Amerika Serikat
( 390 )Jalan AS Menuju Inflasi 2% Sebenarnya Mulus
WASHINGTON,ID-Jalan Amerika Serikat (AS) menuju target inflasi 2% yang ditetapkan oleh The Fed dipercaya sebenarnya mulus. Tidak seperti anggapan kebanyakan bahwa hal itu membutuhkan prasyarat berupa resesi ekonomi dan kehilangan lapangan pekerjaan signifikan. Fokus The Fed terhadap apa yang disebut sebagai jarak terakhir, yakni kembali ke penuh target inflasi 2% akan membutuhkan resesi dan kehilangan pekerjaan yang signifikan, telah menimbulkan pesimisme. Karena walaupun tingkat inflasi AS telah turun drastis dari level puncak di masa pandemi, tapi masih bercokol diangka 3,2% pada Juli 2023. Inflasi inti bahkan masih sekitar dua kali lipat dari target bank sentral AS tersebut. Pesimisme itu dilaporkan didukung oleh fakta sejarah. Karena hasil-hasil studi akademik dan penelitian lain menyimpulkan bahwa tingkat inflasi selama dua tahun terakhir tidak dapat diperbaiki tanpa resesi. Kalangan ekonom terkemuka juga memproyeksikan lonjakan tingkat pengangguran AS menjadi antara 5% dan 10%- dari 3,5% saat ini- dengan jutaan pengangguran. (Yetede)
AS Berencana Relokasi Pabrik ke Indonesia
Industri alas kaki Tanah Air mendapat peluang pemulihan dari imbas perang dagang AS dan China. AS berencana merelokasi sejumlah pabrik sepatu di China dan Vietnam ke Indonesia. Indonesia menjadi pilihan karena pemilik merek dari AS melihat kinerja produksi sejumlah jenama besar sepatu di Indonesia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) sekaligus Ketua Confederation of International Footwear Association (CIFA) Eddy Widjanarko, AS menyoroti China yang dinilai cenderung mendukung Rusia. Imbasnya, di tengah perang dagang di antara kedua negara itu, AS mengurangi permintaan dari China, termasuk sepatu.
”AS mencari negara baru untuk relokasi dan investasi (alas kaki). Indonesia menjadi salah satu pilihan. Di saat yang sama, sejumlah pabrik sepatu di China tutup akibat resesi,” ujar Eddy di sela International Footwear Conference ke-40 di Jakarta, Jumat (4/8). Indonesia menjadi pilihan karena AS menilai kinerja jenama besar sepatu di Tanah Air sangat kuat, seperti Nike, Adidas, dan Reebok.
Di Indonesia, terdapat 44 pabrik Nike dan 20-30 pabrik Adidas. AS juga berencana merelokasi sejumlah pabrik sepatu dari Vietnam ke Indonesia, disebab kan kebijakan karantina wilayah (lockdown) saat pandemic Covid-19 di Vietnam yang membuat industri negara itu tidak mampu memenuhi per-mintaan pembeli. Sebaliknya, Indonesia dinilai dapat mengelola produksinya di tengah pandemi sehingga dapat memenuhi permintaan pembeli. (Yoga)
Gen Z, Kecil-kecil Jadi Bos
Generasi Z, angkatan yang lahir pada periode pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2010-an, menempati 26 % populasi masyarakat global. Sebagian di antaranya sudah lulus sekolah dan memasuki dunia kerja. Bahkan, sebagian telah menjadi pemimpin di perusahaannya sendiri atau menduduki posisi puncak di perusahaan orang lain. Mc Kinsey, pada Juni 2023, menerbitkan laporan, sepertiga dari 500 perusahaan terbesar di AS memiliki direktur utama berusia di bawah 50 tahun. Bahkan, sejumlah perusahaan memiliki direktur berusia di bawah 30 tahun yang bukan anak ataupun cucu dari pendiri perusahaan.
Celia Huber, mitra senior di McKinsey, menjelaskan, fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan perusahaan yang sudah mapan terhadap Generasi Z besar, selama individu tersebut menunjukkan kualitas kepemimpinan yang diperlukan untuk mengelola korporasi itu. ”Memang Gen Z ini kurang berpengalaman dalam menghadapi siklus ekonomi. Tetapi, di sisi lain, banyak perusahaan justru melihat ini sebagai kelebihan karena menghadirkan sudut pandang yang segar,” ujarnya. Menurut Huber, 300 pemimpin perusahaan yang diwawancara McKinsey mengatakan, hal terpenting dari karakteristik pemimpin ialah mampu beradaptasi dengan segala ketidakpastian, mampu mengelola lingkungan dan emosi pekerja, juga penguasaan atau setidaknya pemahaman perkembangan teknologi digital. (Yoga)
EKONOMI AS Jangan Terlena dengan ”Soft Landing”
Kini sedang berkembang isu soft landing bagi perekonomian AS. Artinya, aktivitas perekonomian AS menurun, tetapi tidak terbanting keras seperti pada 2008. Namun, para pelaku di pasar uang, saham, dan lainnya perlu waspada agar jangan kecele. Sebab, ada kerawanan besar di balik pernyataan tersebut, terutama terletak pada kecepatan pengambilan kesimpulan. Bisa juga, kesimpulan diambil tanpa memperhitungkan semua faktor dan bisa terbukti salah total, tetapi baru dirasakan kemudian hari.
