;

Industri Tambang Menantang, Royalti tetap Dikejar

Yoga 19 Mar 2025 Kompas

Pemerintah menyasar tambahan penerimaan negara melalui rencana peningkatan tarif royalti tambang mineral dan batubara. Upaya tersebut dinilai mendadak dan waktunya tidak tepat. Para pelaku usaha pertambangan ramai-ramai meminta pemerintah mengkaji ulang rencana tersebut. Usulan penyesuaian tarif royalti muncul dari rencana revisi PP No 26 Tahun 2022 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Kementerian ESDM. Selain itu, aturan dalam PP No 15/2022 tentang Perlakuan Perpajakan dan/atau PNBP di Bidang Usaha Pertambangan Batubara juga diusulkan direvisi. Pada komoditas bijih nikel, misalnya, berdasarkan usulan revisi, akan berubah dari sebelumnya single tarif 10 % menjadi tarif progresif 14-19 % menyesuaikan harga mineral acuan (HMA). Sementara pada feronikel, dari single tarif 2 % diusulkan menjadi tarif progresif 5-7 %, menyesuaikan HMA.

Pada komoditas batubara, tarif yang berlaku saat ini ialah progresif menyesuaikan harga batubara acuan (HBA) tarif PNBP Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) 14-28 %. Pada usulan revisi, terbagi dua. Pertama, tariff royalti naik 1 % untuk HBA lebih besar atau sama dengan 90 USD per ton sampai tarif maksimum 13,5 %. Lalu, tarif IUPK 14-28 % dengan perubahan rentang tarif (revisi PP No 15/2022). Usulan itu mendapat tentangan dari para pelaku usaha pertambangan, termasuk dari nikel dan batubara. Selama ini, pertambangan menjadi salah satu kontributor terbesar PNBP. Namun, kali ini industri pertambangan relatif sedang menantang. Mulai dari harga komoditas yang cenderung turun akibat kelebihan pasokan hingga kebijakan penahanan devisa hasil ekspor (DHE) 100 % dengan jangka waktu minimal satu tahun. (Yoga)

Mengembalikan Kepercayaan Investor

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham Gabungan(IHSG) terperosok 3,84% ke level 6.223 pada perdagangan Selasa (18/3/25), melanjutkan pelemahan selama empat hari berturut-turut. Penurunan ini justru terjadi di tengah penguatan bursa regional. IHSG bahkan sempat mengalami trading halt setelah anjlok hingga 5% ke level 6.011. Hal ini mencerminkan puncak kekecewaan investor terhadap kurangnya dukungan pemerintah dalam menstabilkan pasar modal Indonesia.

Karenanya, pemerintah harus bergerak cepat memulihkan kondisi dengan mengembalikan kepercayaan investor. Indeks berpeluang menguji resistance di 6.500-6.700 dalam jangka menengah, terutama menjelang kuartal ketiga yang diperkirakan menjadi momentum rebound. Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih dalam tren turun, dengan potensi koreksi lebih dalam ke level 5.900-6.000 jika tekanan jual berlanjut. (Yetede)


Transaksi Rp 8.400 Triliun dicatatkan Qlola by BRI

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus berinovasi dalam layanan perbankan digital melalui QLola by BRI, yang semakin mendapat kepercayaan dari berbagai sektor industri. Hingga akhir tahun 2024, platform ini telah mencatat lebih dari 190.000 pengguna baru dari berbagai sektor, termasuk Agriculture, Mining, FMCG, Telecommunication, serta sektor digital seperti e-commerce dan fintech. Kepercayaan yang terus meningkat ini sejalan dengan kinerja QLola by BRI, terutama dalam mendukung pendapatan nonbunga.

