Amerika Serikat
( 390 )Inflasi Melandai, Ekonomi AS Menuju Perbaikan
Ekonomi global menunjukkan tanda awal menuju perbaikan. Secercah harapan tercermin dari penurunan inflasi di Amerika Serikat (AS) serta mobilitas di China yang mulai meningkat setelah kebijakan zero Covid-19 ditangguhkan. Tingkat inflasi tahunan AS pada Desember 2022 turun menjadi 6,5% year on year (yoy) dari 7,1% di November. Ini menunjukkan kebijakan kenaikan bunga The Fed tampaknya mulai menunjukkan hasil. Penurunan inflasi ini terutama didorong penurunan harga bensin dan kendaraan bermotor.
Pejabat The Fed Philadelphia, Patrick Harker mengharapkan kenaikan Fed rate bulan depan lebih kecil dari sebelumnya yakni menjadi 25 basis poin (bps). Sung Won Sohn, Guru Besar Keuangan dan Ekonomi Universitas Loyola Marymount menilai, langkah The Fed sudah mulai berbuah meskipun tingkat inflasi masih jauh dari target 2%. "Puncak gunung inflasi sudah sudah dilewati. Pertanyaan sekarang adalah seberapa curam penurunan ke depan," kata Sohn seperti dikutip dari
Reuters,
Jumat (13/1).
Laju Inflasi AS Paling Lambat dalam Setahun Lebih
WASHINGTON, ID - Inflasi konsumen di Amerika Serikat (AS) pada Desember 2022 turun ke level terendah dalam setahun lebih. Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS pada Kamis (12/1/2023) itu menandakan lonjakan kenaikan harga-harga konsumen di AS mungkin akan berakhir. Karena ketika rumah tangga di Amerika berjuang menjalani inflasi tinggi dalam beberapa dekade pada tahun lalu, The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan pada kecepatan terbesar sejak tahun 1980-an. Bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan hingga tujuh kali di tahun lalu dengan harapan dapat mendinginkan permintaan. Tren penurunan inflasi itu juga menandai pelonggaran enam bulan berturut-turut. Dan dapat memicu harapan terjadinya penurunan laju penaikan suku bunga. Indeks harga konsumen (IHK) AS bulan lalu naik 6,5% dibandingkan tahun lalu. Ini adalah kenaikan terkecil sejak Oktober 2021. Inflasi konsumen tahunan itu juga turun dari kenaikan 7,1% pada November 2022. “Harga bahan bakar sejauh ini merupakan penyumbang terbesar penurunan semua item bulanan,” kata Depnaker AS. (Yetede)
Sinyal Resesi Dangkal di AS
Pekan lalu, Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyatakan, sepertiga dunia akan mengalami resesi di tahun 2023. Penyebabnya, konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, tingginya harga komoditas, resurgensi Covid-19 di China, dan tingkat bunga di AS yang tinggi. Lokomotif perekonomian dunia, AS, Eropa, dan China, akan melambat. Negara-negara lain yang tidak mengalami resesi akan merasakan dampak melalui rantai pasokan global dalam bentuk perlambatan ekspor dan/atau kenaikan biaya impor. Pernyataan di atas disambut pasar minyak dunia dengan anjloknya harga minyak West Texas Intermediate dari 80 USD ke 73 USD per barel. Melihat inkonsistensi data makro AS, resesi 2023 diperkirakan akan seluas lautan, tetapi sedalam lutut atau mata kaki (shallow recession). Resesi di AS diperkirakan berjalan tidak terlalu lama, terutama karena perubahan perilaku permintaan agregat masyarakat. Hal ini akan berdampak global karena AS masih merupakan lokomotif perekonomian dunia.
