Ekspansi ke Pasar Ekspor
Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terus melebarkan sayap ke pasar ekspor. Kali ini, KLBF tengah menyasar Afrika dan Timur Tengah, sembari tetap memperkuat kehadirannya di pasar Asia Tenggara. Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy mengatakan, sebagai langkah awal, KLBF perlu mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di masing-masing negara. KLBF juga gencar memperkuat posisi di Asia Tenggara. Khususnya di Filipina, Myanmar dan Malaysia. Ketiga negara ini memberikan pertumbuhan yang baik terhadap penjualan KLBF di kawasan ASEAN. Untuk pasar ASEAN, KLBF mulai memperkuat posisi di Thailand. Pada pertengahan 2024, KLBF melalui anak usahanya Kalbe International Pt Ltd. telah mengakuisisi 49% saham Alliance Pharma Co Ltd.
Dengan aksi korporasi itu, peluang melakukan penetrasi pasar di Negeri Gajah Putih telah terbuka lebar. Kartika mengatakan, pasar Thailand khususnya obat resep sangat positif, khususnya obat-obatan khusus, onkologi dan kanker.
Demi menjaga margin, KLBF juga berupaya melepas ketergantungan dari bahan baku impor yang rentan dipengaruhi fluktuasi rupiah. KLBF pun berupaya meningkatkan kemampuan untuk memproduksi bahan baku obat sendiri. Terbaru, KLBF telah menjalin kerja sama dengan Livzon Pharmaceutical Group Inc dengan mendirikan perusahaan patungan untuk memproduksi bahan baku obat yang akan dimanfaatkan untuk pasar dalam dan luar negeri.
Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, segmen obat
speciality
KLBF seperti onkologi dan biosimilar akan meningkat secara bertahap di masa mendatang. Natalia mempertahankan rekomendasi beli KLBF dengan target harga di Rp 1.800 per saham.
Emiten Batubara Berupaya Tetap Bercahaya
Prospek emiten batubara belum lepas dari tekanan. Dikutip dari Reuters, China dikabarkan memangkas jumlah izin pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru hampir 80% pada semester I-2024. China merupakan pembangun PLTU terbesar. Langkah ini bisa menekan permintaan batubara dalam jangka panjang. SVP Project Management Office PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Setiadi Wicaksono menyoroti pembatasan batubara di negara maju. Namun situasi ini tak lantas membuat prospek batubara langsung redup. Setiadi meyakini outlook permintaan batubara masih menarik, setidaknya dalam jangka menengah hingga lima tahun ke depan. Kondisi ini akan merangsang perusahaan batubara menyasar pasar ekspor yang lebih beragam. PTBA sudah mencium peluang dari negara berkembang di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Head of Corporate Communication
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira optimistis, prospek batubara masih kokoh. Penopangnya aktivitas pembangunan yang masih ramai di negara Asia.
Produsen batubara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), punya strategi serupa. Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava mengatakan, BUMI juga melakukan diversifikasi pasar dan mengakselerasi pendapatan dari segmen non-batubara. "Kami percaya adopsi strategi dengan lanskap pasar yang terus berkembang akan meningkatkan ketahanan," ujar Dileep.
Analis RHB Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi mengamati transisi dunia beralih ke energi terbarukan masih perlu waktu.
Analis Stocknow.id, Dinda Resty Angira mengingatkan potensi koreksi harga batubara masih terbuka, seiring ketidakpastian global.
Harapan Terus Terang pada Harga Emas
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diperkirakan melanjutkan laju pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun ini. Harga emas dunia yang menanjak mendorong prospek perseroan ini. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji mengatakan, harga emas di pasar dunia yang menguat mendorong kinerja perseroan ini sepanjang semester I-2024. Hal ini berkaca dari rata-rata harga jual (ASP) semester I-2024 yang naik 15% year-on-year ( yoy ) menjadi US$ 2.209 per ons troi. Sepanjang semester I-2024, emiten Grup Bakrie tersebut mencatatkan pendapatan sebesar US$ 15,8 juta atau melesat 287% yoy. Sementara laba bersih tumbuh 67% yoy menjadi Rp 9,4 juta. Permintaan akan emas juga diproyeksi meningkat, terlebih dengan status emas sebagai safe haven . Menurut Nafan, ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah akan turut mendorong permintaan akan emas. Sebagai pengingat, opex BRMS melonjak 437,3% yoy menjadi US$ 10,5 juta di kuartal II-2024. Peningkatan opex terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya gaji, upah, dan tunjangan lainnya karena pemanfaatan optimal dari Kilang 2 dan persiapan Kilang 3. Kemudian peningkatan pajak dan biaya perizinan, iuran tetap (PNBP), serta pajak bumi dan bangunan.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menyebutkan, jika menilik capaian di semester I-2024, kenaikan kinerja BRMS didorong oleh kenaikan produksi emas dan kenaikan rata-rata harga jual emas.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty melanjutkan, secara jangka panjang potensi komoditas emas masih cukup baik. Selain itu, kondisi ketidakstabilan perekonomian dan geopolitik yang masih berlanjut, maka pelaku pasar cenderung lebih memilih aset yang bersifat safe haven seperti emas.