Sepanjang 2024, transaksi nasabah melalui platform QLola Cash terus meningkat, dengan volume cash management tumbuh 19,13% (yoy), sementara fee based income layanan tersebut naik 3,80%. Sejak diluncurkan pada Desember 2022, QLola by BRI telah membukukan peningkatan volume transaksi cash management sebesar 15,9% (yoy), dengan total transaksi mencapai Rp 8.400 triliun. Direktur Bisnis Wholesale dan Kelembagaan BRI, Agus Noorsanto menyatakan bahwa BRI menargetkan QLola by BRI sebagai Top of Mind dalam perbankan digital. Strategi ini diperkuat melalui pemasaran yang agresif,perluasan ekosistem digital, serta penguatan kehadiran di pasar. (Yetede)


Prospek Industri Alas Kaki Cerah

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily

Dalam setahun terakhir, Indonesia menjadi pilihan utama bagi merek-merek ternama dunia seperti Nike dan Adidas untuk memperluas produksi mereka. Hal ini menunjukkan industri alas kaki memiliki prospek yang cerah. Direktur Eksekutif Asostasi Persepatuan Indonesia (Aprixindo) Yoseph Billie Dosiwoda menerangkan, industri alas kaki sudah 30 tahun ada di Indonesia, yang membuat Skills dan knowledgenya sudah terbangun. Begitu pula ekosistem bahan baku dan industri jasa pendukung nya. "Akan lebih baik lagi jika pemerintah membenahi sektor perburuhan, memperbaiki logistik dan transportasi (jalur domestikdan pelayaran internasional), serta segera menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa," ucapnya di Jakarta, Selasa (18/3/2025).

Beberapa investor industri alas kaki dan bahan bakunya sudah banyak yang melirik Indonesia untuk ekspansi, tapi tertunda karena formulasi pengupahan dicabut dan menyebabkan upah buruh naik secara drastis. "Saat ini dimana kondisi ekonomi global sedang tidak terlalu baik, sayangnya kondisi internal Indonesia juga kurang kompetitif," ucap dia. Untuk jenama besar yang orientasinya ekspor, kondisi industrinya ditentukan oleh kondisi permintaan di pasar global dan apakah Indonesia merupakan negara yang kompetitif. Biaya operasional dan logistik masih tinggi, akses pasar ke negara-negara konsumen sepatu seperti Uni Eropa tidak terlalu bagus disbanding Vietnam dan Kamboja,"ucap Billie. (Yetede)


Mulai Pulihnya Penerimaan Pajak

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily

Kemenkeu melaporkan, realisasi penerimaan pajak mengalami pertumbuhan bruto sebesar 6,6% per 17 Maret 2025. Kondisi ini sudah lebih baik dari pertumbuhan penerimaan pajak pada Februari 2025 yang kontraksi 3,8%. “Dalam kurun waktu 17 hari dari 1-17 Maret terjadi turn around dari penerimaan bruto yang tadinya negatif 3,8% pada akhir Februari, lalu pada 17 Maret 2025 posisinya sudah positif 6,6%,” kata Menkeu, Sri Mulyani pada jumpa pers hasil lelang Surat Utang Negara di Jakarta, Selasa (18/3/2025).

Sri Mulyani menegaskan, dengan membaiknya kondisi penerimaan pajak diharapkan akan menjaga ekspektasi pelaku ekonomiterhadap kinerja perekonomian Indonesia. Pasalnya, pada dua bulan pertama penerimaan pajak mengalami kontraksi beruntunsecara tahunan. “Ini juga untuk menenangkan seluruh media maupun market yang menyoroti penerimaan negara," kata Sri Mulyani. (Yetede)


Penopang Ekonomi Menjaga Daya Beli

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily

Pemerintah optimistis daya beli masyarakat akan menopang laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025. Kinerja perekonomian turut disokong oleh surplus neraca perdagangan, Purchasing Manufacture Index (PMI), hingga inflasi yang terjaga. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi selama tahun 2025 mencapai 5,3%. Karenanya, pemerintah berkomitmen mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk menjamin keterjangkauan harga pangan di masa Bulan Suci Ramadan seperti operasi pasar, gerakan pasar murah, serta fasilitasi dan pengawasan distribusi. Pemerintah juga akan terus menjaga level harga gabah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Untuk menopang dayabeli masyarakat atas kebutuhan transportasi, insentif seperti diskon tarif tol dan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) tiket pesawat diberikan pada momentum Ramadan dan Idulfitri tahun ini. “Hal ini memberikan optimisme bahwa kuartal I-2025,dari total agregat demand, masih terjaga.  Komponennya konsumsi rumah tangga," kata Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers hasil lelang Surat Utang Negara di Jakarta, Selasa (18/3/2025). Meski terjadi deflasi secara beruntun pada Januari dan Februari 2025, Sri Mulyani meyakini bahwa harga barang dan daya beli tetap terjaga. Apalagi deflasi pada dua bulan tersebut juga teriadi karena diskon tarif selama 58 bulan beruntun.

