Pangan Instan Menggerus Beragam Pangan Lokal
Tiga puluh tahun terakhir, keberagaman konsumsi pangan warga
di kepulauan kecil berkurang karena penetrasi produk instan dan varietas padi
hibrida yang menggantikan padi lokal. Indonesia termasuk negara dengan tingkat
biodiversitas terbesar di dunia. Berdasarkan data Bapanas (NFA), ada 945
potensi keanekaragaman hayati pangan secara nasional, terbanyak jenis
buah-buahan (389 jenis). Pangan sumber karbohidrat memiliki 77 jenis, dari sagu
hingga ubi jalar. Banyak jenis umbi-umbian dengan nama lokal. Untuk sumber
protein, ada 75 jenis meliputi hewan darat dan laut. Keberagaman sayuran 228
jenis untuk memenuhi kebutuhan protein nabati. Jenis pangan berikut yang punya
banyak jenis ialah rempah dan bumbu 110 jenis. Semua jenis pangan itu berbasis
potensi lokal dan tersebar di berbagai wilayah kepulauan Nusantara. Keberagaman
pangan di kepulauan Nusantara menyimpan potensi besar, sejalan dengan temuan
Kompas di tiga daerah kepulauan, yakni Kepulauan Mentawai, Kepulauan
Muna-Buton-Wakatobi, dan NTT. Ratusan jenis pangan menopang kehidupan warga.
Sayangnya, hegemoni pangan lokal di kepulauan itu terancam
hilang. Hasil observasi lapangan oleh Kompas pada Agustus-Oktober 2023
menunjukkan kini keberagaman pangan turun 7,82 5 ketimbang 30 tahun lalu, untuk
semua jenis pangan, mulai dari sumber karbohidrat, protein, vitamin, ataupun
mineral. Tiga puluh tahun lalu, warga di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai,
mengonsumsi 112 jenis pangan lokal. Berbagai jenis pangan tersedia melimpah,
seperti padi lokal merah (aen mntasa), padi lokal hitam (aen metan), jagung
lokal kuning (pen molo), kacang local merah (foe mntasa), kacang lokal hitam
(foe metan), dan kacang lokal putih (foe muti). Kini tersisa 104 jenis pangan
dikonsumsi warga Pulau Siberut. Jadi, selama tiga dekade keberagaman pangan
turun 7,14 5. Hal serupa dialami warga kepulauan Muna, Buton, dan Wakatobi
dengan penurunan jenis pangan lokal lebih besar dari Siberut. Ada 18,23 persen
jenis pangan di kepulauan wilayah Sulawesi Tenggara hilang digantikan aneka
produk instan, seperti mi instan dan ikan kaleng. Warga kepulauan NTT bernasib
sama, 7,9 5 keberagaman pangan hilang atau tak dikonsumsi warga saat ini,
Seperti jagung ungu (water lobung), sorgum putih (water wili bara karohu), dan
jemawut (uhu kanii). (Yoga)
Bursa CPO dan Realitas Pasar
Setelah tertunda-tunda, akhirnya bursa CPO diluncurkan 13
Oktober lalu dengan tujuan menjadikan Indonesia barometer harga CPO dunia, karena
Indonesia produsen terbesar CPO, menyumbang 85 % produksi CPO dunia pada 2022.
Selama ini Indonesia tergantung pada bursa Rotterdam dan Malaysia dalam
penentuan harga sawit. Dengan adanya bursa CPO di dalam negeri, pembentukan harga
CPO diharapkan lebih adil, transparan, akuntabel, dan real time (Kompas, 14/10).
Persoalannya, bagaimana keinginan itu bisa diwujudkan jika hanya sebagian
kecil, yakni 10 %, CPO yang diperdagangkan lewat bursa? Akibatnya, harga yang
terjadi juga tidak mewakili kondisi riil pasar yang sebenarnya. Hal ini
tampaknya juga disadari oleh otoritas bursa. Berkaca pada pengalaman bursa CPO
Malaysia, perlu belasan tahun untuk menjadi seperti sekarang. Komitmen dan
dukungan semua pihak penting di sini.
