Amerika Serikat
( 390 )Pemerintah AS Usulkan Pendanaan Chip Pada Februari 2023
WASHINGTON, ID – Departemen Perdagangan (Depdag) Amerika Serikat (AS) mengungkap harapannya bahwa pada Februari tahun depan, pihaknya sudah mulai mengupayakan pengajuan subsidi chip semikonduktor pemerintah senilai US$ 39 miliar untuk membangun fasilitas baru dan memperluas produksi. Kongres AS sendiri pada Agustus telah menyetujui anggaran sebesar US$ 52,7 miliar untuk manufaktur semikonduktor, penelitian dan kredit pajak investasi 25% pada pabrik-pabrik chip, yang diperkirakan bernilai US$ 24 miliar. Kredit tersebut berlaku untuk proyek-proyek yang memulai konstruksi setelah 1 Januari 2023. Presiden Joe Biden telah menandatangani undang-undang (UU) yang bertujuan meningkatkan upaya untuk membuat Amerika Serikat lebih kompetitif dengan Tiongkok sekaligus memberikan subsidi manufaktur chip AS. Langkah ini sebagai upaya mengurangi kekurangan chip berkepanjangan yang telah memengaruhi segala barang elektronik, mulai dari mesin cuci dan video game hingga mobil dan senjata. Menurut Departemen Perdagangan AS, dokumen pendanaan yang dirilis pada Selasa (6/9) akan memberikan panduan pengajuan khusus, yang bakal dirilis pada awal Februari 2023. Penghargaan dan pinjaman-pinjaman akan diberikan secara bergulir segera
setelah permohonan dapat diproses, dievaluasi, dan dinegosiasikan secara bertanggung jawab. (Yetede)
AS Perintakan Stop Penjualan, Chip Al ke Tiongkok
WASHINGTON, ID – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memerintahkan penghentian ekspor chip yang digunakan untuk komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Larangan ini telah diterima oleh produsen chip Nvidia corp. dan Advanced Micro Devices (AMD) Inc pada Rabu (31/8) waktu setempat. Selain itu, pengumuman juga dipandang sebagai sinyal eskalasi besar dari tindakan keras AS terhadap kemampuan teknologi Tiongkok menyusul bubble ketegangan atas nasib Taiwan. Pasalnya, hampir sebagian besar besar produsen chip, Nvidia dan perusahaan lain melakukan produksinya di Taiwan. Saham Nvidia pun dilaporkan turun 6,6% selang beberapa jam pengumuman disampaikan. Menurut Nvidia, larangan tersebut memengaruhi produksi tipe chip A100 dan H100 yang dirancang untuk mempercepat tugas pembelajaran mesin. Pelarangan ini juga dapat mengganggu penyelesaian pengembangan chip unggulan H100 yang telah diumumkan tahun ini. Sedangkan saham rivalnya, AMD mengalami penurunan 3,7% setelah beberapa jam pengumuman AS. (Yetede)
Berharap The Fed Tak Merapuhkan Rupiah
Pada 2022 ini bank sentral AS (The Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga yang mengakibatkan keluarnya modal asing (taper tantrum) dari banyak negara. Hal itu sempat menggoyahkan kurs rupiah. namun, posisi rupiah ada di urutan ketiga terkuat di antara mata uang Asia setelah dollar Hong Kong dan dollar Singapura sepanjang 2022 (Bloomberg, 26 Agustus). Hanya saja, kurs rupiah bertahan pada kisaran Rp 15.000 per USD, posisi yang tidak terlalu meyakinkan.
