Setop Silang Pendapat, Fokus Pada 5 Agenda Besar
Kelima agenda tersebut meliputi pertama, penyelesaian proyek-proyek infrastruktur yang segera berjalan agar dapat memberikan manfaat ekonomi nyata ke masyarakat secepat mungkin. Kedua, penguatan kebijakan kesehatan dan pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Ketiga, memastikan implementasi kebijakan mendorong investasi, terutama di sektor-sektor strategis. Ke empat memperkuat stabilitas makroekonomi dengan menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah. Kelima, meningkatkan daya saing industri nasional melalui inovasi dan digitalisasi. "Dibidang ekonomi juga ada beberapa pekerjaan rumah yang belum tuntas dan perlu diselesaikan," ujar ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat kepada Investor Daily. Achmad Nur menuturkan pekerjaan rumah di bidang ekonomi yang belum selesai tersebut antara lain reformasi birokrasi, pengembangan SDM, kesejahteraan sosial, diversifikasi ekonomi, dan problem lingkungan. "Reformasi birokrasi yakni memastikan birokrasi yang lebih efisien dan transparan guna mendukung iklim investasi yang kondusif," kata dia. (Yetede)
Ancaman Mengintai Saham GOTO
Saham PT GOTO Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diperkirakan masih menapaki jalan terjal untuk bangkit kembali, setelah harganya masuk jajaran saham 'gocap' alias Rp 50. Proyeksi terburuknya, GOTO dapat masuk Papan Pemantauan Khusus dan terdepan dari indeks MSCL. Founder Stock.id Hendra Wardana mengatakan, jika kinerja saham GOTO terus menurun dan masuk dalam papan pemantauan khusus, nasib saham tersebut bisa menghadapi beberapa konsekuensi serius. Pertama, masuknya ke papan pemantauan khusus akan berdampak negatif pada persepsi investor karena papan ini biasanya diisi oleh saham-saham dengan masalah serius, serta kinerja keuangan yang buruk atau ketidakpastian operasional yang tinggi. "Hal ini bisa menyebabkan investor makin ragu untuk mempertahankan atau membeli saham GOTO, memperburuk tekanan jual dan menyebabkan harga saham terus turun," jelas dia kepada Investor Daily. Kedua, lanjut Hendra, saham yang masuk dalam papan pemantauan khusus akan diperdagangkan dengan mekanisme ini berarti saham hanya dapat diperdagangkan pada waktu-waktu tertentu, dalam sehari, yang mengurangi likuiditas dan membuat saham kurang menarik bagi investor yang mengingkan fleksibilitas dalam perdagangan. (Yetede)
Kuartal I, Laba Astra Financial Tumbuh 12%
Kinerja Astra Finansial tercatat tumbuh secara berkesinambungan. Pada kuartal pertama 2024, Astra Finansial mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,1 triliun, atau meningkat 12% secara yoy dari Rp 1,8 triliun. Peningkatan ini didukung oleh pengelolaan portfolio yang baik di sektor pembiayaan otomotif, komersial, retail, dan asuransi. Astra Finansial merupakan salah satu dari tujuh pilar bisnis Astra yang bergerak di jasa keuangan yang menaungi 14 unit bisnis di 8 sektor, yaitu: pembiayaan, asuransi, perbankan, dana pensiun, teknologi finansial, uang elektronik, digital ventura, dan modal ventura. Berdasarkan data kuartal I-2024, Astra Finansial mengelola aset sebesar Rp192,6 triliun dengan didukung oleh lebih dari 22 ribu karyawan dengan 912 cabang, serta mengelola 31,2 juta pelanggan di seluruh Indonesia. "Sesuai dengan visi Astra Finansial, untuk menjadi jasa penyedia keuangan ritel yang terdepan, Astra Finansial terus berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen yang didukung oleh integrasi berbagai layanan dalam ekosistem Astra," kata Direktur Astra sekaligus Director-in-Charge Astra Finansial 1, Suparno Djasmin. (Yetede)
China Sudah Investasikan US$ 230 M Bangun Industri EV
China dilaporkan sudah menginvetasikan US$ 230,8 miliar selama lebih dari satu dekade mengembangkan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Temuan ini muncul disaat Uni Eropa (UE) berencana mengenakan tarif impor untuk mobil listrik China, yang diduga karena subsidi berlebihan dari pemerintah dalam produksinya. Sementara pada bulan lalu, Amerika Serikat (AS) mengumumkan bakal menaikkan bea masuk impor kendaraan listrik China menjadi 100%. Menurut Scott Kennedy, ketua pengawas Ekonomi dan Bisnis China di Pusat Studi strategis dan internasional yang berbasis di AS, dukungan pemerintah China terhadap total penjualan mobil listrik antara 2009 dan 2023 sebesar 18,8%. Rasio dukungan itu telah turun jauh dari 40% lebh pada tahun-tahun sebelum 2017. Dan pada 2023 hanya sedikit di atas 11%. (Yetede)