Di tengah inflasi yang belum sampai pada target 2 % dan suku bunga masih akan naik dari level 5,25 %-5,5 %, Gubernur Fed Jerome Powell dan Menkeu Janet Yellen sudah menyuarakan bahwa perekonomian paling-paling hanya menuju soft landing. ”Untuk AS, pertumbuhan ekonomi melambat, tetapi saya tidak melihat resesi,” kata Yellen, dikutip Reuters, 17 Juli 2023. Berdasarkan data yang ada, PDB AS tumbuh 2 % pada kuartal I-2023 dan 2,8 % pada kuartal II-2023. Perkiraan Fed untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang 2023 adalah 1,3 %.
Terjadi penurunan, tetapi ringan. Inilah dasar munculnya istilah soft landing. Reuters pada 27 Juli 2023 melaporkan, Powell menyampaikan perkiraan Fed bahwa ekonomi AS tidak akan memasuki resesi. Mantan penasihat Federal Reserve Dallas, Danielle DiMartino Booth, mengingatkan euforia tentang soft landing. ”Kita pernah menjalani diskusi serupa pada 2000 dan 2007. Saat itu diskusinya mirip dengan yang berlangsung sekarang, bahwa hanya akan terjadi soft landing,” kata DiMartino. Kenyataan kemudian menunjukkan perkiraan tersebut meleset jauh. (Yoga)
Pemerintah AS dan Ekonom Menangkis Langkah Fitch Ratings
NEW YORK,ID-Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sejumlah ekonom terkemuka di sana menepis langkah Lembaga pemerintah Ficth Ratings, yang pada Selasa (01/8/2023) menurunkan peringkat utang AS dari AAA menjadi AA+. Pemerintah AS menyebutkan, keputusan tersebut sekehendak sendiri. Sedangkan kalangan ekonom memandangnya sebagai langkah yang aneh. Namun sebagian ekonom lain mengatakan, biar bagaimanapun Langkah Fitch itu harus tetap menjadi bahan pemikiran, bagi pemerintah AS maupun para investor. Fitch memiliki alasan sendiri untuk menurunkan peringkat kredit AS dari AAA ke AA+. Menurut mereka, kemerosotan fiskal selama tiga tahun ke depan dan negosiasi pagu utang yang berulang kali gagal telah mengancam kemampuan pemerintah AS untuk membayar tagihan-tagihannya. Fitch pertama kali menandai kemungkinan penurunan peringkat utang AS itu pada Mei 2023. Kemudian mempertahankan posisi tersebut pada Juni 2023 setelah krisis pagu utang teratasi dan sekarang juga berencana menyelesaikan tinjauannya untuk kuartal III tahun ini. (Yetede)
Peringkat Utang Diturunkan, Menkeu AS Protes
Fitch Ratings menurunkan peringkat utang Pemerintah Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+, Selasa (1/8/2023). Alasannya, jumlah utang Pemerintah AS terus meningkat dan penanganannya memburuk serta pertumbuhan ekonomi AS akan menurun. Penurunan peringkat ini tidak menunjukkan kesulitan berarti tentang daya utang AS dalam waktu dekat. Meski demikian, Menteri Keuangan Janet Yellen memprotes putusan Fitch. (Yoga)
AS Bantu Australia Perkuat Industri Senjata
Amerika Serikat setuju membantu Australia mengembangkan industri persenjataan, khususnya memproduksi Sistem Peluncur Roket/Rudal Multilaras mulai tahun 2025. Selain ke AS, produk industri itu juga berpeluang dijual ke negara lain yang berminat. Dukungan itu mengemuka dalam pertemuan 2+2 antara Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dan Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dengan Menlu AS Antony Blinken dan Menhan AS Lloyd Austin, Sabtu (29/7/2023) di Brisbane, Australia. (Yoga)
BANK SENTRAL AS , Inflasi Masih Tinggi, Suku Bunga Naik Lagi
Bank sentral AS, Federal Reserve, memastikan masih ada peluang suku bunga acuan naik lagi. Inflasi yang masih di atas target Federal Reserve menjadi alasan peluang kenaikan itu terbuka, apalagi kemungkinan resesi mengecil. Bagi ekonomi Indonesia, hal tersebut dinilai tidak akan banyak terpengaruh. Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengumumkan, inflasi berulang kali terbukti lebih tinggi daripada yang diproyeksikan. ”Kita harus siap mengikuti data dan mempertimbangkan sejauh ini, kita bisa sedikit lebih sabar sembari tetap teguh menanti semuanya selesai,” kata Powell, Rabu (26/7). Pernyataan itu disampaikan kala ia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (SBA) Federal Reserve.