Di sisi lain, dengan potensi pemangkasan suku bunga maka dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi turun. Arinda berpandangan bahwa penurunan dolar AS akan berpengaruh pada laba BRMS, mengingat emiten ini juga melakukan ekspor.
Arinda memperkirakan BRMS mampu mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 20% pada akhir tahun nanti. Dengan demikian, ia merekomendasikan
buy
BRMS dengan target harga Rp 230 per saham.
Rupiah Masih dalam Tekanan
Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Selasa (27/8). Rupiah
spot
turun 0,37% ke Rp 15.459 per dolar Amerika Serikat (AS) dan kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) turun 0,83% ke Rp 15.509 per dolar AS.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan, dolar AS
rebound
karena kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkat. "Dolar AS juga didukung data barang tahan lama yang lebih tinggi dari perkiraan," ujarnya, Selasa (27/8).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede berpandangan rupiah akan melanjutkan pelemahan hari ini. Ketegangan geopolitik mengkhawatirkan investor, terutama akibat ancaman pemberhentian produksi minyak oleh Libia. Josua memperkirakan, rupiah di kisaran Rp 15.475 hingga Rp 15.575 pada hari ini. Lukman memprediksi, rupiah di rentang Rp 15.450–Rp 15.550.
Jangan Berharap Bunga Kredit Turun Cepat
Debitur perbankan tampak belum bisa terlalu berharap era penurunan suku bunga kredit akan segera datang. Meski, ada sentimen positif menuju kesana. Semisal, pertama, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar akan segera turun mengikuti langkah The Fed yang sudah memberikan sinyal akan memangkas suku bunga pada September mendatang. Kedua, Otoritas Jasa Keuangan telah merilis aturan baru terkait transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK). Dengan beleid baru itu, bank-bank diwajibkan melaksanakan transparansi dalam mempublikasikan SBDK dengan melampirkan indikator dalam perhitungan SBDK, mulai dari biaya overhead , biaya dana, hingga margin yang ditetapkan bank. Namun dua faktor itu, kecil kemungkinan berdampak menurunkan bunga kredit dalam waktu dekat. Sebabnya, SBDK tak banyak mengalami kenaikan di era suku bunga tinggi. Malahan, SBDK tercatat sedikit menurun. Data BI mencatat rata-rata SBDK perbankan per Juni 2024 berada di level 8,80%, turun tipis dari posisi Desember 2023 sebesar 8,81%. Secara rinci, penurunan SBDK paling banyak terjadi di bank swasta, yakni dari 8,89% menjadi 8,84%.
Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, mengungkapkan bahwa penurunan suku bunga kredit ini tidak selalu proporsional. Memang, penurunan bunga acuan bisa mendorong penurunan bunga kredit karena biaya dana pasti akan turun juga.
Bank Oke terakhir menaikkan SBDK pada November 2023. Saat itu, SBDK naik 25 basis poin untuk semua segmen.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo, menyebut ada beberapa aspek yang dipertimbangkan Bank Mandiri dalam menentukan bunga kredit, terutama terkait likuiditas.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu menyebut, penurunan bunga kredit bergantung besaran penurunan suku bunga acuan. "Itu akan melihat seberapa besar impact penurunan terhadap biaya dana perbankan hari ini," ujarnya.
Masa Keemasan Emiten Emas
Harga emas yang mencapai rekor tertinggi membuka peluang besar bagi produsen dan penjual logam mulia untuk meraih margin yang tinggi. Pada 26 Agustus 2024, harga emas spot mencapai US$2.524,50 per troy ounce, meningkat 22,37% sepanjang tahun ini.
Menanggapi lonjakan harga tersebut, Tom Malik dari PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) menyatakan bahwa tren kenaikan harga emas akan berdampak positif pada kinerja perusahaan. “Target produksi Tambang Emas Tujuh Bukit 100.000 sampai 200.000 ounces, dengan harga emas yang saat ini sudah menembus US$2.500 dan diprediksi masih akan naik,” ujarnya.