Apa Saja Masalah Penerimaan Siswa Baru Sistem Zonasi
Mengapa Industri Tekstil Ambruk
Mengapa Industri Tekstil Ambruk
Melesat Setelah Terlepas dari Jerat
Bagai burung lepas dari sangkar, harga saham emiten yang keluar dari papan pemantauan khusus (PPK) tahap II dengan skema full periodic call auction (FCA) melejit. Dari 25 saham yang keluar dari PPK selama sebulan terakhir, sebanyak 12 saham mencatatkan kenaikan harga. Sementara harga delapan saham turun, dan lima saham stagnan. Sebagai catatan, usai dihujani protes, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan revisi aturan tentang papan pemantauan khusus dengan skema FCA mulai kemarin. "Keputusan BEI merevisi aturan burs terkait penempatan efek di PPK agar mengurangi ketegangan," kata Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, Jumat (21/6). Seiring revisi ketentuan papan khusus ini, BEI juga mencabut sejumlah saham dari papan khusus.
Ada enam saham emiten yang resmi dibebaskan BEI dari papan khusus. Yakni, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Haloni Jane Tbk (HALO), PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA), PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI), PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). Usai lolos dari papan khusus pada 31 Mei lalu hingga 7 Juni 2024, transaksi rata-rata AGAR melonjak menjadi sekitar 22 juta saham per hari. Harga sahamnya juga melejit 281,63% ke posisi Rp 374 per saham. Usai lolos dari papan khusus pada 31 Mei lalu hingga 7 Juni 2024, transaksi rata-rata AGAR melonjak menjadi sekitar 22 juta saham per hari. Harga sahamnya juga melejit 281,63% ke posisi Rp 374 per saham.
BEI pun mensuspensi lagi saham AGAR sejak 10 Juni, karena harga kumulatif sahamnya naik signifikan. Namun, BEI tidak memasukkan AGAR ke papan khusus berdasarkan kriteria nomor 10, karena suspensi lebih dari sehari. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengimbau, meski sebagian besar saham yang keluar dari PPK harganya melesat, investor hendaknya tetap mencermati kinerja dan pergerakan harga sahamnya. Head of Research Kiwoom Sekurirtas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, saham-saham yang keluar FCA bisa dilirik, jika fundamental dan teknikalnya menarik. Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, yang menarik dilirik usai keluar dari FCA adalah saham yang menunjukkan stabilitas harga dan volume perdagangan naik. Dari segi teknikal, di jangka pendek, Sukarno menilai,BREN tergolong menarik karena masih punya potensi kenaikan, meski valuasi sudah kemahalan.
Blokir Anggaran Kementerian Berlanjut
Pemblokiran anggaran kementerian dan lembaga (K/L) menjadi salah satu opsi kebijakan yang tengah pemerintah pertimbangkan. Hal ini terkait dengan upaya mengamankan anggaran negara di tengah ketidakpastian perekonomian global. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemkeu) Febrio Nathan Kacaribu menyatakan, APBN tahun depan masih dihadapkan dengan dinamika global, volatilitas harga komoditas yang masih tinggi, kinerja badan usaha milik negara (BUMN), dan tren perubahan iklim. Oleh karena itu, perlu ada mitigasi risiko agar APBN 2025 tetap sehat. Salah satunya, automatic adjustment melalui pemblokiran anggaran K/L. "Ada pengendalian risiko, bisa kita gunakan SAL (Saldo Anggaran Lebih) dan automatic adjustment," ujar Febrio dalam Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR, Kamis (20/6). Pada 2021, Kemkeu memblokir bujet K/L total mencapai Rp 58 triliun dalam rangka menyiapkan anggaran mendesak akibat pandemi Covid-19. Di tahun berikutnya, pemerintah juga tetap menjalankan kebijakan ini dengan besaran anggaran sebesar Rp 39,71 triliun. Dengan pertimbangan, untuk menangani dampak krisis pandemi Covid-19.