Dari 5,25 %, kini SBA AS menyentuh 5,5 %. Seluruh anggota Dewan Gubernur Federal Reserve atau The Fed menyepakatinya. The Fed mulai menaikkan SBA sejak Maret 2022 untuk menanggapi lonjakan inflasi. Dari 0,25 %, SBA menyentuh 5,25 % pada Mei 2023. Lewat 10 kali penyesuaian, Fed menaikkan SBA total 5,25 % pada Maret 2022-Juli 2023. Pada Juni 2023, Fed menaikkan SBA. Meski demikian, kala itu Dewan Gubernur mengindikasikan kenaikan SBA akan dilakukan setidaknya dua kali lagi pada 2023. Satu dari kenaikan sudah diambil pada akhir Juli 2023. Satu lagi berpeluang dilakukan September. ”Kami menunggu permintaan dan pasokan dalam perekonomian lebih berimbang, khususnya di pasar tenaga kerja. Kami terus bertanya, apakah seluruh data yang diperiksa menunjukkan suku bunga perlu dinaikkan lagi?” kata Powell. (Yoga)
Resesi AS yang Tak Kunjung Datang
Dalam situasi inflasi tinggi, strategi hard landing merupakan alternatif untuk mendinginkan perekonomian dengan memaksakan resesi (Persson dan Tabellini, 1994). Dalam hal ini, instrumen yang digunakan adalah suku bunga acuan. Risikonya, Perekonomian yang resesi menjadi semakin terpuruk, atau inflasi yang sudah tinggi semakin tinggi. Pola pemulihan ekonomi AS berbeda dari pemahaman konvensional tentang relasi antara pertumbuhan, pengangguran, dan inflasi. Data terkini di AS berbeda dari peringatan beberapa CEO dan ekonom soal resesi pada paruh kedua 2023.
The Fed pada 14 Juni 2023 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 5 % setelah 10 kali pertemuan sebelumnya selalu menaikkannya. Indeks dollar AS melemah ke kisaran 100 karena ekspektasi kenaikan suku bunga pada Juli adalah untuk terakhir kalinya. Namun, tanpa kenaikan suku bunga acuan, inflasi tetap turun menjadi 2,97 % pada Juni dari 4,05 % pada bulan sebelumnya. Sementara angka pengangguran tetap di bawah 4 %. Biro Statistik AS juga mengumumkan pertumbuhan AS pada triwulan I-2023 setelah dikoreksi adalah 2 %, jauh dari definisi resesi. Salah satu faktor penting adalah tetap kuatnya aktivitas di sektor jasa. Turunnya inflasi dan resesi yang tak kunjung datang tecermin dari indeks keyakinan konsumen terkini pada Juli. Angkanya melonjak drastis menjadi 72,6 dari 64,4 pada Juni. Masyarakat pun lebih optimistis terhadap masa depan perekonomian AS. (Yoga)
Saat Bank Sentral Global Ramai-Ramai Memerangi Inflasi
Sejumlah bank sentral dunia pekan ini akan merilis laporan kebijakan suku bunga dan pernyataan terbaru bagaimana memerangi inflasi tertinggi. Ahli strategi Goldman Sachs Michael Cahlil, seperti dilansir CNBC pada Senin (24/07/2023) menyebut pekan ini akan menjadi Minggu yang penting. "The Fed diperkirakan mengumumkan apa yang bisa menjadi kenaikan terakhir dari siklus (kenaikan suku bunga). ECB kemungkinan memberi sinyal mendekati akhir siklus suku bunga negatif. tapi BoJ bisa menjadi sorotan dengan akhirnya keluar (dari kebijakan moneter ultra longgar)," kata dia. The Fed bulan lalu menghentikan kenaikan suku bunga 10 kali berturut-turut karena menunggu data lebih lanjut ke mana arah inflasi. Angka-angka pada Juni 2023 menunjukkan inflasi harga konsumen (IHK) di AS turun ke level terendah dalam dua tahun lebih.Tapi IHK inti yang tidak termasuk harga pangan dan energi, masih naik 4,8% secara tahunan dan 0,2% pada bulan tersebut. The Fed tetap teguh pada komitmen untuk menurunkan inflasi ke target 2% dan aliran data terbaru perkuat kesan bahwa ekonomi AS terbukti tangguh. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022









