Produksi Perikanan Tangkap Diklaim Positif Meski PPKM Darurat
Kementerian Kelautan dan Perikanan mengklaim produksi perikanan tangkap di pelabuhan perikanan menunjukkan tren positif di tengah masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat.
KKP mengatakan aktivitas di pelabuhan perikanan tetap berjalan dengan protokol kesehatan yang ketat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dari sektor kelautan dan perikanan.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Muhammad Zaini menuturkan pelabuhan perikanan menjadi titik penting untuk menunjang sektor pangan. Produk perikanan menjadi salah satu bahan pangan berprotein tinggi untuk menjaga dan memperkuat daya tahan tubuh masyarakat.
Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman Jakarta yang menjadi pelabuhan perikanan di ibu kota menunjukkan tren peningkatan produksi perikanan tangkap. Pada semester I tahun 2021, total produksinya mencapai 85.943 ton atau senilai Rp 1,782 triliun.
Jalan Panjang Digitalisasi Industri
Inovasi digital ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, otomasi dan digitalisasi mendorong efisiensi dan menambah daya saing. Namun, di negara dengan surplus angkatan kerja membeludak, angka pengangguran tinggi, dan ketidaksiapan angkatan kerja, inovasi digital juga membawa disrupsi. Dilema dan tantangan itu ditambah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, bahkan kian parah. Angka pengangguran dan kemiskinan naik, sementara kapasitas sumber daya manusia (SDM) masih tertinggal untuk mengejar pesatnya perkembangan teknologi.
Dalam bincang-bincang secara daring dengan Kompas, akhir Juni 2021, Country Managing Director Accenture Indonesia Kher Tean Chen menyoroti tantangan pelik yang dihadapi Indonesia itu. Accenture, firma konsultan manajemen dan layanan teknologi global, telah bekerja dengan berbagai perusahaan multinasional untuk adaptasi digital. ”Digitalisasi industri di Indonesia adalah isu yang sangat kompleks, manufakturnya masih sangat basic dan ekosistem di sekitarnya pun belum komplet,” ujar Kher Tean.
Industri manufaktur Indonesia masih didominasi usaha skala kecil dan menengah (IKM). Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dari total 4,4 juta unit usaha industri nasional, 99,77 persen diantaranya skala IKM. Hanya 0,23 persen usaha yang termasuk industri besar. Tenaga kerja pun lebih banyak terserap pada IKM, yakni 66,25 persen dari total 15,63 juta angkatan kerja di industri manufaktur. Hanya 33,75 persen tenaga yang bekerja di industri pengolahan skala besar. Alhasil, baru segelintir industri yang memanfaatkan teknologi digital, internet, komputasi awan, dan big data untuk mengembangkan industri 4.0, seperti di sektor makanan dan minuman. Data Kemenperin, 70 persen pelaku makanan minuman skala besar baru beroperasi di level industri 3.0 (otomasi dan teknologi komputerisasi) dan 30 persen sisanya masih memakai teknologi industri 2.0 (produksi massal dan elektrifikasi).
IKM tetap menjadi tulang punggung dan keunikan industri manufaktur di Indonesia. Namun, bukan berarti mereka tetap jalan di tempat. Dengan skala pemanfaatan teknologi digital yang berbeda dari usaha besar, IKM juga harus mulai beradaptasi dengan rantai pasok global yang terdigitalisasi. Seiring dengan itu, angkatan kerja juga harus dilatih agar lebih terampil dan siap menghadapi perubahan industri. Kher menyoroti pentingnya aspek demokratisasi teknologi, di mana dunia usaha dan industri harus meluangkan upaya dan sumber daya untuk melatih karyawannya beradaptasi dengan dunia digital.
Terkait hal itu, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, pemerintah sedang mentransformasi balai latihan kerja yang terintegrasi industri untuk membekali SDM dengan keterampilan yang relevan. ”Perlindungan terbaik yang bisa kita siapkan untuk pekerja adalah menyiapkan kompetensi mereka,” ujarnya. Indonesia dinilai menyimpan potensi besar sektor industri digital. Kehadiran startup dan platform digital jadi pilar penting mendorong teknologi digital di Indonesia. Namun, Kher Tean menilai pelaku usaha rintisan teknologi di Indonesia masih cenderung melihat pasar secara domestik. ”Itu tidak salah, tetapi alangkah lebih baik jika mereka memiliki visi menembus pasar internasional,” ujarnya.Peternak Ikan Koi di Blitar Ikut Terimbas Kelangkaan Oksigen
Kelangkaan oksigen juga membuat para peternak ikan koi di Kota Blitar cemas. Para peternak khawatir tidak bisa kirim ikan koi jika tidak mendapatkan pasokan oksigen.
