;

Menguji Efek Rotasi Emiten Big Caps

Hairul Rizal 31 Aug 2023 Kontan

Emiten saham dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) jumbo mengalami rotasi. Saat ini, ada 15 emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tercatat memiliki market cap di atas Rp 100 triliun. BBCA masih kokoh di puncak dengan market cap senilai Rp 1.140,29 triliun. BBRI membuntuti dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 848,73 triliun. Emiten saham berkode saham BYAN, BMRI, dan TLKM masih menghuni daftar lima besar market cap terbesar. Sementara itu, emiten pendatang baru, AMMN langsung tancap gas merangsek ke jajaran emiten big caps. Bercokol di posisi keenam dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 321,46 triliun. BRPT juga ikut ngebut. Hingga Rabu (30/8), market cap BRPT mencapai Rp 105,91 triliun. Padahal, hingga akhir Juli 2023, nilai kapitalisasi pasar BRPT masih berkisar di angka Rp 72,65 triliun. Berbeda nasib dengan UNTR yang saat ini market cap-nya menciut ke level Rp 98,29 triliun. Sebagai perbandingan, hingga Juli market cap UNTR masih bernilai Rp 102,67 triliun. Analis Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto melihat perubahan posisi market cap di bursa mencerminkan adanya dinamika pasar. Kondisi ini ikut menggambarkan rotasi sektor yang sedang terjadi secara industri maupun pergeseran saham pilihan dari pelaku pasar. Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyoroti saham UNTR. Fluktuasi harga maupun market cap UNTR tak lepas dari segmen bisnis batubara yang melandai. Ketika sentimen negatif lebih dominan menerpa, maka harga sahamnya akan ikut terseret. Berbeda dengan BRPT yang dalam sebulan terakhir sahamnya melejit hingga 41,14%. Pergerakan harga saham BRPT terpapar sentimen positif, termasuk dari prospek penyelenggaraan bursa karbon. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menimpali, market cap tidak menjadi parameter utama. Dalam menentukan keputusan berinvestasi, investor juga menimbang fundamental, prospek kinerja dan valuasi sahamnya.

Kredit Mikro Tumbuh 11,41%, BRI Makin Tangguh, Cetak Laba Rp29,56 Triliun

Hairul Rizal 31 Aug 2023 Bisnis Indonesia (H)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menjaga kinerja positif hingga akhir triwulan II/2023. Keberhasilan BRI mengorkestrasi strategi yang dijalankan perseroan tercermin dari kinerja yang sehat dan berkelanjutan, hal tersebut tercermin dari aset yang meningkat 9,21% year-on-year (YoY) menjadi Rp1.805,15 triliun sehingga BRI berhasil mencetak laba konsolidasian senilai Rp29,56 triliun atau tumbuh 18,83% secara YoY.Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI Sunarso pada pemaparan kinerja keuangan BRI triwulan I/ 2023 pada Rabu (30/8). Sunarso mengungkapkan bahwa faktor utama penopang kinerja BRI di antaranya adalah pertumbuhan kredit mikro dan CASA yang mencapai doubledigit, kualitas aset terjaga, rasio efisiensi yang membaik, proporsi fee-based income yang terus tumbuh konsisten, serta semakin solidnya kinerja perusahaan anak yang tergabung dalam BRI Group. Dari sisi penyaluran kredit, hingga akhir triwulan II/2023, BRI berhasil menyalurkan kredit dan pembiayaan senilai Rp1.202,13 triliun dengan penopang utama pertumbuhan yakni pada segmen mikro yang tumbuh 11,41% YoY menjadi Rp577,94 triliun. Dengan demikian, porsi kredit mikro telah mencapai 48,08% terhadap total penyaluran kredit BRI. Khusus untuk perkembangan Holding Ultra Mikro (UMi), hingga akhir triwulan I/2023 Holding UMi telah berhasil meng integrasikan lebih dari 36 juta nasabah pinjaman dan 162 juta nasabah simpanan mikro dengan didukung 1.013 unit kantor colocation SENYUM (Sentra Layanan Ultra Mikro). Sementara itu, dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI mencatatkan total DPK senilai Rp1.245,12 triliun. Penopang utama pertumbuhan DPK BRI bersumber pada dana murah (CASA) yang tercatat tumbuh 10,13% yoy menjadi Rp815,42 triliun. Porsi CASA (Giro dan Tabungan) BRI pun terus meningkat, dari semulai 65,12% pada triwulan II/2022 menjadi 65,49% pada triwulan II/2023.

