Amerika Serikat
( 391 )Sentimen The Fed dan BI Bayangi Pasar Modal
Head of Research Team PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Robertus Hardy menyampaikan, pekan ini investor masih akan menantikan keputusan
suku bunga oleh The Fed untuk merespons tren inflasi di AS. Keputusan itu akan
muncul dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan
pada 19-20 Maret 2024. Hasil dari pertemuan itu juga akan menentukan arah kebijakan
BI dalam menetapkan suku bunga. BI juga akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur
pada 19-20 Maret 2024.
”Meskipun (keputusan) kedua bank sentral diperkirakan tidak
berubah, investor perlu menyimak informasi yang tersirat pada pernyataan mengenai
arah kebijakan moneter ke depan,” kata Robertus dalam keterangannya pada Selasa
(19/3). Pesan senada disampaikan Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT)
Angga Septianus. Hasil pertemuan bank sentral tersebut akan menentukan prospek
pasar ke depan kendati para ekonom memprediksi kebijakan suku bunga tidak akan
berubah dalam waktu dekat. (Yoga)
Operasi Tiktok di AS Terus Mendapat Ganjalan
DPR di AS, ketika berita ini ditulis, Rabu (13/3) tengah bersiap
menggelar pemungutan suara terkait masa depan media sosial Tiktok di AS. Diduga
kuat, DPR AS akan meloloskan ketentuan yang memaksa Bytedance, perusahaan induk
Tiktok di China, mendivestasikan aset mereka pada entitas di luar China. Waktu
yang diberikan hanya enam bulan. Apabila tidak mengindahkannya, Tiktok akan
dilarang digunakan di AS. Pemungutan suara akan dilakukan pukul 10.00 waktu
setempat. Untuk dapat disahkan, RUU itu membutuhkan dukungan dari dua pertiga
anggota DPR. Meskipun Tiktok gigih menggalang dukungan untuk menahan laju RUU
itu, para pihak, baik pendukung maupun penentang RUU itu, memprakirakan, ketentuan
itu bakal lolos di DPR. Komite Energi dan Perdagangan DPR pada pekan lalu
memberikan suara 50-0 untuk mendukung RUU tersebut.
RUU itu lahir dari kekhawatiran soal keamanan nasional AS
terhadap langkah asertif China, mulai dari isu mobil cerdas, kecerdasan buatan,
hingga media sosial. Selasa lalu, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake
Sullivan mengatakan, tujuan dari lahirnya RUU itu adalah untuk mengakhiri
kepemilikan oleh perusahaan China, bukan semata-mata melarang Tiktok. ”Apakah
kita ingin Tiktok, sebagai sebuah platform, dimiliki oleh perusahaan AS atau
dimiliki oleh China? Apakah kita ingin data dari Tiktok, data anak-anak, data
orang dewasa, tetap ada di sini, di AS, atau pergi ke luar negeri? China?” kata
Sullivan.
Secara resmi, ketentuan itu dikenal sebagai ”UU Perlindungan
Orang AS dari Aplikasi yang Dikendalikan Musuh Asing”. China mengancam sikap
dan langkah AS. Menurut China, pada akhirnya larangan itu justru akan berdampak
buruk dan merugikan AS. Kecaman keras China tersebut disampaikan oleh juru bicara
Kemenlu China, Wang Wenbin, Rabu (13/3) di Beijing, China. ”Meskipun AS tidak
pernah menemukan bukti bahwa Tiktok mengancam keamanan nasional AS, mereka
tidak berhenti menekan Tiktok,” kata Wang. Saat ini, aplikasi video pendek itu
digunakan 170 juta orang di AS. Ini menjadikan Tiktok salah satu media sosial dengan
jumlah pengguna terbanyak di negara itu. Namun, Fraksi Partai Republik dan
Partai Demokrat di DPR AS berpendapat, kepemilikan perusahaan itu dinilai
memiliki potensi atau menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional AS. (Yoga)
Data Ekonomi AS Loyo, Mata Uang Regional Rebound
AMERIKA SERIKAT, Anak-anak Muda Bersiasat Hadapi Tekanan Pendapatan
Kekayaan anak-anak muda dari generasi milenial (kelahiran 1981-1996)
dan generasi Z (1997-2012) di AS sebenarnya terus bertambah. Namun, sebagian
besar uang mereka dibelanjakan untuk ”kebutuhan saat ini saja”. Situs NBC, 18
Februari 2024, mengutip penelitian bank sentral AS di New York, menyebut,
kekayaan bersih warga AS berusia 18-39 tahun melonjak 80 % dari kekayaan mereka
pada awal 2019 hingga kuartal ketiga 2023. Namun, sebagian besar dari kekayaan
mereka berasal dari investasi pada saham-saham yang tidak likuid sehingga tidak
bisa dicairkan segera untuk dapat dibelanjakan. Di sisi lain, dana cair yang mereka
miliki sebagian besar ludes untuk memenuhi kebutuhan harian yang kian mahal.
Ada pengeluaran yang penting dan harus mereka alokasikan, seperti sewa rumah
dan jalan-jalan. Namun, anak-anak muda itu juga membutuhkan ”udara segar”
setelah terkungkung pandemi Covid-19 dan terbelit utang pinjaman kuliah yang
sangat besar.
