Internasional
( 1384 )IMF Ekonomi Asia akan Konstraksi untuk Pertama Kali
Direktur Departemen Asia dan Pasifik di Dana Moneter Internasional (IMF), Changyong Rhee, kepada CNBC menyatakan bahwa ekonomi Asia akan kontraksi 1,6% pada tahun ini, untuk kali pertama sepanjang sejarah. Proses pemulihannya kemudian diprediksi memakan waktu beberapa tahun. IMF memangkas perkiraan ekonomi global, dan memproyeksikan perekonomian dunia pada 2020 bisa menyusut 4,9%, sebelum rebound untuk tumbuh 5,4% pada tahun depan.
Menurut Rhee, perekonomian Asia diperkirakan pulih dengan kuat untuk mencatatkan pertumbuhan 6,6% pada tahun depan. Namun tingkat kegiatan ekonomi di wilayah itu masih akan lebih rendah dari apa yang diproyeksikan IMF sebelum pandemi. Ditambahkan oleh Rhee, apabila terjadi gelombang kedua dari infeksi Covid-19 di wilayah itu maka kebanyakan pemerintah mungkin tidak memiliki kekuatan untuk mendukung perekonomian, seperti yang mereka lakukan selama gelombang pertama.
Ekonomi China Pulih di Tengah Pandemi Korona
Ekonomi China mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II-2020 sebesar 3,2% secara tahunan. Sektor manufaktur mendorong pemulihan ekonomi di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Pertumbuhan ini dicapai setelah status penutupan sejumlah wilayah di negara itu dicabut, diiringi pembukaan pabrik dan toko-toko.
Manufaktur dan beberapa industri lain di China dilaporkan hampir kembali normal. Namun belanja konsumen lemah karena masyarakat masih menahan pengeuaran di tengah kekhawatiran mereka kehilangan pekerjaan. Bioskop dan beberapa bisnis lain masih ditutup. Pembatasan perjalanan juga tetap berlaku.
OECD: Pemulihan Ekonomi akan Lamban dan Tidak Pasti
Ekonomi global diperkirakan kontraksi setidaknya 6% tahun ini. Hilangnya pendapatan dan ketidakpastian menjadi dampak yang ditimbulkan oleh wabah virus corona Covid-19. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD menyatakan, jika sampai terjadi gelombang kedua penularan di akhir tahun, kontraksi itu dapat mencapai 7,6%. Pada kedua skenario di atas, pemulihannya akan berlangsung lambat dan tidak pasti.
Organisasi berbasis di Paris, Prancis ini menggarisbawahi, produk domestik bruto (PDB) global dapat tumbuh sebesar 5,2% pada 2021. Jika krisis Covid-19 tertanggulangi. Tapi hanya sebesar 2,8% jika muncul gelombang infeksi yang kedua. Menurut laporan tersebut, aktivitas ekonomi di 37 negara anggota OECD telah runtuh. Dalam beberapa kasus penurunan mencapai 20%-30%. Selama tidak ada vaksin atau pengobatan atas virus corona Covid-19, OECD menilai upaya menjaga penularan dengan jaga jarak fisik, mengetes orang, melacak, dan mengisolasi yang terinfeksi akan tetap menjadi kunci dalam memerangi pandemi ini. Tetapi dalam kondisi seperti itu, sektor-sektor yang dipengaruhi oleh penutupan perbatasan dan sektor yang membutuhkan kontak pribadi yang dekat, seperti pariwisata, perjalanan, hiburan, restoran, dan akomodasi tidak dapat beroperasi seperti sebelumnya.
Pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia telah mengambil langkah besar untuk melindungi bisnis dan para pekerja dari kejatuhan ekonomi. Tetapi ini juga memiliki konsekuensi, kata laporan itu, karena utang publik bruto naik dengan cepat. Pemerintah dinilai perlu menyesuaikan dukungannya, memungkinkan proses restrukturisasi yang cepat untuk perusahaan, menyediakan penghasilan bagi pekerja di antara sejumlah pekerjaan, pelatihan bagi yang kehilangan pekerjaan, dan perlindungan sosial bagi pihak yang paling rentan.