EKSPANSI MANUFAKTUR : Ekonomi Indonesia Pikat Pemodal Asing

Hairul Rizal 31 Aug 2023 Bisnis Indonesia

Geliat Perekonomian nasional berhasil memikat investor global untuk kembali menanamkan modalnya di Tanah Air. Pepsi yang sempat hengkang dari Indonesia, tahun ini kembali berinvestasi dengan membangun pabrik barunya senilai US$200 juta.PT PepsiCo Indonesia Food and Beverages atau PepsiCo Indonesia resmi merealisasikan investasinya dengan membangun pabrik di atas lahan seluas 60.000 meter persegi di Cikarang, Jawa Barat.CEO PepsiCo Indonesia Asif Mobin mengatakan, investasi tersebut bakal dilakukan secara bertahap hingga 10 tahun mendatang. Hal itu menjadi komitmen perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, keberlanjutan lingkungan, serta kontribusi terhadap pengembangan komunitas. Di fasilitas tersebut, PepsiCo Indonesia bakal memproduksi sejumlah produk makanan ringan pada tahap pertama. Pabrik tersebut juga akan menjadi fasilitas manufaktur yang sepenuhnya menerapkan prinsip keberlanjutan. “Melalui investasi baru dan pada kapasitas maksimalnya, Sharp berkontribusi sebesar 26,6% dari keseluruhan permintaan AC nasional,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufi ek Bawazier.

SIASAT CUAN BANK BUMN

Hairul Rizal 31 Aug 2023 Bisnis Indonesia (H)

Soal mencetak cuan, performa bank-bank milik negara memang masih mumpuni. Buktinya, hingga semester I/2023, bank-bank pelat merah sukses mencatatkan pertumbuhan laba.PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) kompak mencatatkan pertumbuhan laba secara tahunan (year-on-year/YoY). Secara nominal, BRI memimpin sedangkan secara bobot pertumbuhan, Bank Mandiri berada di urutan pertama.Demikian pula jika melihat kinerja intermediasi. Penyaluran kredit oleh Himpunan Bank Negara (Himbara) pun tergolong baik lantaran sanggup tumbuh 8,58% YoY, mengikuti tren industri perbankan yang tumbuh 7,76%. Belum lagi dengan dampak ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi aktivitas bisnis. Situasi itu juga dapat berimbas pada pengetatan likuiditas perbankan.Walaupun begitu, optimisme bank-bank BUMN rupanya masih tinggi. Direktur Utama BRI Sunarso tidak menampik beragam tantangan tersebut. Namun, dia optimistis BRI sanggup mencapai target penyaluran kredit tahun ini. Menurutnya, BRI masih mendapatkan rapor hijau pada paruh pertama berkat kinerja kredit mikro, dana murah, dan efi siensi. Demikian pula dengan kualitas aset yang terjaga, serta proporsi fee-based income yang tumbuh konsisten. Sepanjang paruh pertama 2023, rasio kredit terhadap simpanan (loan-to-deposit ratio/LDR) BRI mencapai 87,83% dan ditargetkan dapat mencapai level optimal, yaitu 90%-95%. Senada, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan perusahaan masih menanti pengaturan lebih lanjut hapus buku kredit macet UMKM menjelang berakhirnya restrukturisasi kredit pada Maret 2024. Kendati demikian, menurut Rudi, sejumlah tantangan itu tak menyurutkan optimisme perusahaan untuk mencapai target penyaluran kredit sebesar 10%-12% pada tahun ini. Terkait kinerja pada paruh kedua, BNI juga masih melihat potensi akselerasi penyaluran kredit. Perusahaan menutup semester I/2023 dengan penyaluran kredit Rp650,77 triliun, tumbuh 4,89% Yo Y. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar sebelumnya mengatakan penyaluran kredit yang tumbuh baik pada semester I/2023 akan diakselerasi pada semester II/2023. Sementara itu, kalangan pengamat ekonomi menilai kinerja bank BUMN masih dibayangi risiko. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira khawatir laba bank BUMN tahun ini bekal lesu karena tekanan likuiditas maupun utang jumbo BUMN Karya yang disebut OJK mencapai Rp46,21 triliun.