Mereka harus berjibaku menyiasati tekanan dalam pendapatan
yang tidak mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Seorang warga AS, Mohit Singla
(33), memang mendapat kenaikan gaji 20 % setelah dipercaya menjadi direktur
senior sebuah perusahaan bioteknologi pada September 2023. Jika digabung dengan
penghasilan istrinya, pendapatan tahunan pasangan itu 500.000 USD atau Rp 7,8
miliar. Namun, uang sebanyak itu masih kurang atau tak mencukupi kebutuhan
harian, terutama setelah kelahiran bayi mereka pada Desember 2023. Ada tambahan
kebutuhan untuk anak, belum termasuk harga sewa apartemen dua kamar tidur
mereka di Jersey City, yang melonjak menjadi 5.500 USD atau Rp 86 juta per bulan, dari 3.700 USD tahun kemarin.
Survei perusahaan perantara perumahan AS, Redfin, pada September 2023 menyebutkan,
18 % generasi milenial dan 12 % gen Z tidak yakin akan mampu membeli rumah.
Harga jual rumah rata-rata 30 % lebih tinggi ketimbang harga
pada awal 2019, sementara tabungan yang awalnya dialokasikan untuk membayar
uang muka membeli rumah kini dibelanjakan untuk hal-hal lain. Makan di luar dan
makan mewah adalah salah satu kesenangan yang dipertahankan. Setiap akhir pekan,
alokasinya 200 USD. Mereka butuh menjadi bahagia saat ini. Perencana keuangan
dan pendiri FirstGenLiving, Maria Melchor (27), dari New York City, kepada
harian Daily Mail, 18 Desember 2023, menjelaskan bahwa apa yang selama ini
disebut ”impian Amerika” sekarang tidak ada lagi pada generasi milenial dan gen
Z. Dua kelompok generasi itu secara umum tidak mampu lagi membeli rumah dan
berkeluarga di tengah kondisi perekonomian seperti sekarang. Kenyataan pahit
dari keterbatasan finansial itu membuat mereka menghabiskan banyak uang untuk
”bersenang-senang”. Entah itu untuk jalan-jalan, makan enak, atau membeli tiket
konser Taylor Swift yang mahal. (Yoga)
The Fed Hati-Hati Turunkan Suku Bunga
Terganjal Pemulihan Ekonomi AS
Ekonomi AS Lampaui Estimasi, Rupiah Melemah
Pengajuan Baru Tunjangan Pengangguran Turun Tajam
Sinyal Suku Bunga Fed, Keraguan Tetap Melekat
Bank Sentral AS memproyeksikan akan ada penurunan suku bunga
inti pada 2024 dan setelahnya, karena inflasi makin menurun. Suku bunga yang
menurun diperlukan untuk mencegah resesi. Sejauh ini AS disebutkan beruntung
karena kenaikan suku bunga sejak Maret 2022 tidak membawa perekonomian memasuki
resesi, hanya penurunan kecil pertumbuhan atau soft landing. Namun, tak semua
pihak yakin dengan skenario Bank Sentral AS (The Fed) tentang penurunan suku
bunga dan soft landing. Kerapuhan tetap menjadi warna perekonomian AS, termasuk
inflasi yang sewaktu-waktu bisa kembali menekan. Kerapuhan dalam perekonomian
AS perlu diperhatikan. Efeknya besar pada kestabilan keuangan global. Hanya
saja, di balik kerapuhan itu, Fed melihat sinyal baik untuk sementara waktu.
Suku bunga inti (prime rate), yang juga disebut sebagai suku bunga acuan, saat
ini di angka 5,25-5,5 %. Suku bunga inti ini dipertahankan di kisaran tersebut
dalam pertemuan Komite Kebijakan Pasar Terbuka Fed (FOMC), Washington, Rabu
(13/12).
Suku bunga inti tersebut diproyeksikan akan diturunkan
perlahan ke level 4,6 % pada 2024. Alasannya, inflasi sepanjang 2024 diproyeksikan
akan berkisar pada angka 2,4 % dan pada 2025 menjadi 2,2 % serta menuju target
2 % pada 2026. Meski direncanakan menurun pada 2024, suku bunga tetap relatif
tergolong tinggi dan berefek negatif terhadap pertumbuhan. Fed memperkirakan
pertumbuhan ekonomi AS hanya akan tumbuh 1,4 % pada 2024. Pertumbuhan akan naik
menjadi 1,8 % pada 2025 dan 1,9 % pada 2026 seiring dengan penurunan suku bunga
secara bertahap. Menurut Gubernur Fed Jerome Powell, proyeksi penurunan suku bunga
pada 2024 didasarkan pada gejala penurunan suku bunga yang terus terjadi hingga
November 2023. Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS, inflasi pada November
2023 sebesar 3,1 %. Ini merupakan penurunan dari inflasi pada Oktober 2023 sebesar
3,2 %. (Yoga)
Joe Biden: Menduduki Gaza Adalah Kesalahan Besar
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022