Saffi mengatakan kebutuhan oksigen juga mutlak bagi para pembudidaya ikan koi. Kebutuhan oksigen mutlak, karena untuk pengambilan ikan dari kolam sawah dibawa di kolam rumah. Selain itu, untuk pengiriman ikan juga butuh oksigen.
Saffi mendapat kabar pasokan oksigen bagi para peternak ikan koi di Blitar mulai langka. Para peternak ikan koi di wilayah utara sudah kesulitan mengisi ulang oksigen. Kalau oksigen langka dampaknya fatal bagi peternak ikan koi. Karena oksigen dibutuhkan untuk pengiriman ikan. Dengan oksigen pengiriman ikan bisa selamat sampai tujuan.
Vaksin Covid-19 Rp 439 Ribu Mulai Dijual
Guna mempercepat terciptanya kekebalan kelompok (herd immunity) BUMN farmasi melalui PT Kimia Farma Tbk meluncurkan program vaksinasi gotong royong individu. Peluncuran program tersebut sudah dilakukan sejak Jumat(9/10) dan Sabtu(10/7).
Nantinya warga yang ingin membeli vaksin bisa mengunjungi apotek Kimia Farma terdekat atau secara daring. Tahap awal program ini baru menyentuh 6 kota dengan 8 klinik. Namun secara perlahan PT Kimia Farma Tbk akan memperluas jangkauan itu, termasuk ke pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar.
Untuk tarif vaksin gotong royong individu yakni sebesar Rp 321. 660 per dosis dan Tarif maksimal pelayanan vaksinasi sebesar Rp 117. 910 per dosis.
Perbankan Bidik Transaksi Kesehatan Digital
Pandemi Covid-19 telah membawa berkah pada penyedia jasa kesehatan digital atau healthtech. Tak mau kehilangan momentum, perbankan ikut membidik transaksi kebutuhan kesehatan nasabah.
Bank Mandiri misalnya, telah curi start menjalin kerja sama dengan healthtech sejak 2019. SVP Credit Card Group Bank Mandiri Lila Noya telah melihat potensi dengan beberapa emerging category merchant seperti e-wallet, insurtech, e-groceries, termasuk healthtech.
Saat ini kami sudah memiliki partnership dengan Halodoc, Alodokter, Farmaku. Selain itu dengan perkembangan transaksi digital. Pada masa pandemi beberapa partner kami juga menambah fitur dari semula hanya toko konvensional menjadi online yang bisa di akses pada aplikasi.
Lila melihat trafik transaksi platform digital selalu bertumbuh termasuk pada kategori healthtech. Kategori ini mencatatkan pertumbuhan transaksi kartu kredit 123 persen year to date (ytd) dan merchant naik 311 persen yearon year (yoy) per Juni 2021.
Terjual 55-60 Setiap Bulan
PALEMBANG - Penjualan mobil niaga di Sumsel tidak terdampak pandemi karena jumlah penjualan mobil sebelum dan sesudah pandemi relatif sama jumlahnya.
Kepala Cabang Isuzu Palembang, Dimas mengatakan, mobil niaga memiliki pangsa pasarnya sendiri di Palembang karena perekonomian Sumsel ditopang sektor perkebunan juga batubara membuat penjualan mobil niaga tidak terdampak. Dimas mengatakan setiap bulan Isuzu bisa menjual 55-60 unit mobil niaga berbagai tipe. Angka ini sama saja baik sebelum dan saat pandemi seperti ini tidak berubah. "Karet dan batubara kan saat ini harganya mulai terkerek naik sehingga permintaan mobil untuk angkutan ini tetap bagus karena sektor tambang dan perkebunan manjadi pangsa pasar mobil ini," ujar Dimas, Minggu (11/7/2021). Selain menyasar angkutan komoditi, dikatannya mobil ini juga bisanya digunakan dalam bisnis logistik karena banyak perusahaan jasa perngiriman memanfaatkan mobil truk jenis box untuk armada angkutan logistik.
Apalagi bisnis logistik di masa pandemi ini menjadi andalan masyarakat karena perubahan kebiasaan belanja offline menjadi online dan juga pengiriman reguler seperti paket dan surat yang memang sejak dulu ada dan hingga kini masih memanfaatkan jasa logistik pengirimannya. "Isuzu lraga jadi andalan sebagai kendaraan angkutan karena secara angsuran sama dengan harga pick up tapi secara muatan sama dengan truk," tambahnya. Dimas mengatakan Isuzu juga ditopang oleh after sales yang baik karena memiliki layanan bengkel yang tersebar merata di sejumlah kabupaten kota di Sumsel seperti di Tugumulyo, Prabumulih, Muba, OKI dan Palembang.