Menurut Alan Greenspan, mantan Ketua Bank Sentral AS (The Fed) 1987-2006, resesi tetap akan terjadi. Penyebabnya adalah The Fed ingin memperbaiki kredibilitasnya dalam mengendalikan inflasi yang sebelumnya terlalu lambat menaikkan suku bunga acuan. Anjuran agar The Fed memoderasikan tingkat kenaikan suku bunga acuan untuk menghindari resesi mengandung risiko untuk dipenuhi karena akan terlihat sebagai usaha untuk melindungi pasar modal saja. Tidak terhindarkan lagi pasar modal AS akan terdampak. Menjelang pertemuan The Fed berikutnya pada 31 Januari-1 Februari, ekspektasi ini terkonfirmasi. Indeks DOW turun 300 poin, mengantisipasi The Fed yang tetap hawkish karena data penciptaan kesempatan kerja terkini AS masih baik. Survei Reuters terhadap 48 ekonom terkemuka di AS pada Desember 2022 memberi pandangan menarik. Mayoritas responden, 35 dari 48 orang, menyebutkan bahwa resesi akan berlangsung relatif pendek dan dangkal. Lembaga finansial Moody menamakan fenomena ini slowcession, bukan recession. Dalam skenario ini, pertumbuhan mungkin lambat. Tekanan inflasi turun, tetapi masih tinggi di atas angka ideal 2 per tahun. (Yoga)
Arah Kebijakan Bank Sentral AS
Keputusan besaran kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS atau The Fed dalam pertemuan 13-14 Desember ini jadi perhatian dunia. Pasalnya, tanda-tanda resesi dunia mulai tampak, terutama di zona euro. Kenaikan yang berlebihan untuk ke sekian kalinya akan mempercepat dunia memasuki jurang resesi. Meski demikian, prospek resesi,terutama di AS, belum jelas karena di tengah indikasi penurunan kegiatan ekonomi, beberapa indikator justru menunjukkan adanya ekspansi. Dampak lain dari kenaikan suku bunga The Fed adalah terlalu kuatnya dollar AS, terutama karena kehati-hatian pemodal internasional yang mengambil sikap ”cash is the king”. Penguatan mata uang dollar AS merupakan bebantambahan bagi pembayaran impor serta cicilan pokok dan pinjaman negara-negara berkembang serta emerging markets karena hampir semua transaksi global masih berdenominasi dollar AS. Indikasi awal resesi global terlihat dari penurunan harga minyak yang mendekati 70 dollar AS per barel. Awalnya harga minyak mencoba bertahan di kisaran 80-90 dollar AS per barel. Namun, pelemahan permintaan dunia akibat antisipasi resesi dan penurunan kegiatan ekonomi akibat kebijakan mitigasi Covid-19 di China membuat harganya berada di kisaran bawah antara 70 dan 80 dollar AS per barel. Indikator awal di AS masih ambigu. Berbagai ramalan mengindikasikan resesi akan terjadi pada pertengahan 2023.
Satu indikator penting yang mengarah ke sana adalah angka PMI. Indeks PMI tiba-tiba berbalik dari zona ekspansi 50,4 pada Oktober ke kontraksi 47,7 pada November. Pertanda resesi lain adalah sudah terjadinya inverted yield curve, yakni imbal hasil untuk obligasi pemerintah bertenor jangka pendek lebih tinggi daripada yang bertenor jangka panjang. Para pemodal, karena ketidakpastian yang tinggi, beralih ke instrumen investasi finansial jangka pendek. Imbal hasil untuk obligasi treasury bertenor dua tahun tercatat 4,384 % berbanding dengan 3,692 % untuk obligasi treasury bertenor 10 tahun. Berlawanan dengan pertanda resesi di atas, pertumbuhan tahunan ekonomi AS pada triwulan III-2022 justru mencapai 2,9 % setelah dua bulan berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif 1,6 dan 0,6 %. Tekanan inflasi indeks harga konsumen (IHK) turun ke 7,7 % pada Oktober dari 8,2 % pada September. Menjelang pertemuan The Fed, perkembangan di atas menimbulkan perdebatan apakah selama ini kebijakannya terlalu hawkish. Dari berbagai headline di AS, tampaknya The Fed akan berubah (pivot) melunak, memberikan sinyal kenaikan berikutnya pada Desember adalah 50 basis poin, disusul 25 basis poin di awal 2023, ditanggapi dengan sinyal serupa oleh sejumlah bank sentral di dunia, di antaranya bank sentral Inggris (BOE), bank sentral Eropa (ECB), dan bank sentral Kanada (BOC). (Yoga)
Suku Bunga The Fed Mirip Pil Pahit
Kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi di AS memicu gejolak keuangan global. Banyak usaha dan negara yang tertekan akibat kenaikan beban utang dan apresiasi dollar AS. Akan tetapi, situasi ini seperti pil pahit. Sepanjang kondisinya belum sehat, ekonomi AS adalah sumber masalah. Status sebagai alat tukar global, bukan karena kekuatan ekonomi AS, menjadikan dollar AS sebagai penyebab derita. Penciutan peredaran dollar AS, di samping kenaikan suku bunga dollar AS, sebagai bagian dari langkah penyehatan, juga menjadi sumber masalah. Dua hal inilah sebagai penyebab derita global karena mendera seluruh dunia. Kisruh akibat penciutan peredaran dollar AS dan kenaikan suku bunga menyebabkan pertumbuhan global menurun pada 2023. Gejalanya sudah mulai terasa sepanjang 2022. Catatan ini menjadi salah satu pesan utama dalam peringatan Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), serta ekonom Nouriel Roubini, Mohamed El-Erian, dan lainnya.