Optimisme Memacu Fungsi Intermediasi

Hairul Rizal 31 Aug 2023 Bisnis Indonesia

Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit baru pada kuartal II/2023 meningkat, yang tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 94,0%, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 63,7%. Pertumbuhan kredit baru tersebut terjadi pada hampir seluruh jenis kredit, kecuali kredit investasi yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, peningkatan permintaan kredit baru pada kuartal II/2023, relatif stabil. Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit baru yang meningkat terjadi pada hampir seluruh jenis kredit. Hal tersebut terindikasi pada kredit modal kerja (SBT 89,5%) dan kredit konsumsi (SBT 85,3%). Sementara itu, kredit investasi (SBT 54,4%) terindikasi sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kredit baru untuk seluruh jenis kredit konsumsi tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Sementara itu, pada kuartal III/2023, kebijakan penyaluran kredit baru diproyeksikan tetap terjaga tumbuh positif, terindikasi dari SBT perkiraan penyaluran kredit baru sebesar 86,3%. Secara sektoral, pertumbuhan penyaluran kredit baru terutama terjadi pada sektor konstruksi (SBT 82,2%), diikuti oleh sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan (SBT 79,5%), dan sektor industri pengolahan (SBT 77,9%). Survei BI menyebut kebijakan penyaluran kredit diperkirakan lebih ketat, antara lain pada suku bunga kredit dan premi kredit berisiko. Selanjutnya, hasil survei menunjukkan responden tetap optimistis terhadap pertumbuhan kredit ke depan, di mana responden memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2023 sebesar 10,9% (YoY), tumbuh positif meski tidak setinggi realisasi pertumbuhan kredit pada 2022 sebesar 11,4% (YoY).

Kredit Mikro Tumbuh 11,41%, BRI Makin Tangguh, Cetak Laba Rp29,56 Triliun

Yuniati Turjandini 31 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-PT bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil menjaga kinerja positif hingga triwulan II-2023. Keberhasilan BRI mengorkestrasi startegi yang dijalankan perseroan  tercermin dari kinerja yang sehat dan berkelanjutan, hal tersebut tercermin dari aset yang meningkat 9,21% year on year (yoy) menjadi Rp1.805,15 triliun sehingga BRI berhasil mencetak laba konsolidarian senilai Rp29,56 triliun atau tumbuh 18,83% secara yoy.  Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI Sunarso pada Pemaparan Kinerja Keuangan BRI Triwulan II-2023 pada rabu (30/8). Sunarso mengungkapkan bahwa faktor utama  penopang kinerja BRI diantaranya adalah pertumbuhan kredit makro dan CASA yang mencapai double digit, kualitas aset terjaga, rasio efisiensi yang membaik proporsi fee-based income yang terus tumbuh konsisten, serta semakin solidnya kinerja perusahan anak yang tergabung dalam BRI group. (Yetede)

Agar Epicentrum of Growth Tak Jadi Slogan Semata

Yuniati Turjandini 31 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Keketuaan Asean yang kini dipegang Indonesia berpeluang mengantarkan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara itu menjadi pusat pertumbuhan (epicentrum of growth) dunia yang berkelanjutan. Namun, itu akan menjadi pasti bila Pertemuan Pleno KTT Asean ke-43 di jakarta awal September nanti menghasilkan deklarasi yang bisa menjadi panduan bagi penyelesaian sejumlah tantangan seperti integrasi  yang tersendat dan berpengaruh atau peran global Asean yang masih minim. Terkait faktor-faktor pendorong bagi terwujudnya Asean sebagai spectrum of growth diantaranya adalah konektivitas kawasan yang telah terbangun. Jumlah penduduk negara-negara Asean yang mencapai 660 juta dengan pertumbuhan signifikan di kelas menengah, juga menjadi nilai lebih dari sisi pasar. Apalagi, Asean menjadi penghasil bahan baku, terutama critical minerals untuk bahan baku transisi  energi seperti nikel, bauksit, dan bijih besi yang kini banyak diburu pelaku industri. (Yetede)