Layanan bengkel teranyar yakni Bengkel Isuzu Berjalan (BIB) yang memudahkan Konsumen merawat kenda- raan tanpa harus datang kebengkel karena tinggal telpon maka mekanik akan datang memperbaiki kendaraan baik karena alasan emergency atapun karena perlu di perbaiki si rumah atau tempat usaha karena tidak sempat dagang langsung ke bengkel. Salah satu konsumen setia Isuzu yakni Tiki, jasa logistik ini sejak 20 tahun sudah menggunakan Isuzu Panther dan hingga kini sudah 60 unit digunakan untuk mengangkut logistik. "Isuzu itu irit dan murah jadi setia menggunakannya karena bisnis logistik ini berkaitan dengan penggunan bahan bakar jadi pilih yang irit," ujar Komisaris TIKI Palembang Haris Jumadi.
Dari Gratisan Hingga Ngendorse Via Selebgram
Kiagus Muhammad Yuriansyah, salah satunya. Meskipun masih berstatus mahasiswa semester enam Fakultas Ilmu Sosial dan IImu Politik di Universitas Sriwijaya, Palembang. Yuri sudah memiliki usaha bisnisnya sendiri. Lelaki yang berusia 21 tahun tersebut memiliki usaha di bidang makanan dengan nama brand Snack Society yang menjual berbagai snack kecil mulai dari sate Taichan, sate kulit, cireng, nacos, churos, hingga dimsum dan burger. Berbagai snack ini dibuat sendiri bersama timnya. "Terinspirasi nama Snack Society dari Produk yang kita jual sendiri yaitu snack atau makanan kecil sedangkan society itu ciri khas dari produk yang kita jual karena produk yang kita jual adalah makan makanan kecil masyarakat perkotaan, terang Yuri saat dibincangi Tribun akhir pekan lalu.
Yuri bercerita merintis bisnis ini sejak 18 Desember 2020 lalu dan makin eksis dengan membuka gerai di Ruang Dua kambang Iwak pada awal 1 Juni 2021. la membuka bisnis tersebut untuk mengisi waktunya di sela pembelajaran kuliah melalui daring, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat kota Palembang yang tidak mendapat pekerjaan khususnya di masa pandemi. "Di saat pandemi seperti ini kan banyak orang membutuhkan lapangan pekerjaan. oleh karena itu saya terpikir untuk membuka bisnis dengan menjual produk makanan, "beber dia.
Dikatakan remaja tersebut, awal dirinya berbisnis, dimulai dari hanya iseng mencoba memberikan produknya ke orang terdekat dengan gratis. "Pertama itu coba menjual makanan ini ke orang terdekat terlebih dahulu dengan memberikan porsi gratis, serta meminta kritikan dari orang tersebut, kemudian respon mereka terhadap produk tersebut sangat baik dan juga ada beberapa dari mereka yang memberikan saran agar mempersiapkan produk tersebut dengan matang," lanjutnya. Yuri mengatakan berkat peran dari teman-teman dan orang terdekatnyalah dirinya berhasil membuka bisnis usaha makanan tersebut. “Tanpa teman teman kita tidak akan bisa sampai sejauh ini, berkat teman teman produk yang kita jual sejauh ini sudah di kenal oleh banyak orang sehingga usaha kita bisa berkembang hingga saat ini dan juga memiliki tambahan karyawan," katanya.
Bukan mudah membangun usaha. Yuri mengungkapkan, di balik semua itu dirinya tentu mengalami masa sulit. "Kami sempat tutup karena omzet turun drastis, akibat pandemi," katanya. "Kami mencari solusi agar usaha ini tetap berjalan dengan cara membatasi kapasitas konsumen untuk makan di tempat dengan mematuhi protokol kesehatan dan berbagai promosi juga telah dilakukan untuk menarik pelanggan yang pertama yaitu promosi melalui Gofood dan Grabfood karena minat konsumen sangat tinggi melalui ojek online. Promosi lainnya yaitu menggunakan social media baik instagram, facebook maupun whatsapp serta menggunakann jasa paidpromote ataupun endorse dari selebgram," ujarnya.