Perdagangan, aliran investasi global, dipastikan menurun berdasarkan perkiraan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Gejolak di pasar uang, obligasi, dan indeks-indeks saham juga menambah guncangan pada perdagangan dan investasi global. Sejumlah negara akan semakin mengalami penumpukan utang sehingga menambah daftar panjang negara-negara yang terjerembap utang. Derita akibat dollar AS masih berlanjut, sebab penciutan peredaran dollar AS dan kenaikan suku bunga dollar AS belum akan berhenti. Inflasi di AS masih tinggi, 7,7 %, atau masih jauh di atas target 2 %. Situasi ini membuat bank sentral AS, The Fed, mencanangkan lanjutan kenaikan suku bunga dari level sekarang 3,75 % hingga 4 %. Menurut Presiden Federal Reserve St Louis, James Bullard, lanjutan kenaikan suku bunga dollar AS diperkirakan melampaui 5,25 %. Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari bahkan lebih ekstrem. ”Tidak bisa diketahui sejauh mana suku bunga Fed akan berakhir. Yang jelas, jika inflasi masih tinggi, suku bunga akan terus dinaikkan,” katanya. Di samping itu, pengetatan peredaran dollar AS juga terus dilakukan. (Yoga)
Penaikan Suku Bunga The Fed Lebih Kecil, Diperkirakan Desember
WASHINGTON, ID – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada Rabu (30/11/2022) waktu setempat memastikan bahwa penaikan suku bunga yang lebih kecil kemugkinan segera terjadi. Walau hasil dari kemajuan dalam perang melawan infasi sebagian besar tidak memadai. alam catatan Powell, langkah-langkah kebijakan seperti kenaikan suku bunga dan pengurangan kepemilikan obligasi The Fed, umumnya membutuhkan waktu untuk melewati sistem. “Dengan demikian, masuk akal untuk memoderasi laju penaikan suku bunga kami saat kami mendekati tingkat pengekangan yang cukup untuk menurunkan inflasi. Waktu untuk memoderasi laju kenaikan suku bunga mungkin akan datang segera setelah pertemuan Desember,” ujarnya dalam sambutan yang disampaikan di Brookings Institution, yang dilansir CNBC. Menurut Powell, ia melihat bank. “Meskipun ada beberapa perkembangan yang menjanjikan, jalan kita masih panjang untuk memulihkan stabilitas harga,” tuturnya. Wall Street pun menyambut baik pernyataan itu. Sebagai respons, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 737 poin atau 2,18%, sekaligus menghentikan penurunan beruntun tiga sesi. Sementara itu, saham-saham teknologi bernasib lebih baik, dengan Nasdaq Composite menguat 4,41% lebih tinggi. (Yetede)
Perusahaan Teknologi Hadapi Krisis
Setelah booming bertahun-tahun, perusahaan teknologi terkena krisis. Terjadi penurunan pendapatan dan PHK. ”Setiap orang telah mengingatkan dalam dua dekade terakhir bahwa ini pasti berakhir. Akhirya pertumbuhan tahun demi tahun berakhir juga,” kata Marc Weil (35), Manajer Teknisi Stripe, yang juga kehilangan pekerjaan (The Washington Post, 14 September). Mendadak berubah kejayaan perusahaan teknologi yang pernah meraih kinerja akbar. Microsoft dan Google adalah dua perusahaan teknologi dengan valuasi tertinggi ke-3 dan ke-4 di dunia setelah Apple dan Saudi Aramco. Pada tahun 2020, industri teknologi menyumbang 10,2 % PDB AS. Kenaikan harga-harga saham Amazon, Google, Microsoft, Facebook, Netflix, Tesla, Salesforce, dan lainnya telah mengisi rekening dana pensiun jutaan orang AS. Perusahaan teknologi berkontribusi 30 % total kapitalisasi S&P 500 pada Maret 2022. Situasi kini berbalik. Indeks Nasdaq, berisikan perusahaan teknologi, anjlok 30 % sejak Januari 2022. Rentetan PHK melanda Meta (Facebook), Twitter, Stripe, Coinbase, Shopify, Netflix, Microsoft, Snap, Robinhood, Lyft, Chime, WATCH.