”Posisi The Fed sangat berbeda dibandingkan siklus sebelumnya, lebih siap merelakan resesi dan destabilisasi pasar uang di tengah upaya meredam inflasi,” demikian peringatan Adam Wolfe, pakar tentang ekonomi negara berkembang dari Absolute Strategy Research (The Financial Times, 31 Juli). The Fed pun sudah memberikan indikasi kenaikan suku bunga bertahap. Pemanfaatan waktu oleh otoritas Indonesia dan korporasi akan menentukan apakah rupiah akan kembali fragile atau tidak. (Yoga)
The Fed Cleveland Dukung Penaikan Suku Bunga Berdasarkan Inflasi
JACKSON HOLE, ID – Presiden Federal Reserve (The Fed) Cleveland Loretta Mester mengatakan bakal mendasarkan keputusannya mendukung kenaikan suku bunga acuan ketiga kali berturut turut sebanyak 75 basis poin pada bulan depan atas data inflasi Amerika Serikat (AS), bukannya laporan ketenagakerjaan yang diawasi secara ketat. Sebagai informasi, Departemen Ketenagakerjaan AS dijadwalkan merilis perkiraan kenaikan lapangan pekerjaan pada 2 September. Sedangkan untuk indeks harga konsumen (IHK) akan dirilis seminggu sebelum pertemuan The Fed pada 20-21 September. Sementara itu, University of Michigan akan mempublikasikan data ekspektasi inflasi yang diawasi ketat, pada 16 September. “Saya tidak bersandar pada titik ini. Kami belum benar-benar melihat, untuk kepuasan saya, bukti yang meyakinkan bahwa inflasi berada di jalur (tren) menurun. Saya bahkan belum yakin (inflasi) itu sudah mencapai puncaknya,” ujar Mester kepada Reuters di sela-sela konferensi bank sentral tahunan Jackson Hole di Wyoming, seraya menambahkan data tentang inflasi dan prospek inflasi yang bakal memandu kalkulusnya.
AS Diyakini Sudah Melewati Puncak Inflasi
Tingkat Inflasi konsumen tahunan di Amerika Serikat (AS) naik 8,5% pada Juli 2022. Melambat dibandingkan rekor 9,1% pada Juni karena didorong turunnya harga BBM. Data ini disambut gembira pasar saham di Wall Street maupun pasar saham global pada perdagangan Rabu (10/8). Karena AS diyakini berarti sudah melewati puncak inflasi dan The Federal Reserve (The Fed) berpeluang untuk mengurangi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga. Secara bulanan, harga-harga konsumen pada Juli mendatar karena harga energi secara umum turun 4,6% dan harga BBM jatuh 7,7%. Hal itu mampu menutupi kenaikan harga makanan 1,1% dan biaya tempat tinggal yang naik 0,5%. Pasar saham melonjak setelah mengetahui data inflasi inti menunjukkan penurunan laju kenaikan harga-harga melebihi perkiraan sebelumnya. Kalangan ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan inflasi tahunan mencapai 8,7% dan secara bulanan naik 0,2%. (Yetede)
Ekspektasi Inflasi Melambat
Proyeksi konsumen Amerika Serikat (AS) terhadap inflasi dilaporkan mengalami penurunan secara signifikan pada Juli 2022. Didorong merosotnya harga BBM dan keyakinan bahwa harga makanan serta rumah juga akan surut di masa depan. Hal ini terungkap dalam hasil bulanan Survei Ekspektasi Konsumen dari The Federal Reserve (The Fed) New York yang dilansir CNBC pada Selasa (9/8). Menurut survei itu, responden memperkirakan inflasi melaju pada kecepatan 6,2% selama tahun depan dan mencapai 3,2% untuk tiga tahun ke depan. Berdasarkan standar-standar historis angka-angka itu masih sangat tinggi, tetapi angka-angka tersebut menandai penurunan besar dari hasil survei masing-masing pada Juni 6,8% dan 3,6%. Biro Statistik Tenaga Kerja mencatat,
hingga Juni harga pangan menunjukkan kenaikan 10,4% selama setahun terakhir. Harga itu diprediksi masih naik 6,7% selama 12 bulan ke depan, namun angkanya mengalami penurunan dari survei Juni sebesar 2,5 poin persentase – yang diklaim sebagai penurunan terbesar dalam rangkaian data sejak Juni 2013. (Yetede)
The Fed Tetap Fokus ke Data Inflasi