Penerimaan Pajak Tumbuh Positif
JAKARTA, SRIPO - Penerimaan pajak sepanjang semester I 2021 terpantau tumbuh positif, sejalan dengan pemulihan ekonomi dalam negeri. Pencapaiarn tersebut tersokong oleh kinerja tiga bidang usaha.
Data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat realisasi penerimaan pajak sepanjang Januari sampai dengan Juni 2021 sebesar Rp 577,7 triliun, tumbuh 4,89% year on year (yoy). Angka tersebut lebih baik dari realisasi penerimaan pajak di periode yang sama pada tahun lalu minus 12% yoy.
Setali tiga uang, realisasi penerimaan pajak dalam enam bulan pertama tahun ini setara dengan 45,36% dari target akhir 2021 sebesar Rp 1.229,6 triliun. Artinya, pada semester II 2021, pemerintah musti mengejar penerimaan pajak sebesar Rp 651,9 triliun.
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak Yon Arsal mengatakan, kinerja penerimaan pajak tersebut mencerminkan perkembangan ekonomi yang lebih baik dari tahun lalu.
Yon juga optimistis pemerintah bisa mencapai target akhir 2021, sebab di semester I 2021 geliat pajak relatif signifikan membaik, dan secara bulanan pertumbuhannya stabil ke zona positif.
Berdasarkan sektor usahanya, penerimaan pajak industri pengolahan telah terkumpul Rp 154,34 triliun pada semester I 2021, tumbuh 5,7% yoy. Kemudian, realisasi sektor perdagangan mencapai Rp 110,17 triliun, tumbuh 114% secara tahunan.
Yon bilang kedua sektor tersebut tumbuh positif ditopang oleh membaiknya aktivitas produksi dan konsumsi, serta kegiatan ekspor dan impor. Lonjakan terbesar, didominasi dari realisasi kuartaI II-2021, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 7% yoy. "Kalau sektoral, industri pengolahan dan perdagangan pengolahan itu punya peranan penting terhadap penerimaan pajak. Karena kontribusinya masing-masing 29% dan 21% terhadap penerimaan pajak," kata Yon, dalam Dialog Virtual, Minggu (11/07/2021).
Selain dua sektor tersebut realisasi penerimaan pajak sektor informasi dan komunikasi hingga akhir Juni 2021 mencapai Rp 24,1 triliun, tumbuh 15,8% yoy. Yon menyampaikan, salah satu faktor pendorongnya yakni dengan adanya perkembangan platform digital dan aktivitas ekonomi digital yang makin menggeliat saat pandemi.
"Tiga sektor tersebut memperlihatkan pemulihan yang cukup baik. Ketiganya tersebut mempunyai multiplier effect yang panjang," ucap Yon.
Meski demikian, lima sektor usaha lainnya tercatat masih minus di sepanjang semester I 2021. Pertama, sektor jasa keuangan dan asuransi sebesar Rp 77,79 triliun, minus 3,9% yoy. "Jasa keuangan tertekan sebagaimana tren perngeluaran dana pihak ketiga, yang tabungannya meningkat di bank. Kedepan pemerintah terus mendorong orang-orang kaya lebih consume meskipun faktor trust pandemi) lebih akan dilihat," ujar Yon.Gamang Menjelang Right Issue
Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berencana menerbitkan saham baru melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue sebanyak 28,67 miliar lembar saham seri B dengan nominal Rp 50 per saham. Rights issue ini dilakukan untuk membentuk induk usaha atau holding ultra mikro bersama PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Jumlah saham baru dalam rights issue yang akan dibahas dalam rapat umum pemegang saham luar biasa BRI.
Setelah rights issue selesai, BRI akan menjadi pemegang saham utama Pegadaian dan PNM. Namun rencana holding ultra mikro tampaknya tidak disikapi positif oleh pasar. Harga saham emiten dengan kode BRRI itu berada dalam tren menurun sejak pekan kedua Juni lalu. Adapun selama sepekan terakhir, harga saham BBRI turun 130 poin atau 3,31 persen. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, BBRI berada di level 3.800. Sedangkan dalam sebulan terakhir, saham BBRI terkoreksi 11,21 persen.
(Oleh - IDS)
Pendapatan Turun, Utang Naik
Kinerja badan usaha milik negara (BUMN) sektor konstruksi atau BUMN karya kian lesu. Sejumlah perusahaan yang menjalankan penugasan dari pemerintah terjerat beban utang setelah pendapatannya menurun dan biaya proyek membengkak, terutama setelah terkena dampak pandemi Covid-19. Kondisi keuangan beberapa perusahaan itu mendapat status sangat tidak sehat.
(Oleh - HR1)