Sementara, neraca perdagangan mengalami surplusUS$ 3,12 miliar pada Februari2025. Menurut dia, hal ini merunjukkan kinerja neraca perdagangan sudah surplus, daya beli masyarakat bisa terjaga. “Daya beli dijaga supaya tidak tergerus oleh harga, yang dikelola agar tetap rendah atau bahkan menurun, seperti tiket menurun, listrik menurun untuk rumah tangga. Hal ini diharapkan menjaga konsumsi rumah tangga, karena daya belinya terjaga dengan harga yang relatif stabil," terang Sri Mulyani. Pada Februari 2025, PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,6 yang tertinggi dalam 11 bulan terakhir. (Yetede)


Perputaran Uang Idulfitri kali ini tak sebanyak 2024

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily

Kadin Indonesia memperkirakan perputaran uang pada Idulfitri tahun ini mencapai Rp 137,975 triliun, turun dari perputaran uang pada Idulfitri 2024 di Rp 157,3 triliun. Perputaran uang selama libur Idulfitri 1446 Hijriah diprediksi menurun seiring jumlah pemudik yang mengalami penurunan. “Jumlah pemudik tahun ini diperkirakan sejumlah 146,48 juta orang atau setara dengan 36,26 juta keluarga dengan asumsi per keluarga 4 orang. Jika rata rata keluarga membawa uang sebesar Rp 3,75 juta yang naik 10% dari tahun lalu, maka potensi perputaran uang diprediksi sebesar Rp 137,975 triliun," jelas Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang dalam pernyataan resmi, Selasa (18/3/2025). Jumlah ini masih berpotensi naik, karena angka rata rata per keluarga diambil angka yang minimal dan moderat.

Berdasarkan hasil survey dilakukan badan kebijakan transportasi, pusat statistik, Kemenhub maupun akademisi, jumlah pemudik HariRaya Idulfitri 2025 diperkirakan146,48 juta orang atau 52% dari penduduk Indonesia, turun 24% disbanding tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik. Nataldan Tahun Baru (Nataru) dan Idulfitri yang sangat berdekatan, sehingga yang sempat berlibur selama Nataru tidak lagi merencanakan liburan atau pulang kampung saat libur Idulfitri. Ditambah, dengan kondisi ekonomi saat ini masyarakat cenderung menghemat (saving), mengingat beberapa bulan ke depan akan memasuki tahun ajaran baru yang memerlukan biaya masuk sekolah. Ditambah, maraknya PHK. (Yetede)


Gabah Petani Untuk Semua Kualitas Wajib Diserap Bulog

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily

Mentan, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Perum Bulog wajib aktif menyerap gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kg untuk semua kualitas (any quality) atau tanpa kecuali. Bulog juga diminta terjun langsung menyerap gabah petani, bukan hanya menerima di gudang. “Semua sektor harus bergerak cepat, enggak ada alasan, Bulog wajib serap gabah any quality. Petani menunggu kepastian harga di sawah, Bulog malah menunggu di gudang, ini enggak bisa dibiarkan,” ungkap Mentan dalam keterangan yang. Selasa (18/03/2025).