Lonjakan Baru di Tiongkok Terkait Klaster Pasar
Pemerintah Kota Beijing pada Minggu (14/6) melaporkan 57 kasus positif baru infeksi virus corona Covid-19. Angka harian tertinggi sejak April 2020 ini seluruhnya terkait dengan sebuah pasar grosir pangan besar di ibukota Tiongkok tersebut. Klaster baru ini membuat langkah-langkah karantina kembali diberlakukan. Warga di 11 wilayah permukiman di sekitar pasar diperintahkan tinggal di rumah.
Pasar Xinfandi dilaporkan merupakan pemasok terbanyak produkproduk segar bagi warga Beijing. “Beijing memasuki masa yang sangat tidak biasa,” ujar Xu Hejian, juru bicara Pemkot Beijing, dalam konferensi pers. Dari 36 kasus positif baru itu, 12 di antaranya tinggal di permukiman bagi orang-orang yang bekerja di Xinfandi, pasar yang berlokasi di distrik Fengtai. Hampir semua orang di sana antara pernah bekerja atau berbelanja di pasarnya. Salah satu kasus baru yang terkonfirmasi pada Minggu adalah pria berusia 56 tahun yang bekerja sebagai sopir bus bandara. Sebelum jatuh sakit, seperti dilaporkan media negara People's Daily, ia datang ke pasar Xinfandi pada 3 Juni 2020. Beijing News, seperti dilansir Reuters, melaporkan bahwa pria tersebut sudah berbulan-bulan tidak bekerja dan tidak ada kontak dengan para penumpang perjalanan udara.
Gao Xiaojun, juru bicara otoritas kesehatan Beijing mengatakan, siapa saja yang menunjukkan gejala demam akan menjalani tes serologi dan asam nukleat, untuk memastikan positif tidaknya Covid-19. Selain itu, mereka harus tes darah dan pemindaian CT. Fasilitas-fasilitas kesehatan, tambah Gao, tidak diperbolehkan menolak pasien yang menunjukkan gejala-gejala demam.
Krisis Covid-19 Hancurkan Investasi Asing
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan bahwa arus penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI) global pada tahun ini kemungkinan merosot 40% karena krisis virus corona Covid-19. Sedangkan dampak terburuk dari PMA ini diperkirakan terjadi pada 2021. Hal ini sebagaimana disampaikan Sekretaris Jenderal UNCTAD Mukhisa Kituyi.
Sementara di Asia, pandemi Covid-19 diprediksi memicu penurunan pendapatan yang diinvestasikan kembali dari afiliasi asing di kawasan itu. Sementara krisis kesehatan ini telah menggarisbawahi pentingnya Tiongkok, dan ekonomi negara lainnya di Asia lainnya sebagai pusat produksi global. James Zhan, direktur investasi dan perusahaan UNCTAD menuturkan, menurut laporan UNCTAD, Sebanyak 32 negara kurang berkembang, yang terkurung daratan, sedang berjuang menangani dampak ekonomi pandemi terhadap arus PMA – terutama dengan ditutupnya perbatasan-perbatasan antarnegara, negara-negara itu tidak dapat beralih ke transportasi laut langsung – sebagai cara untuk mengangkut sekitar 80% dari perdagangan global. Zhan mengatakan, pemulihan bisa menciptakan peluang bagi negara-negara berpenghasilan menengah karena rantai nilai menjadi lebih regional.
TANTANGAN PERDAGANGAN - PAMAN SAM HANTUI EKSPOR RI
Kinerja ekspor Indonesia dibayangi ketidakpastian seiring dengan adanya sinyal lambannya pemulihan ekonomi Amerika Serikat selaku salah satu mitra dagang utama setelah China.
