Konflik Maluku Utara
Dalam laporan jurnalistik tentang Maluku Utara, Jangan Percaya Surat Palsu, dari kesaksian para penyintas, konflik adalah masalah batas wilayah. Konflik bermula antara masyarakat adat Kao dan orang Makian di Pulau Halmahera karena batas kebun. Orang Makian menggeser batas kebunnya memasuki tanah orang Kao. Mayoritas Kao beragama Kristen. Makian beragama Islam. Konflik tersebut menyebabkan kematian 2.084 jiwa dan hampir 200.000 orang mengungsi. Konflik Maluku Utara berbeda dengan konflik Ambon di Maluku, baik penyebab maupun wilayahnya. Yang jarang dibahas para peneliti adalah eksploitasi anak dalam konflik di Maluku Utara.
Salah satu korbannya adalah Venox. Pada 10 September 2019 di kedai kopi dalam benteng Fort Oranje, Ternate, Ia menceritakan pengalaman dan kesaksiannya yang traumatis dan menunjukkan keterhubungan antara konflik Ambon dan konflik Maluku Utara. Saat kerusuhan pecah di Ambon pada 19 Januari 1999, Venox dan teman-temannya sedang merayakan Idul Fitri. Tiba-tiba ribuan orang menyerbu Wainitu, desa tempat tinggal Venox. Mereka bersenjata pedang, membawa jeriken bensin dan menggiring anjing. Setelah penyerbuan itu, ayahnya meminta Venox pindah sekolah ke Tidore.
Ayahnya bekerja di instansi pemerintah di sana. Pada Oktober 1999, Venox pergi keAmbon untuk berlibur dan mengambil barang di rumah. Karena keadaan Ambon mencekam, Venox terpaksa turun dari kapal Lambelu dan mengungsi ke posko pengungsi di Masjid Raya Al Fatah, dalam Kota Ambon. Seorang pejabat yang juga pengusaha di Ambon menemui Venox di masjid itu. Ia mendesak Venox menyebarkan selebaran yang disiapkannya ke Tidore. Pejabat itu juga memberi Venox uang. Selebaran ini membakar Maluku Utara dalam konflik berdarah antarpemeluk agama. Venox mengalami trauma berat akibat peristiwa tersebut yang masih terbawa hingga kini. (Yoga)
Menjembatani Rindu kepada Ibu
Tak jarang beragam alasan memaksa menjadi anak adopsi. Berber Swart dan Supardiyatna dari Yayasan Ibu Indonesia berupaya menjembatani rindu anak-anak adopsi di Belanda terhadap ibu kandungnya di Indonesia. Hampir 10 tahun terakhir Berber (53) bolak-balik Indonesia-Belanda untuk membantu anak-anak yang terlahir dari ibu kandung warga Indonesia, tetapi diadopsi warga Belanda. Perjumpaan dengan Supardiyatna (46), yang akrab dipanggil Pardi, sebagai sopir sekaligus pemandu wisata mendorong keduanya bekerja sama mendirikan Yayasan Ibu Indonesia pada 2019. Berber merupakan CEO Yayasan Ibu Indonesia, sedangkan Pardi kini menjabat Location Manager.
“Tahun 1976 hingga 1983, ada tren adopsi anak-anak Indonesia oleh orang Belanda,” tutur Pardi, di Bandung, Jabar, Rabu (17/7).. “Anak-anak yang diadopsi saat itu biasanya berasal dari keluarga kurang mampu, bayi yang terlahir di lokalisasi, juga dari kelahiran yang tak dikehendaki,” paparnya. Tak jarang ibu kandung menutupi dan merahasiakan keberadaan anaknya yang telah adopsi. Dari sisi sang anak di Belanda yang kini berusia 40-50 tahun, mereka punya kerinduan untuk mengetahui siapa ibu kandung mereka. Berber menyebutkan, berdasarkan la poran Pemerintah Belanda, pada kurun waktu tersebut ada 3.500 anak Indonesia yang diadopsi orangtua Belanda.
”Dalam lima tahun terakhir, 100 anak adopsi datang kepada kami untuk dicarikan siapa ibunya di Indonesia. Setelah pencarian, berhasil ditemukan 50 % keluarga yang disebutkan dalam dokumen adopsi. Baru setelah tes DNA dapat dikatakan 50 % mereka merupakan keluarga kandung,” kata Berber.Berber adalah pengacara bagi kasus kriminal dan imigrasi di Kantor Advokat Swart di Kota Groningen, Belanda, yang mengajar hukum Eropa dan HAM di Hanze University, Belanda. Ia tergerak mendirikan yayasan ini lantaran suaminya keturunan Belanda-Indonesia. ”Anak-anak adopsi ingin tahu siapa keluarga sesungguhnya. Mereka ingin tahu siapa ibu kandungnya. Itu kebutuhan dasar bagi mereka,” ujarnya.
Bagi Berber dan Pardi, ada kebahagiaan tersendiri kala sang anak adopsi berjumpa atau menemukan ibu kandungnya. Memang tak mudah mempertemukan mereka. Pencarian dimulai dari penelusuran nama ibu kandung yang tersemat dalam akta kelahiran. Selanjutnya, pencarian alamat atau yayasan tempat mereka pertama kali dititipkan di Indonesia, kadang ditolakan atau sudah tak ada arsipnya. Arsip menghilang bisa jadi karena dokumen itu telah menguning dan rapuh dimakan waktu. Karena itu, Yayasan Ibu Indonesia yang pendanaannya disokong Pemerintah Belanda bergerak membantu proses digitalisasi dokumen anak-anak adopsi yang masih tersimpan di sejumlah panti atau yayasan.
”Kami menemukan 300 arsip anak-anak yang diadopsi di salah satu tempat di Semarang. Selama seminggu, kami memindai dokumen itu karena kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Pardi. Proses digitalisasi arsip penting untuk menjaga dokumen dari kerusakan. Dalam proses pencarian ibu kandung di Indonesia, tak jarang ada ibu yang merasa sangat bersalah karena tak mampu merawat anaknya. Namun, akhirnya ibu dan anak sangat bahagia jika bisa dipertemukan dan dapat melupakan masa lalu yang pahit. (Yoga)