Bagaimana ”memaksa” pelaku industri sawit masuk bursa jadi
salah satu tantangan, sebab, selain keikutsertaan di bursa bersifat sukarela,
kalangan pengusaha umumnya sudah telanjur nyaman dengan pola business to
business (B to B) secara langsung yang berlaku selama ini sehingga perlu insentif
lebih untuk ”memaksa” mereka bertransaksi lewat bursa. Saat ini sudah ada 18
perusahaan yang bergabung di bursa CPO ini, terutama perusahaan yang selama ini
sudah melantai di Bursa Efek Indonesia, tetapi tak ada jaminan mereka akan
bertransaksi di bursa CPO. Selain terbiasa B to B, mereka umumnya terintegrasi
secara vertikal dari hulu ke hilir sehingga produk akhir bukan lagi CPO,
melainkan olahan. Yang pasti, kehadiran bursa ini harus bisa menjadi titik awal
atau bagian penting dari pembenahan industri sawit nasional secara keseluruhan
dan memberikan manfaat bagi semua pemangku kepentingan di dalamnya. Termasuk
peningkatan kesejahteraan petaninya yang selama ini sering menjadi korban
permainan harga karena posisi tawar yang rendah. (Yoga)
Hilirisasi Tenggelam di Komoditas Lobster
Pemerintah bermaksud membuka kembali keran ekspor benih
bening lobster untuk budidaya di luar negeri. Sekalipun akan dibarengi
pengembangan budidaya lobster di dalam negeri, langkah itu dianggap bakal
memukul budidaya lobster di Tanah Air. Manfaat terbesar justru diperoleh usaha
budidaya lobster di luar negeri. Draf Rancangan Permen Kelautan dan Perikanan
tentang Penangkapan, Pembudidayaan, dan Pengelolaan Lobster (Panulirus spp),
Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus spp) kini memasuki tahapan
konsultasi publik. Revisi aturan itu membuka kembali keran ekspor benih bening
lobster lewat skema kerja sama investasi setelah ekspor benih lobster dilarang.
Aturan buka-tutup ekspor benih bening lobster telah beberapa kali dilakukan.
Kompas mencatat, pemerintah pernah menutup keran ekspor benih bening lobster
pada 2015-2019, lalu membukanya lagi pada 2020.
Pada 2021, ekspor benih bening lobster ditutup lagi. Tahun
ini, izin ekspor berpeluang dibuka lagi. Padahal, lobster merupakan satu dari
lima komoditas unggulan perikanan budidaya yang diusung pemerintah dalam
program kerja berbasis ekonomi biru. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim
untuk Kemanusiaan Abdul Halim mengemukakan, pemerintah sebaiknya menahan diri
untuk tidak tergoda ekspor benih bening lobster yang dibungkus narasi investasi
asing untuk budidaya lobster di dalam negeri. Pemerintah perlu fokus pada
pengkajian stok benih bening lobster dan bekerja sama dengan para pembudidaya
lokal di setiap provinsi untuk usaha pembibitan dan pembesaran lobster.
”Manfaat ekonomi dan lingkungan dari budidaya lobster di dalam negeri jauh
lebih bisa dirasakan oleh pembudidaya ketimbang benih bening lobster diangkut
ke Singapura, Vietnam, dan China,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, akhir
pekan lalu. (Yoga)
Revolusi Digital Usaha Kecil Pemuas Lidah
Usaha kuliner Moqafe menjadi bukti kesuksesan digitalisasi
melampaui masa-masa sulit saat pandemi Covid-19. Berdiri sejak 1 Maret 2020 di
sekitar daerah perkantoran di bilangan Gelora, Tanah Abang, Jakpus, usaha kecil
itu bertahan karena memanfaatkan beberapa aplikasi penjualan dan pengantaran
makanan secara daring. Pemilik usaha, Willy Ramadhan (28), bernostalgia. Ia
sempat kalut karena kasus Covid-19 pertama yang menakutkan masyarakat muncul
pada hari pertamanya membuka kedai berukuran 2 x 7 meter. Tempat yang awalnya
berkonsep kafe itu menjajakan pempek dengan aneka camilan dan minuman artisan.
Usaha luar jaringan itu dibuka setelah Willy terjun di usaha produksi pempek
yang dipasarkan di platform e-dagang sejak 2015. Pembatasan kegiatan social sempat
membuat penjualan sepi karena sebagian besar pekerja tidak pergi ke kantor dan
Moqafe tidak bisa melayani makan di tempat. Namun, Willy kembali menyesuaikan
diri dengan digitalisasi dan menggunakan beberapa aplikasi online delivery.
”Akhirnya, ada penjualan dan pada Oktober 2020 melonjak
karena ditopang online,” ucapnya kepada Kompas, Kamis (5/10). Adaptasi saat itu
membantu pengenalan usaha dan penjualan produknya hingga ke luar kotamadya.
Omzet pada 2020 menyentuh Rp 1,8 juta sehari. Sekitar 80 % omzet ditopang
penjualan daring dan sisanya dari luar jaringan. Setelah pandemi berakhir,
omzet yang rata-rata Rp 1 juta per hari berbalik didominasi penjualan di
tempat. Perluas pengenalan Willy tetap memanfaatkan digitalisasi untuk
memperluas pengenalan Moqafe. Ia juga memanfaatkan pembayaran nontunai yang
semakin populer. Upaya ini tidak lepas dari kendala terbatasnya dana pemasaran.
Penghasilan selama ini, termasuk bantuan kredit usaha rakyat (KUR) perbankan
yang ia dapat sejak 2020, masih digunakan untuk modal usaha. Ia menghindari
tren kenaikan biaya layanan dan algoritma pemasaran penyedia aplikasi online
delivery yang kurang menguntungkan dengan menggunakan aplikasi bisnis lainnya.