Dalam proyeksi kuartalannya, bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menunjukkan bahwa bunga acuan bakal tetap mendekati nol sampai akhir 2021. Hal ini menjadi sinyal perekonomian Negeri Paman Sam akan membutuhkan waktu yang panjang untuk pulih.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta W. Kamdani mengemukakan, proyeksi ekonomi yang diumumkan The Fed makin memupuskan harapan perekonomian dan perdagangan dapat segera pulih dengan skenario kurva berbentuk V. Shinta menjelaskan pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lamban bakal berimbas pada ekspor Indonesia secara langsung. Dia mengemukakan produk-produk yang bakal mengalami penurunan drastis mencakup produk nonesensial yang amat dipengaruhi daya beli seperti furnitur, garmen, sepatu, travel goods, komponen elektronik dan permesinan, serta karet.
Secara terpisah, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno masih melihat sedikit harapan di tengah proyeksi ekonomi Amerika Serikat. Dia meyakini permintaan di Negeri Paman Sam akan pulih.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics Mohammad Faisal mengemukakan, sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat juga merupakan salah satu pasar utama produk-produk dari berbagai negara. Dengan permintaan yang terganggu di AS, dia menyebutkan kebutuhan bahan baku industri yang dipasok Indonesia ke negara eksportir lainnya otomatis akan berkurang. Di sisi lain, akses pasar Indonesia bakal diadang oleh berbagai hambatan non tarif karena negara tersebut bakal memprioritaskan produksi lokal.
Kekhawatiran serupa dikemukakan Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia Firman Bakrie. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lamban dinilainya bakal diiringi dengan daya beli. Terlebih, ekspor sepatu Indonesia ke Amerika Serikat didominasi oleh jenis sepatu bermerek ternama.
Pemulihan Ekonomi Prancis Sangat Lambat
Kegiatan ekonomi di Prancis mengindikasikan pemulihan dari dampak krisis virus corona Covid-19 berjalan sangat lamban. Atau lebih tepatnya hati-hati. Tapi badan statistik nasinal (INSEE) Prancis mengingatkan bahwa perekonomian berpotensi kontraksi sekitar 20% pada kuartal berjalan ini. Otoritas Prancis memerintahkan bisnis-bisnis yang tidak vital ditutup dan orang-orang tetap di rumah pada pertengahan Maret atau hampir di akhir kuartal I-2020. Menurut INSEE, produk domestik bruto (PDB) berpotensi anjlok sekitar 20% kuartal ini dan menjadi Resesi terberat sejak data nasional dibuat pada 1948.
Pemerintah Prancis memperkirakan Pengembalian ke kondisi normal kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan jika kegiatan ekonomi kembali ke masa sebelum krisis pada Juli tahun lalu, PDB Prancis masih akan turun sebesar 8% sepanjang 2020 secara keseluruhan. ndeks kepercayaan konsumen IN SEE turun dua poin menjadi 93 poin pada Mei, setelah turun 8 poin bulan sebelumnya. Indeks dihitung sehingga 100 menjadi rata-rata jangka panjang. Di sisi lain, indeks kepercayaan bisnis naik tipis menjadi 59 poin, setelah mencapai revisi 53 poin pada April. Ini merupakan angka terendah sejak indeks ini mulai diukur pada 1980.
Mochtar Riady - China Exit Tidak Menguntungkan Perekonomian Global
Kebijakan melepaskan diri dari ketergantungan pada Tiongkok, atau disebut “China Exit”, bukanlah hal yang realistis atau menguntung kan bagi perekonomian dunia. Hal itu diungkapkan pendiri Lippo group Mochtar riady dalam seminar virtual yang digelar bersama oleh media bisnis Business China dan Fortune Times yang turut dihardiri Pemimpin Business China Lee Yi Shyan dan CEO Tin Pei Ling serta Pemimpin Redaksi Fortune Times Annie Song juga hadir.
