Amerika Serikat
( 390 )IMF Ingatkan Dampak Kebijakan The Fed ke Pasar Berkembang
Negara-negara pasar berkembang harus bersiap untuk kemungkinan menghadapi masa-masa sulit karena The Federal Reverse (The Fed) segera menaikkan suku bunga. Sementara itu,pertumbuhan ekonomi dunia melambat karena varian Omicron dari Covid-19, kata Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (10/1). Hingga saat ini Omicron terlihat menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari pada jenis virus Corona sebelumnya. Pengetatan kebijakan moneter AS segera bertahap dan transisinya berlangsung baik, kemungkinan akan berdampak kecil pada pasar negara berkembang. Tetapi inflasi upah AS yang berbasisi luas atau hambatan pasokan yang berkelanjutan dapat meningkatkan harga lebih dari yang diantisipasi, "Mengingat resiko bahwa ini bisa bertepatan dengan pengetatan The Fed yang hadir lebih cepat, negara-negara berkembang harus bersiap menghadapi potensi gejolak ekonomi," kata para ekonom tersebut. (Yetede)
IMF Ingatkan Dampak Kebijakan The Fed ke Pasar Berkembang
Negara-negara pasar berkembang harus bersiap untuk kemungkinan menghadapi masa-masa sulit karena The Federal Reverse (The Fed) segera menaikkan suku bunga. Sementara itu,pertumbuhan ekonomi dunia melambat karena varian Omicron dari Covid-19, kata Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (10/1). Hingga saat ini Omicron terlihat menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari pada jenis virus Corona sebelumnya. Pengetatan kebijakan moneter AS segera bertahap dan transisinya berlangsung baik, kemungkinan akan berdampak kecil pada pasar negara berkembang. Tetapi inflasi upah AS yang berbasisi luas atau hambatan pasokan yang berkelanjutan dapat meningkatkan harga lebih dari yang diantisipasi, "Mengingat resiko bahwa ini bisa bertepatan dengan pengetatan The Fed yang hadir lebih cepat, negara-negara berkembang harus bersiap menghadapi potensi gejolak ekonomi," kata para ekonom tersebut. (Yetede)
Pemerintahan Biden Fokus Pada Tes dan Vaksin Ketimbang Pembatasan
Menghadapi varian Omicron yang melonjak jumlah kasusnya, otomatis AS akan mendistribusikan 500 juta tes Covid-19 gratis. Gedung Putih menyatakan pada Selasa (21/12) jika perlu pemerintah juga akan mengerahkan anggota medis militer dan meningkatkan kapasitas vaksin. "Kami memiliki alat untuk melewati gelombang ini," kata seorang pejabat Gedung Putih di Washington, AS, seperti dikutip AFP, Selasa. Tanggapan pemerintah Joe Biden didasarkan pada tiga prinsip, yakni lebih banyak sumber daya rumah sakit, lebih banyak tes virus, dan lebih banyak vaksin. Pemerintah Federal akan mengerahkan 1.000 dokter, perawat, dan personel medis militer diseluruh negeri. Pemerintah Biden juga akan mengambil tindakan di area yang banyak dikritik, yakni screening Covid-19, dengan membeli 500 juta tes cepat yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. (Yetede)
AS Gencar Memperkenalkan Inisiatif-Pasifik
Pemerintah AS sedang gencar memperkenalkan inisiatif Indo-Pasifik yang baru akan mengisi kekosongan ekonomi pasca keluar dari kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partneship/TPP). Namun negara-negara yang khawatir dengan melebarnya keretakan antara AS dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengandalkan Jepang untuk mengarahkan upaya tersebut. Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo dan Perwakilan Dagang AS Katrine Tai memulai lawatan ke Asia pada November 2021 untuk menawarkan rencana kerangka ekonomi Indo-Pasifik. Pemerintah AS sendiri dinilai terlalu terburu-buru dalam melakukan pembicaraan. Ini mengingat Tiongkok sedang mendapatkan kekuatan di arena perdagangan internasional, sehingga perkembangannya dianggap mengancam pembentukan kembali tatanan ekonomi kawasan tanpa kehadiran AS.
AS Jatuhkan Sanksi Atas Tiongkok
Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Kamis (16/12) waktu setempat meluncurkan serangakain tindakan untuk mengacam perlakuan Tiongkok terhadap mayoritas Uyghur. Senat AS sepakat mengekang perdagangan dan menjatuhkn sanksi baru atas Tiongkok. Burns, mantan Duta Besar untuk Yunani dan NATO, telah menggambarkan Tiongkok sebagai agresor dan mencela apa yang disebutnya genosida Uyghur. Beberapa bisnis AS telah menyuarakan kegelisahan tentang Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uyghur. UU ini melarang impor semua barang dari wilayah Uyghur kecuali perusahaan menawarkan bukti yang dapat diverifikasi bahwa produksi tidak melibatkan perbudakan. Pemerintah Biden pada Jumat meluncurkan serangkaian sanksi atas pengawasan di Xinjing.