Kemudian, pada 2023, pemerintah juga memblokir anggaran K/L sebesar Rp 50,23 triliun. Dan, berlanjut ke tahun ini sebesar Rp 50,15 triliun. Menurut Kemkeu, kebijakan ini terbukti ampuh dalam menjaga ketahanan APBN 2022 dan APBN 2023. Hanya, Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mewanti-wanti, kebijakan tersebut bisa berdampak pada pengeluaran pemerintah. Sebab itu, "Pemerintah perlu memprioritaskan belanja yang mendatangkan multiplier effect ke ekonomi, khususnya konsumsi rumahtangga kita," ucapnya. Menurut Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto, kebijakan tersebut tidak ideal pemerintah lakukan. Setiap K/L untuk tahun ini maupun tahun depan sudah membuat sejumlah perencanaan dan program untuk mereka implementasikan. Tak hanya itu, Eko juga berpendapat, APBN yang terlalu mudah diotak-atik melalui mekanisme automatic adjustment, justru mengurangi tingkat kredibilitas dari APBN itu sendiri. Kecuali, Indonesia tengah menghadapi situasi yang sangat ekstrem, seperti pandemi Covid-19.
Saham Plat Merah Masih Belum Bergairah
Sederet kendala terus menimpa emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mulai dari kasus hukum, tumpukan utang hingga masalah fundamental kinerja keuangan. Walhasil kapitalisasi pasar (market cap) emiten BUMN melorot. Sebagai perbandingan, di akhir tahun 2023, market cap IDX BUMN20 berjumlah Rp 2.446,62 triliun. Sementara kemarin market cap IDX BUMN20 ini sekitar Rp 2.112,33 triliun. Artinya kapitalisasi pasar emiten BUMN menguap Rp 334,29 triliun year to date (ytd). Mari kita tengok berbagai borok di BUMN farmasi. Kinerja holding BUMN sektor kesehatan, yaitu PT Bio Farma sakit, kerugian mencapai Rp 2,16 triliun pada tahun lalu. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF), sebagai anggota holding BUMN kesehatan menjadi sorotan pelaku pasar. Apalagi, ada indikasi fraud dan kasus jeratan pinjaman online pada INAF. Kasus hukum dugaan korupsi jual beli gas juga menimpa emiten PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Sebelumnya, ada PT Timah Tbk (TINS) yang terbawa dalam pusaran kasus tata kelola timah. Tak pelak, kinerja saham beberapa emiten BUMN ikut terpuruk. Di sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang terus menukik. Kemarin, saham BBRI ditutup menguat 3,98% ke Rp 4.440. Bayang-bayang perlambatan kinerja, tantangan era suku bunga tinggi dan risiko naiknya non-performing loan (NPL), jadi salah satu penghambat gerak saham emiten bank BUMN. Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menyoroti masalah yang dialami emiten BUMN di berbagai sektor. Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy punya catatan serupa.
Emiten BUMN tidak boleh mengesampingkan aspek good corporate governance (GCG), apalagi punya tanggungjawab terhadap investor publik. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora sepakat, di antara saham emiten BUMN, hanya saham perbankan yang menunjukkan prospek apik. Secara teknikal, saham big bank menunjukkan sinyal reversal dan investor mulai beralih ke posisi beli. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyarankan buy on weakness BBRI dan BBNI, target harga Rp 4.680-Rp 4.750 dan Rp 4.470-Rp 4.800. Kemudian, trading buy saham ANTM dan PGAS dengan target harga masing-masing Rp 1.300-Rp 1.360 dan Rp 1.550-Rp 1.570 per saham.