Demi mengurangi ketergantungan kepada manufaktur Tiongkok, tiga tahun silam pemerintahan Donald Trump meminta Apple untuk mengalihkan produksi iPhone kembali ke AS. Namun, keputusan itu menjadi bumerang. Menurutnya, industri manufaktur AS tidak memiliki dukungan penting mata rantai pasokan dalam tingkat harga pasar yang kompetitif. Selain itu, para pekerja Amerika tidak setekun mereka yang di Tiongkok. Dilema yang sama juga dihadapi produsen mobil listrik Tesla dan para produsen peralatan medis terkemuka seperti GE, Philips, dan Siemens.
Menurut sebuah berita yang diterbitkan Financial Times, sedikitnya 34 perusahaan Jepang yang beroperasi di Tiongkok sudah menyatakan minat untuk merelokasi usaha mereka dari Tiongkok. Namun, Mochtar menilai bahwa memindahkan mata rantai pasokan dari Tiongkok ke negara-negara Asia Tenggara, misalnya Vietnam, bukanlah keputusan yang bijak. Mata rantai pasokan tidak akan berfungsi di sebuah negara yang tidak memiliki talenta dalam jumlah yang memadai.
Tentang dampak wabah Covid-19, Mochtar menyatakan keyakinannya bahwa wabah gelombang kedua bisa membawa dampak yang lebih dahsyat kepada perekonomian global. Awal pekan ini, Pemerintah Sin-gapura mengumumkan proyeksi perekonomian Singapura akan mengalami kontraksi terburuk sejak merdeka pada 1965.
Stimulus Ditambah Tapi Investor Ambil Untung
Laju reli saham global menurun pada Kamis (4/6) karena para investor lebih memilih ambil untung. Stimulus besar-besaran yang terus digulirkan para pemerintah dan otoritas, untuk menanggulangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian, tidak berpengaruh terhadap aksi itu.Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan, produk domestik bruto (PDB) zona euro berpotensi kontraksi 8,7% tahun ini. Disisi lain, Holger Schmieding, analis dari Berenberg mengatakan bank sentral di seluruh negara maju akan terus berusaha sekuat tenaga menangkal mega resesi.
Jerman menyatakan akan membelanjakan paket stimulus senilai 130 miliar euro untuk membangkitkan lagi perekonomiannya. Tapi, pasar saham di Eropa tidak terkesan dengan langkah-langkah terbaru itu.“Para investor senang melakukan ambil untung setelah menikmati sesi bullish yang sangat besar kemarin,” ujar David Madden, analis dari CMC Markets Inggris. Di AS, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran sepanjang pekan lalu bertambah 1,9 juta. Sehingga totalnya sudah lebih dari 42 juta orang sepanjang wabah Covid-19.
Pertemuan OPEC+ Tetap Diharapkan Oleh Pasar
Rencana pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan kelompok non-OPEC,bakal dicermati oleh para pialang pasar energi. Mereka ingin mencari tahu, apakah kelompok produsen minyak berpengaruh itu akan secara resmi menyetujui perpanjangan penurunan produksi terdalamnya.Reuters melaporkan bahwa Arab Saudi dan Rusia diperkirakan mendukung perpanjangan selama satu bulan dari pengurangan pasokan yang ditetapkan saat ini.
Harga minyak mentah global dilaporkan bergerak lebih tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Harganya pulih dari penurunan dramatis pada April, yang memperlihatkan Brent bergerak mendekati posisi terendah dalam 20-tahun, dan WTI jatuh ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pergerakan minyak mentah terjadi di tengah optimisme tentang pemulihan ekonomi di Tiongkok. Sementara negara-negara lain di seluruh dunia berusaha melakukan pelonggaran bertahap terhadap langkah-langkah karantina (lockdown) terkait virus corona. Kepala analis minyak dari Morgan Stanley, Martijn Rats, mengatakan bahwa pasokan minyak telah disesuaikan dengan sangat, sangat cepat untuk membantu menyeimbangkan pasar kembali.