AS Jatuhkan Sanksi Atas Tiongkok
Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Kamis (16/12) waktu setempat meluncurkan serangakain tindakan untuk mengacam perlakuan Tiongkok terhadap mayoritas Uyghur. Senat AS sepakat mengekang perdagangan dan menjatuhkn sanksi baru atas Tiongkok. Burns, mantan Duta Besar untuk Yunani dan NATO, telah menggambarkan Tiongkok sebagai agresor dan mencela apa yang disebutnya genosida Uyghur. Beberapa bisnis AS telah menyuarakan kegelisahan tentang Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uyghur. UU ini melarang impor semua barang dari wilayah Uyghur kecuali perusahaan menawarkan bukti yang dapat diverifikasi bahwa produksi tidak melibatkan perbudakan. Pemerintah Biden pada Jumat meluncurkan serangkaian sanksi atas pengawasan di Xinjing.
The Fed AS akan Bergerak Lebih Cepat untuk Mengatasi Inflasi
The Federal Reserve (The Fed) AS pada Rabu (15/12) waktu setempat mengumumkan akan mengambil sikap yang lebih agresif untuk mengatasi ancaman inflasi. Saat ini, ekonomi AS dihadapkan pada gelombang kenaikan harga-harga yang telah mempengaruhi pasar mobil, perumahan, hingga makanan.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan kebijakan Fed mengumumkan akan mencabut langkah-langkah stimulusnya lebih cepat. “Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan terkait dengan ekonomi, terus berkontribusi pada peningkatan tingkat inflasi.” kata FOMC dalam sebuah pernyataan.
Sekarang, The Fed menyatakan akan memotong US$ 30 miliar per bulan. Yang berarti pada Januari 2022, pembelian obligasi oleh The Fed akan mengakhiri program tersebut dua bulan lebih awal dan menempatkan The Fed dalam posisi untuk menaikkan suku bunga acuan dari nol. (Yetede)
The Fed Siap Menghadapi Inflasi
Setelah lebih dari satu dekade inflasi di level moderat, gelombang kenaikan harga telah mempengaruhi ekonomi AS. Harga mobil, perumahan, hingga makanan telah mengguncang regulator yang berniat memberikan pesan yang meyakinkan tentang pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19. Presiden AS Joe Biden telah memprioritaskan strategi untuk mengatasi inflasi yang melanda keluarga-keluarga di Amerika. Sementara kenaikan suku bunga adalah senjata yang efektif melawan, itu juga merupakan alat tumpul yang bisa menghalangi perubahan. Berharap untuk menghindari kejatuhan politik yang negatif, tim Biden dan pejabat The Fed selama berbulan-bulan telah mencoba meyakinkan konsumen yang gelisah. Pihaknya mengatakan,lonjakan harga sebagian besar disebabkan oleh dampak pendemi, seperti kekurangan semikonduktor dan aktivitas pengiriman yang kacau, akan segera surut. (Yetede)
Investor Bersiap Hadapi Tapering Lebih Cepat
Para Investor memprediksikan skema pembelian obligasi The Fed Reserve (The Fed) akan berakhir lebih cepat. Investor juga bersiap menghadapi beberapa kali kenaikan tingkat suku bunga dalam beberapa tahun ke depan. Demikian pernyataan yang disampaikan menjelang keputusan kebijakan bank sentral AS pada Rabu (15/12). Baik JP Morgan, Morgan Stanley, Citi, dan NatWest Markets, kesemuanya mengantisipasi tapering pembelian obligasi oleh The Fed selesai pada Maret 2022. Pada futures obligasi AS, para spekulan telah mengumpulkan posisi net short dalam obligasi tenor 10-tahun. Ini karena, para investor menilai hasil yang lebih tinggi ditengah ekspektasi kenaikan suku bunga dari The Fed. Meskipun para investor mendapatkan net long dolar selama 21 minggu berturut-turut. Hal ini telah meningkatkan posisi long menjelang tapering Fed yang sebenarnya, yang dimulai bulan lalu. (Yetede)
Inflasi AS Melonjak 6,8% pada November
Indeks harga konsumen (IHK) Amerika Serikat (AS) terus melonjak pada November 2021, naik 6,8% dibandingkan dengan bulan yang sama 2020. Ini adalah kenaikan terbesar sejak Juni 1982, seperti dilaporkan pemerintah pada Jumat (10/12). Lonjakan IHK tersebut disebabkan oleh kenaikan berbagai macam barang. Diantaranya kenaikan harga bensin sebesar 6,1%. Sementara biaya sewa mobil bekas, dan makanan juga meningkat. Gelombang inflasi adalah kewajiban politik bagi Biden, yang telah melihat peringkat persetujuan publiknya turun ketika harga-harga melonjak. Presiden menjadikan memerangi inflasi sebagai prioritas utama bulan lalu, setelah pemerintah melaporkan IHK Oktober baik 6,2% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Harga-harga telah meningkat tahun ini di ekonomi terbesar dunia karena berbagai faktor, termasuk kekurangan komponen dan pekerja, permintaan barang yang tinggi, dan rebound di insudtri yang terganggu Covid-19. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022 -
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022