Sementara itu, Herwin Hidayat dari PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mengungkapkan bahwa produksi mereka pada paruh pertama 2024 telah melampaui produksi tahun 2023. "Volume produksi yang tinggi dibarengi dengan reli harga emas bakal memompa tren kinerja perseroan tahun ini," katanya. BRMS berfokus pada penyelesaian pembangunan pabrik pengolahan bijih emas dan akses pendukung tambang.
Syarif Faisal Alkadrie dari PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menambahkan bahwa saat ini emas merupakan instrumen investasi yang menjanjikan. ANTM melanjutkan strategi penjualan domestik dan penambahan jaringan pasar. Thendra Crisnanda dari PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) juga melaporkan bahwa reli harga emas global meningkatkan harga jual produk mereka dan mereka konsisten membangun jaringan toko ritel.
Andrey Wijaya dari RHB Sekuritas Indonesia memprediksi harga emas akan bertahan di kisaran US$2.500 dalam waktu dekat, didukung oleh pemangkasan suku bunga The Fed dan ketegangan di Timur Tengah. Hendriko Gani dari Stockbit Sekuritas menilai bahwa peningkatan harga emas dapat meningkatkan average selling price (ASP) emiten produsen, dengan BRMS sebagai salah satu saham pilihan utama.
Mayang Anggita dari DataIndonesia.id mencatat bahwa harga emas saat ini berada dalam tren bullish dan menghadapi uji resistan level US$2.536,05. Jika level ini ditembus, ada peluang untuk melanjutkan penguatan menuju US$2.576 hingga US$2.583. Goldman Sachs dan Citigroup memprediksi harga emas akan terus meningkat, dengan estimasi mencapai US$2.700 hingga US$3.000 pada pertengahan 2025.
Pertumbuhan Pesat Bisnis Paylater
Di tengah penurunan daya beli masyarakat, bisnis layanan bayar tunda (buy now pay later) terus berkembang. Meskipun menghadapi tantangan kredit macet, minat bank untuk terlibat dalam sektor ini tetap tinggi. Sejumlah bank besar seperti PT Bank Mandiri Tbk. dan PT Bank Central Asia Tbk. telah memasuki pasar ini, dan tiga bank lainnya, yaitu PT CIMB Niaga Tbk., PT Bank Tabungan Negara Tbk., dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk., juga sedang mempersiapkan diri untuk bergabung.
Menurut data PT Pefindo Biro Kredit, per Juni 2024, jumlah pengguna BNPL mencapai 14,37 juta, meningkat 9,35% dibandingkan tahun lalu. Total pinjaman BNPL mencapai Rp30,14 triliun, naik 19,7% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan tahunan pada bank umum mencapai 68,45%, jauh lebih tinggi dibandingkan sektor teknologi finansial yang hanya 11,35%. Meskipun konsumsi masyarakat tetap terjaga, tingkat kredit macet sebesar Rp1,42 triliun pada Juni 2024 menjadi tantangan utama.
Pentingnya kehati-hatian dalam proses seleksi nasabah dan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko pinjaman menjadi sorotan. Usia produktif yang mengalami kredit macet, seperti usia 31-40 tahun dan 20-30 tahun, menunjukkan perlunya edukasi mengenai pengelolaan uang dan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan untuk segera mengeluarkan regulasi yang akan mengatur layanan bayar tunda guna memastikan pertumbuhan yang sehat dan perlindungan konsumen. Regulasi ini diharapkan mencakup penilaian kredit, suku bunga, perlindungan data pribadi, mekanisme pengaduan, dan aspek lainnya.
Reformasi Struktural: Tantangan Transaksi Berjalan
Transaksi berjalan Indonesia menghadapi tantangan signifikan pada paruh kedua tahun ini. Berdasarkan data Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan mencapai sekitar US$3 miliar pada kuartal II/2024, lebih besar dari defisit US$2,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penyebab utama defisit ini adalah menyusutnya surplus transaksi barang dan semakin dalamnya defisit transaksi jasa, termasuk biaya transportasi dan asuransi yang tinggi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., mengindikasikan bahwa defisit transaksi berjalan kemungkinan akan tetap besar pada kuartal III dan seterusnya. “Transaksi berjalan masih akan defisit. Nilainya bisa mirip [dengan kuartal II/2024],” katanya. Hal ini disebabkan oleh harga komoditas yang masih landai dan biaya pengapalan yang tetap tinggi.
Satria Sambijantoro, ekonom Bahana Sekuritas, memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada pada kisaran 0,2% hingga 0,4% dari PDB tahun ini. Dia juga mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi Amerika Serikat dapat memperburuk prospek ekspor Indonesia pada tahun 2025. "Kalau ekonomi AS melambat, itu akan memperburuk outlook ekspor kita," ujar Satria.