Lebih dari 35.000 karyawan di-PHK sejauh ini di AS. Hal itu juga melanda perusahaan serupa di dunia walau belum separah AS. ”Situasinya mirip krisis dotcom di era 2000,” kata Lise Buyer, seorang analis. Era perekrutan dengan gaji tinggi, minimal 200.000 USD per tahun, untuk lulusan terbaru universitas telah berakhir. Masalah bagi perusahaan teknologi tergolong bukan gambaran umum perekonomian AS. Perusahaan teknologi terpukul setelah pandemi Covid-19 mulai mereda. Saat pandemi perusahaan-perusahaan tergiur berekspansi karena mendadak warga beralih ke dunia daring. Pejabat keuangan (CFO) Zoom Video Communications Inc, Kelly Steckelberg, menuturkan, warga mengurangi pertemuan daring. Akan tetapi, perusahaan-perusahaan telanjur menghabiskan uang untuk investasi termasuk Metaverse. ”Saya salah perkiraan,” kata Mark Zuckerberg (Associated Press, 10 November). Lalu ada kenaikan suku bunga AS. Pada era suku bunga rendah, sangat mudah mendapat uang, kini berubah. Bayangan resesi membuat penerimaan iklan menurun. ”Banyak Perusahaan akan lenyap,” kata pemimpin Credit Suisse, Axel Lehmann. (Yoga)
Penaikan Batas Utang Jadi Tantangan Utama Biden
Kenaikan batas maksimal utang akan menjadi ujian pokok Pemerintah AS kala DPR dikuasai Partai Republik. Penolakan menaikkan batas utang akan melemahkan berbagai program pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Berbagai agenda lain di pemerintahan Biden juga bisa terdampak dengan komposisi baru di DPR. Pada Kamis (17/11) Republikan dipastikan menguasai 218 dari 435 kursi DPR AS hasil pemilu paruh waktu (midterm) 2022. Perolehan itu membuat Republikan menjadi mayoritas tipis di DPR. Masih ada tujuh kursi yang belum ditentukan. Ada peluang kursi Republikan di DPR bertambah karena penghitungan suara di beberapa daerah pemilihan belum selesai. Biden, yang berasal dari Partai Demokrat, langsung memberikan ucapan selamat kepada Partai Republik.
”Rakyat AS ingin kami menyelesaikan sesuatu untuk memberi hasil bagi mereka,” kata Biden. Sejak beberapa hari lalu, pejabat di Gedung Putih dan Departemen Keuangan AS meminta batas utang segera dinaikkan. Kini, total utang Pemerintah AS bernilai 31,28 triliun USD. Padahal, pemerintah dan Kongres sepakat jumlah total utang pemerintah paling banyak 31,4 triliun USD. Dengan laju belanja paling moderat sekalipun, batas utang diperkirakan tercapai paling lambat pada Juni 2023. Menkeu AS Janet Yellen meminta batas utang dinaikkan tahun ini. Sebab, Kongres masih dikendalikan Demokrat sampai Januari 2025. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi pemerintah mencapai kompromi dengan parlemen. (Yoga)
Kenaikan Suku Bunga di AS Terus Berlanjut
Bank Sentral AS kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 % guna meredam inflasi. Dengan demikian, suku bunga acuan di AS akan berkisar 3,25 % hingga 4 %. Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell, di Washington, Rabu (2/11), menyatakan, kenaikan suku bunga masih berlanjut karena inflasi tetap bertahan tinggi. (Yoga)
The Fed Belum Akan Berhenti Naikkanlah Suku Bunga
The Fed pada Rabu (2/11) siang, menyetujui penaikan suku bunga acuan 75 basis poin (bps) untuk keempat kalinya berturut-turut. Karena memerangi inflasi masih menjadi prioritas kebijakannya, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan suku bunga akan terus dinaikkan. Dengan penaikan pada Rabu itu, fed funds rate (FFR) sekarang berada di kisaran 3,75%-4%, level tertinggi sejak Januari 2008. Dalam pernyataan kebijakannya, The Fed memberi indikasi ada perubahan kebijakan ke depan. “Dalam menentukan suku bunga ke depan, The Fed akan memperhitungkan pengetatan kebijakan moneter secara kumulatif, karena jika tertinggal dengan kebijakan moneter akan memengaruhi kegiatan ekonomi, inflasi, kondisi ekonomi dan finansial,” kata Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC.
Pasar saham AS awalnya menguat usai pengumuman The Fed. Lantas berubah negatif setelah Powell menyampaikan konferensi persnya. Ia menepis anggapan bahwa The Fed tidak lama lagi akan menghentikan siklus penaikan. Tapi pembahasan untuk mengurangi laju pengetatan, kata Powell, dapat dilakukan dalam satu hingga dua pertemuan kebijakan berikutnya. Ia juga menegaskan lagi The Fed akan tegas tapi sabar dalam memerangi lonjakan inflasi. “Kami masih memiliki beberapa instrumen dan data-data yang muncul sejak pertemuan terakhir kami mengindikasikan level puncak suku bunga akan lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya,” kata Powell. Ia menandaskan bahwa pada akhirnya laju penaikan suku bunga akan dikurangi. Powell sudah mengatakan ini dalam beberapa kali konferensi pers. “Jadi waktunya akan tiba, dan bisa jadi dalam waktu dekat. Dalam pertemuan berikutnya atau yang setelahnya lagi. Yang jelas belum ada keputusannya,” kata Powell. The Fed berupaya menurunkan inflasi ke target 2%. Sedangkan laju inflasi AS pada September 2022 berada di level 8,2%. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Orang Kaya Singapura Akan Dikenai Pajak
19 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022









