubi, ekonomi global diperkirakan semakin melambat tahun depan. Meski diyakini lolos dari resesi, Indonesia tidak lepas dari risiko perlambatan. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan terbaru edisi November 2022 memperkirakan  pertumbuhan ekonomi dunia akan turun dari proyeksi 3,1 % tahun ini menjadi 2,2 % pada 2023, kemudian naik ke 2,7 % pada 2024. Pertumbuhan ekonomi dunia dinilai telah kehilangan momentum di tengah terpaan krisis bertubi-tubi pascapandemi dan perang Rusia-Ukraina. Indonesia termasuk dalam negara berkembang yang prospek ekonominya masih relatif stabil di tengah gejolak ekonomi global. OECD memperkirakan, ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,3 % tahun ini, melambat menjadi 4,7 % tahun depan, dan kembali naik ke 5,1 % pada 2024.

Meski demikian, Indonesia tidak lepas dari risiko. Tren kenaikan inflasi yang diperkirakan berlanjut dan upaya pengendaliannya yang belum optimal dapat menggerus daya beli masyarakat serta menekan roda permintaan dan konsumsi domestik. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, imbas kondisi resflasi globalterhadap perekonomian domestik tetap perlu diantisipasi melalui instrumen fiskal dan moneter. Misalnya, memperkuat skenario subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat dan menjaga kenaikan suku bunga tetap moderat dan bertahap. ”Sebisa mungkin juga bank sentral menjaga agar nilai tukar rupiah tidak terlalu terdepresiasi. Ini akibatnya sangat buruk untuk dunia usaha,” katanya, Rabu (23/11). Menkeu Sri Mulyani mengatakan, meski kondisi ekonomi dalam negeri saat ini masih terkendali, pemerintah tetap mewaspadai imbas risiko ekonomi global tahun depan. (Yoga)


Waspada Sinyal Bahaya Reflasi

KT3 24 Nov 2022 Tempo (H)

Pemerintah mewaspadai gejolak perekonomian bertubi-tubi yang mungkin terjadi pada 2023. Salah satu kondisi yang diwaspadai karena mengancam perekonomian domestik adalah reflasi, atau situasi ketika resesi terjadi di tengah tren tingkat inflasi yang tinggi. Menkeu Sri Mulyani menuturkan kewaspadaan patut ditingkatkan, khususnya untuk menghadapi faktor-faktor penggoyah perekonomian yang bersumber dari dinamika global. “Risiko yang berasal dari global akan mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi, seperti perang Ukraina dan Rusia yang masih berlanjut,” ujar Sri Mulyani, kemarin. Pemerintah dalam APBN menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2023 dapat mencapai 5,3 %. “Satu perhatian kami selain perang adalah kebijakan protokol Covid-19 yang kembali ketat di Cina. Ini diyakini akan mempengaruhi kondisi ekonomi global karena mengganggu momentum pemulihan.”

Untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi, kata Sri Mulyani, pemerintah mulai menganalisis kinerja perekonomian hingga akhir tahun ini, meliputi proyeksi dampak hingga faktor-faktor yang masih menguatkan dan menopang pertumbuhan. Menurut dia, sektor-sektor yang diyakini akan menjadi tumpuan adalah sektor perdagangan, pertambangan, manufaktur, dan pertanian. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2023 melambat menjadi 4,37 %, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan hanya 2 %, lebih rendah dari tahun ini yang sebesar 3 p%. Hal itu sebagai cerminan kondisi ekonomi dunia yang menghadapi risiko reflasi, kombinasi antara resesi dan inflasi yang tinggi. “Harapan kita untuk mendorong kinerja pertumbuhan tahun depan adalah permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi,” kata Perry.. (Yoga)