Mentan menyampaikan itu usai mendengar keluhan petani di Kabupaten Tanah Laut yang mengutarakan Bulog di wilayah itu jarang turun kelapangan padahal mayoritas petani tengah memasuki musim panen. Mentan menegaskan, Kalsel, khususnya Tanah Laut, punya potensi pertanian sangat besar. Untuk itu, Mentan meminta jajaran TNI, Polri, dan pemda bersinergi menjaga dan mengembangkan sektor pertanian di wilayah itu. “Saya titip Pak Dandim, Pak Wakapolda, kita jaga bersama daerah ini. Potensinya luar biasa, jangan sampai ada yang main-main,” ujar dia. Mentan juga menekankan, bantuan pertanian harus diberikan ke daerah yang benar-benar serius memacu produksi pangan dan harus tepat sasaran. (Yetede)


PNPB Minerba Rp 24 Triliun di Bulan Maret

Yuniati Turjandini 19 Mar 2025 Investor Daily

Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor pertambangan mineral dan batu bara mencapai Rp 24,89 triliun pada awal Maret 2025. Merujuk data Kementerian ESDM per tanggal 17 Maret 2025, perolehan PNBP itu 19,96% dari target tahun ini sebesar Rp 124,71 triliun. PNBP 2025 lebih tinggi dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 113,54 triliun. Realisasi PNBP minerba 2024 sebanyak Rp 142,88 triliun. Namun raihan tahun lalu itu lebih rendah dibanding PNBP 2023 sebesar Rp 172,96 triliun. Melemahnya harga batu bara menjadi faktor berkurangnya pundi-pundi pada tahun lalu. Pada 1 Maret kemarin, pemerintah menetapkan aturan yang mewajibkan transaksi ekspor merujuk pada Harga Batu Bara Acuan (HBA). Dengan kebijakan ini maka pemerintah merilis HBA dua kali sebulan. Berbeda dengan sebelumnya yang diumumkan sebulan sekali.

Formula HBA masih mengikuti pola lama yakni merujuk pada nilai transaksi hingga dua bulan sebelumnya. HBA ditetapkan pada tanggal 1 dan 15 setiap bulannya. Plt Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan HBA pada 15 Maret 2025 sudah semakin mendekati harga index. Namun, pihaknya masih menanti seperti apa pergerakan HBA beberapa bulan ke depan. "Kita lihat sudah ada improvement. Memang masih perlu dilihat selama beberapa bulan konsistensinya," kata Gita di Jakarta, Selasa(18/3/2025). Gita menerangkan HBA ekspormerupakan instrumen yang dipakai pemerintah dalam setoran pajakmaupun royalti pertambangan. Artinya, pelaku tambang akan menanggung selisih bila transaksi dengan pembeli di bawah HBA. (Yetede)


Mengembalikan Kepercayaan Investor di Pasar RI

Hairul Rizal 19 Mar 2025 Bisnis Indonesia (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam, yang memicu tindakan trading halt oleh otoritas bursa setelah penurunan mencapai 5%. Meskipun ada sedikit pemulihan di sesi kedua, penurunan IHSG menciptakan sentimen negatif di pasar modal Indonesia. Gejolak ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kekhawatiran atas kondisi fiskal yang melemah dan isu reshuffle kabinet, terutama terkait dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menanggapi situasi ini dengan mendatangi Bursa Efek Indonesia dan memastikan bahwa DPR akan mendukung langkah-langkah pemerintah untuk memulihkan kepercayaan investor dan menstabilkan pasar. Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan di Kabinet Merah Putih dan menjamin pengelolaan APBN yang optimal. Dia juga menekankan bahwa indikator ekonomi Indonesia tetap solid, dengan konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor yang menunjukkan kinerja baik.

Beberapa analis pasar, seperti Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas dan Felix Darmawan dari Panin Sekuritas, menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah konkret untuk meningkatkan kepercayaan investor, seperti memaksimalkan penerimaan negara dan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuan. Selain itu, ketidakpastian politik dan regulasi dianggap sebagai faktor yang memperburuk sentimen pasar, dengan investor yang cenderung lebih berhati-hati dalam berinvestasi di tengah ketidakpastian ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun berencana mengeluarkan kebijakan baru untuk menanggulangi gejolak pasar lebih lanjut.


Pilihan Editor