Aplikasi baru itu membantunya menyebarkan promosi produk ke pelanggan secara
personal. (Yoga)
Puluhan Triliun Rupiah di Balik Pernak-pernik Gim
Theo Christiawan (25), karyawan swasta, masih ingat betul
saat pertama mengunduh gim Mobile Legends di gawainya lima tahun silam. Bermula
dari mengikuti tren yang menjamur di kalangan tongkrongan sebayanya, perlahan
Theo mulai akrab dan kerap menghabiskan waktunya mencari hiburan melalui bermain
gim. Dalam beberapa kesempatan, ia rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi
mendapatkan kostum karakter (skin) edisi khusus ataupun pernak-pernik yang
dijual oleh pengembang gim tersebut, Shanghai Moonton Technology Co Ltd,
perusahaan asal China. ”Setiap kali ada event penjualan skin unlimited (terbatas),
biasanya butuh uang sampai Rp 3 juta. Selain itu, rata-rata sebulan bisa keluar
Rp 1,2 juta. Kalau ditotal, selama ini sudah habis lebih dari Rp 20 jutalah,”
katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (11/10).
Mutiara Ayu (26), karyawati swasta, rela mengeluarkan uang separuh
penghasilannya demi gim berbasis gawai itu. ”Awalnya cuma keluar uang Rp
150.000-Rp 200.000, tetapi lama-lama tidak terasa sebulan habis Rp 1,1 juta.
Rasanya jadi bangga gitu karena enggak semua orang punya. Bahkan, selama
sebulan itu rela nahan jajan dan beli makan yang murah biar bisa top up gim,”
tuturnya. Dilansir dari data Statista.com, total pendapatan di pasar mobile
game atau gim yang dimainkan dari gawai di Indonesia diproyeksikan mencapai
0,71 miliar USD atau Rp 11,15 triliun pada 2023. Jumlah ini diperkirakan terus
tumbuh rata-rata 6,4 % per tahun hingga mencapai 0,91 miliar USD atau Rp 14,29
triliun pada 2027.
Tren ini linier dengan jumlah pengguna mobile game yang juga
diproyeksikan meningkat hingga 76,9 juta orang pada 2027. Saat ini, sebagian
besar pemain mobile game didominasi penduduk berusia 25-34 tahun. Outlook
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2023/2024 oleh Kemenparekraf menyebutkan,
Indonesia menjadi pangsa pasar mobile game terbesar ketiga di dunia berdasarkan
unduhan aplikasi Google Play. Pengeluaran para pemain mobile game di Indonesia
yang dilihat dari in-app purchase (IAP) diperkirakan mencapai 0,37 miliar USD
atau Rp 5,6 triliun pada 2023. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and
Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat, besarnya potensi tersebut perlu
dioptimalkan oleh pengembang gim (game developer) lokal mengingat para pemain
gim memiliki loyalitas yang besar sehingga dapat memberikan dampak ekonomi. (Yoga)
BUMN Buka Depo Peti Kemas di Bitung
Peluang bisnis dari rencana pembukaan rute pelayaran langsung (direct call) kapal kargo antara Sulawesi Utara dan Shanghai, China, disambut perusahaan pelat merah. Salah satu anak perusahaan PT Pelayaran Nasional Indonesia menyewa lahan PT Industri Kapal Indonesia di Bitung, Sulawesi Utara, untuk penumpukan peti kemas. Melalui siaran pers, Minggu (15/10/2023), Direktur Utama PT Pelni Logistics Edward Tobing mengatakan, pengadaan depo tersebut didedikasikan untuk muatan tol laut. (Yoga)
Petani Lembata Tinggalkan Budidaya Sorgum
Petani di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan budidaya sorgum karena kesulitan mesin perontok. Harga sorgum pun hanya Rp 7.000 per kg. Mereka berencana akan beralih menanam jagung. Ketua Ikatan Petani Sorgum Lembata Petrus Daton, Jumat (13/10/2023), mengatakan, petani membutuhkan sembilan mesin perontok sesuai dengan jumlah kecamatan, dimana nantinya mesin itu akan dipergunakan oleh para petani secara bergilir. (Yoga)
Suplai Beras di Jakarta Ditingkatkan
Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono meninjau ketersediaan dan harga bahan pokok di Pasar Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (13/10/2023). Heru didampingi Wali Kota Administrasi Jakarta Timur M Anwar. Dari hasil peninjauan tersebut, Heru mengungkapkan, ada beberapa harga barang yang mengalami kenaikan, penurunan, dan stabil. Heru menginstruksikan Perumda Pasar Jaya untuk berkoordinasi dengan PT Food Station Tjipinang Jaya untuk meningkatkan suplai beras. ”Beras harus suplainya banyak, nanti Pak Dirut Perumda Pasar Jaya segera berkomunikasi dengan Food Station,” kata Heru. (Yoga)