Menanggapi situasi ini, Ferry Irawan, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, mengatakan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor jasa dan berfokus pada sektor-sektor strategis seperti teknologi dan layanan keuangan. “Pengembangan yang dilakukan berfokus pada sektor jasa berdaya saing tinggi dan peningkatan investasi di sektor-sektor strategis,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa defisit transaksi berjalan tidak selalu menunjukkan kondisi buruk, terutama dalam konteks pembangunan negara berkembang seperti Indonesia.
Bank Indonesia juga telah menerapkan kebijakan untuk mendukung reformasi struktural, termasuk transaksi menggunakan mata uang lokal. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, mengatakan bahwa kebijakan ini mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan volatilitas kurs rupiah. “Ini mengurangi ketergantungan dan volatilitas [kurs rupiah] akibat permintaan dolar AS,” jelasnya.
Ke depan, Satria dari Bahana Sekuritas mengharapkan neraca pembayaran akan kembali surplus, berkat arus masuk investasi portofolio. Namun, defisit transaksi berjalan yang belum pulih dapat memengaruhi kebijakan suku bunga. "Neraca pembayaran memang akan positif pada kuartal III dan IV. Namun, transaksi berjalan yang belum membaik signifikan akan jadi pertimbangan BI dalam menentukan pemangkasan suku bunga," katanya. David dari BCA menambahkan bahwa BI kemungkinan akan melakukan pemangkasan suku bunga secara hati-hati. "Jadi, BI akan prudent dan gradual dalam memutuskan suku bunga," ujarnya.
Green Ammonia: Sumber Energi Baru untuk PLTU
PT PLN Indonesia Power berencana menggunakan green ammonia sebagai sumber energi alternatif di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan, Banten, dengan tujuan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh fasilitas tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia dan mencapai target netral karbon pada tahun 2060.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha Putra, menjelaskan bahwa pemanfaatan green ammonia di PLTU Labuan akan mengurangi penggunaan batu bara tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik. "Inisiatif ini merupakan langkah strategis dalam mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia, sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai karbon netral pada 2060," ujarnya.
Sebagai bagian dari proses tersebut, PLN menggandeng PT Pupuk Kujang dan IHI Corporation untuk melakukan studi kelayakan terkait penerapan green ammonia di PLTU melalui kerja sama teknis dan ekonomi. Maryono, Direktur Utama Pupuk Kujang, menambahkan bahwa perusahaannya, yang fokus pada produksi amonia, akan berperan penting dalam mengurangi emisi karbon melalui kolaborasi ini. "Kolaborasi ini memungkinkan kami berkontribusi pada solusi energi berkelanjutan, dan mengeksplorasi potensi green ammonia," kata Maryono.
Penelitian menunjukkan bahwa green ammonia dapat digunakan dalam proses co-firing, yakni pembakaran bersamaan dengan batu bara untuk menggerakkan turbin, sehingga mendukung transisi ke energi yang lebih bersih.
Ketangguhan di Tengah Ketidakpastian Global
Makin ke sini mata uang garuda kian bertaji. Awal pekan ini, rupiah ditutup menguat 0,35% menjadi Rp 15.439 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal pembukaan perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 15.298 per dolar AS. Ini artinya, dalam sebulan rupiah sudah menguat 5,58%. Selain rupiah, yen Jepang juga menjadi salah satu mata uang di Asia yang cukup perkasa. Dalam sebulan terakhir nilai tukar mata uang tersebut telah menguat 6,6%. Sementara baht Thailand menanjak 5,71%. Sementara dolar Singapura naik 3,06%. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, arah yang semakin jelas mengenai suku bunga Federal Reserve menjadi pendorong nilai tukar rupiah. Ini juga nampak dari aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Selain ke pasar saham, asing juga masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Karenanya, ia berpandangan kenaikan rupiah saat ini terbilang overshoot. Perhitungannya, nilai wajar rupiah ada di Rp 15.500 hingga Rp 16.000 per USD.
David menilai, sebaiknya BI melakukan
active intervention
seperti yang dilakukan bank sentral Jepang. Ini untuk menjaga sektor riil yang mengutamakan stabilitas. Dengan kondisi saat ini, sektor riil tidak bisa mengambil keputusan. "Namun memang, untuk investor portofolio sangat menyukai pergerakan seperti ini," sebutnya.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong menyebutkan, dolar AS diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan. "Ini seiring dengan perkembangan data ekonomi AS, beberapa pekan terakhir dan pernyataan
dovish
dari Powell," terangnya.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, fundamental ekonomi dan prospek ekonomi dalam negeri menjadi katalis positif. Ia menjelaskan, neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II masih terkendali.