Kembali ke RI, Pepsi Investasi US$ 200 Juta

Yuniati Turjandini 31 Aug 2023 Investor Daily (H)

CIKARANG,ID-Setelah hengkang dari Indonesia pada 2019, PT PepsiCo Indonesia Foods and Beverages (PepsiCo Indonesia) kini kembali dengan langkah yang lebih serius dalam membidik pasar Indonesia. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut menggelontorkan investasi sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp3,04 triliun (kurs Rp15.227) untuk beberapa tahun mendatang. Salah satu bentuk investasinya  adalah pembangunan pabrik PepsiCo di Cikarang, Jawa Barat, yang ditargetkan operasional pabrik akan dimulai pada 2025 mendatang. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadahlia menerangkan, keputusan PepsiCo membangun pabrik di Indonesia sangat strategis. Populasi Indonesia mencakup 48% dari keseluruhan Asia Tenggara dengan pertumbuhan kelas menengah yang semakin meningkat dan posisi GDP Indonesia yang kini masuk ke 15 besar dunia. Selain itu investasi PepsiCo juga menunjukkan tahun politik tidak akan berpengaruh negatif terhadap perlambatan aktivitas penanaman modal. (Yetede)

Jokowi: Butuh Waktu dan Usaha Bersama Mengatasi Polusi Udara

Yuniati Turjandini 31 Aug 2023 Investor Daily (H)

SEMARANG,ID-Untuk mengatasi polusi udara di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi membutuhkan waktu, dan hasilnya tidak bisa instan dirasakan. Butuh kerja keras dan usaha bersama untuk mengurangi polusi udara. hal ini ditegaskan Presiden Jokowi  usai meninjau sekolah menengah kejuruan negeri di Semarang, jawa tengah, Rabu (30/08/2023). "Ini memang perlu kerja total, kerja bersama-sama, tetapi memerlukan waktu, tidak bisa langsung. banyak yang akan kita kerjakan untuk menyelesaikan (masalah-red) ini, tetapi memang bertahap ya (prosesnya-red)," kata Presiden. Presiden mengatakan, pemerintah telah melakukan upaya modifikasi cuaca serta menggiatkan penanaman pohon dilingkungan perkantoran guna menurunkan polusi udara. Dalam upaya mengurangi polusi udara, lanjut Jokowi, pemerintah juga mengkaji pemberlakuan aturan bekerja bagi aparatur ASN, meningkatkan pengawasan terhadap pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap, dan melaksanakan uji emisi pada kendaraan bermotor. "Ya ini dibutuhkan usaha bersama. Semuanya harus melakukan, (termasuk melakukan) perpindahan dari (sarana-red) transportasi pribadi ke (sarana) trasnportasi publik dan massa." kata Jokowi. (Yetede)

Garuda Godok Skema Merger dengan Pelita Air

Yuniati Turjandini 31 Aug 2023 Investor Daily (H)

TANGERANG,ID-PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tengah menggodok skema penggabungan usaha (merger) dengan PT Citilinl Indonesia dan PT  Pelita Air Service. Kajian merger dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi finansial, prospek bisnis, hingga keputusan yang menguntungkan semua pihak. "Kami sedang diskusi mengenai peluang market, detailnya, dan finansialnya bagaimana. Nanti begitu selesai dengan Pertamina, opsi-opsi yang ada, akan kami sampaikan kepada pemegang saham," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra kepada Investor Daily saat ditemui di kantor garuda Indonesia di Tangerang, banten, Rabu (30/8/2023). Irfan menambahkan, opsi-opsi itu termasuk saran komposisi saham hingga posisi di pasar. "Semuanya pasti akan kami sampaikan. Dan pastinya nanti kalau melihat Pak Tiko dan Pak Erick kami akan diskusi dan telaah lebih dalam sampai mereka memutuskan jalan yang akan diambil," ungkap dia. Irfan mengatakan, aksi korporasi ini memungkinkan tidak akan berjalan berlartu-larut. "Kalau melihat gayanya Pak Erick beliau pasti minta cepat," ujar dia. (Yetede)

Pilihan Editor