Presiden Bank The Federal Reserve (The Fed) Minneapolis Neel Kashkari mengatakan jika ada yang memperdebatkan apakah Amerika Serikat (AS) sudah berada dalam resesi atau tidak, ini artinya pertanyaan yang diajukan salah. “Apakah kita secara teknis dalam resesi atau tidak, tidak mengubah analisis saya. Saya fokus pada data inflasi. Saya fokus pada data upah. Dan sejauh ini, inflasi terus mengejutkan kita dengan kenaikan. Gaji terus naik," Ujar Kashkari kepada CBS pada Minggu (31/8), yang dilansir CNBC. Sebelumnya pada Kamis (28/7), data Departemen Tenaga Kerja yang baru menunjukkan tanda-tanda pelambatan di pasar kerja, di mana tunjangan klaim pengangguran awal mencapai level ter tinggi sejak per tengahan November. “Apakah kita secara teknis dalam resesi atau tidak, tidak mengubah fakta bahwa Federal Reserve memiliki pekerjaan sendiri yang harus dilakukan, dan kami berkomitmen untuk melakukannya,” kata Kashkari. Biro Analisis Ekonomi sempat. (Yetede)
Tidak Ada Resesi di Amerika
Meski dalam dua kuartal terakhir didera kontraksi ekonomi, penyerapan tenaga kerja di AS justru meningkat. Dalam terminologi Amerika, Negeri Paman Sam itu tidak jatuh ke jurang resesi. Bauran kebijakan bank sentral AS (The Fed) dan pemerintahan Presiden Joe Biden mampu mencegah negeri itu dari resesi. Dalam pada itu, dolar AS kian perkasa terhadap mata uang dunia. Merespons kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 75 basis poin, lebih kecil dari perkiraan sebelumnya, harga saham di berbagai bursa dunia menguat. “PDB AS hanya turun 0,9% pada kuartal II-2022 secara tahunan. Kontraksi ekonomi yang lebih kecil ini terutama merefleksikan tren naik ekspor AS dan penurunan yang lebih kecil pengeluaran pemerintah federal,” papar Bureau of Economic Analysis AS, Kamis (28/7/2022) waktu setempat. Sementara itu, data lapangan kerja di AS juga masih kuat. Sebagaimana di lansir CNBC, jumlah pekerjaan baru non pertanian (nonfarm payrolls) yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS sebanyak 372.000 pada Juni 2022. Meski sedikit turun dari 390.000 pada Mei 2022, namun angka penganggurannya tetap 3,6% atau sama dengan bulan sebelumnya. (Yetede)
Resesi Dangkal Berpeluang Terjadi di Kuartal III
Analis memprediksi ekonomi Amerika Serikat (AS) berpeluang mengalami resesi dangkal pada kuartal III tahun ini. Setelah The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan 75 basis poin pada Rabu (15/6) Gubernur The Fed Jerome Powel mengindikasikan pihaknya terus menempuh jalan agresi untuk mengendalikan lonjakan inflasi. "Masalahnya sekarang apakah ini akan menjatuhkan ekonomi ke dalam resesi di saat konsumen sudah mulai menghemat pengeluaran? Pasar Perumahan di AS sekarang terbelenggu dengan suku bunga pinjaman hampir 6% sehingga saya pikir kita berpeluang untuk jatuh kedalam resesi pada kuartal mendatang," tutur Yoshikami. Walaupun pasar saat ini sudah menerima kemungkinan terjadinya resesi, Yoshikami mencatat bahwa tidak berarti kesulitan ekonomi jangka panjang tidak terelakkan. (Yetede)
The Fed Tidak Ragu Terus Naikkan Suku Bunga
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powel menekankan tekadnya untuk menurunkan laju inflasi dengan terus mendukung kenaikan suku bunga sampai harga mulai turun kembali ke level yang sehat. "Jika itu termasuk bergerak melewati tingkat netral yang dipahami secara luas, kami tidak akan rugi untuk melakukan. Kami bakal melakukan sampai kami merasa berada dimana kami dapat mengatakan kondisi keuangan berada ditempat yang tepat, (yakni) melihat inflasi turun. Kami akan menuju ke ttitik itu. Tidak ada keraguan tentang itu," ujar dia dalam wawancara dengan Wall Street Journal pada Selasa (17/5) Menurut Powel, setelah kenaikan itu, pergerakan 50 basis poin yang serupa kemungkinan akan terjadi di pertemuan berikutnya, selama kondisi ekonomi tetap serupa dengan sekarang. Powel juga kembali mengulangi komitmennya pada Selasa untuk mendekatkan inflasi ke target 2% The Fed sekaligus memperingatkan bahwa itu mungkin tidak mudah, dan dapat mengorbankan tingkat pengangguran 3,6% yang saat ini tepat diatas level terendah sejak akhir 1960-an. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022









